I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 364 Akhir Dari Flora Luo


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mendengar jawaban Flora, wajah Ralphie tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, hanya bertanya dengan datar, “Kalau tidak?”


“Kalau tidak……aku akan membunuh dia.” Mata Flora menunjukkan kekejian, cengkraman di pisau yang dia pegang semakin erat dan dia melukai leher Serena.


Hello! Im an artic!


Luka yang sangat kecil, bahkan hanya keluar sedikit darah, tapi bisa membuat ekspresi Ralphie berubah drastis.


“Berhenti.”


Mendengar perkataan Ralphie, ekspresi Flora menjadi semakin menyeramkan, “Kamu tidak bisa sedikit pun melihat dia terluka ya?”


“Ya.” Ralphie memandangi Flora tanpa berkedip, karena dia takut Flora akan melukai Serena lagi.


Hello! Im an artic!


Jawaban ralphie membuat Flora semakin marah, “Karena kamu tidak mau dia terluka, kamu gantikan dia saja.”


“Baiklah.” Ralphie menganggukkan kepala tanpa berpikir.


Mendengar Ralphie berkata ‘Baiklah’, Serena mulai melawan, “Ralphie, kamu jangan mendengar dia……”


Flora mengangkat tangannya dan langsung menampar wajah Serena, “Kamu diam!”


Melihat bekas tamparan di wajah Serena, wajah Ralphie menjadi murung.


Kemudian, dia sudah berlari ke arah Flora.


Flora melihat Ralphie berlari ke arah dia, tanpa sadar mengangkat pisau yang ada ditangannya dan ingin menusuk Serena.


Kaki dan tangan Serena sedang terikat, tidak bisa bergerak sama sekali.


Kalau dia ingin menyelamatkan dirinya sendiri, dia hanya bisa menjatuhkan tubuhnya sendiri, baru bisa menghindari pisau Flora.


Tapi kalau dia jatuh ke lantai, anaknya pasti akan keguguran.


Bagaimana Serena bisa membiarkan anaknya keguguran? Jadi dia hanya bisa menutup matanya, bersiap-siap menerima tusukan pisau Flora.


Tapi pada akhirnya kesakitan yang dia tunggu tidak datang, tapi dia malah masuk ke dalam pelukan yang hangat.


Ralphie sudah menduga situasi ini akan terjadi, jadi dia berlari ke arah Flora, sebenarnya itu hanya tindakan untuk menipu, tujuan sebenarnya adalah dia ingin menendang Flora.


Ralphie siapa? Dia yang penuh kebencian, apakah Flora bisa menahannya?

__ADS_1


Flora tertendang hingga beberapa meter, tertabrak tembok, lalu dengan keras terjatuh ke lantai dan mengalir keluar darah dari mulutnya.


Ralphie bahkan tidak melihat ke arah Flora, dia dengan cepat menghampiri dan memeluk Serena.


“Serena, kamu baik-baik saja?


Mendengar suara Ralphie di telinganya, Serena membuka mata dan melihat Ralphie yang sedang melihat dia dengan wajah penuh cemas.


“Aku tidak apa-apa.” Serena menggelengkan kepalanya, lalu merasakan kegelapan di matanya dan dia kehilangan kesadarannya.


Sebelum dia kehilangan kesadarannya, dia mendengar Ralphie berteriak kencang, “Panggilkan dokter ke sini……”


Saat Serena terbangun, dia langsung bertanya, “Kamu sudah bangun? Apakah ada yang sakit?”


Serena menggelengkan kepalanya, lalu menggenggam tangan Ralphie dan berkata: “Ralphie, aku tidak apa-apa.”


Saat pisau Flora menusuk dia, dia sangat menyesal, menyesal kenapa demi dia masih peduli dengan ayah sendiri yang membahayakan dirinya sendiri.


Tapi untung saja, Ralphie menyelamatkan dia.


Ralphie menganggukkan kepalanya dan memeluk dia dengan erat, “Ya, kamu tidak apa-apa.”


“Ralphie, maaf, aku tidak mendegarkan perkataanmu.” Kata Serena yang berada di pelukannya.


Serena tersenyum bahagia.


Setelah beberapa lama, Serena tiba-tiba seperti terpikir sesuatu, dia mengangkat kepalanya, melihat Ralphie dan bertanya, “Bagaimana dengan dia?”


Walaupun Serena tidak menyebutkan ‘dia’ itu siapa, tapi Ralphie tahu yang dimaksud Serena adalah Flora.


