I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 165 Mimpi Buruk


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ralphie mendengar kabar dari Pak Li kalau Serena memintanya untuk kembali, karena akan pergi makan bersama Bella, maka dia menelepon Serena, berencana bertanya padanya kapan akan kembali dan apakah perlu menjemputnya.


Ternyata telepon pertama yang telah berdering beberapa detik pun terputus, setelah menelepon ulang, telepon Serena sudah tidak dapat dihubungi.


Hello! Im an artic!


Ralphie pikir Serena marah karena sesuatu hal, makanya sengaja tidak ingin mengangkat teleponnya, jadi setelah makan malam, dia terus duduk diruang tamu menunggunya pulang.


Jadi ketika Serena menekan tombol bel, dia yang pergi membukakan pintu.


Tetapi siapa sangka, Serena begitu masuk ke dalam rumah, seluruh badannya jatuh ke bawah.


Ralphie dengan cepat menompang badannya, “Serena, kamu kenapa?”


Hello! Im an artic!


“Ngga, ngga apa-apa, kakiku lemes saja.” Serena didalam pelukan Ralphie sambil menggelengkan kepala, dia tak sadar badannya yang bergetar tak dapat menutupi kebohongannya.


Kaki lemas, bagaimana mungkin seluruh badan akan bergetar sehebat ini?


Tatapan Ralphie memancarkan banyak pertanyaan dan memeluk Serena dengan erat.


Serena berada dipelukan Ralphie cukup lama, hingga kaki dia tak lagi lemas baru dia pelan-pelan lepas dari pelukan Ralphie, “Maaf.”


Mendengar Serena berkata ‘Maaf’, tatapan mata Ralphie sedikit gelap lalu berkata, “Ngga apa-apa.”


Serena menganggukan kepala, kemudian berkata, “Kalau gitu aku kembali ke kamar dulu.”


Ralphie dengan telat baru berkata ‘Oke’.


Serena menjawab ‘En’, kemudian menyeret kakinya yang lemas perlahan-lahan naik keatas.


Dia tidak menyadari, pandangan mata Ralphie terus melihatnya, tanpa suara apapun dan hanya membengkamkan bibirnya.


Setelah Serena kembali ke kamar, mandi, kemudian duduk dipinggir kasur, dia pun mengambil ponsel yang hancur karena terlindas mobil.


Layar ponsel yang hancur, membuat Serena memikirkan kembali kejadian mengerikan tadi.

__ADS_1


Dia duduk sebentar dipinggir kasur hingga hatinya bisa sedikit lebih tenang, dia meletakkan ponselnya diatas meja, kemudian beranjak tidur.


Karena rasa takut yang menyeliputinya, Serena terus bolak balik diatas kasur cukup lama, tak lama dia tertidur, dia mulai mimpi kejadian dia akan di tabrak mobil……


Tak lama Serena pergi, Ralphie juga naik ke atas. Ralphie tidak pergi tidur, melainkan diruang baca melihat dokumen.


Sudah mendekati akhir tahun, kerjaan dia sangat banyak.


Sekitar pukul dua belas malam, Ralphie meletakkan dokumen yang dia baca, memijat dahinya, berdiri, dan kembali ke kamar.


Baru saja dia membuka pintu, dia mendengar suara teriakan dari kamar Serena, “AHH…….”


Serena sepertinya mimpi buruk, tangannya menarik erat selimut, seluruh badannya bergetar hebar, air matanya tak kunjung berhenti, mulutnya tak berhenti berbicara perkataan hancur.


Ralphie di sebelah kasur dengan tangan bergetar membawa Serena kedalam pelukannya, “Serena, jangan takut, kamu cuma mimpi, jangan takut.”


Serena sama sekali tidak bangun, hanya seperti kelinci yang ketakutan dan terus berada didalam pelukan Ralphie.


Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Hanya sebuh mimpi buruk? Ralphie bingung, matanya melihat sekeliling, tiba-tiba dia melihat ponsel Serena yang hancur diatas meja.


Bukankah ini adalah ponsel Serena? Kenapa hancur lebur seperti ini?


Tangannya menepuk pelan bagian belakang Serena, dengan nada yang lembut menenangkannya, “Jangan sembarang mikir, aku disini, jangan takut…….”


Sepertinya ada guna nya juga Ralphie menenangkan dia, Serena tertidur dalam bekapannya.


