
Hello! Im an artic!
Siapa lagi yang bisa membuat Ralphie pulang dengan patuh? Tentunya Serena.
Sebenarnya jika Ralphie tidak mabuk, dia mungkin tidak akan sepatuh ini. Sayangnya Ralphie sudah minum hingga mabuk, saat melihat pesan singkat dari Serena, yang memintanya pulang awal untuk istirahat, dengan cepat dia menurutinya.
Hello! Im an artic!
Karena minum terlalu banyak, hari kedua dia merasa sakit kepala dan sakit tenggorokan yang menyiksa, akibatnya dia tidak pergi ke kantor dan memilih istirahat di villa saja.
Dia menelepon Felix dan mengaturkan kerjaan untuknya, setelah itu Ralphie kembali berbaring di ranjang dan melanjutkan tidurnya.
Entah tidur hingga berapa lama, handphone Ralphie tiba-tiba berdering.
Ralphie mengerutkan kening dan membuka matanya, dia melihat langit-langit kamar sejenak kemudian baru menyingkapkan selimut dan pergi mengangkat telepon.
Hello! Im an artic!
“Halo…” Suara Ralphie sangat serak, terdengar seperti suara gesekan kertas ampelas.
“Tenggorokan kamu kenapa?” Suara Serena terdengar dari ujung telepon.
“Semalam minum terlalu banyak, akibatnya tenggorokan jadi tidak enak.” Ralphie menggosok-gosok alis dan duduk di sofa, “Ada masalah?”
Serena terdiam sejenak, kemudian berkata: “Sepertinya pakaian saya ketinggalan di kamar hotel.”
Ralphie menjawab “Ya”, terdiam beberapa saat, dan lanjut berkata: “Nanti saya suruh orang ambil kesana.”
Serena dengan segera berkata, “Tidak perlu repot-repot, saya bisa pergi mengambilnya setelah pulang kerja. Hanya saja perlu bantuan kamu menelepon orang hotel untuk menyimpankannya untuk saya.”
Ralphie diam 3 detik, dan menjawabnya, “Tidak ada nomor telepon hotel, saya minta orang pergi ambilkan saja.”
“Kalau begitu sungguh merepotkanmu.”
“Tidak kok.” Ralphie menjawab dengan pelan dan santai.
Serena mengerutkan kening dan menjawab: “Kamu istirahat dulu, saya tutup dulu teleponnya.”
Tidak terdengar suara orang berbicara lagi, hanya nada dering sibuk terdengar.
Serena menggenggam handphone dan bingung beberapa saat, kemudian berdiri dan segera pergi ke ruangan Halle untuk meminta izin.
Setelah mendapat ijin Halle, Serena kembali ke ruangannya untuk mengambil handphone dan tas, kemudian segera meninggalkan kantor.
Setelah keluar dari kedung kantor, Serena pergi membeli obat ke sebuah toko di sekitar kantor. Benar sekali, Serena khusus minta izin untuk menjenguh Ralphie.
__ADS_1
Serena menceritakan kondisi Ralphie ke pelayan toko dan dia diberikan obat anti radang dan sekotak pil tenggorokan.
Setelah memberi obat, Serena langsung menghentikan sebuah taksi dan melaju ke Shadewoods Manor.
Serena keluar dari kantor saat jam 10 pagi, sesampainya di kawasan Shadewoods Manor, waktu sudah menunjukkan pukul 11.
Serena turun di pintu gerbang kawasan villa, berjalan sekitar 10 menit dan akhirnya sampai di depan villa Ralphie.
Dia berjalan sampai di depan pintu dan menekan bel, kemudian mundur 2 langkah dan menunggu disana.
2 menit kemudian, Ralphie dengan wajah tidak enak dipandang keluar membukakan pintu.
Saat melihat yang berdiri disana adalah Serena, Ralphie merasa sangat terkejut.
Serena mengangkat tinggi kantong di tangannya dan berkata: “Saya membawakan obat untukmu.”
Ralphie menjawab “Ya”, kemudian mundur selangkah untuk membiarkan Serena masuk.
Serena mengganti sandal sambil berkata, “Selain tenggorokan sakit, kepala juga sakit ya?”
Ralphie menatapnya beberapa detik, baru kemudian menganggukkan kepala tanpa berkata apapun.
Serena langsung membawakan obat itu ke dalam, dan melihat Ralphie sambil mengangkat alis: “Kamu duduk dulu di sofa, saya ambilkan air dulu.”
Sambil berkata Serena langsung berjalan masuk ke dapur, berjalan sambil berbisik sendiri: “Minum obat antiradang dulu, baru minum obat tenggorokan….”
