I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 308 Jatuhnya Serena Akhirnya Memecahkan Segala Sikap Kekehnya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Tidak tahu kebetulan atau apa, Serena selalu bisa mengejar Ralphie, bahkan saat dia naik taksi, jarak antara dia dan Ralhpie naik taksi hanya beberapa menit, cukup agar dia bisa mengejar Ralphie.


Satu jam lebih kemudian, taksi sampai ke rumah kakek.


Hello! Im an artic!


Saat Serena membayar biaya taksi dan turun dari taksi, Ralphie berdiri dengan wajah dingin, berdiri di luar mobil menunggu dia.


“Ralphie……” Serena memanggil nama dia.


Bibir Ralphie tertutup rapat, terlihat perasaan yang rumit di matanya. Setelah beberapa saat, dia bertanya dengan dingin, “Kamu mengikuti aku kesini untuk apa?”


Serena menjawab: “Aku mengikutimu untuk datang mengunjungi kakek.”


Hello! Im an artic!


“Apakah kamu boleh memanggil dia kakek?” Perkataan Ralphie sangat dingin, menyakiti orang, Serena yang wajahnya sudah pucat, menjadi semakin pucat.


Ralphie seperti tidak bisa melihat wajahnya yang sudah pusat, melanjutkan perkataan kasarnya, “Pergi! Kamu tidak di terima disini.”


Setelah dia selesai mengatakan kalimat itu, Ralphie membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam villa.


Serena sudah mengikuti dia kesini dari Perancis, pasti tidak bisa langsung pergi lagi, dia menunggu Ralphie masuk ke dalam villa, lalu dia mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya dan merapihkan pakaian yang dia kenakan.


Lalu dia mengeluarkan senyumannya dan berjalan masuk ke dalam villa.


Saat dia masuk, Ralphie sedang berada di ruang tamu berbicara dengan kakek.


Melihat dia masuk, kakek sangat senang, sambil menyapa Serena, sambil menatap Ralphie, “Kenapa kamu tidak memberitahu aku, kamu dan Serena bersama-sama datang kesini?”


Ralphie tidak mengatakan apa-apa, dia hanya bangun, lalu berjalan ke arah tangga.


Serena tadinya takut Ralphie akan mengusir dia keluar di depan kakek, sekarang melihat Ralphie tidak mengatakan apa-apa, hanya bangun dan pergi, dia mengerti Ralphie tidak ingin kakek tahu akan masalah mereka, dia jadi merasa tenang.


Lalu dia menghapiri kakek dengan senyuman, “Kakek, aku barusan lupa membawa tas turun, jadi aku masuk belakangan.”


“Begitu rupanya, dia juga seharusnya menunggumu untuk masuk bersama……” Kakek belum selesai berbicara, tiba-tiba kakek menyadari Serena berjalan dengan pincang dan langsung bertanya, “Serena, kaki kamu kenapa?”

__ADS_1


Serena terkejut, dia baru mengingat dia memang sudah merapikan bajunya, tapi lupa akan kakinya yang terkilir.


Dia terdiam beberapa detik, lalu Serena tersenyum dan berkata: “Kakek, kakiku……barusan saat masuk terpentok, tidak apa-apa kok.”


“Benar-benar tidak apa-apa? Kalau tidak suruh Dokter datang kesini untuk memeriksa?” Kakek mengerutkan keningnya, sambil melihat kaki Serena.


“Kakek, aku tidak apa-apa.” Serena takut kakek tidak percara, dia mengangkat kaki kanannya dan menggerakannya.


Hanya dia yang mengerti, kaki terkilir sangat sakit.


Kakek melihat kaki kanan Serena tidak apa-apa, dia tidak bertanya lagi, lalu dia pergi ke dapur dengan senyuman untuk membuatkan makanan kesukaan Serena dan Ralphie.


Setelah kakek pergi, Serena menghela napas lega, lalu dengan lelah duduk di sofa.


Dia tidak sadar, di sudut tangga lantai dua, ada Ralphie yang sedang berdiri disana, dari tadi tidak bergerak.


Setelah makan malam kakek memerintahkan pelayan rumah untuk menyiapkan kamar untuk mereka.


Karena perkataan kakek, Ralphie berkata: “Tidak perlu, aku sudah mau pergi.”


