
Hello! Im an artic!
Meski Ralphie dan Serena terus saling menghindar, tapi mereka masih bertemu satu sama lain.
Bukan tidak sengaja bertemu, tapi benar-benar ketemu.
Hello! Im an artic!
Hari Minggu pagi, Ralphie dari kantor pulang ke rumah untuk mengambil sebuah dokumen. Ketika menuju pintu masuk, dia bertemu dengan Serena yang kebetulan keluar dari vila.
Karena Serena sedang menelpon sambil memegang ponselnya, dia tidak melihat Ralphie masuk, jadi tidak sengaja ia menabrak Ralphie.
Setelah bertabrakan, Serena langsung melangkah mundur. Karena langkah kakinya agak besar, sepatu heelsnya tersangkut dan ia terjatuh ke tanah.
Untungnya, Ralphie melihat dan segera bereaksi, ia mengulurkan tangan dan memegangi lengan Serena.
Hello! Im an artic!
“Kakimu tidak keseleo, kan.”
Nada khawatir dan peduli yang biasa didengarnya membuat Serena terdiam, lalu ia mengarahkan pandangannya pada wajah yang dikenalnya itu.
Hati kecil Serena merasa agak bersalah, kemudian tanpa sadar ia menarik lengannya dari genggaman Ralphie, mundur dua langkah, dan berdiri agak berjarak darinya. Ia lalu menutup matanya dan menjawab dengan dingin, “Tidak apa-apa, terima kasih.”
Mata Ralphie agak redup. Setelah beberapa detik, wajahnya berubah menjadi datar dan ia menarik tangannya, sambil berkata “Hmm….” dan bertanya, “Kamu mau ke….”
Belum selesai berbicara, Serena mengangkat ponselnya dan menempelkan ke telinganya.
Dengan tersenyum ia menjawab di telepon, “Tidak apa-apa, aku tidak sengaja tersandung…. Oke, lain kali aku akan lebih berhati-hati. Um, kamu ingin makan apa? Aku akan membawakannya….”
Mendengar Serena bicara begitu lembut di telepon, Ralphie merasa sangat sakit hati.
Dulu Serena juga berbicara dengannya seperti itu, tetapi sejak saat ini, Serena bukan lagi miliknya.
Tidak pernah memilikinya….
Ralphie tidak sanggup mendengarnya, ia bergegas masuk ke kamar.
Mendengar langkah kaki Ralphie yang agak berisik, Serena menoleh, melihat Ralphie yang sedang bergegas masuk ke kamar, pandangan matanya seketika menjadi tenang.
Setelah beberapa saat, Serena melihat ke belakang, dan berkata di telepon, “Claudia, sekitar satu jam lagi aku akan tiba.” lalu ia menutup telepon.
Setelah menutup telepon, Serena meninggalkan vila. Tidak meminta supir Li mengantarnya, ia malah naik ke taksi yang sudah dipanggilnya dan pergi.
Tanpa ia sadari, di balik jendela sebuah kamar di lantai dua, Ralphie dari tadi berdiri kaku di sana, memperhatikannya pergi naik taksi.
__ADS_1
Setelah taksi itu pergi, wajah Ralphie menjadi sedih.
Serena menolaknya mentah-mentah, bahkan sedikit pun ia tidak melihat atau berbicara pada Ralphie.
Yang bisa Ralphie lakukan saat ini hanyalah membiarkan Serena bahagia.
Tidak tahu sudah berapa lama Ralphie berdiri di depan jendela, tiba-tiba ponselnya berdering.
Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, melihat siapa yang menelponnya, dan menekan tombol jawab.
Sebelum Ralphie sempat menjawab, suara Isa terdengar di telepon, “Ralphie, kamu di mana?”
“Di rumah.” jawab Ralphie tergesa-gesa.
Mendengar Ralphie mengatakan bahwa dia ada di rumah, Isa segera berkata, “Ralphie, ajaklah Serena pergi jalan-jalan.”
Mengajak Serena keluar untuk jalan-jalan… Dia juga sebenarnya ingin melakukan itu, tapi Serena tidak memberinya kesempatan.
Ralphie memaksa bibirnya untuk mengatakan, “Tidak ada waktu.”
“Hari ini hari Minggu, kamu juga tidak pergi kerja, kenapa bisa tidak ada waktu? Atau memang kamu tidak ingin mengajaknya pergi?”
Jika Ralphie baik-baik saja, mungkin dia masih sedikit tertarik mendengarkan ceramah Isa.
“Halo? Halo?” Isa terus mencoba untuk berbicara tapi jaringan telepon sibuk dan ia menyadari kalau teleponnya sudah ditutup oleh Ralphie.
Ryan yang berada di sampingnya bertanya, “Ada apa?”
