I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 213 Mentraktirnya Makan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mungkin Serena terlalu kelewat senang sehingga tidak menyadari bahwa kalimat yang diucapkan Ralphie sedikit ambigu, dan dengan nurutnya masih menjawab, “Malam ini saja.”


“Setelah pulang kerja aku akan menjemputmu.” Ralphie menjawab.


Hello! Im an artic!


“Oke.” Setelah menjawabnya, Serena seakan teringat akan sesuatu dan kemudian bertanya, “Oh iya, apa yang ingin kamu makan?”


Ralphie dengan nada yang sangat lembut menjawab, “Terserah kamu.”


Ralphie berkata Terserah, Serena seketika memutar otak dan berpikir dengan serius.


Serena bertanya sambil berpikir, “Makan di The Waterfront Blossom?”


Hello! Im an artic!


Selesai bertanya, Ralphie tidak langsung menjawab, kemudian Serena berkata kenbali, “Sudah sering kesana, rasanya sedikit bosan…. apa mau ketempat lain?”


Ralphie menjawab “Oke.”


“Tapi kemana?” Serena menggumam.


Ralphie bertanya, “Bagaimana dengan The Ruby Paradise?”


Serena seketika terdiam, dia kemudian teringat kembali saat Ralphie membawanya makan disana bersama Elliot dan istrinya.


Makanan disana lebih enak dan lebih baik daripada The Waterfront Blossom, tetapi harganya juga lebih mahal dari The Waterfront Blossom.


Harus diketahui bahwa setelah melakukan perbaikan, desain dari The Ruby Paradise lebih mewah dari The Waterfront Blossom.


Jika makan disana, meskipun menggunakan gajinya yang tidak seberapa pun pasti tidak cukup untuk membayar, Serena mungkin harus menggunakan Black Card yang Ralphie berikan untuknya untuk membayar, kalau Ralphie ingin pergi makan disana ya sudah lah makan disana saja.


Menggunakan uang Ralphie untuk mentraktirnya makan, Serena, apa kamu tidak terlalu keterlaluan……


Ralphie yang melihat Serena tidak menjawab perkataannya mengira dia tidak ingin pergi makan di The Ruby Paradise kemudian kembali bertanya, “Kalau tidak ingin makan disana kita bisa ganti tempat lagi.”


Serena tersadar dari lamunannya kemudian segera menjawab, “Bukan begitu, kalau begitu kita ke The Ruby Paradise saja.”


Ralphie kemudian mengiyakan lirih.


Tujuan mengapa menelpon Ralphie sudah tercapai, ditambah lagi dia juga sudah mengajaknya makan malam bersama, Serena sudah tidak tau lagi apa yang akan dia katakan, kemudian berkata, “Kalau begitu sampai jumpa nanti.”


“Sampai bertemu nanti…”

__ADS_1


Saat Serena menelpon Ralphie, Ralphie sedang marah-marah mendengar laporan dari penanggung jawab masing-masing bagian.


Jika orang lain yang menleponnya saat dia sedang sibuk, dia tidak akan menjawabnya, tetapi ini adalah Serena.


Ralphie mengisyaratkan menggunakan tanggannya untuk berhenti sebentar mengangkat telepon.


Serena memberitahunya bahwa ujian bulanan di pelatihan khusus dia berhasil lulus.


Ralphie benar-benar turut bahagia, karena dia sangat mengerti demi ujian ini seberapa keras usaha yang telah Serena lakukan.


Jadi dia memberinya selamat.


Tidak disangka Serena akan bertanya kepadanya apakah dia ada waktu atau tidak, dan akan mentraktirnya makan……


Serena mengajaknya makan…..


Ralphie seketika terdiam, terdiam hingga hp yang dipegangnya tanpa disadari terjatuh diatas meja ruangannya…. inilah alasan mengapa saat mereka sedang bertelepon tiba-tiba terdengar suara ‘beng’.


Hp yang dipegang Ralphie tidak sengaja terjatuh ke atas meja, tetapi menurut pandangan orang-orang didepannya, Ralphie sengaja membanting hpnya diatas meja.


Kenapa Direktur sampai membanting hpnya? Itu karena dia marah lah! Jadi setiap orang menghela napas ketakutan. Ini juga alasan mengapa Serena mendengar suara aneh yang samar-samar ditelepon.


Untung saja Felix yang duduk disampingnya mempunyai reflek yang sangat bagus sehingga dengan cepat mengambil hpnya.


Setelah menutup teleponnya, terlihat ada sedikit senyuman terpampang diwajahnya.


Tetapi saat dia mengangkat wajahnya, saat dirinya melihat bahwa setiap orang memandangnya dengan penuh keheranan, senyum yang tadi terlihat di wajahnya seketika menghilang begitu saja.


