
Hello! Im an artic!
Setelah Serena berlari keluar dari dalam rumah, dia langsung ke pinggir jalan memanggil taxi.
Setelah masuk taxi, Serena memberitahu alamat Grup Su kepada supir taxi.
Hello! Im an artic!
Benar, Serena mau pergi mencari Ralphie, pergi memberitahunya, dia tidak pernah meninggalkannya, dia tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya……
Sekarang bukan waktu jam pergi pulang kerja, jadi jalanan sangat lancar, hanya dengan satu jam, taxi pun berhenti didepan pintu Grup Su.
Serena membuka pintu berjalan keluar.
Supir taxi melihat Serena tidak membayar, langsung turun mengejar, “Nona, kamu belum bayar uang taxi?”
Hello! Im an artic!
Serena menghentikan langkah, memegang saku kantong, dan menyadari dia tidak membawa apapun lalu berkata: “Pak, kamu ikutlah aku masuk kedalam untuk ambil uang.”
Supir taxi terbengong lalu dengan cepat langsung menyusul Serena.
Beberapa waktu lalu, demi mencari Ralphie, Serena sudah berkali-kali datang ke Grup Su, jadi semua orang di kantor mungkin sudah mengenalnya.
Nona resepsionis begitu melihat dia masuk kedalam, langsung dengan sopan menyapanya, “Nona Serena, Anda sudah datang?”
Serena menganggukkan kepala, menunjuk supir yang ada dibelakang dan berkata: “Itu……aku lupa bawa dompet, tolong bantu aku bayar uang taxi, nanti aku balikkin kamu.”
“Oke.” Nona resepsionis tersenyum, mengeluarkan dompet dan membantu Serena membayar uang taxi.
“Terima kasih.” Setelah Serena mengucapkan terima kasih, tanpa membalikkan kepalanya langsung berjalan ke arah lift.
Serena langsung naik lift ke kantor Ralphie, setelah keluar dari lift, dia berjalan ke arah kantor Ralphie.
Sekretaris di kantor Ralphie mengira Serena datang mencari Felix, jadi menghampiri untuk bertanya, “Nona Serena, anda mencari Felix?”
“Bukan, aku mencari Ralphie.” Serena jalan sambil menjawab.
“Kamu mencari Direktur Su?” Sekretaris terdiam sebentar, kemudian menahan Serena, “Nona Serena, Direktur Su bukan sembarang orang bisa di temui, perlu janji terlebih dahulu.”
Serena tidak memperdulikan perkataan sekretatis, langsung bertanya, “Ralphie rapat dimana?”
__ADS_1
“Maaf, Nona Serena, saya tidak bisa memberitahu anda.” Jawab sekretaris dengan sopan.
Serena terburu-buru mencari Ralphie, mana mungkin menyerah begitu aja? Dia langsung membalikkan badan masuk ke dalam ruangan rapat.
Sekretaris terdiam satu detik lalu baru sadar apa yang akan dilakukan Serena, lalu berteriak ‘Nona Serena’. Terburu-buru ingin menghalangi Serena, tetapi akhirnya tetap terlambat satu langkah.
Ketika sekretaris mengejarnya, Serena sudah membuka pintu rapat pertama.
“Nona Serena, kamu tidak boleh mengganggu rapat……”
Belum selesai sekretaris berkata, Serena sudah membalikkan badan membuka pintu ruang rapat kedua.
Disini, Serena melihat Ralphie sedang rapat.
“Ralphie……” Serena tidak peduli apakah mereka sedang rapat atau tidak dan langsung memanggil nama Ralphie.
Ralphie awalnya sedang menundukan kepala melihat dokumen yang ada ditangannya, tiba-tiba mendengar suara Serena, dia terdiam sebentar, kemudian memalingkan kepala.
Melihat Serena yang berdiri didepan pintu ruang rapat, Ralphie langsung dengan cepat berdiri.
Sekretaris yang berada dibelakang Serena mengira Ralphie marah dan dengan segera berkata: “Direktur Ralphie, Nona Serena masuk tanpa izin, saya tidak dapat menghalanginya.”
Selesai sekretaris berbicara, suara bisik pun mulai terdengar di dalam ruang rapat.
Mengikuti Direktur Ralphie begitu lama, ini pertama kali nya ada orang yang berani dengan lancang masuk ke dalam ruang rapat…..