Beberpa menit kemudian, Serena berjalan keluar dapur dengan 1 tangan memegang obat dan 1 tangan membawa gelas minum.
“Cepat minum obat, nanti juga baikan.”
Ralphie melihat Serena dengan bengong selama beberapa detik, kemudian menjulurkan tangan mengambil obat dan air dari tangannya, dan menelan obat itu dengan patuh.
Serena menerima gelas minum itu dan kembali ke dapur.
Saat Serena keluar lagi, tangannya membawa sekotak pil tenggorokan.
“Pil ini diemut dalam mulut.” Serena membuka bungkus pil itu sambil berkata, kemudian mengambil sebutir pil tenggorokan dan mendekatkan ke mulut Ralphie.
Wangi mentol yang tajam, membuat Ralphie mengerutkan kening dan berbalik badan meninggalkannya.
Serena mengejarnya dengan cepat, “Emut saja pil ini, akan terasa lebih lega di tenggorokan.”
“Tidak…. Perlu.” Ralphie menggelengkan kepala dan duduk di sofa samping.
Serena menarik alisnya dan berkata: “Tenggorokan kamu sudah seperti ini, apanya yang tidak perlu?”
__ADS_1
Ralphie menatapnya sekilas, kemudian berkata dengan suara serak: “Saya tidak suka rasa mentol.”
Tidak suka rasa mentol langsung tidak makan, kenapa mirip seorang bocah. Tetapi kan hampir semua pil tenggorokan mengandung rasa mentol! Serena mengerutkan kening, tiba-tiba kepikiran saat Sang Ayah minum kebanyakan dan sakit tenggorokan dulu, Bibi Bella menyeduhkan sejenis teh untuknya.
Terdiam sejenak, kemudian Serena memasukkan pil itu ke dalam teko teh dan segera menuju dapur.
Ralphie melihat Serena tidak memintanya makan pil itu lagi, seketika merasa lega.
Tetapi setelah dia duduk belasan menit di sofa, tidak terlihat Serena keluar dari dapur.
Apa yang dia lakukan di dapur? Ralphie terdiam beberapa detik, kemudian berdiri dan berjalan ke dapur.
Saat sampai di pintu dapur, terdengar Serena sedang menelepon, “….. Krisantimum, Kamperfuli lalu diseduh ke dalam teh ya?”
Ralphie tahu bunga krisan dan kamperfuli diseduh teh akan berkhasiat untuk menghilangkan panas dalam dan penawar racun.
Karena Ralphie tidak menyukai bau mentol, Serena bela-belain menelepon orang untuk menanyakan cara lain?
Dalam hati Ralphie timbul rasa terharu yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.
“Seduh dengan air panas, oke saya mengerti… terima kasih Bibi Bella… sampai jumpa!” Serena menutup telepon dengan senang, kemudian berbalik sambil memegang handphone, dan terlihat Ralphie berdiri di depan pintu dapur melihatnya.
Dia terdiam sejenak, lalu bertanya, “Kenapa kamu masuk ke dalam dapur?”
Ralphie menjilat bibirnya dan berkata: “Minum air.”
Serena menjawab “Iya”, lalu berjalan hingga ke dispenser dan mengambilkan segelas air untuk Ralphie.
Saat memberikan gelas ke Ralphie, Serena bertanya, “Apakah kamu suka krisan dan kamperfuli?”
Alis panjang Ralphie terangkat kemudian menganggukkan kepala.
“Kalau begitu saya pergi beli dulu.” Serena membawa handphone dan tas lalu berangkat dengan senang, saat baru berjalan 2 langkah, dia seperti kepikiran sesuatu kemudian berbalik badan, “Oh ya, sudah waktunya makan siang, kamu ingin makan apa? Saya sekalian bawakan.”
“Kamu atur saja.” Ralphie menjawab dengan pelan dan santai.
Serena menjawab “Oke”, lalu berjalan keluar. Belum sampai di pintu, Ralphie tiba-tiba memanggilnya, “Pakai mobil saja.”
“Iya?” Serena berbalik melihatnya.
Ralphie melihat Serena dan mengulangi perkataan tadi dengan pelan dan jelas, “Kamu bawa mobil saja agar lebih cepat, kuncinya ada di pintu depan.”
Serena mengangguk, kemudian mengambil kunci yang tergantung di pintu dan langsung berjalan keluar.
Ralphie bersandar di sofa, sambil mendengar suara pintu tertutup, di ikuti suara mobil menjauh.
__ADS_1
Hingga suara mobil itu tidak terdengar lagi, barulah dia menutup matanya dengan perlahan.