
Hello! Im an artic!
Hari kedua cuacanya sedikit mendung dan turun gerimis, tetapi Ralphie tetap membawa Serena pergi keluar.
Mobil yang berjalan dari vila mereka terus berjalan tanpa henti.
Hello! Im an artic!
Perjalanan yang panjang membuat Serena merasakan sedikit kantuk.
“Kenapa?” Ralphie yang melihat Serena sedikit tidak fit bertanya sambil memalingkan wajahnya melihat Serena.
Dengan mata yang tidak terbuka seluruhnya menjawab, “Sedikit ngantuk….”
Melihat Serena yang ngantuk sampai tidak bisa membuka matanya membuat Ralphie sedikit merasa cemas, kemudian mengulurkan tangannya dan membuat Serena berada di dekapannya, “Masih kurang 2 jam lagi baru sampai, kamu sandaran kepadaku saja dan tidur sebentar.”
Hello! Im an artic!
Serena juga tidak banyak protes dan mengangguk mengiyakan, bersandar dipelukan Ralphie dan tertidur.
Tidak lama kemudian suara napas Serena terdengar lebih panjang dan teratur.
Entah sudah berlalu berapa lama kemudian terdengar suara Ralphie memanggil, “Serena?”
“Emm?” Serena membuka matanya yang sedikit lebam karena tertidur.
Ralphie mengangkat tangannya sambil merapikan rambut Serena yang berantakan berkata, “Kita sudah sampai.”
Serena termenung sebentar baru kemudian mengangguk mengiyakan dan mengikuti Ralphie turun dari mobil.
Setelah turun dari mobil dia baru sadar bahwa hari sudah gelap, dan sekelilingnya ternyata hamparan sawah yang indah.
“Ini dimana?” Serena bertanya sambil mengamati sekitar.
Ralphie menjawab, “Kota kecil di Paris.”
Serena tertegun, “Kota kecil? Kita untuk apa datang kesini?”
“Untuk menemui seseorang.” Ralphie menjawab
Menempuh perjalanan selama itu hanya demi untuk menemui seseorang? Serena merasa ada yang sedikit aneh tetapi tidak diungkapkannya kepada Ralphie.
“Ayo jalan.” Ralphie berkata sambil mengulurkan tangan menggandeng Serena.
Serena begitu saja membiarkan tangannya digenggam oleh Ralphie, dan Ralphie menggenggam pelan tangan Serena berjalan ke jalan sempit yang berada di depannya.
Berjalan kira-kira selama 10 menit mereka sampai di depan rumah bergaya Eropa.
Ralphie mengangkat tangannya memencet bel rumah.
__ADS_1
Setelah semenit, ada seorang berdandan seperti pelayan membuka pintu.
“Permisi, kalian mencari siapa?”
Serena tidak mengerti sedikitpun pertanyaan yang dilontarkan pelayan yang bertanya menggunakah bahasa Prancis, dengan tenang berdiri disamping Ralphie dan menunggunya menjawab.
“Halo, kita datang kesini untuk bertemu Designer Kitty, aku bermarga Su.” Ralphie dengan lancar menggunakan bahasa Prancis menjawab.
Pelayan berkata dengan sopan, “Tuan Su, Nyonya Kitty sedang menunggu kedatangan kalian. Silahkan masuk.”
“Iya, terima kasih.” Ralphie mengangguk dan menggandeng tangan Serena masuk ke dalam.
Pelayan membawa mereka masuk melewati ruang tamu, terus berjalan kedalam, kemudian sampailah pada sebuah lorong terbuka.
Temboknya dipenuhi dengan tanaman merambat yang berwarna hijau, matahari seakan berbintik-bintik menembus celah-celah dedaunan dan cahayanya terhenti pada sosok yang sedang duduk di atas kursi.
Orang itu duduk membelakangi Ralphie dan Serena, tidak terlihat jelas raut mukanya seperti apa, hanya terlihat bahwa dia seorang wanita.
Tangannya dia memegang sesuatu, dilihatnya, dilihat dengan sangat serius.
Pelayan itu berkata pada Serena dan Ralphie untuk menunggu sebentar kemudian berjalan ke arah wanita itu, “Nyonya, tamu yang anda tunggu sudah datang.”
Orang itu mengangguk dan meletakkan barang yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja dan kemudian berdiri membalikkan badannya.
Saat dapat melihat dengan jelas raut wajah wanita itu tadi, Serena terbengong-bengong dibuatnya, Kitty·Philip, legenda dari perancang perhiasan, juara pertama tiga kali berturut-turut dari lomba perencanaan perhiasan sedunia.
Pendiri perlombaan perancang perhiasan Master Will dulu pernah mengatakan bahwa karya dari Kitty·Philip terasa hidup seakan memiliki jiwa.
Meskipun telah vakum, tetapi namanya tetap bersinar di dunia desain perhiasan.
Serena tidak mengira bahwa dia bisa disini bertemu dengannya.