Ralphie tadinya berencana untuk tinggal disana, tapi ada Serena disini, jadi dia mau pergi.


Kakek menjadi agak tidak senang, “Baru datang kalian sudah buru-buru ingin pergi, kalian lebih baik tidak datang.”


Serena melihat kearah Ralphie, lalu dengan wajah penuh maaf berkata ke kakek: “Kakek, sungguh maaf, semua salah aku, kompetisi di Perancis belum aku selesaikan.”


Mendengar Serena berkata kompetisi di Perancis belum selesai, rasa tidak senang kakek menghilang, “Karena urusan kompetisi, kakek tidak akan memaksa kalian menginap disini, aku akan suruh Theo mengantar kalian.”


“Tidak perlu, aku membawa mobil sendiri.” Jawab Ralphie, dia bangun, menarik koper yang tadi dia bawa, dan berjalan keluar.


Serena melihat bayangan Ralphie, setelah berkata selamat tinggal dengan kakek, dia juga bangun dari duduknya.


Saat dia keluar, Ralphie sudah berjalan pergi membawa mobil.


Melihat jalanan yang kosong, hati Serena merasa pahit.


Membalikkan kepala dan melihat villa terang yang tidak jauh dari dia, dia memilih untuk tidak kembali ke villa, tapi dia berjalan pergi dengan pincang.


Setelah Ralphie menyetir selama belasan menit, tiba-tiba dia mengigat sesuatu dan dia menghentikan mobilnya di tengah jalan.

__ADS_1


Lalu mengeluarkan hpnya dan menelpon villa.


“Halo.” Pelayan rumah yang mengangkat telepon dari Ralphie.


Ralphie menjawab, “Ini aku.”


“Tuan muda?” Pelayan itu terkejut, lalu berkata: “Tuan muda, apakah anda ada urusan mencari kakek? Kakek sudah tidur.”


Ralphie menjawab ‘oh’, lalu bertanya, “Nyonya Luo juga sudah tidur?”


Pelayan itu bertanya dengan bingung, “Nyonya Luo? Bukankah dia pergi bersama-sama dengan tuan muda?”


Serena mengikuti dia pergi? Serena sudah pergi, tidak berada di villa? Ralphie terkejut untuk sesaat, hingga hpnya terjatuh dari tangannya pun dia tidak sadar.


Sudah jelas dia menyetir mobil pergi, meninggalkan dia agar dia tetap di villa! Pelayan tapi berkata Serena mengikuti dia pergi, kenapa dia pergi?


Dia melewati jalan ini, dari tadi tidak ada mobil, tidak ada orang, dia mau pergi, satu-satunya cara adalah jalan kaki.


Membayangkan pergelangan kaki Serena yang merah bengkak, Ralphie memutar kemudi mobil dengan kuat, lalu menyalakan mobil dan memutar balik, berjalan kembali ke jalanan yang tadi dia lewati.


Setelah menyetir tidak sampai lima menit, dia melihat Serena.


Dia berjalan dengan pincang, berjalan dengan perlahan. Lampu jalanan kuning itu menyinari tubuh Serena, membuat bayangannya terlihat panjang.


Tidak tahu apakah dia berilusi atau apa, dia merasa Serena jalannya seperti bengkok.


Mungkin karena kakinya yang kesakitan, dia bisa jadi seperti ini! Ralphie berpikir begitu, lalu menghentikan mobilnya.


Jangan menghampiri dia, tunggu dia yang datang kesini, baru biarkan dia naik mobil, Ralphie menahan rasa sakit hatinya dan berkata begitu kepada dirinya sendiri.


Tapi dia tidak mengira, Serena tetap berjalan dan terjatuh.


Dia hanya melihat Serena terjatuh didepan dia.


Disaat itu, jantung Ralphie hampir berhenti berdetak. Lalu tubuhnya bergerak lebih cepat daripada otaknya, dia membuka pintu mobil, sambil berlari ke arah Serena, sambil meneriakkan Namanya, “Serena……”


Serena mendengar suara Ralphie dengan samar-samar, dia berkata kepada dirinya sendiri, “Bermimpi lagi? Kalau tidak bagaimana aku bisa mendengar suara Ralphie……”


Lalu di saat berikutnya, Kesadaran Serena sudah hilang.

__ADS_1


__ADS_2