
Hello! Im an artic!
Felix yang mendapat perintah dari Ralphie untuk mendapatkan surat rekomendasi dari juri perlombaan berlian sedunia ternyata tidak semudah yang dibayangkannya.
Felix yang yang masih jet lag karena kepulangannya dari Prancis, tidak ada waktu untuk istirahat dan segera menemui Ralphie untuk melaporkan hasil kepulangannya dari Prancis, “Direktur Su, nona Kitty setuju untuk memberikan surat rekomendasi, tetapi dia ingin bertemu dengan desainernya terlebih dahulu.”
Hello! Im an artic!
Ralphie mengerutkan keningnya bertanya, “Kalau hanya mengirim desain nya saja tanpa desainernya bagaimana?”
Felix memegang hidungnya yang tidak gatal itu, “Itu…. Direktur Su, maksud dari nona Kitty adalah desainer sama desainnya sekaligus.”
Kalau begitu dia harus membawa Serena pergi ke Prancis.
Dia sebenarnya tidak masalah, tetapi Serena hanya ada waktu saat akhir pekan.
Hello! Im an artic!
Ralphie terdiam beberapa saat kemudian berkata, “Kamu buat janji ketemu pada hari sabtu atau minggu dengan Kitty, nanti aku dan Serena akan kesana.”
“Direktur Su, saya akan segera mempersiapkannya.” Felix mengangguk mengerti dan segera meninggalkan ruangan.
Ralphie menggunakan bolpoin yang dipegangnya dan dengan pelan menggosokkannya ke dagu nya, memikirkan bagaimana cara mengatakan hal ini kepada Serena….
Jahitan di luka Serena harus menunggu sampai 7 hari baru bisa dilepas.
Pemulihan lukanya sendiri sangat bagus, tetapi masih meninggalkan bekas luka yang tidak begitu enak dilihat yang mungkin akan membut Serena sedikit murung.
Ralphie yang melihat ekspresi wajah Serena yang sedikit murung bertanya dengan bingung, “Kenapa? Apa lukanya sakit?”
“Kamu mengatakah bahwa jika lukanya dijahit tidak akan meninggalkan bekas luka nantinya, tetapi…..” Serena sedikit murung memelototi bekas luka yang ada di kakinya.
Mendengar Serena yang berkata bekas luka, Ralphie merasa sedikit bersalah.
Jelas-jelas dia yang mengatakan hal itu dan masih memaksa dokter untuk mengiyakan perkataannya itu.
Ralphie batuk pelan, “Ehem ehem, dokter Chen bukannya memberimu krim penghilang bekas luka? Bekas lukanya pasti akan hilang pelan-pelan.”
Serena mengiyakan lirih sambil memalingkan mukanya.
Melihat Serena yang merajuk membuat Ralphie tersenyum.
“Sudah jangan marah, hukumlah aku dengan membantumu mengoleskan krimnya, ya?”
Sebenarnya Serena tidak begitu marah, tetapi dia tetap saja seorang perempuan yang mengutamakan kecantikan.
__ADS_1
Melihat Ralphie yang menghiburnya seperti ini dia merasa tidak enak dan mukanya seketika memerah.
Ralphie yang mendapati muka Serena yang mulai memerah seketika membuat ujung bibirnya terangkat naik tersenyum tipis, beberapa saat kemudian, Ralphie teringat sesuatu dan bertanya, “Akhir pekan ini ada waktu tidak?”
Serena mengangguk mengiyakan, kemudian kembali bertanya, “Memangnya kenapa?”
“Pergi ke Prancis.” Ralphie menjawab pendek
Ralphie akan mengajaknya pergi ke Prancis? Serena termenung mengedip-ngesipkan matanya beberapa kali, dan baru menyadari bahwa dia memang tidak salah dengar, “Kamu mau ke Prancis untuk perjalanan bisnis? Kalau aku ikut bukannya sedikit merepotkan?”
Pergi ke Prancis memang untuk mengurus masalah Serena, bagaimana bisa malah merepotkan?
Ralphie pastinya tidak akan menjawab jujur, dia hanya berkata, “Bukan untuk perjalanan dinas.”
Bukan untuk dinas, terus kenapa pergi ke Paris? Serena berpikir seperti ini kemudian menanyakannya, “Terus pergi ke Prancis karena apa?”
Ralphie melihat Serena dalam-dalam kemudian menjawab, “Nanti kamu juga bakal tahu.”
Nanti juga bakal tahu? Jawaban macam apa ini? Serena masih ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Ralphie mengekspresikan seolah enggan menjawab pertanyaannya, jadi Serena mengurungkan niatnya itu.
Tetapi mengenai perjalanan ke Prancis kali ini, Serena semakin tidak sabar.
Ralphie dan Serena menaiki penerbangan pada hari Jumat pukul 6 sore menuju ke Prancis , sesampainya di Paris.
Penerbangan yang panjang membuat Serena kecapean tetapi dia sama sekali tidak ingin istirahat.
