
Hello! Im an artic!
Kedatangan Bibi Bella itu malah membawa pengaruh yang kurang baik pada Serena.
Otaknya jadi berpikir yang tidak-tidak, sampai menggambar designnya saja ia tidak bisa fokus. Hari sabtu ini pun sudah berlalu, pada hari minggu, Serena pun berencana untuk emnggambar designnya diluar.
Hello! Im an artic!
Dia berjalan-jalan di Wanda Plaza, perasaannya menjadi lebih baik, Serena masuk ke cafe starbucks yang ada didalam mall itu.
Dia meminum kopi itu dengan tulus dan berencana untuk mengeluarkan kertas dan mulai menggambar.
Ia hanya membutuhkan satu jam lebih untuk menggambar sebuah gambar.
Setelah kira-kira satu jam berlalu, Serena dengan mukanya yang puas melihat gambar yang sudah selesai digambarnya, “Akhirnya sudah selesai juga.”
Hello! Im an artic!
Dia meraba-raba kertas itu, lalu dengan hati-hati ia menyimpan lukisan itu kedalam plastik khusus untuk menyimpan lukisan, lalu membayar kopi yang dia pesan dan berjalan pergi.
Ketika dia baru kelaur dari mall dan berencana untuk berjalan ke stasium MRT untuk pulang ke rumah Claudia, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil namanya, “Serena?”
Serena menoleh kebelakang dan melihat Alfred yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
Dia mengerutkan dahinya dan membalikkan badannya untuk berjalan pergi.
Alfred malah mengejarnya dan menarik tangannya, “Serena, selama ini aku terus menghubungimu, tetapi telepon itu kenapa terus tidak bisa dihubungi…….”
Dia belum selesai berbicara, Serena langsung memotong pembicaraannya, “Ada urusan apa?”
“Serena, aku mau memberitahu kamu, aku bukan sengaja mau melukaimu, ayah Maggie adalah wakil Direktur di perusahaan tampat aku bekerja, ini semua demi masa depan pekerjaan aku, jadi aku mau tidak mau harus memilihnya.” Alfred mengecilkan suaranya, lalu lanjut berbicara: “Tapi Serena, kamu harus tahu di antara aku dan Maggie tidak ada perasaan cinta sama sekali, kalau di bilang lebih kasar, aku sama sekali tidak mencintainya, kalau pun kita menikah, itu hanya untuk urusan pekerjaan, itu sama sekali tidak akan mempengaruhi perasaan kita.”
Serena benar-benar tercengang, dia tidak percaya laki-laki brengsek yang sekarang sedang berdiri dihadapannya adalah laki-laki yang dulu ia puja-puja.
Serena lalu tertawa dingin, lalu melihat ke arah Alfred dan berkata: “Maaf, aku masih ada urusan, aku pergi dulu.”
Alfred menarik tangannya, “Serena, kamu harus percaya padaku, orang yang aku suka adalah kamu.”
Mungkin kalau Serena dulu yang mendengar perkataan ini keluar dari mulut Alfred, dia pasti akan senang sampai tidak bisa tidur, tetapi Serena yang sekarang mendengar perkataan ini, ia malah berasa sangat marah.
“Lepaskan.” Serena berusaha untuk melepaskan tangannya, ia berusaha untuk melepaskannya tetapi ia sama sekali tidak bisa melepaskannya.
__ADS_1
“Tidak.” Alfred tidak melepaskannya, tetapi malah menggenggamnya lebih erat lagi.
Serena mengerutkan dahinya dan melihat orang-orang yang ada disekitar sana: “Kamu harusnya tahu, ini adalah tempat umum, kalau kita bertengkar disini akan sangat memalukan.”
Mendengar perkataan Serena, Alfred ragu-ragu sebentar lalu melepaskan tangannya.
Setelah tangannya dilepaskan, Serena lalu membalikkan badannya dan berjalan pergi.
Serena terus berjalan sampai tempat yang tidak terlihat oleh Alfred, lalu ia baru melambatkan langkah kakinya dan berhenti dibawah sebuah pohon, lalu melihat kearah orang-orang yang sedang berjalan disana.
Hari ini adalah hari minggu, harusnya adalah hari untuk beristirahat, tetapi Ralphie malah harus bertemu dengan klien yang sangat penting, Felix yang menjadi sekertarisnya juga harus menemaninya.
Jam 2.30 seteah mereka selesai bertemu dengan klien, mereka bersiap-siap untuk kemabli ke kantor.