Setelah kagum, mereka juga khawatir……khawatir perempuan cantik ini akan kena marah? Karena Direktur Ralphie tipe pemarah……semua orang dengan kompak tanpa janjian langsung menahan nafas.
Hanya Felix yang masih tetap diam dengan tenang, memang pasti ada orang yang kena marah, tetapi orang itu sudah pasti bukan nyonya.
Ternyata, satu detik kemudian Ralphie dengan tajam menatap sekretaris yang ada disebelah Serena, “Siapa yang suruh kamu halangi dia?”
“Direktur Ralphie, saya……” Sekretaris yang dimarahi tanpa alasan jelas, ingin mencoba menjelaskan, tetapi Ralphie tidak mempedulikannya dan mengarah ke Serena dengan nada lembut bertanya, “Kamu kenapa kesini?”
Semua orang yang ada diruang rapat langsung menganga, pria yang lembut ini benar direktur mereka yang sangat dingin itu?
Serena tidak menjawab pertanyaan Ralphie hanya langsung berkata: “Aku ada urusan cari kamu.”
“En.” Ralphie menganggukan kepala, lalu membalikkan kepala kedalam ruang rapat ‘Bubar’, kemudian mengandeng tangan Serena keluar dari ruang rapat.
Membiarkan sekumpulan orang diruang rapat yang terkejut, dan sedang menerka-nerka hubungan diantara Serena dan Ralphie.
__ADS_1
Keluar dari ruang rapat, Ralphie membawa Serena ke kantornya.
Setelah membiarkan Serena duduk disofa, Ralphie menuangkan segelas susu untuk Serena.
Kemudian dari atas meja mengambil apel dan mengelupaskan kulitnya untuk Serena.
Melihat Ralphie disebelahnya, mata Serena mulai merah, kemudian menangis.
Ralphie selesai mengupas apel, mendongakan kepala, melihat Serena sedang menangis, seketika dia menjadi panik dan menyeka air mata Serena, “Kenapa nangis?”
Serena tidak berbicara apapun, hanya semakin menangis?
Ralphie panik sampai keringat dingin, dia pikir sekretaris tadi yang membuat Serena menjadi seperti ini, “Apakah sekretaris tadi menyulitkan kamu? Aku minta Felix untuk memecatnya.”
Ralphie berdiri dan langsung berjalan keluar kantor.
Serena dengan cepat menahan tangannya, menangis sambil menggelengkan kepala.
Ralphie tak tahu harus bagaimana, hanya pelan-pelan memegang wajah Serena, menggunakan jempolnya untuk menyeka air mata.
“Sudah……jangan nangis……”
“Jangan nangis lagi ya……?”
Bujukan Ralphie membuat Serena tidak menangis lagi, Serena memeluk Ralphie dan berkata, “Ralphie……”
Mendengar Serena sudah mulai berbicara, Ralphie langsung menjawab, “Iya, aku disini.”
Serena tersenyum dan berkata: “Ralphie, aku ceritain kamu sesuatu ya?”
Semua perkataan Serena, Ralphie tidak pernah membantah, “Oke.”
Serena terdiam beberapa detik, menyusun kalimat dengan baik dahulu, lalu mulai bercerita.
“Dulu ada sepasang laki dan perempuan, mereka menikah karena perjodohan, tetapi tidak pernah menyadari kalau keduanya saling mencintai.”
“Yang perempuan berpikir laki itu menyukai perempuan lain, jadi dia hanya menyimpan perasaan cintanya di hati yang terdalam, takut laki-laki itu tahu, takut laki-laki itu akan membencinya. Laki-laki itu pikir perempuan tidak menyukainya, jadi hanya diam-diam menjaganya. Pada akhirnya hubungan mereka pelan-pelan mulai membaik, bahkan seperti sepasang suami istri.
“Suatu hari, perempuan dan laki itu sudah janjian mau pergi makan siang bersama. Tetapi pada akhirnya ditengah jalan, ibu tiri perempuan menelepon dan berkata bahwa ayahnya stroke masuk rumah sakit.”
Suara Serena sangatlah lembut dan enak didengar.
__ADS_1
Ralphie sudah mengerti apa yang dibicarakan oleh Serena, walaupun wajahnya sudah muali murung, tetapi dia tetap tidak memutuskan pembicaraan Serena.