I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 251 Orang Asing Yang Tinggal Di Bawah Satu Atap


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Hingga pukul delapan, Ralphie juga tidak menunggu balasan pesan singkat dari Serena.


Pelayan memanggilnya untuk makan malam, tapi dia sedang tidak mood, dan langsung naik ke lantai dua.


Hello! Im an artic!


Waktu terus berjalan, jam menunjukkan pukul sembilan, ponsel sama sekali tidak berdering, halaman depan rumah sepi, dan tidak ada suara taksi datang.


Ralphie berdiri di depan jendela, melihat ke luar yang gelap, entah apa yang sedang dipikirkannya.


Sudah pukul sepuluh malam, Serena belum juga pulang.


Hingga pukul sebelas, sebuah suara mobil terdengar dari jendela.


Hello! Im an artic!


Dari kejauhan terlihat sebuah taksi berhenti di depan halaman, Ralphie segera turun ke bawah.


Serena masuk ke rumah, dan langsung melihat ke arah ruang tamu.


Tidak melihat Ralphie di sana, ia merasa lega.


Setelah menoleh ke kanan dan kiri, Serena mengganti sendal, lalu segera berjalan ke atas, berencana untuk lebih awal masuk ke kamar. Alhasil, ketika baru naik tangga, ia mendengar suara sandal jepit.


Tubuh Serena menegang, dan secara refleks ia mengangkat kepalanya melihat Ralphie yang sedang turun tangga.


Tidak menyangka Ralphie akan turun, pikirannya langsung menjadi kosong.


Tidak kemarin tidak hari ini, dia pulang begitu larut, hanya untuk menghindari Ralphie.


Kenapa masih saja bertemu?


Langkah kaki Ralphie tidak terhenti, setelah terdiam beberapa saat, dia terus berjalan ke bawah.


Mendengar suara langkah kaki, Serena kembali tersadar, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, menarik nafas dalam-dalam, mengalihkan pandangan, dan lanjut naik ke atas.


Dua orang di tangga, satu naik ke atas dan satu turun.


Sisa sepuluh langkah, delapan langkah….dua langkah, dua pasang mata akan segera bertemu pada anak tangga yang sama, dan bahkan tercium aroma tubuh Ralphie yang khas.


Serena mempercepat langkahnya, ingin selangkah lebih maju dari tempat Ralphie berdiri, tapi dia baru mengangkat kakinya, Ralphie mengulurkan tangannya dan menggenggam lengan Serena sehingga langkahnya terhenti.


Sentuhan hangat di pergelangan tangannya membuat tubuh Serena agak gemetar, dan lengan satunya yang memegang tas ikut menjadi tegang.


“Serena….” Ralphie memanggil namanya dengan lembut.

__ADS_1


Jantung Serena berdegup kencang, tapi sesaat kemudian menjadi tenang.


Ia menunduk dan dengan acuh tak acuh bertanya, “Ada apa?”


Ralphie tidak menjawab, tapi hanya memandang Serena dengan diam.


Jelas-jelas hanya tersisa satu rahasia yang belum diungkapkan Ralphie sebelum ia pergi ke Swiss.


Nyatanya dia sudah memutuskan untuk memberitahu kepada Serena, agar ia dapat menerimanya.


Alhasil, tidak terasa seminggu telah berlalu, sepulangnya dari Swiss, Serena sudah berubah.


Dia menjauh dari Ralphie, bahkan….berusaha menghindar darinya.


Mengapa? Ralphie tidak mengerti.


Tapi dia tahu, saat Serena menanyakan ‘Ada apa’, Ralphie dari awal sudah mempersiapkan diri.


Tidak, jangan melepaskannya, tidak boleh.


Serena jelas-jelas sudah menolaknya, bahkan sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk menjelaskan.


Dengan sedih Ralphie perlahan melepaskan lengan Serena dari genggamannya.


“Um, tidak ada, hanya ingin memberitahumu, tidak peduli seberapa sibuknya kamu di kantor, jangan lupa untuk istirahat.”


Ralphie adalah pria yang sangat dicintainya, dia ingin sepanjang hidup hanya mencintainya.


Bahkan jika Serena tidak ada dalam hatinya, cintanya kepada pria itu tidak berubah.


Namun, pria yang sangat dicintainya itu telah membunuh anaknya.


