
Hello! Im an artic!
Keesokan harinya, saat Serena terbangun, Ralphie sudah duduk diatas ranjangnya.
Serena mengerutkan alisnya kemudian berjalan mendekat, “Kamu sudah bangun kenapa tidak membangunkanku?”
Hello! Im an artic!
“Tidak apa-apa.” Ralphie menjawab dengan lugas.
Serena tidak menjawab dan hanya memandang Ralphie, kemudian berbalik dan masuk kamar mandi.
Meskipun Serena tidak berkata apapun, tetapi Ralphie tau bahwa dia marah. Ralphie sedikit memalingkan kepalanya menatap ke arah kamar mandi, hatinya sedikit kesal.
Setelah dua menit, Serena keluar dari kamar mandi.
Hello! Im an artic!
Saat dia keluar, tangannya membawa dua tempat cuci muka, yang satu adalah gelas berisi air, dan yang satunya lagi adalah sikat gigi yang sudah terisi pasta gigi.
Karena tidak ingin membuat Serena marah lagi, Ralphie dengan patuhnya membiarkan Serena membantunya menyikat gigi.
Seketika saat Felix yang datang lebih awal tidak sengaja melihat pemandangan ini, dan hampir saja membuat air matanya terjatuh.
Seseorang yang berada di bawah kekuasaan istrinya, bertingkah layaknya anak kecil adalah seorang Direktur besar?
Sampai saat ekspresi Ralphie yang menyuruh dia untuk segera masuk, Felix baru bersuara, dan mengkondisikan ekspresi yang ada diwajahnya.
Serena mendengar ada seseorang datang segera menoleh, melihat bahwa itu adalah Felix, dia tersenyum dan berkata, “Eh Felix sudah datang?”
“Saya datang untuk mengantar sarapan buat Nyonya dan Direktur.” Felix menjawab dengan sopan.
“Terima kasih Felix.” Serena tersenyum berTerima kasih.
“Nyonya terlalu sungkan.” Felix meletakan sarapan diatas meja, dan kemudian berkata, “Nyonya saya ada urusan mau pamit dulu, kalau ada apa-apa telepon saja.”
“Oh, Oke.” Mengangguk dengan pandangan melihat felix pergi.
Serena selesai membantu Ralphie menggosok gigi, kemudian kembali dengan membawa air untuk Ralphie cuci muka, setelah selesai baru membuka sarapan yang dibawakan Felix.
Sarapan yang dibawakan Felix adalah pangsit kukus dan dumpling, Serena dengan telaten memberinya sedikit bumbu kecap, membaginya sedikit lebih banyak kedalam piring Ralphie, kemudian menyajikannya ke meja kecil yang berada di atas kasur Ralphie.
Setelah selesai, Serena kembali ke meja kecil disamping ranjang Ralphie memakan makanan nya sendiri.
Luka di punggung Ralphie berada disebelah kanan, lukanya yang sedikit dalam dan mengenai tulang lengan dibagian belakang, membuatnya tidak dapat menggerakan tubuh bagian kanannya.
__ADS_1
Tangan kanan tidak dapat bergerak, Ralphie menggunakan tangan kirinya memegang sumpit untuk makan.
Alhasil pangsit yang dijepitnya dengan susah payah selalu terjatuh.
Dan tidak sengaja luka dipunggunya sedikit tertarik dan membuat alisnya terangkat dan mengeram kesakitan.
Serena yang sedang menyantap sarapannya, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Ralphie. Menyadari bahwa Ralphie tidak dapat menyumpit sarapannya, Serena mengerutkan alisnya dan kemudian mendengarnya mengeram kesakitan lagi, segera meletakan mangkuk dan sumpitnya, dan mendekat ke arah ranjang pasien.
Mengambil mangkuk Ralphie dari meja kecil dihadapannya, dan menyodorkan tangan ke arah Ralphie.
Ralphie tidak mengerti akan apa yang akan Serena lakukan, memperhatikannya dengan bingung.
Serena menggerakan dagunya kearah tangan Ralphie yang sedang memegang sumpit, “Sumpitnya kasih aku.”
Kenapa sumpit nya harus dikasih dia? Ralphie melihat Serena dengan ekspresi bingung.
Melihat Ralphie yang sama sekali tidak merespon, Serena segera menyerobot sumpit yang berada ditangannya, menyumpit pangsit kemudian dicelupkan kedalam kecap.
Tindakan Serena yang sangat jelas, tetapi Ralphie masih tidak tau apa yang akan Serena lakukan, benar-benar bodoh.
“Aku bisa sendiri.” Saat mengatakan ini, teinga Ralphie seketika berubah menjadi merah.
