
Hello! Im an artic!
Serena pada awalnya mengira Ralphie tidak akan menganggap serius perkataan kakek, lagipula hubungan diantara mereka berdua, dengan membawanya ke kantor juga tidak memiliki arti apapun.
Tapi tanpa diduga Ralphie benar-benar membawanya ke kantor Grup Su kota A yang sudah di bagi perusahaannya.
Hello! Im an artic!
Serena menatap gedung besar di depannya, menatap agak lama dan baru berbalik ke arah Ralphie.
Seperti mengetahui apa yang ada di pikiran Serena, Ralphie dengan pelan berkata: “Di kantor ada orang-orang kakek.”
Maksudnya adalah, kalau tidak membawamu ke kantor, setelah kakek tahu itu akan timbul masalah.
Selesai mengatakan itu, Ralphie tidak menunggu jawaban Serena, dan langsung memberikan kunci mobil ke satpam yang berdiri di sebelah, sekalian langsung masuk ke dalam kantor.
Hello! Im an artic!
Serena terdiam beberapa detik di tempat, pada akhirnya memegang hidung dan mengikutinya masuk, Serena berjalan tidak terlalu dekat dengan Ralphie, menjaga jarak sekitar 100 meter, menurut dia dengan dia menjaga jarak seperti ini orang lain tidak akan salah paham pada hubungan diantara dia dengan Ralphie.
Dia bahkan tidak tahu, perempuan yang berada di sekitar Ralphie bisa dikatakan tidak akan terlihat sama sekali, apalagi berjarak 100 meter dengannya.
Ralphie sendiri adalah seorang yang sangat bercahaya, setiap kali dia muncul di kantor, akan mempengaruhi banyak penonton, jadi Ralphie biasanya akan menggunakan jalan khusus di tempat parkir.
Dan hari ini dia lewat sini, dikarenakan Serena.
Dia sengaja membawa Serena muncul di depan publik, menunggu dia lain kali kalau saat dia datang mencariku, bisa langsung naik tanpa halangan dari siapapun.
Tentu saja, masih ada maksud lain, ingin mengumumkan kalau dia miliknya……hehe….
Setelah Serena dan Ralphie bersama-sama berjalan memasuki lobi kantor, mereka langsung menerima pandangan dari berbagai macam orang, pada awalnya dia mengira semua orang sedang melihat ke arah Ralphie, kemudian dia baru tersadar kalau orang-orang sedang melihatnya.
Dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, dan lagi merasa tidak nyaman, tanpa sadar dia mendekatkan dirinya lagi dengan Ralphie.
Konspirasi Ralphie yang sukses dengan tenang mengulurkan tangan dan menarik menggandeng tangannya lalu berjalan masuk ke lift khususnya.
Saat pintu lift tertutup, semua orang yang ada di lobi meledak.
Ralphie yang menjadi seorang Direktur di Grup Su, dan seorang laki-laki yang diinginkan banyak orang seperti perak yang berharga, ditambah lagi dengan penampilannya yang tampan itu, pada awalnya adalah idaman semua wanita baik yang ada di bawah atau pun atas kantor.
Tapi sekarang dia tanpa diduga dengan seorang wanita bersama-sama muncul datang ke kantor, dan masih bergandengan tangan, astaga, wanita ini statusnya apa?
Dengan sangat cepat informasi ini tersebar di seluruh kantor Grup Su ini.
Bahkan Serena tidak tahu masalah ini, dia hanya mengira kalau Ralphie hanya sekalian saja menggandeng tangannya, dan tidak menduga setelah masuk ke dalam lift, Ralphie langsung melepaskannya.
Pintu lift terbuka dengan diikutinya suara lift.
__ADS_1
Ralphie adalah orang pertama yang melangkahkan kaki keluar dari lift, Serena pelan beberapa detik dan baru mengikutinya dari belakang.
Felix yang menunggu Ralphie keluar dari lift di depan pintu lift, langsung dengan segera menyambut kedatangannya.
“Direktur Su……” saat melihat orang yang mengikuti Ralphie dari belakang adalah Serena, dia langsung terdiam sejenak.
Serena langsung menganggukkan kepala pada Felix, “Tuan Zhou.”
“Nyonya.” Felix dengan sopan membalas memanggil Serena, lalu bertanya dengan menghadap pada Ralphie, “Direktur Su, ruang rapat disana sudah dipersiapkan, anda lihat……”
Ralphie tidak menjawab perkataan Felix, hanya bertanya, “Elizabeth dimana?”
Felix terdiam sejenak, lalu menjawab, “Dia ada di dalam ruang rapat.”
“Panggil dia kesini.” Ralphie berbicara sambil membawa Serena berjalan masuk ke dalam kantornya sendiri.
“Baik, Direktur Su.”
Setelah Ralphie membawa Serena masuk ke kantor, dia menunjuk-nunjuk sofa yang ada di sebelah, lalu setelah mengatakan kata ‘Duduk’, dia langsung duduk di depan meja kantornya, dan mulai membuka dokumen.
