
Hello! Im an artic!
Yang sekarang harus ia lakukan hanyalah menghalangi Serene untuk bertemu Ralphie.
Dia tidak lupa dengan keadaan ponsel Serene yang mati, tidak tahu apa sebabnya, dan Ralphie tidak mengetahui posisinya, tidak dapat menghubunginya. Ia tidak akan membiarkan mereka bertemu di restoran ini.
Hello! Im an artic!
Tatapan Flora sangat suram, tapi tatapan itu menghilang seketika. Ia tersenyum kepada Leonard dan berkata, “Ayah, saat ini Tuan An masih belum tiba, apakah aku boleh turun sebentar untuk membayar makanan Serene?”
Leonard terdiam sejenak kemudian mengangguk, “Pergilah.”
“Terima kasih ayah.” Flora berjinjit dan mengecup pipi ayahnya kemudian pergi. Ketika ia sampai di lantai 1 restoran itu, Serene dan Claudia sudah hampir menyelesaikan makannya.
“Serene, apakah kalian sudah selesai makan? Ayah menyuruhku untuk membayar makananmu.” Flora bertanya sembari tersenyum.
Hello! Im an artic!
Serene mengangguk “Hampir selesai.”
Flora meng”iya”kan lalu memanggil pelayan untuk memberikan bill sambil bertanya kepada Serene, “Serene, mengapa ponselmu mati?”
“Itu…” Serene menengadah dan berkata, “Beberapa hari lalu tas ku dirampok, ponsel ku ada didalam tas, aku masih belum menemukan tasku.”
Dirampok? Baguslah! Flora diam diam merasa senang dalam hati, namun dia menunjukan raut khawatir dan bertanya, “Bagaimana bisa sampai dirampok? Kau baik-baik saja kan?”
“Aku tidak apa-apa.” Serene menjawab.
“Syukurlah.” Baru saja Flora ingin bergegas menuju lift namun tiba-tiba ponsel Claudia berdering.
Claudia mengeluarkan ponselnya dari tas dan menganggkat telponnya. Tidak tahu apa yang di bicarakannya, tapi tiba-tiba ia terkejut dan berkata “Benarkah?”
Serene menatap Claudia dengan tatapan berkata, ada apa?
Claudia memberikan perintah “Tunggu” kepada Serene, dan melanjutkan pembicaraannya di telpon, “Baik, kami akan segera kesana ……. Terima kasih banyak ……. Ya, aku akan kesana bersamanya.” Setelah itu Claudia mengakhiri telponnya.
Serene bertanya, “Ada apa?”
“Kata polisi, mereka sudah berhasil menangkap orang yang merampok tasmu.” Claudia menjawab sambil tertawa.
__ADS_1
Tatapan Serene berbinar, “Benarkah?”
“Ya, benar, mereka menemukan banyak barang, mereka menyuruhmu kesana untuk melihat yang mana barangmu.” Claudia mengangguk.
“Kalau begitu ayo kita pergi sekarang.” Serene berbicara sambil menarik lengan Claudia, setelah berdiri, tiba-tiba teringat sesuatu dan berhenti, kemudian ia membalikkan badan dan berkata kepada Flora, “Kak, aku dan Claudia akan pergi ke kantor polisi.”
Flora sangat senang mendengar Serene akan segera pergi dari sini, ia berkata dengan nada yang lembut, “Kenapa terburu-buru?”
“Aku masih banyak urusan, aku ingin segera kesana untuk menyelesaikannya.” Setelah mengatakannya Serene memegang tangan Flora kemudian pergi bersama Claudia.
Setelah melihat Serene dan Claudia pergi, Flora menarik senyumnya dan bersiap untuk kembali ke atas. Kebetulan dia bertemu dengan Ralphie dan lainnya yang baru keluar lift.
Untung Serene sudah pergi, kalau tidak mereka akan benar-benar bertemu. Mata Flora memancarkan aura yang menyeramkan kemudian ia menyapa Ralphie dengan senyumnya.
“Ralphie, kebetulan sekali, kita bertemu lagi.”
Ralphie tidak menyadari kehadiran Flora, bahkan ia menatap Flora dengan tatapan seperti sedang melihat sesuatu yang menjijikan dan mundur 2 langkah. Tentu saja jika bukan karena Flora yang ada di depan lift, Ralphie pasti sudah pergi jauh menghindari Flora.
Isa dan Ryan sudah tidak heran dengan sifat Ralphie yang seperti itu. Dalam pandangan mereka, wanita yang menjijikan untuk Ralpie sangatlah jarang, karena Ralphie selalu menghindari wanita. Hanya Serene satu-satunya wanita yang bisa mendapatkan tatapan yang normal dari Ralphie.