“Halo Designer Kitty.” Ralphie dengan sopan menyapa, membuat Serena tersadar dari lamunannya, dia segera mengikuti Ralphie membungkuk memberi sapa, “Hallo Designer Kitty.”
“Tidak usah begitu sungkan, silahkan duduk.” Kitty tersenyum mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
“Terima kasih.” Ralphie dengan segera menarik Serena untuk duduk.
Setelah duduk, Kitty menaruh pandangannya pada Serena, “Jadi kamu adalah perancangnya?”
Apa? Serena tidak mengetahui bahasa Prancis, dan seketika menatap Ralphie.
Dan kemudian Ralphie memberi isyarat kepada Serena untuk duduk dengan tenang, kemudian melihat Kitty dan menjawab “Iya benar, dialah perancangnya.”
Kitty menganggukkan kepalanya berkata, “Aku sangat suka desain yang dia buat, tetapi aku ingin melihat dengan mata kepala sendiri kesungguhan dia dalam mendesain, entah itu diperbolehkan atau tidak?”
“Boleh sekali.” Ralphie menjawab dengan lembut dan mengangguk.
Kitty sesekali melihat Ralphie dan Serena secara bergantian kemudian bertanya, “Aku akan meminta pelayan mempersiapkan peralatannya, kalau desain disini saja bagaimana?”
__ADS_1
Ralphie mengangguk dan berkata “Boleh.”
Kitty meminta pelayan menyiapkan perlengkapan desain.
Serena menyikut tangan Ralphie dan berkata pelan, “Ada apa ini sebenarnya? Apa yang kamu bicarakan dengan Desaigner Kitty?”
“Bukan apa-apa, Kitty ingin melihatmu membuat desain.” Ralphie menjawab dengan lugas dan tenang.
“Apa?” Seketika suara Serena menjadi lantang.
Membuat Kitty mendengar suaranya dan seketika memandang ke arah mereka.
Serena merasa sangat malu! Dia sangat canggung dan meminta maaf kepada Kitty kemudian meletakkan tangannya dibawah meja dan mencubit pinggang Ralphie.
Tubuh Ralphie seketiga bergetar, kemudian mengangkat tangannya menghentikan tindakan Serena.
Setelah Serena sekuat tenaga menarik tangannya kembali, kemudian bertanya kepada Ralphie dengan sangat lirih, “Kamu sengaja membawaku kemari untuk memperlihatkan hasil desain ku kepada Designer Kitty?”
Ralphie mengangguk mengiyakan, “Iya.”
Dan dengan entengnya Ralphie menjawab iya…..Membuat Serena tidak dapat berkata apa-apa.
Serena memperhatikan Designer Kitty terduduk disana yang sedang berbicara kepada pelayan, dan mempertimbangkan menjelaskan kepadanya tentang kejadian yang sebenarnya, dengan seperti ini mungkin Kitty tidak akan salah paham.
Saat itu juga, Ralphie mendekat ke arah telinga Serena dan berkata dengan lirih, “Aku percaya kamu bisa.”
Serena tidak percaya bahwa Ralphie mengatakan bahwa Serena pasti bisa melakukannya, Seketika membuat hari Serena terasa lebih tenang.
Dia percaya aku bisa melakukannya, kalau begitu mungkin aku harus mencobanya….
Setelah pelayan datang membawa kertas desain dan pencil gambar, Serena berdasarkan tema yang disebutkan Kitty mulai menggambar.
Saat akan memulainya Serena merasa sedikit grogi, apalagi dengan adanya seorang Kitty yang sedang memandanginya mendesain tanpa berkedip.
Kemudian pelan-pelan Serena baru melupakan bahwa disampingnya ada perancang hebat, dan benar-benar menghayati apa yang sedang dia desain.
Serena semakin menggoreskan pencilnya semakin lancar, seperti sudah dipersiapkan terlebih dahulu.
Fokus Ralphie berada pada Serena, tetapi dia sesekali juga memandang ke arah Kitty.
Awalnya Kitty masih mengerutkan kaningnya, tetapi lama kelamaan dia mulai terlihat tenang, sampai saat ini, sorot matanya mengisyaratkan bahwa dia sangat puas akan desain milik Serena.
Sepertinya Kitty merasa puas dengan apa yang telah Serena lakukan, meskipun Ralphie percaya bahwa Serena bisa melakukannya, tetapi untuk mengikuti perlombaan ini dia harus mendapatkan pengakuan dari master perancang itu sendiri.
Sekarang melihat bahwa Kitty juga terlihat puas akan desain milik Serena, Ralphie baru merasa tenang.
Serena menggunakan waktu 2 jam untuk menyelesaikan desain yang dia buat.
Sampai ketika Serena merampungkan goresan terakhirnya, Serena mengangkat kepalanya, dengan sopan menggunakan bahasa Inggris berkata kepada Kitty, “Designer Kitty, saya sudah selesai mendesainnya.”
__ADS_1
“Bagus, apa kamu bersedia menjadi muridku?”