I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 66 Ralphie Su Diganggu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Tiket pesawat dibeli oleh Grup Su, jadi tanpa perlu check in, mereka bisa langsung menuju pesawat melalui jalur VIP.


Setelah naik ke atas pesawat, mereka malah menemukan masalah.


Hello! Im an artic!


Wajah tampan Ralphie membuat semua pramugari tertarik padanya.


Pramugari pertama mengantarkan minuman dan mengangkat alis untuk melirik ke arah Ralphie.


Pramugari kedua mengantarkan koran dan hampir menjatuhkan badannya ke arah badan Ralphie.


……


Hello! Im an artic!


Melihat pramugari yang tak hentinya memberikan kode dan rayuan, Serena Luo yang duduk disamping Ralphie merasa diacuhkan dan dilayani dengan sikap dingin.


Ralphie bisa tetap tenang tetapi bukan berarti Serena bisa tetap tenang.


Bercanda, siapa yang tahan untuk terus-terusan di acungkan seperti di anggap tidak ada?


Ah! Semua pramugari ini benar-benar tidak berkualitas!


Tak berhentinya untuk mengganggu penumpang yang ada, seluruh wajah mereka juga terpampang jelas ‘Aku tertarik padamu’.


Kekesalan di hati membuat amarah di dada Serena seakan ingin meledak.


Lalu di detik berikutnya, Serena dengan kesal berkata kepada pramugari: “Nona, mohon untuk tidak menggangu pacar saya.”


Setelah kata-kata keluar dari mulutnya, Serena baru menyadari perkataannya.


Gila! Apa yang tadi dia katakan?


Bisa-bisanya dia bicara kalau Ralphie adalah pacar dia?


Mampus! Ralphie pernah berkata bahwa dia tidak akan menyukai wanita manapun, dia mendengar perkataannya, hanya takut……


Serena tidak berani melihat ke arah Ralphie, ia khawatir Ralphie akan memberikannya tatapan menjijikan.

__ADS_1


Ralphie tidak bersuara, hanya melihat ke arah Serena, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.


Pramugari membantah Serena dengan wajah yang memerah, “Nona, mata kamu yang mana yang lihat aku mengganggu pacarmu?”


Perkataan pramugari membuat ia bingung karena Ralphie bukanlah pacarnya.


Ia menggigit bibir bawahnya dan ujung jari yang sedikit bergetar.


Disaat ini juga Ralphie mengulurkan tangan memegang tangan Serena, lalu dengan sikap dingin berbicara pada pramugari, “Nona, dari masuk pesawat sampai sekarang, perilaku kalian sudah sangat menggangu saya, saya akan melaporkan kalian kepada pihak kantor atas perilaku kalian.”


Suara Ralphie tidak terdengar seperti mengancam tetapi sangat tajam dan jelas, semua orang yang berada di dalam pesawat mendengarnya dengan jelas.


Semua orang mendengar tetapi hanya diam tak berkata apapun.


Ekspresi pramugari menjadi sangat canggung seolah-olah memakan kotoran binatang, lebih tepatnya seluruh ekspresi pramugari di pesawat sangat canggung dan malu.


Di komplain oleh orangnya langsung didepan orang banyak karena merasa diganggu, siapa yang malu? Siapa yang tidak malu?


Akhirnya kepala staff pramugari datang untuk menengahi, “Maaf Tuan, ini kesalahan kami.”


Ralphie dengan tatapan dingin melihat sekilas kearah kepala staff, lalu dengan tatapan mata tajam dan perkataan sinis, “Satu kata ‘maaf” sudah bisa menyelesaikan perilaku sebelumnya?”


Kepala staff bergidik dan dengan canggung bertanya, “Bagaiman kalau kami seluruh pramugari disini meminta maaf kepada Tuan dan Nona?”


Ralphie tidak menjawab perkataannya, dia melihat ke arah Serena, tatapan mata berubah menjadi sangat lembut, “Apakah kamu bisa terima jika hanya permintaan maaf saja? Kalau ngga bisa, setelah turun kita pergi laporin mereka.”


Serena tak menyangka Ralphie akan menanyakan pendapatnya, ia lalu mendongakan kepala kepadanya, dia tidak marah dengan perkataannya tadi?