Ralphie khawatir Serena akan mimpi buruk lagi makanya dia terus memeluknya hingga memastikan kalau Serena tidak mimpi buruk kembali, dia baru pelan-pelan meletakkannya diatas kasur.


Dia memakaikan selimut pada Serena, padangannya kembali pada ponsel yang ada diatas meja.


Setelah lihat beberapa detik, dia akhirnya mengambil ponsel tersebut.


Layar ponsel hancur lebur, semua retak. Rusak karena jatuh? Tidak mungkin, jatuh tidak akan seperti ini, ini seperti terlindas.


Sebelum makan, Ralphie masih menelepon dia dan saat itu ponsel tidak rusak.


Berarti ponsel rusak ketika dia sedang kembali ke rumah.


Mata Ralphie melihat ke arah Serena yang tertidur dengan rasa tidak nyaman, lalu dia berdiri dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Ralphie setelah keluar dari kamar Serena, dia tidak kembali ke kamarnya untuk beristirahat, melainkan turun ke bawah.


Pak Li yang sedang tertidur pun dibangunkan oleh ponsel yang berdering, setelah melihat ponsel bahwa yang menelepon adalah Felix, Pak Li langsung tersadar.


“Halo asisten Felix, ada yang mau disampaikan?”


“Baik, segera sampai.” Mendengar perkataan Felix bahwa Direktur Su ingin bertemu dengannya, Pak Li tak berani berlambat-lambar dan dengan cepat mengganti pakaian, lalu dengan segera berangkat ke rumah Direktur.


Pak Li pikir Ralphie terburu-buru ingin menggunakan mobil, tetapi ketika dia tak jauh dari rumah Ralphie, dia melihat mobil Felix yang juga terparkir di halaman, seketika hatinya merasa tidak tenang.


Asisten Felix juga disini, Direktur Su pasti tidak memerlukan mobil……Tengah malam gini memanggilnya, sebenarnya ada masalah apa?


Dengan bingung, Pak Li terburu-buru berjalan masuk ke dalam rumah.


Di ruang tamu, lampu nyala, Ralphie duduk disofa sambil memejamkan mata, tidak terlihat jelas apakah sedang marah atau senang.


Sedangkan Felix yang berdiri dibelakang Ralphie, sama sekali tidak ada ekspresi.


Melihat Pak Li masuk, Felix dengan hormat berbicara pada Ralphie, “Direktur Su, Pak Li sudah datang.”


“Kemarin malam Serena sebenarnya pergi makan dengan siapa di The Waterfront Blossom?” Ralphie duduk disofa, seakan dia malas-malasan, tetapi sangat terasa bahwa matanya menatap dalam Pak Li, yang membuat Pak Li merasa sekujur tubuhnya merinding.


“Lapor Direktur Su, seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian mewah, wanita itu terlihat memiliki hubungan yang baik dengan Nyonya.” Jawab Pak Li dengan jujur.


Hubungan dekat dengan Serena? Pakaiannya lebih seperti seorang wanita paruh baya yang kaya? Ralphie menyipitkan matanya dan tiba-tiba terlintas seseorang dipikirannya.


Ralphie terdiam sebentar, kemudian berkata pada Pak Li: “Lain kali jangan biarkan dia kembali sendirian.”


Mendengar perintah Ralphie, Pak Li rasanya ingin nangis. Kalau Nyonya memerintah dia untuk pergi duluan, dia juga tidak berani membantah.


Tentu saja dia lebih tidak berani untuk membantak perintah Ralphie, “Baik, Direktur Su.”


“Kamu sudah bisa pergi.” Ralphie dengan datar melambikan tangan.


Setelah Pak Li pergi, pandangan Ralphie jatuh kepada Felix.


“Kamu suruh orang untuk ngecek, apakah Serena kemarin pergi makan dengan Bella. Terus sekalian cek juga apa yang terjadi pada Serena saat pulang dari The Waterfront Blossom?”


Awalnya ketika Serena kembali dengan wajahnya yang pucat, seluruh badannya yang lemas, Ralphie sudah merasa aneh, ditambah lagi dengan Serena yang tadi mimpi buruk, ponselnya yang hancur lebur, Ralphie semakin merasa pasti terjadi sesuatu pada Serena.

__ADS_1


Kalau Ralphie tidak cek dengan jelas, dia tidak akan bisa tenang.


__ADS_2