
Hello! Im an artic!
“Iya.” Serene mengangguk, lalu memalingkan pandangannya, memandang ponsel yang berada di tangannya, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Claudia melihat sekilas ponsel yang ada ditangan Serene dan memandang Serene lalu bertanya, “Serene, dia bahkan telah memberikanmu hadiah yang sangat mahal, apa kau yakin dia tidak menyukaimu?”
Hello! Im an artic!
“Yakin.” Serene tidak memperhatikan barang mahal yang dibeli oleh Ralphie, karena baju yang lebih mahalpun Ralphie mampu membelikannya.
Tapi di mata Ralphie seberapa mahal pun hadiah yang diberikannya kepada Serene, dia hanya menganggap Serene sebagai teman.
Tapi bahkan dia tidak bisa menghargai satu persatu hadiah mahal yang diberikan dari Ralphie….
Hati Serene sakit.
Hello! Im an artic!
“Dia hanya menganggapku sebagai teman.” Claudia membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya dia mengurungkan niatnya dan tidak mengatakan apapun.
Serene melihat raut wajah Claudia, lalu tertawa, “Aku tidak apa-apa, sungguh, yang terpenting aku bisa d isampingnya walau hanya sebagai teman.”
Claudia menghela napasnya, lalu bertanya, “Kau sudah lapar? Aku pergi masak, apa yang ingin kau makan?”
“Terserah apa saja.” Serene menjawab dengan senyum tipis. Claudia melihatnya sekilas kemudian berbalik pergi kedapur.
Ketika Serene melihat Claudia sudah pergi, senyum yang ada diwajahnya perlahan menghilang, berubah menjadi raut wajah sedih dan sakit.
Setiap Ralphie berbuat baik kepadanya, semakin Serene jatuh hati kepadanya. Dia sudah memutuskan untuk tidak banyak memikirkannya, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan rasa sakit yang ada dihatinya.
Tangannya mengeluarkan ponsel dari kotaknya setelah melihat beberapa saat akhirnya Serene menekan tombol power untuk menyalakan ponsel itu.
Setelah beberapa saat dia mengatur ponsel itu dia berhenti di kontak yang kosong. Walaupun Felix telah mengurus kembali nomor ponselnya yang lama, tapi semua data yang ada diponselnya tidak kembali.
__ADS_1
Serene menarik senyuman tipis dan menekan 11 nomor yang ada dikepalanya. Ketika selesai mengetik nomor itu, dia menyimpan nomor itu. Serene mengetik nama “Ralphie”, setelah menatapnya beberapa saat lalu kembali menghapusnyan dan mengetik ulang. Pada akhirnya yang ia ketik adalah “Someone in my heart”.
Ralphie hanya tersimpan dilubuk hati terdalamnya. Serene menatap sekilas dan akhirnya menyimpan nomor itu.
Seteleah selesai menyimpan nomor baru, Serene kemudian membuka website dan mengunduh lagu ‘Menyimpanmu Dalam Lubuk Hati’ untuk dijadikan nada dering dari nomor Ralphie. Setelah selesai, Serene ingin menghubungi Ralphie.
Tapi tiba-tiba ia melihat jam di layar ponselnya belum menunjukkan pukul 5, ia menghentikan gerakan tangannya, kemudian ia keluar dari halaman itu dan menunggu sampai waktu rapat selesai untuk menghubungi Ralphie.
Akhirnya belum sempat ia meletakkan ponsel itu, nada dering yang barusan ia pasang yang berjudul ‘Menyimpanmu Dalam Lubuk Hati’ berdering.
Tidak sampai jam 5 Ralphie sudah selesai dengan rapat videonya, dia mengira-ngira pasti Felix sudah menyerahkan ponsel ini kepada Serene.
“Serene.” Ralphie menyebutkan namanya ketika ia mengangkat telpon itu.
“Ya, ini aku.” Serene terdiam sejenak, kemudian berkata, “Kau membuang uang lagi untuk membeli ponsel, tunggu aku sudah ada uang, aku akan mengembalikan uangnya untukmu.”
