I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 80 Ralphie Cemburu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Isa mengambil teh yang ada diatas meja dan meminum semuanya sebelum menjawab pertanyaan Ralphie, “Dia dan teman kerja nya makan bersama…”


Setelah meletakkan cangkir teh dia melanjutkan: “Aku juga berkata untuk menyuruh nya ikut kita makan bersama, tapi dia bilang sudah janji dengan teman kerjanya.”


Hello! Im an artic!


Ralphie menjawab ‘Oh’ dan tidak berbicara lagi.


Isa dengan senang memamerkan kepadanya: “Tapi dia bilang selanjutnya dia akan mentraktir kami makan.”


Ralphie mengangkat alis dan tidak bisa menyangkal perkataan Isa.


Melihat Ralphie tampaknya tidak percaya, Isa berkata dengan suara yang keras: “Ralphie kalau kamu tidak percaya, aku sekarang bisa menyuruh Serena untuk memberitahu mu.”


Hello! Im an artic!


“Hah?” Ralphie menatap Isa.


Terakhir dengan bangga mengeluarkan ponsel, membuka nomor telepn Serena dan memberi Ralphie lihat.


Ryan yang berada disebelah menatap nya dan berkata: “Isa, kamu jangan pamer.”


“Ryan, kamu cemburu pada ku.” Isa menyangkal.


Ryan mengangkat bahunya dan berkata dengan menghina, “Mengapa aku harus cemburu? Lagipula kamu bermuka tebal meminta nomor telepon orang?”


Ralphie melihat sekilas sudah mengenali nomor ponsel Serena dan matanya tiba-tiba dingin beberapa menit.


Sejak kapan Serena dan Isa menjadi begitu dekat sampai bisa menukar nomor?


Mereka hanya bertemu dua kali, tiga kali!


Memikirkan dia sudah membantu nya beberapa kali, dia juga tidak meminta nomornya, pada akhirnya Felix juga yang memberi nomornya padanya.


Apa dimatanya dia tidak sebanding dengan Isa? Ekspresi Ralphie tiba-tiba menjadi dingin, disaat dia memotong pembicaraan Isan dan Ryan.


Dan mendengar perkataan Ryan, “Mengapa aku harus cemburu? Lagipula kamu bermuka tebal meminta nomor telepon orang?”


Suasana hati Ralphie tiba-tiba menjadi cerah, mengangkat bibirnya kemudian tersenyum.

__ADS_1


Suara Ralphie begitu kecil tetapi di dalam kotak tertutup ini sangat jelas.


Isa dan Ryan yang awalnya bertengkar, keduanya memalingkan mata mereka kepadanya ketika mereka mendengar tawa.


Kemudian melihat dia bahwa wajahnya benar-benar dipenuhi dengan senyuman, Isa dan Ryan matanya bergoyang.


“Ralphie kamu tertawa?”


“Ralphie ternyata kamu bisa tertawa?”


Mendengar perkataan mereka, terdengar Ralphie menjawab ‘Huh?’ mengangkat kepala dan melihat mereka.


Mata nya yang terbiasa dingin karena senyuman menjadi lebih hangat.


“Epiphany! Cantik seperti peri…” ketika Isa belum menyelesaikan pembicaraan, tiba-tiba Ryan menyikutnya dengan bahu.


Isa merasa tidak puas dengan Ryan dan berkata: “Aku rapiin, Ryan kenapa kamu memukul aku?”


Ryan tidak berbicara, hanya menunjukkan ke arah Ralphie dan menaikkan dagunya.


Mata Isa menuju kearah Ralphie, memperhatikan senyuman Ralphie, sekarang dipenuhi dengan udara dingin, dia baru ingat dengan apa yang dia katakan.


Bagaimanapun dia menganggap Ralphie seperti seutas Epiphany dan cantik seperti peri…


Isa diam-diam membenturkn lengannya ke lengan Ryan, meminta pertolongan kepadanya.


Ryan pada awalnya tidak ingin berurusan dengan Isa, pada akhirnya memberi sinyal pertolongan melalui mata dan berkata: “Panggil pelayan masuk untuk memesan makanan?”


