I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 148 Memberikan Perhatian Secara Diam-Diam


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena segera berlari ke ruangannya sendiri untuk mendesain gambar setelah keluar dari kantor Dottie.


Dottie memberikan begitu banyak pekerjaan kepadanya tentu saja bagaimanapun tidak bisa diselesaikan hari ini juga.


Hello! Im an artic!


Jadi setelah tiba jam pulang, Serena segera berdiri dan membereskan barangnya untuk bersiap-siap pulang.


Ia tidak melupakan identitasnya sebagai istri Ralphie, dan juga supir telah menunggunya.


Louisa bersiap-siap pulang dan melihat Serena keluar, ia berkata sambil tersenyum, “Serena, ayo kita pulang bareng”.


“Louisa… aku sekarang sudah tidak tinggal disana lagi.” jawab Serena dengan pelan.


Hello! Im an artic!


Louisa bertanya dengan terkejut, “Memang kamu tinggal dimana sekarang?”


“Aku tinggal dirumah temanku.” jawab Serena.


Louisa berkata, “Oh begitu, kalau begitu kita tidak bisa pergi dan pulang bareng lagi dong.”


Serena merasa bersalah karena telah membohongi Louisa, ia menggelus hidungnya dan berkata, “Louisa, maaf ya.”


“Tidak apa-apa, tempat tinggal kamu juga tidak terlalu bagus, lebih baik tinggal dengan temanmu saja.”


“Hehe.. iya.” Serena tertawa sambil menganggukkan kepala.


“Kalau begitu aku jalan duluan.” Louisa melambaikan tangan dan berjalan menuju stasiun bus.


Memandangi bayangan Louisa yang kian menjauh, Serena menghela nafas lalu menyeberangi jalan dan masuk ke dalam mobil.


Sekarang adalah jam pulang kerja, dijalan sangat macet. Perjalanan yang awalnya 2 jam bahkan menghabiskan waktu 3 jam.


Setiba dirumah sudah hampir jam 9 malam.


Karena tidak ada kunci jadi Serena menekan Bel.

__ADS_1


Pelayan keluar untuk membukakan pintu, “Nyonya muda, anda sudah pulang.”


Serena menjawab “Iya” dan masuk sambil memegang tas.


Pelayan mengambilkan Serena sendal sambil berkata, “Nyonya muda hari ini pulang begitu malam, tuan muda sedang menunggu anda untuk makan.”


Mendengar pelayan berkata bahwa Ralphie menunggunya untuk makan, Serena segera masuk kedalam rumah.


Ralphie sedang mengangkat kaki dan bersandar di sofa sambil menonton berita.


Jendela terbuka, angin meniup tirai jendela hingga terbang dan mengenai bahunya.


Serena berdiri di pintu dan terkejut.


Ralphie …. dia sudah pulang.


Ralphie seakan-akan tahu bahwa Serena memandanginya, ia menoleh kearah Serena.


Badan Serena seketika kaku, setelah itu ia baru ngeh bahwa seharusnya ia menyapa Ralphie.


“Kamu dirumah.” Serena tersenyum kepada Ralphie.


Ralphie tidak menjawab, ia menarik kembali pandangannya dan berdiri dari sofa, ia berjalan menuju ruang makan.


Lalu dengan perlahan ia berjalan ke ruang makan.


Saat Serena berjalan menuju ruang makan, Ralphie sedang makan, didepan samping kanannya sudah disiapkan mangkok dan sumpit, itulah tempat yang diatur pelayan untuk Serena.


Serena terbengong sejenak dan duduk disana.


Ralphie sama sekali tidak memandangi Serena sesekalipun, ia memakan makanannya dengan anggun.


Serena mengambil sumpit dan mangkok, menundukan kepala dan mengambil nasi.


Serena tidak ada nafsu makan, ditambah lagi karena Ralphie, jadi ia hanya memakan beberapa suap nasi dan meletakkan alat makannya.


“Aku sudah kenyang, aku naik dulu.” selesai bicara Serena langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Ralphie.


Saat Serena pergi meninggalkan ruang makan, Ralphie yang makan sambil menundukan kepala akhirnya mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Tidak ada perubahan Ekspresi diwajahnya, ia memandangi bayangan Serena yang kian menjauh, saat ia memandangi Serena ia bahkan tidak menggerakkan mangkoknya.


Ia menatap sejenak dan melambaikan tangan pada pelayan “Potongkan sepiring buah untuk nyonya muda dan antarkan keatas, ia lebih suka ceri dan stroberi, beri agak banyak.”


Terdiam sejenak, Ralphie menambahkan 1 kalimat, “Jangan bilang aku yang suruh.”


Setelah Serena kembali ke kamar ia langsung mandi air panas, lalu ia mulai mengambar desain yang belum selesai siang tadi.


Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok tok tok.


Serena mengerutkan kening dan bangun untuk membuka pintu.


“Nyonya muda, aku memotong buah, anda ingin mencobanya?” pelayan membawa satu piring buah dan berdiri di luar pintu.


Awalnya Serena ingin menolaknya, tetapi ia melihat bahwa sebagian besar buah yang ada dipiring adalah buah kesukaannya, jadi ia menerimanya.


Jam 22:30 Ralphie naik ke lantai 2.


Saat melewati kamar Serena ia menyadari ada cahaya lampu dari celah pintu kamar Serena, dan ia berhenti.


Ia berdiri dan tertegun didepan pintu kamar Serena sambil menatapi cahaya lampu dari celah pintu.


Satu jam berlalu, kamar Serena tidak menunjukkan tanda-tanda akan mematikan lampu, Ralphie mengerutkan alisnya dan mengambil hp dari sakunya, ia menelepon sebuah nomor.


Setelah 4-5 menit terdengar suara langkah kaki dari tangga, Ralphie memasukkan hpnya kesaku dan kembali ke kamarnya.


Tidak lama setelah menutup pintu ia mendengar ada suara ketukan pintu dari sebelah.


Lalu ia mendengar suara pelayan, “Nyonya muda, sudah begitu malam kenapa anda belum tidur?”


Serena menjawab dengan lembut, “Aku masih ada sedikit kerjaan yang harus diselesaikan.”


“Nyonya muda, sudah sangat malam, kerjaan yang belum selesai lebih baik anda kerjakan besok saja.” pelayan membujuknya.


Serena terdiam selama beberapa detik dan berkata, “Ya, aku tahu, kamu pergi istrahat saja.”


“Nyonya muda cepat istrahat” selesai berbicara pelayan pun pergi.

__ADS_1


Ralphie berjalan menuju balkon dan memegang pagar balkon, ia menatapi cahaya yang terpancar dari kamar sebelah tanpa berkedip.


Hingga lampu disebelah mati ia baru kembali ke kamarnya.


__ADS_2