
Hello! Im an artic!
Awalnya Serena sudah berencana untuk jalan-jalan dengan Ralphie, tapi siapa sangkah ia bertemu dengan Leonard.
Sejak Leonard menyuruh orang untuk menculinya, Serena sama sekali tidak pernah bertemu dengannya dan tidak bertanya Ralphie apa yang terjadi pada Leonard.
Hello! Im an artic!
Hingga hari ini, ia melihat Leonard lagi. Ia seperti sudah lama tidak bertemu dengannya.
Leonard tidak lagi terlihat muda. Sekarang ia memiliki rambut putih dan tubuhnya agak membongkok, sudah persis dengan orang tua pada umumnya.
Ralphie juga meilhat Leonard. Ia melirik Serena yang disamping, lalu memberhentikan kendaraannya di tepi jalan.
Leonard yang di jalan seperti menyadari sesuatu, lalu berbalik badan.
Hello! Im an artic!
Saat ia melihat Serena di dalam mobil, wajah penuh kerutan itu memasang eskpresi kaget. “Se…serena…”
Bertemu dengan Leonard yang berbeda sama sekali, Serena tidak tahu bagaimana harus membalasnya.
Akhirnya Ralphie membuka mulut untuk bertanya, “Serena, apakah kamu ingin berbicara dengannya?”
Berbicara? Serena terdiam sejenak, lalu setuju.
Ini adalah masalah antar Serena dan Leonard. Ralphie sama sekali tidak campur tangan, hanya mencarikan tempat untuk mereka berbicara.
Saat Serena masuk ke dalam ruangan, ia menemukan Leonard sedang berdiri di dekat jendela.
Leonard mendengar suara jejak kaki, lalu berbalik badan.
Serena berkata, “Mengapa kamu tidak duduk?”
Di meja terdapat secangkir teh, pelayan sama sekali tidak lupa untuk menuangkan teh.
Pandangan mata Leonard terus berpindah, lalu ia teringat sesuatu. “Aku tidak boleh duduk terlalu lama, ada penyakit.”
Serena mengeluarkan ‘Oh’, lalu bertanya lagi. “Penyakit apa? Apakah tidak dapat diobati?”
Leonard sedikit semangat setelah mengetahui perhatian dari Serena. “Sudah diobati. Ralphie yang mencari dokter untukku.”
__ADS_1
Serena tidak kaget setelah mendengar ucapan Leonard. Meskipun ia tahu kalau Ralphie tahu bahwa orang yang menculiknya adalah Ayahnya, tapi ia juga tahu demi dirinya, Ralphie pun masih peduli dengan Ayahnya.
“Baiklah, obati dengan baik.”
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Leonard terbata-bata.
Dulu Serena sangat berharap dengan pertanyaan seperti ini, sayangnya ia tidak pernah mengatakannya.
Sedangkan ketika hubungan mereka menjadi seperti ini, ia baru bertanya.
Mata Serena sedikit berkaca-kaca. Ia menutup matanya untuk menahan air mata yang ingin keluar. “Aku sangat baik.”
Keadaannya memang baik, ada orang yang mencintainya, ada keluarga yang menyayanginya dan juga anaknya.
“Baiklah kalau begitu…” ucap Leonard.
Melihat Leonard yang seperti ini, hatinya sangat kacau.
Terdiam beberapa detik kemudian, Serena berdiri dan berjalan menuju jendela, demi menghindar pandangan dengan mata Leonard.
Saat ini suara Leonard menghentikan jejaknya. “Se…serena…”
Serena menghentikan langkahnya, tetapi tidak berbalik badan.
“Ayah, jangan mengatakan itu lagi.” Serena memutuskan pembicaraan Leonard.
Leonard terdiam.
Melihat Serena sama sekali tidak berbalik badan, mulut yang dibuka pelan-pelan, akhirnya tertutup kembali.
“Ibuku memaafkanmu atau tidak, aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
Seketika kaki Leonard melemah dan tercengang memandang kearah Serena.
Akhirnya Serena berbalik badan dan memandang kearah Leonard.
“Aku tidak memaafkanmu, bukan karena hal-hal yang kamu lakukan kepadaku, melainkan hal-hal yang kamu lakukan kepada Ibuku. Tapi kamu tenang saja, aku akan membayar untuk semua di akhir kehidupanmu, agar kamu bisa hidup dengan tenang.
Leonard memandang ke arah Serena. “Maaf, Se…serena…”
Serena berbalik badan dan sama sekali tidak ingin mendengar ucapan itu.
__ADS_1
Untuk apa meminta maaf? Jika sudah melukai, luka ini tidak akan hilang begitu saja dengan meminta maaf.
“Kamu pergilah, sudah disiapkan mobil untukmu.”
Leonard baru saja ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ia menutup lagi mulutnya. Ia keluar dari ruangan setelah memandang Serena sekilas.
Setelah membuka pintu ruangan, ia bertemu dengan Ralphie.
Ada Pria ini yang menyayanginya dan mencintainya, sepertinya ia hidup dengan baik.
Serena berdiri di depan jendela. Ia mendengar suara pintu terbuka, tapi ia sama sekali tidak membalikkan tubuhnya, karena wajahnya sudah penuh air mata.
Seburuk apa yang dilakukan Leonard kepadanya, ia masih saja Ayahnya.
Hingga ada sepasang tangan yang memeluk dari belakang dan rasa ketenangan.
“Jangan nangis.”
Serena mengangkat tangannya untuk membersihkan air mata di wajahnya. “Siapa yang bilang aku nangis?”
“Kamu itu terlalu baik, sehingga tidak dapat langsung meninggalkannya ataupun memaafkannnya.”
Serena berbalik badan dalam pelukan Ralphie. “Mendengar ucapanmu, seperti aku sendiri yang mencari masalah?”
“Tak apa-apa.” Ralphie mendaratkan sebuah ciuman pada dahi Serena, lalu berkata. “Kamu lakukan saja apa yang kamu lakukan, yang penting kamu senang.”
Serena memeluk Ralphie dan berkata, “Apakah kita jadi jalan-jalan?”
“Jadi.” Ralphie mengangguk.
“Aku mau beli perlengkapan bayi.”
“Baik.”
“Sekarang kita masih belum tahu jenis kelamin bayi kita. Kita beli yang laki-laki atau perempuan?”
Ralphie berkata, “Beli dua-duanya.”
“Baiklah, kita membeli lebih, saat kelahiran bayi Claudia, kita bisa memberinya.”
“Baik…”
__ADS_1
Setelah dua bulan kemudian, saat kelahiran anak Claudia dan Isa, Ralphie dan Serena memberikan masing-masing satu paket perlengkapan bayi laki-laki dan bayi perempuan, perasaan Claudia dan Isa sama sekali tidak bisa dijelaskan…