“Mengatakan tidak ada waktu, lalu menutup telepon.” jawab Isa sambil mengangkat bahu.
“Tidak ada waktu keluar…. Kalau begitu kita saja yang ke rumah mereka…..” pandangan Ryan tiba-tiba teralih, tidak jauh dari situ dia melihat seseorang yang dikenalnya, dan kata-katanya pun terhenti.
“Kamu bilang kita ke rumah Ralphie? Baiklah.” Isa mengangguk setuju.
Ryan tidak menjawabnya, hanya menunjuk ke arah luar mobil, “Apakah kau melihat Serena di sana?”
“Di mana?” Isa menoleh dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ryan. Benar itu Serena, ia sedang membawa sebuah tas besar dan tas kecil berjalan menuju ke sebuah distrik kecil.
Setelah Serena menghilang dari pandangannya, Isa baru bertanya, “Serena ke mana?”
“Mana aku tahu.” jawab Ryan sambil menoleh ke sekeliling.
Isa memegang hidungnya, lalu bertanya, “Apakah kita tetap akan pergi ke rumah Ralphie?”
“Tentu saja….”
__ADS_1
Ryan dan Isa langsung menyalakan mesin mobil dan pergi, satu jam kemudian, mereka tiba di vila Ralphie.
Ralphie tidak menyangka mereka akan datang, ia agak terkejut.
“Mengapa kalian ke sini?”
“Kita ingin lihat kamu sibuk apa sampai tidak ada waktu.” Isa refleks menjawab.
Ralphie menatapnya dengan dingin dan bertanya, “Sekarang sudah lihat?”
Melihat Ralphie menatapnya seperti itu, Isa langsung sadar ia sudah salah bicara. Ia segera melihat ke arah Ralphie dengan muka merasa bersalah.
Ryan dalam hati kesal, dasar Isa anak bodoh, kemudian sambil tersenyum ia bertanya, “Ralphie, aku mendengar bahwa kakek sedang sakit, bagaimana kondisinya sekarang? Kemarin lusa ayahku bilang mau pergi menjenguk kakek, belakangan baru tahu ternyata kakek tidak berada di kota A.”
“Kakek tidak cocok berobat di kota A, aku membawanya ke Swiss.” Jawab Ralphie datar.
Mendengar Ralphie mengatakan bahwa ia sudah membawa kakek ke Swiss, Ryan langsung tersenyum dan berkata, “Sejak dulu kakek selalu berkata tidak ingin meninggalkan kota A, pasti tidak mudah bukan membawanya ke Swiss kali ini?”
“Ya, Serena membujuknya baru ia mau.” ketika menyebut nama Serena, mata Ralphie terlihat sedih.
Ryan sama sekali tidak memperhatikan sikap Ralphie yang agak berbeda dari biasanya, ia hanya mengangguk dan berkata, “Kalau ini tidak heran.”
“Haha… Mungkin inilah yang dinamakan pilih kasih.” Isa menghela nafas, dan bertanya seolah-olah teringat sesuatu. “Oh ya, Ralphie, apakah Serena punya kenalan di daerah Kota Barat? Tadi aku dengan Ryan melihatnya masuk ke sebuah perumahan di dekat klub Kota Barat.”
Sebuah perumahan di dekat klub Kota Barat? Apa dia pergi menemui orang yang di telepon itu?
Mungkinkah orang yang ingin ia temui ada di kompleks perumahan dekat klub Kota Barat?
Ralphie kembali teringat hari itu, di gerbang klub Kota Barat ia melihat Serena naik taksi dari persimpangan jalan.
Ternyata orang itu, ada di Kota Barat!
Dia menunduk dan menjawab, “Serena punya teman yang tinggal di daerah sana.”
Isa mengangguk seakan sudah mendapatkan jawabannya, lalu ia bertanya, “Apakah kamu tidak akrab dengan teman Serena? Mengapa kau tidak bersama-sama….”
Sebenarnya Isa hanya iseng-iseng menanyakan hal ini, tapi tak disangka, perkataan itu membuat Ralphie menjadi kepikiran.
Seketika wajahnya berubah, dan dengan dingin ia berkata, “Kalau kalian sudah tidak ada urusan, sekarang sudah bisa pergi.”
Setelah berkata demikian, tanpa menunggu keduanya menjawab, Ralphie langsung bangkit dari sofa dan pergi.
Ryan dan Isa bukanlah orang bodoh. Dari sikap Ralphie barusan, mereka mengerti bahwa mereka salah bicara.
Mengetahui bahwa Ralphie saat ini sama sekali tidak bisa diganggu, mereka saling berpandang-pandangan, lalu pelan-pelan bangkit dan pergi.
__ADS_1