
Hello! Im an artic!
Ralphie dalam perjalanan menyetir mobil dengan sangat cepat, ditambah lagi langit baru menunjukkan kilauan fajar, itulah alasannya mengapa perjalanannya sangat mulus. Tidak sampai 20 menit, Ralphie sudah sampai di alamat yang dikirimkan oleh Felix.
Felix terus menerus menunggu di depan perumahan, melihat mobil Ralphie yang sudah datang, dia dengan langkah besar berjalan menghampiri Ralphie.
Hello! Im an artic!
“Direktur Su, Nona Serena tinggal di gedung ini.” Felix berkata sambil menunjuk sebuah apartemen di belakangnya yang sudah rusak dan lama.
Melihat ke arah luar sebuah bangunan yang sudah rusak dan lama, alis Ralphie sedikit demi sedikit mengkerut-kerut tertegun, “Dia selalu tinggal disini?”
“Setelah Nona Luo dari The Royal Afternoon pindah, dia selalu berada disini.” Felix menjawab.
Ralphie tidak berbicara, dia mendorong pintu mobil, dan turun dari mobil, lalu pelan-pelan melihat ke arah bangunan itu.
Hello! Im an artic!
Waktu pun berlalu sedikit demi sedikit, langit sudah mulai terang, dan sekitarnya sudah mulai ramai.
Ralphie tiba-tiba bertanya: “Dia tinggal di lantai berapa?”
“Lantai sepuluh.” Felix terdiam sejenak, lalu berkata: “Direktur Su, disini bangunannya sudah rusak dan agak lama, mendingan biar saya saja yang pergi ke atas dan memanggil Nona Luo untuk turun ke bawah saja!”
“Tidak usah.” dia melanjutkan, Ralphie memimpin dalam mengambilnlangkah, lalu berjalan ke arah apartemen itu.
Felix terdiam sejenak, berjalan cepat, mengikutinya.
Model apartemennya sangat lama, tidak ada lift, hanya ada lorong.
Karena alasannya sudah tua dan lama, koridornya kotor, dan berantakan sekali.
Ralphie dalam perjalanannya mengerutkan keningnya, tapi dari awal sampai akhir tetap tidak mundur.
Setelah beberapa menit, Ralphie berdiri tepat di depan pintu apartemen Serena.
Gerbang besi yang berkarat, pintu kayu yang cat nya sudah berbintik-bintik, di dinding semuanya tertempel banyak macam iklan-iklan tidak jelas.
Ini adalah tempat tinggal Serena selama sebulan.
Ralphie dengan pandangan kosong berdiri dalam waktu yang lama, dan baru memberi petunjuk pada Felix untuk mengetuk pintu.
Felix mengangkat tangannya, di gerbang pintu besi yang berkarat dia mengetuk beberapa kali, gerbamg besi itu menimbulkam beberapa suara yang melengking, suaranya cukup besar, tapi tidak ada orang yang membuka pintu.
Felix menghadap ke arah Ralphie dan melihatnya, lalu mengetuk lagi beberapa kali di pintu besi itu itu, masih tidak ada yang menjawab.
Felix dengan merasa ada yang aneh berkata: “Direktur Su, Nona Luo mungkin tidak ada di rumah.”
Ralphie mengerutkan dahinya dan bertanya, “Tidak ada dirumah? Kemana dia?”
__ADS_1
“Saya tidak tahu.” Felix menggeleng-geleng kan kepalanya.
Ralphie dengan gelisah melihat ke arah pintu apartemen, lalu bertanya, “Ada nomor teleponnya?”
“Ada.” Felix berkata sambil mengeluarkan hp dari sakunya, dari kontak hp nya dia menemukan nomor telepon baru Serena, “Direktur Su, ini adalah nomor telepon baru Nona Luo.”
Ralphie memusatkan pandangan pada orang 11 nomor asing, dan membuka mata dengan lebar, “Telepon dia.”
“Baik.” Felix menganggukkan kepala, membuka nomor telepon Serena di hp nya dan menekannya, tapi tidak bisa dihubungi.
Dia mencobanya lagi beberapa kali, semuanya tidak bisa terhubung.
“Direktur Su, nomor telepon Nona Luo tidak bisa dihubungi.”
Orangnya tidak ada di rumah, teleponnya tidak bisa dihubungi, ekspresi wajah Ralphie dalam sekejap menjadi suram.
Dahi Felix mengeluarkan keringat dingin, dengan suara kecil bertanya, “Bagaimana kalau pergi ke tempat kerja Nona Luo tanya-tanya?”
Ralphie tidak menjawab, hanya menghadap ke gerbang pintu apartemen Serena dan menatapnya, lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Felix memegang-megang hidung, diam-diam mengikuti di belakangnya.
Setelah keluar dari daerah kecil itu, mereka langsung pergi ke tempat kerja Serena di toko perhiasan Man Fook.
Karena toko perhiasan Man Fook di Clover Plaza sangat ramai, jadi Ralphie tidak langsung dengan sendirinya pergi, dan menyuruh Felix untuk pergi.
Felix dengan sopan berhadapan dengan nona di meja resepsionis berkata: “Halo, maaf merepotkan Anda bisa bantu saya tolong panggilkan Nona Serena.”