Tidak dikira Serena masih memikirkan wanita itu, Ralphie tidak senang. Dia menggerakkan bibirnya tapi tidak mengatakan apa-apa.


Serena terdiam, lalu dia baru menyadari maksud dari Ralphie, dia menjadi tertawa.


“Kamu tidak mungkin berpikir bahwa aku mencemaskan dia kan?”


“Memangnya bukan?” Ralphie mengerutkan keningnya.


Serena mengangkat tangannya, mengelur wajahnya, lalu berkata: “Aku hanya ingin bertanya, dia bagaimana. Aku tidak ingin memaafkan dia, sungguh.”


Dia seperti takut Ralphie tidak percaya, Serena menambahkan, “Aku bukan Bunda Maria, dia ingin membunuhku, aku mana bisa memaafkan dia.”


Mulut Ralphie yang tadinya tertutup rapat, akhirnya dia berkata “Mentalnya bermasalah, harus dikirim ke rumah sakit jiwa.”


Kalau bukan karena mentalnya yang bermasalah, Ralphie tidak akan bisa melepas dia begitu saja.

__ADS_1


Tentu saja, anggap saja Flora sakit jiwa, Ralphie juga tidak bisa melepas dia begitu saja, lagipula dia sudah melukai Serena.


“Mentalnya bermasalah? Pantas saja……” Mata Serena terkagum.


Ralphie mengerutkan kening dan bertanya, “Kenapa?”


Serena memberitahukan pembicaraan yang dia miliki dengan Flora.


Akhirnya Serena tiba-tiba seperti teringat sesuatu, “Oh iya, bagaimana kamu bisa menemukanku?”


“Di handphone-mu terpasang sistem pelacak, kita mengikuti sinyal handphone-mu untuk melacakmu.” Saat Ralphie mengatakan kata-kata itu, dia dengan hati-hati melihat Serena, dia takut Serena akan marah karena dia sudah memasang sistem pelacak di handphone-nya.


Tidak dia sangka, Serena hanya menjawab ‘Oh’ dengan datar, lalu bertanya, “Sepertinya handphone-ku terjatuh di mobil kedua orang yang menculikku, kamu bagaimana menemukan gedung itu?”


“Ya, kita mengejar kedua orang itu, lalu dari mulut kedua orang itu kita tahu lokasi gedungnya, baru kita pergi menghampiri kamu.”


Kalau bukan karena itu, dia tidak mungkin selama itu baru menghampiri Serena.


Hampir membiarkan Serena dicelakai oleh Flora……Sekarang Ralphie berpikir-pikir, dia merasa takut.


Sepertinya Serena bisa melihat apa yang sedang dia pikirkan, Serena menjulurkan tangan untuk memeluk dan menenangkan Ralphie, “Kejadian seperti itu tidak ada yang bisa menduga dan kamu juga sudah datang dengan cepat.”


Ralphie memeluk dia dengan erat dan dia berkata dengan lembut: “Untung saja kamu tidak apa-apa.”


“Tentu saja aku tidak apa-apa, karena aku tahu kamu akan datang untuk menyelamatkanku.” Kalau bukan karena percaya dengan Ralphie, bagaimana dia bisa, walaupun tahu dia dalam bahaya tapi tetap mengambil resiko?


Hanya saja dia tidak mengira, dia membahayakan diri demi menyelamatkan ayahnya sendiri.


Tapi yang paling mengejutkan adalah ayahnya sendiri ingin menculik dia.


Serena menutup matanya dan air mata mengalir keluar, “Aku tidak mengira dia akan menculikku untuk mendapatkan kembali Bella……”


Saat dia mengetahui kebenaran dibalik alasan kenapa ayahnya menculik Serena, Ralphie juga menjadi marah.


Dia selalu tahu Leonard tidak suka dengan Serena, berperilaku tidak baik terhadap Serena.


Tapi Leonard tetap ayah Serena, jadi selalu menahan perasaan terhadap dia.


Tadinya dia berpikir kalau Leonard tidak melakukan hal yang macam-macam, dia bisa menuruti keinginannya.


Tapi tidak terpikirkan, Leonard bisa menculik Serena untuk mendapatkan Bella.


Terpancar perasaan dingin di mata Ralphie, dia mengangkat tangannya dan menghapus air mata di wajah Serena, “Jangan menangis lagi, kamu masih punya aku dan bayi kita.”


“Ya, ada kamu dan bayi kita sudah cukup……”

__ADS_1


__ADS_2