Serena duduk tidak lama, dari luar terdengar suara ketukan pintu.
Bahkan kepala Ralphie tidak diangkat sama sekali, hanya dengan dingin mengatakan ‘Masuk’.
Pintu kantor terbuka, Felix membawa Elizabeth masuk dari luar.
Ralphie mengangkat kepalanya, lalu menaruh dokumen yang ada di tangannya, dan berdiri dari kursi depan meja kantornya, lalu langsung berjalan keluar.
“Ikuti aku.”
Felix dan Elizabeth menghadap Serena yang duduk di sofa dan menatapnya, lalu mengikuti Ralphie meninggalkan kantor.
Setelah berjalan sampai luar kantor, langkah Ralphie berhenti.
“Elizabeth hari ini kamu tidak usah bekerja, disini menemaninya.”
Elizabeth tentu saja mengerti ‘Dia’ yang dimaksud oleh Ralphie, yaitu Serena yang ada di dalam kantor Ralphie, dan juga dia adalah istri dari Direktur mereka.
“Baik, Direktur Su.”
Ralphie menjawab ‘Hm’, lalu mulai menyuruh Elizabeth.
“Dia belum sarapan, kamu segera pergi mempersiapkan makanan.”
“Baik, Direktur Su.”
“Dia suka nonton tv, kamu persiapkan sebuah laptop untuknya.”
__ADS_1
“Direktur Su, aku sudah mengerti.”
“Lalu di jalan Drisker Mansion sana ada sebuah toko kue, dia suka tiramisu sana, kamu suruh orang untuk pergi kesana dan membeli satu untuknya.” Ralphie terdiam sejenak, lalu berkata: “Dia suka cherry dan strawberry, kamu siapkan yang banyak untuk dia.”
“Sudah paham, Direktur Su.”
Ralphie berdiri sebentar, dan merasa sudah tidak ada yang mau diperintahkan lagi, baru melangkah jalan membawa Felix untuk rapat.
Setelah Ralphie meninggalkannya, di dalam kantor hanya tersisa Serena seorang, dia duduk di sofa, mengambil majalah dan melihatnya, lalu menaruhnya lagi.
Lalu berdiri dan berjalan-jalan di dalam kantor, pada akhirnya berjalan sampai meja kantor Ralphie, dan duduk di kursi kantornya.
Di meja kantornya banyak sekali dokumen, dan masih ada lagi kertas putih kosong yang banyak.
Serena dengan bosan dan malas, mengambil kertas putih yang ada di meja kantor Ralphie, dan sekalian mengambil bolpen Ralphie dan memulai menggambar.
Ini adalah kebiasaan yang dia kembangkan bertahun-tahun, hanya saat tangannya kosong, dia selalu tidak bisa menahan untuk menggambar-gambar.
Serena yang baru saja selesai menggambar, dari luar terdengar suara ketukan pintu.
Reaksi pertama Serena saat melihat Elizabeth masuk adalah menyembunyikan sketsa yang ada di tangannya, lalu setelah menunggunya pergi, dia baru mengeluarkan sketsa itu kembali.
Di simpan dimana ya?
Pandangannya menyapu seluruh isi kantor, meja kantornya terlalu bersih, tidak ada tempat untuk menyimpam sketsa. Pada akhirnya pandangan Serena menunduk dan jatuh pada deretan laci di kanan bawah meja.
Dia dengan langsung membuka laci itu, dan menaruh sketsa itu ke dalam.
Menutup laci dengan sangat cepat, pintu kantor terbuka dari luar, Elizabeth membawa sebuah makanan dan sebuah laptop masuk dari luar.
“Nyonya, sarapan Anda.”
Setelah Serena menerima makanan pagi dari tangan Elizabeth dia berkata: “He……apakah kamu bisa jangan memanggilku Nyonya, tidak?”
“Itu tidak bisa.” Elizabeth menggelengkan kepala dengan tersenyum.
“Baiklah.” Serena mengangkat-angkat bahunya, lalu dengan diam memakan sarapannya.
Setelah selesai makan pagi, Elizabeth menaruh laptop yang ada di tangannya di depan sofa dekat teh, “Laptop ini untuk Anda untuk menonton tv.”
Serena pada awalnya merasa tinggal di dalam kantor Ralphie sangatlah membosankan, tapi setelah mendengar perkataan Elizabeth kalau memberikan laptop ini untuknya untuk nonton tv, matanya langsung bersinar, “Oke, Terima kasih.”
“Nyonya jangan sungkan, semua ini Direktur Su yang mengatur.” Elizabeth menjawab sambil tersenyum.
Ralphie yang mengaturnya? Serena ingin bertanya padanya, tiba-tiba hp Elizabeth berdering, Elizabeth melihat hp nya, lalu dari sofa berdiri, “Nyonya, aku ada urusan, aku keluar sebentar.”
“Oh, oke.”
__ADS_1