Ralphie mengerutkan alisnya mendengar perkataan dari Serene.
Dia tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan oleh Serene, tidak hanya tidak suka, bahkan ada semacam perasaan ingin marah, seperti pada saat mereka membeli pakaian.
Bahkan pada saat sekertarisnya masuk untuk meminta tanda tangan di berkas, Ralphie tidak mematikannya dan menggunakan satu tangannya untuk menandatangani dan satu tangan untuk tetap memegang ponselnya.
Setelah selesai menandatangani berkas itu, sekertarisnya kembali berkata bahwa manager dari setiap departemen sudah menunggu untuk bertemu dengan Ralphie.
Tanpa berpikir Ralphie menjawab, “Suruh mereka tunggu.”
Serene sudah mendengar sayup sekertaris Ralphie mengatakan ada orang yang menunggunya, tapi Ralphie malah menyuruh mereka untuk menunggu.
Setelah mendengarnya, ia tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Ralphie dan dengan cepat menghentikan Ralphie, “Ralphie?”
Mendengar suara Serene, Ralphie terdiam sejenak, kemudian dengan nada yang dingin berkata kepada sekertarisnya “Tunggu”, dan menjawab yang ada disebrang ponsel sana, “Ya”.
Nada yang datar dan dingin yang barusan ia gunakan untuk berbicara kepada sekertarisnya seketika berubah menjadi lembut.
__ADS_1
Serene tidak menyadarinya sama sekali dan berkata, “Kamu pergilah dulu urus pekerjaanmu.”
“Tidak begitu penting.” Ralphie langsung menjawabnya dengan santai.
“Bagaimana tidak penting? Orang orang itu sedang menunggumu? Cepat temui mereka, lalu selesaikan urusanmu agar kau bisa pulang lebih awal, istirahat lebih awal, jangan lembur terus menerus….” Serene mengatakan secara beruntun dengan nada sedikit menyalahkan.
Di luar jendela terlihat pemandangan matahari yang sudah akan tenggelam dan menyinari seluruh penjuru dengan warna merahnya. Ralphie yang duduk dibangku diruangannya mendengarkan perkataan Serene, tapi ia tidak merasa kesal.
Akhirnya Serene berkata, “Sudahlah aku akan mematikan telponnya, kamu urus pekerjaanmu dulu.”
Ralphie meng’iya’kan, lalu menambahkan kata-kata yang tidak penting, “Besok aku ada waktu.”
Besok dia ada waktu? Serene terdiam beberapa saat tidak menjawab.
Ralphie kembali membuka mulutnya, “Apakah kau masih ingin nonton melihat film Zero?”
“Mau.” Serene menjawab tanpa berpikir.
“Dirumah ada filmnya, kamu mau menontonnya?” karena sebelumnya Serene tidak jadi pergi menonton karena ia menemani Ralphie, Ralphie menyuruh Felix untuk membawakan filmnya kerumah, hanya saja Ralphie tidak memiliki waktu untuk memberitahu Serene soal ini.
“Ya. Kalau begitu besok pagi aku akan ketempatmu.” Setelah Serene menyelesaikan kalimatnya ia kembali menambahkan, “Aku akan memabawakanmu sarapan”
“Baik.”
Setelahnya kedua orang itu membicarakan tentang apa yang ingin mereka makan untuk sarapan besok kemudian mengakhiri telpon itu.
Keesokan harinya, Felix menelpon Ralphie memberitahu bahwa wakil ketua Grup Finansial LM akan datang untuk membahas masalah projek dengan Grup Finansial LM dan orangnya sudah sampai di kantor pusat.
“Serene, apa kamu sudah berangkat?”
“Ya, sebentar lagi aku akan sampai.” Serene menjawab.
Mendengar bahwa Serene akan segera sampai, Ralphie mengerutkan bibirnya dan berkata, “Serene, aku ada urusan sebentar harus pergi ke Kyoto.”
__ADS_1
Mendengar Ralphie harus pergi kekantor, Serene segera paham dengan keadaannya dan berkata, “Baiklah, kamu pergilah, filmnya kita tonton lain kali.”