
Hello! Im an artic!
Molly juga berpikir seperti itu dan melakukannya.
Tetapi…
Hello! Im an artic!
Ia juga dicegat oleh beberapa pria di seklilingnya.
Molly mengerutkan dahinya dan berkata, “Permisi.”
“Hai, bolehkah temani kita menari?” Seorang lelaki bertanya kepadanya.
Molly tanpa berpikir langsung mengatakan, “Pergi sana!”
Hello! Im an artic!
“Kamu jangan gitu. Menarilah sama kita, mari kita berteman.” Wajah pria yang lain menunjukkan tujuannya. “Kita sangat bisa ‘menari’, aku pastikan kamu akan menyukainya dan tidak bisa pergi dari kami.”
Molly bukan orang bodoh, ia tahu maksud para pria itu. Ia memasang ekspresi tidak mengerti dan mengatakan, “Tidak, hari sudah sangat malam, aku mau pulang, kalau tidak keluargaku akan mencariku.”
“Kamu tidak boleh pergi begitu saja. Setidaknya kamu harus membuat kami senang.” Saat pria itu sedang berbicara, beberapa orang yang lain juga ikut tertawa.
“Pergi!” Molly tidak tahan lagi dan ingin segera pergi.
Pria ditengah itu langsung menarik tangan Molly. “Sudah kami katakan, kamu tidak boleh pergi.”
“Lepaskan, kalau tidak aku akan teriak.” Molly berusaha melepaskan tangan orang itu.
“Teriak?” Beberapa pria itu tertawa kencang. “Ini bar, kamu teriak pun, apakah menurutmu ada yang peduli kepadamu?”
Molly sangat takut dan berteriak, “Tolong aku.”
“Dasar wanita.” Belum ia selesai mengucapkan, ia langsung tertampar oleh salah satu dari para pria itu.
Tangan Molly ditahan dan ia hanya bisa merasakan tamparan orang itu.
Di saat orang itu ingin menamparnya, ia refleks menutup matanya.
Tapi siapa sangka, ia tidak merasa kesakitan, melainkan suara teriakan yang kencang.
Molly membuka matanya dan menemukan tangan pria itu dicegat dengan kasar.
Mungkin orang itu menahan tangan pria itu dengan kencang sehingga suara teriakan begitu kencang.
__ADS_1
Orang yang membantunya adalah Felix. Perasaan Molly sedikit tidak enak.
Felix sama sekali tidak mengetahui pikiran Molly, ia langsung membuang tangan pria itu. “Pergi Sana!”
“Dasar anak muda, kamu cari mati?” Beberapa pria itu tidak mungkin pergi begitu saja.
Felix berjaga-jaga kepada mereka sambil menyuruh Molly, “Nona, agar Anda tidak terluka, kamu pergilah.”
“Kamu…” Molly ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi dan mundur beberapa langkah.
“Semuanya beraksi, agar pria ini tahu kalau tidak boleh asal ikut campur masalah orang.” Baru saja ia selesai berperintah, para pria lain langsung mengelilingi Felix.
Melihat beberapa pria mengelilingi Felix, Molly sangat menyesal.
Mengapa ia harus datang ke bar? Sekarang terjadi masalah kan.
Kalau terjadi sesuatu dengan asisten kesayangan sepupunya, bagaimana ia memberitahu sepupunya?
Tetapi selanjutnya ia terdiam. Felix dengan mudah mengalahkan para pria itu.
Apakah ia hanya asisten sepupunya? Apa ia juga pengawal?
Setelah Felix menyelesaikan ini semua, ia langsung berdiri dihadapan Molly. “Nona, bar bukan tempat kamu berada, kembalilah.”
Felix tidak membalas pertanyaan Molly dan membalas, “Nona harusnya bertanggung jawab atas kelakuan sendiri.”
Ucapannya membuat Molly merasa Felix mengetahui semua rahasia miliknya.
Demi Ryan tidak menyukai Serena, ia sengaja mengirim fotonya kepada sepupunya. Masalah ini ditemukan oleh Felix.
Hari ini ia ditolak Ryan dan menangis juga diketahui Felix.
Molly seketika menjadi kesal. “Apa hubungannya denganmu? Kamu hanya seorang Asisten sekertaris sepupuku. Kamu tidak berhak menasehatiku.”
“Aku yang melampaui batas.” Felix membals sambil mundur selangkah.
Molly tidak berbicara sama sekali dan berjalan menuju tempat duduk.
Felix mengerutkan dahinya sambil mengikutinya.
Karena gerakan Felix sangat menakutkan, orang di sekliling tidak ada yang berani mencegatnya, melainkan memberikan jalan.
Molly sama sekali tidak memandang ke arah Felix. Ia duduk di kursi dan memanggil pelayan untuk memesan minuman.
Ia memesan minuman yang banyak dan minum sendiri.
__ADS_1
Felix berdiri satu meter dari Molly sambil menjalankan misinya.
Awalnya Molly hanya minum gelas per gelas, lama-lama ia sambil minum sambil menangis.
Mengapa ia menangis? Apakah terjadi sesuatu?
Entah mengapa alasannya, Felix tidak menyukai Molly yang seperti ini.
Seharusnya ia adalah Nona Keluarga Su, malah jadi seperti ini.
Dan entah mengapa juga Felix menarik minuman dari tangan Molly.
“Nona, kamu sudah tidak bisa lanjut minum.”
“Kamu jangan pedulikan aku.” Ucap Molly sambil merebut botol yang ditangan Felix.
Felix dengan mudah menjauh dari tangannya. “Nona sudah mabuk, tidak boleh lanjut minum lagi.”
“Aku tidak bisa minum, kalau begitu kamu minumlah.” Balas Molly.
“Nona…” Awalnya Felix ingin menolak, Molly menunjuknya dan berkata, “Bukankah kamu mengikuti perintah sepupuku untuk mengikutiku? Sekarang aku minta kamu habiskan minuman itu.”
Felix menatapnya sekilas lalu mengangkat minuman ditangannya dan minum habis.
Sepertinya Molly tercengang atau apa, setelah Felix menghabiskan minuman itu, ia langsung mengikutinya.
Setelah keluar dari bar, Felix memanggil taksi sambil bertanya kepada Molly. “Nona, kamu tinggal dimana? Aku antar Nona pulang.”
Molly tidak membalas pertanyaan Felix dan bertanya, “Apakah aku mengesalkan?”
Felix terdiam dan menggelengkan kepalanya, “Tidak.”
“Kamu bohong. Aku tahu aku mengesalkan. Sepupuku juga kesal kepadaku. Kalau kakak ipar tahu apa yang kulakukan, ia pasti akan kesal kepadaku. Orang itu juga kesal kepadaku. Dan kamu pasti juga kesal kepadaku. Haha…” Molly terlihat tertawa senang, sedangkan air mata di wajahnya begitu sedih.
Hati Felix sakit melihatnya. Ia tidak ada waktu berpikir mengapa hatinya sakit. “Nona, Tuan sama sekali tidak kesal kepadamu. Nyonya juga tidak akan kesal kepadamu.”
Molly mengangkat kepalanya memandang ke arah Felix. “Kalau kamu?”
“Aku tidak kesal…” Belum Felix mengatakan ‘kepadamu’, Molly langsung memeluknya dan menciumnya.
Felix awalnya terdiam, lalu mendorong Molly dengan kasar.
“Kamu benci aku?” Molly dengan sedih melihat Felix.
Felix tidak tahu bagaimana membalas Molly. “Aku tidak kesal kepadamu.”
__ADS_1