Felix yang duduk disebelahnya adalah orang yang menyadari perubahan ekspresi wajahnya itu, khawatir bahwa kelakukan orang-orang dapat membuatnya marah, seketika dia dia memaksakan batuk untuk mengingatkan semua orang.


Semua orang kembali fokus, melihat ekspresi Ralphie yang dangat datar seketika membuat mereka kembali gemetar ketakutan.


Ralphie tidak mengatakan apapun, hanya menggunakan jarinya mengetuk-ngetuk meja didepannya hingga terdengar suara ‘tuktuktuktuk’, ruang rapat sangat hening, andai saja ada jarum yang jatuh pun seisi ruangan akan mendengar suara jatuhannya itu.


Kira-kira setelah satu menit, dia baru kembali bersuara, “lanjutkan rapatnya.”


Ternyata rapatnya masih dilanjutkan!


Setiap orang mengusap keringat dingin di yang menetes di kening mereka, melanjutkan rapat.


Mereka rapat selama dua jam, setelah rapat Ralphie meminta Felix untuk memesan ruangan di The Ruby Paradise, kemudian kembali ke ruangannya untuk menandatangani beberapa berkas.


Setelah jam menunjukkan pukul 4.30, dia meninggalkan ruangannya, pergi ke PT. Antarts untuk menjemput Serena.


Sesampainya di PT. Antarts kebetulan adalah waktu pulang kerja para pegawai Antarts, dia mengambil hp dari sakunya dan segera menelpon Serena, tetapi telepon Serena ternyata juga sedang dalam panggilan telepon.

__ADS_1


Ralphie mengerutkan keningnya, meletakkan hpnya kembali ke dalam sakunya, matanya selalu memandangi pintu masuk PT. Antarts.


Kira-kira tidak sampai dua menit, dia melihat Serena yang keluar sambil bertelepon.


Ralphie terdiam sesaat, membuka pintu mobil dan menunggunya….


Dia menunggunya selama lebih dari sepuluh menit….


“….bibi Bella jangan berkata seperti itu, aku sama sekali tidak keberatan, hanya saja aku baru selesai serah terima jabatan, jadi sedikit sibuk.” Serena berkata dengan ekspresi tak berdaya.


Nada suara Bibi Bella dari telepon terdengar sedikit kaget, “Kenapa ganti pekerjaan? Apa pekerjaan sebelumnya tidak lancar?”


“Bukan, mereka memerintahkanku untuk kembali bekerja di PT. Antarts.” Serena berkata dengan tersenyum senang.


Bibi Bella mengiyakan mengerti, kemudian bertanya, “Terus kapan kamu akan kembali?”


Serena berpikir sekejap baru menjawab, “Beberapa hari lagi pas tanggal 2 bulan 2, kebetulan pas hari Sabtu, aku akan pulang.”


“Baiklah kalau begitu.” Bibi Bella berkompromi dengan lembut.


Serena sebenarnya masih ingin mengobrol lebih dengan Bibi Bella, tetapi dia melihat Ralphie yang bersandar di mobil di seberang jalan, seketika terdiam, kemudian buru-buru berkata , “Bibi Bella, aku masih ada urusan, aku tutup teleponnya yaa.” Kemudian dia menutup teleponnya sambil berjalan menuju seberang jalan.


Serena dengan nada sedikit tidak enak hati bertanya, “Sudah lama menunggu ya?”


Setelah Ralphie menjawab pelan ‘tidak’, kemudian membantunya membukakan pintu mobil disamping kursi kemudi.


Serena merasa sedikit aneh, tetapi tidak tahu aneh di bahian mana, dia mengusap hidungnya yang tidak gatal itu kemudian naik ke mobil.


Saat ini kebetulan adalah waktu para pekerja kantor pulang, jadi lalu lintas sangat macet.


Jalan sedikit lalu berhenti, membuat orang kesal tidak sabar.


Mobil disebelahnya menyalakan musik yang ada di mobilnya, terdengar bahwa penyiarnya adalah seorang perempuan.


Setelah penyiarnya selesai berbicara, kemudian terdengar alunan musik yang sangat enak didengar.


Serena merasa musik itu sangat familiar, dengan sengaja memperhatikannya sebentar.


“….. entah sejak kapan, aku suka diam-diam memikirkanmu, tolong jangan menertawakan kekagumanku, aku mencintaimu dari hatiku yang paling dalam…..”


Alunan nada yang sangat familiar, membuat hati Serena terasa sedikit sakit.


Ternyata lagu ini adalah lagu yang dulu Serena sengaja atur di lonselnya untuk nada dering Ralphie, [Menyimpanmu Dalam Hati].


Serena tanpa sadar mengikuti alunan lagu itu dengan lirih, bahkan sampai melupakan Ralphie yang duduk disebelahnya, “……..aku tidak berani membayangkan untuk bersamamu sampai tua, hanya berharap cintaku bisa memberimu sedikit kebahagian…..”

__ADS_1


__ADS_2