Di hari minggu jalanan di kota A lebih macet dari hari biasa, Ralphie pas sekali bertemu dengan kliennya di dekat Wanda Plaza yang ada di kota A, disana macet lebih parah lagi.
Mobilnya sepertinya baru berjalan sebentar lalu sudah harus berhenti setengah menit.
Dalam waktu setengah jam sepertinya mobil mereka tidak bergerak sampai satu kilometer. Ralphie yang sedang duduk dibelakang mobil merasa sedikit kesal dan melihat ke luar jendela.
Ketika mobil itu melewati Wanda Plaza, Ralphie yang sedang duduk di belakang mobil tiba-tiba berteriak, “Berhenti!”
Tatapan Ralphie tertuju pada Wanda Plaza, tidak tahu ia sedang memikirkan apa.
Mobil yang ada dibelakang tidak bisa melintas, dan terdengar suara klakson.
Felix bertanya, “Direktur Su, ada apa?”
Ralphie seolah tidak mendengar apa yang ditanyakan Felix dan terus memandang kearah yang dipandangnya.
Felix melihat ke arah yang dipandang Ralphie, dia sedang melihat apa? Seorang laki-laki sedang menarik……menarik tangan Nona Luo dan sedang berbicara dengannya?
Dan juga kalau dilihat hubungan Nona Luo dengan laki-laki itu tidak biasa! Apakah itu pacar Nona Luo? Hmhm……pantesan muka Direktur Su menjadi seperti ini, Felix melihat Ralphie dari kaca spion dengan hati-hati.
Supir mobil yang ada dibelakang turun dan memarahi mereka sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil mereka, Felix dengan sungkan meminta maaf dengan mereka.
Sedangkan Ralphie seperti orang yang kehilangan jiwanya, terus melihat kearah itu dan tidak memberikan reaksi sedikitpun.
Sampai saat Serena melepaskan laki-laki itu dan lari, Ralphie baru seperti kembali sadar dan melihat ke arah Felix lalu berkata: “Ikuti dia.”
Felix tercengan beberapa saat dulu baru sadar, lalu memutar stiur mobilnya dan mengikuti arah Serena.
__ADS_1
Dari sampingnya tiba-tiba terdengar suara mobil yang ngerem mendadak, Serena langsung mengangkat kepalanya, dan melihat mobil yang familiar dengannya yang hampir menabraknya.
Serena pun tercengang, dan terus berpikir didalam hatinya kapan ia pernah melihat mobil ini.
Pintu pengemudi itu pun terbuka dan Felix pun turun dari mobil dan berlari kearah dia.
Serena langsung mengenalnya dan beranjak berdiri, “Ternyata kamu.”
“Iya, tadi aku melihat kamu, jadi aku datang melihatmu.” Felix menjawab.
Serena mengangkat kepalanya dan bertanya, “Kamu ada urusan disini?”
“Iyah ada sedikit urusan, ayo masuk kemobil.” Felix sambil berbicara sambil membukakan pintu mobil untuk Serena.
“Terima kasih.” Serena berkata, lalu Serena bersiap-siap untuk masuk kedalam mobilnya dan pas sekali ia melihat Ralphie yang sedang duduk di belakang mobil.
Ralphie sedang menutup matanya tetapi sepertinya ia tersadar dengan suara Serena dan membuka matanya, dan pas sekali tatapan mereka bertemu.
Kejadian yang terjadi hari itu membuat Serena ragu-ragu mau naik ke mobilnya atau tidak.
Setelah beberapa waktu berlalu, Ralphie menekan bibrinya dan melontarkan kata, “Masuk.”
Serena pun menjawab “O” dan berjalan masuk kedalam mobilnya.
Felix sama sekali tidak merasa terkejut.
Dari melihat Ralphie yang menarik tangan Serena dan masuk kedalam lift hari itu……
Tadi dia melihat Serena disamping, dan Ralphie sengaja menyuruhnya untuk membawa mobilnya kearahnya…….
Dia sudah tahu perlakuan Ralphie kepada Serena tidak seperti perlakuan dia trehadap orang lain jadi ia sama sekali tidak berasa aneh.
Sombong apa? Didepan Serena, kesombongannya itu semuanya tidak ada gunanya.
Pembersih apa? Didepan Serena, semua itu bisa ia singkirkan.
Apanya yang tidak suka bicara? Didepan Serena, ia tetap……tidak suka bicara.
Felix masih belum selesai berbicara didalam hatinya, tiba-tiba pandangan dari mata Ralphie tertuju padanya.
Dia pun tersadar dan membuka pintu mobilnya dan mengendarai mobil itu.
__ADS_1