Entah itu orang, benda atau apapun, bagi Serena yang sekalipun belum pernah datang ke Prancis merupakan hal yang sangat menarik, ditambah lagi waktu mereka disini yang hanya dua hari, besok malam mereka harus kembali, Serena dengan tidak rela menggunakan waktu dua hari ini untuk istirahat begitu saja, dan dia akan memandangi setiap sudut kota sampai puas.
Itulah yang berada dalam benak Serena, Ralphie tidak akan membiarkan Serena berbuat seperti itu.
Setelah sampai di vila, Serena dipaksa untuk pergi ke kamar dan istirahat.
Tetapi dia menolaknya, malah hanya duduk di pinggir kasur dan melihat sekeliling.
Tetapi pada akhirnya Serena dengan nurutnya bisa bertidur selama 6 jam.
Serena yang belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya keluar dari kamarnya.
Tidak ada orang di ruang tamu, dia hanya mendengar suara dari arah dapur.
Serena terdiam, kemudian mengikuti sumber suara dan menuju ke dapur.
Mendengar suara langkah seseorang, Ralphie seketika memalingkan kepalanya dan mendapati Serena yang sudah berada di pintu dapur, “Sudah bangun?”
Serena mengiyakan kemudian bertanya, “Kamu sedang membuat sarapan?”
__ADS_1
Ralphie mengangguk mengiyakan, “Iya, hampir selesai. Kamu cuci muka sikat gigi dulu, handuk dan sikat gigi, aku siapkan di kamar mandi.”
Serena menjawab dengan satu kata, ‘Oke’ dan kemudian membalikkan badannya berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah 20 menit Serena keluar dari kamar mandi dan Ralphie sudah selesai membuat sarapan, dan duduk di meja sarapan menunggu Serena.
“Kenapa tidak makan dulu?” Serena bertanya dan sambil mengambil tempat duduk di depan Ralphie.
Ralphie tidak menjawab pertanyaan Serena, hanya memberikannya segelas susu, “Ini susu buat kamu.”
Serena mengambil segelas susu itu, meminumnya seteguk kemudian meletakannya, Serena melihat sarapan yang berada diatas meja, “Telur mata sapi dan sosis goreng?”
“Disini tidak ada bahan makanan masakan China.”
“Ooh, iya aku suka…” Suka sarapan yang kamu buat, dan lebih menyukaimu. Serena dalam hatinya menyelesaikan perkataannya.
Mendengar Serena menyukai sarapan yang dibuatnya, Ralphie merapatkan bibirnya tersenyum tipis.
Serena sudah melihat Ralphie dengan segala perilaku nya, tetapi baru kali ini dia melihat Ralphie tersenyum, seketika membuatnya terpesona.
Setelah beberapa saat, Ralphie baru menyadari bahwa dia memberikan reaksi yang berlebihan, seketika dia menarik kembali senyuman diwajahnya, membuatnya mengeluarkan suara batuk yang dipaksakan, “Ehem ehem…. buruan makan, nanti dingin.”
Serena kembali fokus, mengiyakan dengan nada tergesa-gesa dan kemudian menundukkan kepalanya menyantap sarapan.
Setelah sarapan, Ralphie membawa Serena pergi ke Wonderful Plaza, surganya desain perhiasan sedunia, dan juga tempat akan dilangsungkannya perlombaan desain perhiasan sedunia.
Ralphie membawa Serena kemari bukan sekedar membuatnya melihat tempat diadakannya perlombaan desain perhiasan semata, melainkan untuk melihat pameran produk desain perhiasan.
Benar, karena perlombaan itu akan segera dimulai, jadi produk tahun lalu yang memenangkan perlombaan semuanya dipamerkan di Wonderful Plaza.
Serena benar-benar tidak mengira bahwa Ralphie akan memberi nya kejutan sebesar ini, harus diketahui bahwa, bagi para desainer, bisa melihat secara langsung karya dari desainer besar itu hampir tidak mungkin.
“Ralphie, terima kasih.”
Melihat senyum yang tersirat diwajah Serena, ujung bibir Ralphie pun sedikit terangkat tersenyum tipia dan menjawab, “Sama-sama, ayo kita masuk.”
“Iya.” Serena mengangguk dan bersama Ralphie berjalan masuk ke dalam gedung pameran….
Ralphie dan Serena berada di ruang pmeran selama seharian penuh, selain pergi ke kantin di dekat ruang pameran, mereka tidak melangkah kemana-mana.
Sampai langit mulai gelap, pameran pun tutup. Saat Ralphie membawa Serena keluar enggan untuk kembali.
“Kita besok kemari lagi ya?”
Ralphie memalingkan wajahnya menatap Serena kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak bisa, besok masih ada hal lain yang harus diurus.”
__ADS_1
Mendengar Ralphie yang tidak memperbolehkannya, Serena merasa sangat kecewa, tetapi dia masih saja menganggukkan kepala dan menyetujui perkataan Ralphie, “Em, baiklah.”
Melihat Serena yang terlihat sangat kecewa, Ralphie sangat ingin mengatakan sesuatu menghiburnya, tetapi sampai akhir dia tetap tidak mengatakannya.