I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 200 Bawa Kamu Pulang


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ryan melihat Serena serius sekali meminta maaf kepadanya, sebaliknya dia merasa sudah bercanda keterlaluan, dia menggaruk garuh hidung berkata, “Hei hei……sebenarnya aku hanya bercanda saja. ”


Dia pasti sudah tahu Ryan hanya bercanda saja! Di dalam hati Ralphie memang ada seorang yang sangat penting, hanya saja bukan dirinya.


Hello! Im an artic!


Serena mengedip kedipkan mata, menutup mata hingga terpejam, “Aku tahu. ”


Ryan tidak menangkap ada yang salah dengan Serena, melihat ekspresi Serena yang tidak marah, dia mulai membuka percakapan dan akhirnya bisa ngobrol seru, mereka berdua bisa di bilang cukup akrab, ngobrolnya bisa di bilang cukup harmonis.


Ketika sedang bercakap cakap, tiba-tiba Hp Ryan berbunyi.


Dia tersenyum meminta maaf kepada Serena, kemudian dari kantongnya mengambil hpnya.


Hello! Im an artic!


Ketika melihat nomor telepon di hpnya, dia segera mengangkat pandangannya ke arah Serena dan berkata: “Ini Ralphie.”


Mendengar Ryan berkata yang menelepon adalah Ralphie, Serena terkejut dan hampir menjatuhkan remote yang ada di tangannya ke lantai.


Ryan benar-benar tak menangkap ada yang salah dengan Serena, dia mengangkat telepon, menempelkannya ke telinganya.


“Halo, Ralphie.”


“Kamu ada di rumah kah? ” Nada suara datar dan dingin Ralphie tedengar dari telepon.


Ryan merasa aneh bertanya, “Iya aku di rumah.”


“Keluar bukakan pintu, sekarang aku ada di depan pintu rumahmu.” Suara jelas Ralphie kembali terdengar.


Ryan terkaget bertanya, “Kamu ada di gerbang rumahku? ”


Kemudian tak ada respon lagi dari telepon itu, Ralphie menutup teleponnya.


“Telepon ini di matikan sangat cepat sekali! ” Ryan menggelengkan kepala mengoceh, kemudian memandang kepada Serena berkata : “Ser, suamimu datang, aku pergi buka pintu dulu. ”


Tidak menunggu Serena merespon, dia sambil bangkit berdiri berjalan menuju ke pintu gerbang.


Ketika mendengar Ryan berkata Ralphie ada di depan pintu gerbang kediaman Shen, seluruh tubuh serena gemetaran.

__ADS_1


Dia sungguh tak menyangka Ralphie bisa muncul begitu tiba-tiba.


Dia bukannya ada di Negara M? Bagaimana bisa sampai di kediaman Shen?


Dikarenakan tahu dia ada disini makanya baru datangkan? Otak Serena tepikir ide yang cukup berani, tapi kemudian disingkirkannya.


Dari dia pergi keluar negeri sampai sekarang, sekali meneleponpun tidak pernah, mana mungkin karena tahu dia ada di sini makanya datang mencarinya kemari? Mungkin dia kesini datang mencari Ryan.


Hati Serena sungguh sangat berat, tapi tetap ketika mendengar suara Ralphie terdengar dari pintu gerbang, dia tak tahan untuk menoleh dan melihatnya, tapi tak mau bertatap muka langsung ke Ralphie yang baru saja masuk.


Serena tak menyangka sorot mata Ralphie jatuh kepadanya, terkejut dan menatap balik.


Melihat responya, Ralphie sekuat tenaga mengangkat sudut bibirnya tersenyum lembut.


Ryan yang ada di situ sedikitpun tak memperhatikan perbedaan Ralphie dan Serena, masih dengan senang berkata, “Ralphie, kebetulan kamu datang, Serena sedang ada di rumahku. ”


Ralphie otomatis tak akan bilang ke Ryan, dia datang khusus untuk menjemput Serena, hanya menimpali dengan datar ‘Hmm.’


Ryan juga tak merasa aneh dengan sikap dingin Ralphie, membawa Ralphie masuk ke ruang tamu.


Pandangan mata Ralphie menyapu sekilas sekeliling ruangan, mengetahui tak ada orang lain di dalam ruang tamu selain Ryan dan Serena, dan televisi sedang memutar tentang tayangan ekonomi, sangat jelas Ryan yang menonton.


Bisa dibilang, seluruh ruang tamu hanya ada Ryan dan Serena…… Sorot mata Ralphie dingin memandang ke kebelakang Ryan dan menyapu seluruh ruangan.


Dia ngapain sih? Menggunakan tatapan mata seperti itu melihatnya.


Ryan merasa sedikit takut, mundur dua langkah kebelakang.