“Iya, pesan sayur…” Isa dari awal ingin bergaung dengan perkataan Ryan, pada akhirnya pandangan Ralphie yang dingin melihat kearahnya, membuat dia bergegas diam.


“Jangan ganggu dia kalau tidak ada masalah.” Ralphie berkata.


Jangan ganggu siapa? Isa sama sekali tidak mengerti, tapi dengan turut menganggukkan kepalanya, “Tidak akan.”


Ralphie mendengus, kemudian memanggil pelayan datang untuk memesan makanan.


Melihat ini Isa pelan-pelan menghelakan nafas, dia bersumpah kedepanya dia tidak akan sembarang ngomong di depan Ralphie.


Ralphie dan Isa setelah selesai makan kembali keperusahaan.


Ketika memasuki kantor, seorang seketaris wanita menghalangi nya, “Direktur Su, ini ada dokumen penting dari asisten Zhou, perlu persetujuan anda.”

__ADS_1


Ralphie mengatakan ‘iya’, mengambil dokumen dari tangan seketaris wanita, dan masuk kedalam kantornya, sebelum mendorong pintu nya, dia teringat sesuatu, membalikkan kepala dan melirik kekantor Felix, dan melihat bahwa didalam kantor tidak ada orang, mengerutkan kening, membalikkan badan, “Dimana Felix?”


“Asisten Zhou terus-menerus sibuk, barusan dia pergi ke kantin untuk makan” ketika seketarisa wanita menyelesaikan perkataan dia menambahkan, “Ketika dia sudah pulang, saya akan meminta nya untuk pergi ke kantor anda.”


Dengan pandangan datar, Ralphie mengulurkan tangan dan mendorong pintu kemudia masuk kedalam.


Dia melepas mantelnya, menggangtungnya digantungan baju dan duduk dimejanya.


Ketika dia membuka laptop, memasukkan kata sandi, dia melihat keyboard sejenak, akhirnya dia menyimpan tangannya kembali, mengambil telepon yang ada di mejanya, dan menekan nomor telepon Serena yang dia ingat sangat baik.


Teleponnya sudah berbunyi beberapa kali, tetapi tidak ada orang yang mengangkat.


Ralphie mengerutkan kening, dan hendak menutup ketika telepon nya masih masuk.


Suara Serena yang sopan keluar, “Halo?”


Ralphie berkata: “Ini aku.”


Ketika mendengar suara Ralphie, terdengar suara ledakan didalam telepon.


Apa yang terjadi? Ralphie mengerutkan alis, “Kenapa?”


Serena berkata, “Tidak apa-apa, barusan aku menjatuhkan barang.”


Ralphie menjawab ’em’ dengan lembut kemudia terdiam.


Serena yang mendengar Ralphie terdiam, menggunakan tenaga memegang ponselnya.


Kemudian tersenyum: “Melihat nomor ini, aku mengira adalah orang asing.”


“Ini adalah nomor kantor.” Ralphie terdiam sebentar lalu menambahkan, “Ponsel ku sedang bermasalah dan lagi diurus.”


“Oh, pantesan saja tidak terhubung.” Serena menjawab.


“Iya, semalam aku menelepon.” Terdiam sebentar kemudian melanjutkan, “Dengar-dengar kamu sangat sibuk, kamu harus jaga dirimu dengan baik…Er…hari ini aku bertemu dengan tuan Isa dan tuan Ryan.”


“Iya, aku tahu. Dua hari ini, bagaimana kabar mu?” suara nya masih dingin tapi sepertinya sudah jauh menjadi hangat.


Serena menjawab dengan senyuman, “Aku? Baik-baik saja, cuman agak sibuk dengan masalah kompetisi.”


Ralphie tanpa berpikir bertanya, “Kompetisi apa?”

__ADS_1


“Ada kompetisi di bagian departemen kami, kamu tidak tahu? Dengan suara terkejut dari Serena.


Ralphie baru teringat, didalam pikiran Serena dia adalah atasannya, seorang atasan bahkan tidak tahu adanya kompetisi desain, pantes saja Serena terkejut.


__ADS_2