Felix yang tidak mempunyai cara lain lagi mau tidak mau mulai memanggilnya lagi, “Nona?”
“Eh……Tuan, Halo.” akhirnya nona yang ada di meja resepsionis tersadar.
Felix mengulang lagi perkataannya, “Maaf merepotkan mu tolong bantu saya panggilkan Nona Serena.”
“Permisi……apakah kamu tahu dia ada di divisi bagian apa?” nona yang ada di meja resepsionis bertanya.
Felix berpikir-pikir, lalu menjawab, ” Dia adalah asisten desainer Dottie.”
Nona di resepsionis dengan sopan berhadapan dengan Felix berkata: “Silahkan tunggu sebentar, aku menelepon ke divisi itu dan bertanya pada mereka.”
Felix mengangguk – anggukkan kepalanya, “Baiklah.”
Kira-kira dua menit berlalu, nona di respsionis menutup telepon, “Tuan, Serena hari ini tidak masuk kerja, rekan kerja nya membantunya mengambil cuti.”
Rekan kerjanya membantunya mengambil cuti? Felix mengerutkan dahinya, lalu bertanya, “Saya tidak tahu apakah saya boleh bertemu dengan rekan kerjanya?”
Terdiam sejenak, Felix tersenyum lagi sambil berkata menambahkan beberapa kalimat, “Karena ada masalah mendesak harus bertemu dengan Serena, jadi……”
Felix pada dasarnya memang tampan dan periang, dipadukan dengan senyuman di wajahnya, dengan cepat membuat nona di resepsionis mau tidak mau tergila-gila padanya.
__ADS_1
Wajah nona resepsionis malu-malu dan memerah mengarah pada Felix berkata: “Aku bantu kamu memanggil rekan kerja Serena si Louisa datang kesini ya!”
“Baiklah, Terima kasih.” Felix tersenyum yang memiliki arti terima kasih.
“Sama-sama.” nona resepsionis menggelengkan kepalanya, dan menelepon Louisa, lalu mengatakan padanya masalah ini.
Setelah nona resepsionis menutup teleponnya, dia berkata pada Felix: “Louisa akan segera datang, silahkan tunggu sebentar.”
“Baiklah.” Felix mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berjalan sambil menunggu Louisa.
Kira-kira lima menit berlalu, Louisa dengan memakai sepatu hak tinggi datang.
Saat Felix sedang menyelidiki Serena, di dalam data ada Louisa.
Jadi sekali bertemu sudah langsung mengenalinya, tapi dia tidak dengan langsung maju bertemu dengannya.
Dan melihatnya pergi duluan ke resepsionis sana, setelah menunggunya bertanya, lalu dia berjalan ke arah Felix.
“Halo, permisi apakah kamu yang mencari Serena?”
Felix menganggukkan kepalanya, “Iya benar, Halo Nona Louisa.”
“Permisi, kamu dengan Serena ada hubungan apa?” Louisa bertanya dengan wajah berjaga-jaga sambil melihat Felix.
Felix karena ekspresi Louisa yang berjaga-jaga seperti itu dia juga tidak marah, malahan dia tersenyum dan menjawab: “Nona, aku dan Nona Serena adalah teman.”
Louisa juga tidak bisa memastikan orang ini sebenarnya teman Serena atau bukan, dan hanya bertanya, “Kamu mencari Serena ada masalah?”
“Iya benar.” Felix mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata: “Aku sudah pergi ke tempat tinggalnya, tidak ada orang, makanya baru kesini untuk mencarinya. Tapi nona resepsionis bilang Nona Louisa yang membantunya untuk cuti.”
“Iya benar aku yang membantunya ijin cuti.” Louisa menganggukkan kepalanya.
Senyum di wajah Felix tetap dan tidak berubah, “Kalau begitu numpang tanya, apakah Nona tahu dia ada dimana?”
“Kemarin malam seharusnya aku menemani Serena lembur di kantor, kemudian dia menerima panggilan telepon dari ayahnya, yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah, jadi dia duluan pulang. Sebenarnya dia mengatakan hari ini mau secepatnya datang bekerja, aku melihatnya sampai sudah waktu kerja dia belum datang, jadi aku sekalian membantunya untuk ijin cuti.”
Setelah mendapat informasi Serena yang akurat, Felix tersenyum yang mengandung arti terima kasih pada Louisa: “Baikah, terima kasih Nona Louisa.”
“Iya sama-sama.” Louisa berkata.
“Kalau begitu saya pergi duluan.” Felix menghadap ke Louisa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu dengan langkah cepat meninggalkan toko perhiasan Man Fook pergi melapor pada Ralphie.
“Direktur Su, nona Serena kemarin malam setelah menerima telepon dari ayahnya, langsung pulang ke rumah.”
Pulang ke rumah? Dalam hati Ralphie merasakan kecewa yang tidak bisa dijelaskan.
Jangan-jangan ini kehendak Tuhan yang tidak mengijinkannya bertemu dengan dia?
Felix dengan sangat berhati-hati bertanya, “Direktur Su, karena Nona Serena tidak ada di rumah, sebaiknya Anda menunggunya datang baru kesini lagi!”
__ADS_1
Ralphie dengan pelan menjawab ‘Hm’, lalu berkata: “Suruh orang untuk berjaga di apartemennya sana.”
“Baik.”