Ralphie tidak mendapatkan respon dari Serena, mengira kalau dia tidak puas jika hanya dengan perkataan maaf lalu berkata: “Kalau begitu setelah turun dari pesawat kita pergi laporan mereka……”


Mendengar Ralphie akan melaporkan mereka, Serena dengan cepat menggelengkan kepala, “Tidak perlu.”


“Iya?” Ralphie mengerutkan alis.


Serena memberikan penjelasan: “Kalau harus laporin lagi ribet banget, suruh mereka minta maaf saja sudah cukup.”


Ralphie memang niatan awal hanya membantu Serena, jadi dia tentu saja akan menyetujui maksud dia, “Iya, ok.”


Kepala staff setelah mendapatkan keputusan sama dari Ralphie dan Serena, langsung dengan cepat memanggil seluruh pramugari VIP untuk datang meminta maaf pada Ralphie dan Serena.


“Maaf Tuan dan Nona, ini kesalahan kami, membuat kalian menjadi sangat terganggu, disini kami dengan sangat hormat dan niat tulus meminta maaf.”

__ADS_1


Melihat mereka semua sudah meminta maaf, Serena tidak berkata apapun dan hanya menganggukan kepala.


Setelah mereka meminta maaf kepada Ralphie dan Serena, mereka juga meminta maaf kepada seluruh penumpang yang ada dipesawat.


Ralphie menarik pandangannya lalu melihat kearah Serena dan berkata, “Masih mau sarapan?”


Sarapan? Serena bengong dan baru teringat dengan makanan sarapannya.


Ia mendongakan kepalanya kearah Ralphie lalu dengan suara kecil mengatakan ‘makan’.”


Ralphie berkata ‘En’, membuka meja kecil dan mengeluarkan kotak sarapan.


Sarapan yang dibeli Serena sangat banyak, ada steamed buns, pangsit, bubur ikan.


Ralphie mengambil beberapa steamed buns dan beberapa pangsit goreng lalu memasuki racikan bumbu dan menaruhnya didepan Serena. Ia kembali menuangkan bubur dimangkuk Serena yang lainnya.


Serena melihat gerakan Ralphie lalu dengan mengigit bibirnya ia akhirnya berkata dengan suara kecil. “Maaf, aku tadi bicara perkataan seperti tadi……”


Gerakan menuangkan bubur Ralphie pun menjadi terhenti.


Dia sama sekali tidak berbicara dan mendengar suara Serena dengan jelas, “Aku tadi lihat mereka satu per satu datang terus, takut mereka bikin kamu ngga seneng makanya sengaja bicara kaya gitu.”


Jelas-jelas tahu bahwa Serena melakukannya demi dia, makanya sengaja berbicara seperti itu, tetapi tidak tahu kenapa, hati Ralphie merasa sedikit tidak senang.


Dia dengan datarnya berkata ‘En’, lalu melanjutkan dengan satu kalimat ‘Aku tahu’, dan lanjut menuangkan bubur.


Serena menatap Ralphie yang disinari cahaya dari lampu kabin, wajah yang tampan itu membuat hati Serena senang tetapi juga pahit.


Senang karena Ralphie percaya dengan penjelasannya.


Pahit karena Ralphie tidak mengerti maksud baik dia.


Sebenarnya ia tahu dirinya sendiri sangat bertentangan, tetapi dia juga tidak bisa untuk tidak bertentangan.


Ralphie melihat Serena yang biasanya banyak bicara tiba-tiba menjadi diam, dia pun akhirnya melihat kearahnya dan pas banget melihat Serena sedang bengong, tatapan matanya memancarkan tatapan yang berantakan dan tidak dapat diterka.


Dia terdiam sebentar lalu akhirnya bersuara, “Serena?”


Mata serena berkedip tetapi masih bengong. Ralphie menjilat kedua bibirnya lalu mengulurkan tangan mengetuk meja yang ada didepan Serena, “Kenapa?”


Serena pun tersadar dari bengongnya. Ia menyadari bahwa pikirannya ntah sudah kemana, lalu mencoba mengembalikan kondisi, “Ngga……Tidak apa-apa, cepetan di makan nanti dingin.”

__ADS_1


Ralphie melihat dia sekilas dan setelah memastikan tidak ada yang aneh darinya, ia membalas dengan ‘En’, lalu menundukan kepala kembali untuk makan bubur.


Melihat Ralphie yang percaya, Serena pun menghela nafas lega dan melanjutkan sarapan.


__ADS_2