Setiap kali dia mengingat suara bayi yang bertanya padanya dalam mimpi itu, Serena merasa sangat amat sedih.


Tidak perlu lagi mempertanyakannya, yang harus ia lakukan sekarang adalah menjauhi pria itu.


Serena menarik napas dalam-dalam, mengangkat kepalanya ke atas.


Ralphie masih berdiri, memperhatikan Serena yang berjalan menjauh hingga akhirnya menghilang di sudut tangga. Ia tidak ingin mengalihkan pandangannya.


Cahaya kuning dari lampu yang menempel di dinding tangga diam-diam mengenai wajahnya, mengaburkan ekspresinya.


Sejak malam itu, Serena dan Ralphie kembali seperti orang asing, menjalani hari-hari seperti orang yang tidak pernah menikah.


Dulu ketika Ralphie masih banyak pekerjaan di kantor, ia pasti akan membawanya pulang untuk dikerjakan di rumah. Tapi sekarang, hampir setiap hari Ralphie lembur di kantor sampai tidak pulang. Dua tiga hari sekali baru pulang, itupun hanya pulang sebentar lalu pergi lagi.


Sementara Serena, sama seperti biasanya pergi pagi pulang malam, bahkan saat akhir pekan, ia belum tentu ada di rumah.

__ADS_1


Pelayan rumah yang melihat Ralphie dan Serena merasa sangat cemas.


Bukankah hubungan antara tuan dan nyonya muda semakin hari semakin baik? Mengapa tiba-tiba ada masalah lagi?


Tuan muda kebanyakan tidak pulang ke rumah, tapi untungnya nyonya muda masih pulang tidur di rumah.


Jadi, pagi ini, saat Serena akan keluar rumah, pelayan itu menahannya.


“Nyonya, apakah Anda ada waktu sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan.”


Serena terdiam dan bertanya, “Apa? Katakan saja.”


“Nyonya, saya tidak tahu apa yang terjadi antara Anda dengan tuan muda, saya juga tidak bisa ikut campur. Tuan muda beberapa hari ini belum pulang, saya hanya bisa menanyakannya pada nyonya muda.”


Ralphie sering tidak pulang? Serena terdiam dan memandang pelayan itu, menunggu pelayan itu melanjutkan perkataannya.


“Nyonya, konflik antara suami istri adalah hal yang wajar. Jangan karena masalah kecil jadi saling menyakiti. Tuan muda sangat mencintai Anda, Nyonya….”


Sebelum pelayan itu selesai berbicara, Serena menyela.


“Kamu salah, Dia mencintai orang lain. Jika sudah tidak ada yang ingin kamu katakan, aku pergi.” tanpa menunggu jawaban dari sang pelayan, Serena langsung membawa tasnya dan pergi.


Melihat Serena bergegas pergi, wajah pelayan itu tampak kebingungan.


Tuan muda jelas-jelas mencintai nyonya muda, mengapa nyonya muda mengatakan bahwa tuan muda mencintai orang lain?


Mungkin karena mereka sedang bertengkar, jadi ia mengatakan seperti itu.


Hm…. Tapi melihat kondisi sekarang, sepertinya tidak mudah bagi tuan dan nyonya muda untuk baikan.


Masih merasa agak resah, pelayan itu kembali ke dapur.


Serena sangat marah karena perkataan pelayan itu.


Pelayan itu adalah orang yang dipekerjakan Ralphie. Dia pasti membantu Ralphie merahasiakan soal keguguran itu.


Tapi mengapa harus berbohong bahwa Ralphie mencintainya?


Jika Ralphie memang mencintainya, apakah ia akan membiarkan Dokter Chen membunuh anaknya?


Ia hanya mencintai Flora.


Dia, Serena hanyalah seorang yang tidak sengaja dinikahi Ralphie, yang bahkan tidur dengan pria itu, karena dia yang berinisiatif mengambil kesempatan saat Ralphie sedang mabuk.


Serena tidak menangis. Ini bukanlah hal yang besar, tapi dia tahu kenyataannya.


Serena, tunggu beberapa hari lagi, kau bisa menjelaskan ini kepada Ralphie, dan segera terbebas.

__ADS_1


Air mata Serena hampir tumpah, ia mengangkat kepalanya, memandang langit yang semakin cerah, menarik nafas dalam-dalam dan berjalan ke mobil yang terparkir di pinggir jalan.


__ADS_2