Ralphie menyorot balik matanya, dengan datar bertanya, “Kamu seorang diri di rumah?”


“Tidak, yang lain belum pada bangun. ” Ryan tertegun sejenak, menggeleng.


Serena biasa bangun pagi, sekarang aku masih jetlag jadi bangun lebih pagi.


Ryan bocah ini, sejak kapan suka bangun pagi? Pupil mata Ralphie memandang ke bawah, menoleh melihat sekilas ke arah Serena yang tak bergerak duduk di sofa, lalu berjalan melangkah ke arahnya.


Mengikuti derap langkah demi langkah Ralphie yang mendekat, Jantung Serena berdegup kencang seperti mau melompat.


Ketika menunggu Ralphie berjalan sampai ke sebelahnya, hati dan tangannya, sudah basah oleh keringat.


Setelah dengan datar Ralphie mengucap sebuah kalimat, ‘tumben sekali kamu bangun pagi’, kemudian duduk di sebelah Serena.

__ADS_1


“Kemarin baru pulang dari luar negeri, masih sedikit Jet lag. ” Ryan selesai berkata, kemudian seperti teringat sesuatu dan bertanya, “Oh ya, Serena bilang kamu pergi ke Negara M, kapan pulangnya?”


Ralphie yang hanya mulai mengedipkan ngedipkan mata , Serena yang sama sekali tak memandangnya, menjawab, “Kemarin. ”


Ternyata dia kemarin sudah pulang……Serena menggunakan tenaga ******* ***** bagian bawah bajunya.


Ralphie kemarin sudah pulang, Serena kenapa tidak tahu?


Mata Ryan melihat sedikit aneh, bertanya, “Kamu pulang tidak kasih tahu ke Serena kah?”


Sebenarnya dia ingin bilang, tapi dia (Serena) juga tidak peduli.


Ralphie berusaha mengangkat sudut bibinya tersenyum lembut, tidak bicara.


Sedangkan Serena yang mendengar perkataan Ryan, meremas jemarinya, menjadi begitu pucat, seakan menusuk sampai ke dalam daging, dan mengoyak sedikit luka hatinya.


Ryan terus merasa aneh, kenapa Ralphie dan Serena terus tak bicara, dan memihat ekspresi mereka berdua, langsung paham sedang terjadi sesuatu di antara mereka berdua.


Dia marah terhadap diri sendiri di dalam hati berkata bodoh sekali, pandangannya kebetulan ter-arah kepada pembantu yang baru keluar dari dapur untuk menyiapkan sarapan, langsung mengalihkan pembicaraan, “Ser, sarapan sudah siap, kamu mau makan dulu nggak?”


“Oh, iya. ” Serena tertegun sejenaak, kemudian mengangguk, bangkit berdiri, mengikuti Ryan ke arah ruang makan.


Akhirnya baru saja melangkah 2 langkah, lengan tangannya di tahan Ralphie hingga sedikit sakit.


“Dia tidak perlu sarapan. ” Setelah selesai berbicara dengan datar Ralphie langsung berkata dari belakang Ryan, sambil menarik Serena berjalan kearah luar.


Serena berusaha meronta, “Ralphie, kamu ini kenapa?”


Langkah kaki Ralphie tak berhenti, “Bawa kamu pulang.”


Bawa dia pulang? Membawa….. Serena melihat sekilas ke arah tangannya yang di genggam Ralphie dan membuatnya sedikit kesakitan, ingin berkata sesuatu, tapi akhirnya apapun tak keluar dari mulutnya.


Ryan menoleh mendengar perkataan Ralphie, sambil melihat Ralphie menarik Serena keluar, terburu buru bertanya, “Ralphie, kamu mau bawa Serena kemana?”


Ralphie tak menghentikan langkah kakinya, juga tidak menjawab Ryan, dia menarik Serena keluar dari kediaman Shen, sampai ke depan mobilnya, kemudian tidak menunggu respon Serena, membuka pintu mobil, menggunakan satu tangannya mendorong Serena masuk ke mobil, dengan keras menutup pintu, lalu memutar mobil, menjalankan mobil dan pergi.


Sewaktu menunggu Ryan mengejar keluar , hanya melihat belakang mobil Ralphie sudah pergi.


“Ralphine sebenarnya telah melakukan apa? ” Melotot memandang mobil Ralphie yang sudah pergi, Ryan sungguh tak paham dengan situasi ini.


Ralphie menengok sekilas ke kaca spion, melihat sosok Ryan yang mengejar sudah semakin jauh, sinar matanya terlihat dingin.

__ADS_1


Dia membawa Serena pulang, kenapa Ryan mengejar sampai keluar? Bukankah dia mengurus terlalu banyak.


__ADS_2