Serena tidak berkata apapun, hanya menyumpit pangsit dan mendorongnya kedalam mulut Ralphie.
Pangsit sudah berada depan mulut Ralphie, dia dengan pasrah membuka mulutnya, dan mulai mengunyahnya.
Serena menyuapi, Ralphie memakannya, benar-benar perpaduan yang sangat pas.
Dengan cepat Ralphie memakan habis pangsit miliknya.
Serena yang khawatir Ralphie belum kenyang, kemudian menawarinya, “Masih mau tidak?”
Seketika, Serena takut Ralphie salah sangka bahwa dia akan memberinya pangsit miliknya yang sudah dimakan, dengan cepat dia berkata, “Aku bukan mau kasih punyaku, aku akan membelikanmu yang baru.”
“Tidak usah, aku sudah kenyang.” Ralphie menggelengkan kepalanya pelan.
Serena mengiyakan, lalu segera pergi ke kamar mandi mengambil air agar Ralphie bisa berkumur, kemudian memeras handuk dengan air hangat untuk Ralphie mengelap muka dan tangan.
Setelah selesai, dia kembali ke meja kecil samping ranjang Ralpie dan kembali memakan sarapannya.
Tidak lama setelah sarapan, dokter datang memeriksa kondisi Ralphie, dan memberinya suntikan.
Setelah selesai, ternyata sudah waktunya makan siang, setelah selesai memakan makan siang yang diantar Felix, tidak lama kemudian Isa datang.
Begitu masuk, Isa dengan bawelnya bertanya, “Ralphie, kamu begitu hebat berkelahi, bagaimana bisa sampai terluka?”
__ADS_1
Mendengar perkataan Isa membuat punggung Serena terasa kaku.
Dia begitu pandai berkelahi, kalau bukan karena dia, Ralphie tidak akan terluka.
Serena dengan susah payah mengunyah pangsit miliknya, kemudian dengan buru-buru berkata, “Kalian ngobrol dulu saja, aku pergi membeli sesuatu dulu sebentar”, tidak menunggu jawaban dari keduanya, Serena bergegas meninggalkan ruangan.
Isa melihat Serena yang tergesa-gesa pergi, dengan segera berkata: “Eeiii…Serena, nanti saja perginya.!”
Sayangnya Serena tidak menghiraukannya, dalam sekejap menghilang di luar ruangan.
“Serena, kenapa si dia terburu-buru seperti itu?” Isa bergumam sambil memandangi bayangan Serena yang pergi terburu-buru.
Pandangan Ralphie masih tertuju pada pintu ruangannya itu, tidak jelas apa yang sedang dia pikirkan.
Sampai Isa berkata, “Oh iya Ralphie, kamu serius akan menghabisi keluarga Tuan Wang?”
Ralphie tersadar kembali dari lamunannya dan mengiyakan pertanyaan Isa.
Mendapat kepastian dari Ralphie, Isa mengerutkan alisnya, “Kenapa keluarga Lu yang harus turun tangan? bukannya dengan kemampuan keluarga Su saja sudah cukup? Kalau karena mau berterima kasih karena keluarga Lu sudah membantumu menemukan keberadaan Serena, aku bakal menolak.”
“Keluarga Su tidak boleh menyentuh keluarga Tuan Wang.” Ralphie menggeleng.
Isa kebingungan, “Memangnya kenapa?”
“Untuk melepaskan Serena, aku dan keluarga Tuan Wang menandatangani sebuah perjanjian, mulai saat itu Grup su harus meninggalkan Kyoto, dan juga Grup Su tidak diperbolehkan membalas dendam kepada keluarga Tuan Wang.
Isa tertegun mendengar jawaban Ralphie
“Kamu hanya demi Serena bukankah berkorban terlalu banyak?”
Masalah besar! Berbahaya.
Grup Su meninggalkan Kyoto, dan sekarang Ralphie terluka.
Orang lain akan berpikir seperti itu, tetapi tidak bagi Ralphie, bagi dia segalanya tidak sebanding dengan Serena.
“Keselamatan dia lebih penting dari apapun.
Mengerti akan sorot mata Ralphie, Isa seketika menyaut, “Iya, Serena lebih penting dari apapun.”
Mendengar Isa mengerti maksud dia, Ralphie menurunkan pandangannya. “Keluarga Lu harus menarik perhatian keluarga Tuan Wang, selanjutnya tunggu aba-abaku untuk membereskan sisanya.
Isa tanpa ragu dan tanpa pikir panjang langsung setuju, “Oke.”
Selanjutnya, Ralphie dan Isa membahas rencana untuk menghabisi keluarga Tuan Wang.
__ADS_1
Setelah selesai, Isa juga tidak menunggu lama, dan segera meninggalkan ruangan.