Tidak di sangka wanita yang sedang menghalangi jalan mereka ini mendapatkan tatapan yang menjijikan dari Ralphie?
Flora menatap Isa dan Ryan kemudian memberikan senyuman yang paling menawan menurutnya, “Kenal, aku sangat dekat dengan Ralphie. Tuan-tuan adalah teman Ralphie?”
Flora sudah bertemu dengan Raphie dua kali dan dia sangat paham bahwa Ralphie adalah orang yang sangat sulit didekati. Kedua laki-laki yang berpenampilan baik ini makan bersama direstoran bersama Ralphie jelas hubungan mereka sangat baik, Flora ingin memberikan kesan baik terhadap mereka.
Ryan tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum dengan hangat.
Sedangkan Isa dia yang selalu tertarik dengan wanita cantik, sekali lihat sudah bisa ditebak.
“Benar, kita adalah teman baiknya.”
Teman baik? Mereka adalah teman baiknya! Mata Flora berbinar, dan dengan senyum ia mengulurkan tangannya kepada Isa, “Hai, namaku Flora Luo.”
Mendengar Flora Luo raut wajah Isa memancarkan keterkejutan, “Kau Flora Luo?” Setelah mengatakannya, Isa dengan tatapan terkejut berkata kepada Ralphie, “Bukankah dia…” mantan calon pengantinmu? Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Ralphie sudah memotong perkataan Isa.
“Berhenti.”
Nada dingin Ralphie membuat Isa merinding dan menutup mulutnya.
__ADS_1
Ralphie tidak menatap Isa, tatapan tajamnya mengarah kepada Flora, tatapan itu tidak hanya tajam, tapi mampu membuat orang merinding dibuatnya, bahkan kaki Flora melemas dan akhirnya ia mundur dua langkah.
Ralphie kemudian membuang pandangannya, lalu menarik kerah kemeja Isa, menggunakan Isa untuk memberi jarak antara dia dan Flora dan dengan langkah yang besar meninggalkan tempat itu.
Isa hanya dijadikan pembatas antara Ralphie dan Flora, bahkan tidak diberikan kesempatan untuk protes, siapa suruh mulut besarnya itu membicarakan hal yang membuat Ralphie tidak senang?
Setelah menjauh dari Flora, Ralphie baru melepaskan genggamannya dari kerah Isa dengan perasaan seperti jijik.
“Wah, Ralphie, kau jangan begitu.” Dengan tatapan terluka.
Ralphie tidak mengatakan apapun, dengan langkah besar menuju pintu utama untuk keluar. Melihat Ralphie yang meninggalkan tempat ini dengan tergesa, Ryan bertanya kepada Isa, “Sebenarnya ada apa? Siapa wanita barusan itu?”
Isa melihat kesekeliling dan kemudian berkata kepada Ryan, “Dulu aku pernah menceritakan tentang ayah Ralphie yang telah mengatur pernikahan Ralphie kan?”
“Ya, aku tahu, awalnya aku berencana untuk pulang, tapi karena ada hal mendesak jadi aku menundanya.” Berhenti sejenak, Ryan kembali bertanya, “Bukankah kau bilang pernikahan itu sudah dibatalkan?”
“Ya memang sudah dibatalkan, mempelai wanita dan pria melarikan diri.” Isa mengangkat bahunya.
Ryan terkejut dan bertanya, “Mempelai pria dan wanita sama-sama melarikan diri? Kebetulan sekali? Apa mereka sudah merencanakannya?”
“Bagaimana aku tahu? Kalau mau kau tanya saja orang-orang itu?” Terlihat raut wajah yang ketakutan dari Isa, baru saja dia menerima tatapan dan perlakuan Ralphie yang mengerikan.
Teringat pertemuan Ralphie yang barusan, Ryan dengan wajah yang lembut, “Aku rasa tidak perlu.”
“Ya.” Wajah Isa seakan berkata ‘aku tahu’.
Terpampang raut yang canggung dari wajah lembut Ryan, “Apa hubungannya wanita yang barusan dengan yang kau ceritakan barusan?”
Isa menjawab, “Wanita barusan adalah mempelai yang melarikan diri.”
Mendengar jawaban Isa, wajah Ryan yang selalu memancarkan senyum lembut berubah menjadi serba salah dan ketakutan.
Setelah beberapa saat ia kembali bertanya, “Sekarang wanita itu balik mengejar Ralphie?”
“Pasti, kalau tidak kenapa Ralphie bisa sangat membenci wanita itu?” Isa menjawab sembari mengangkat tangannya.
“Hmm.” Ryan mengangguk, lalu memberitahu Isa, “Lain kali kau tidak perlu mengungkit masalah ini lagi di hadapan Ralphie.”
“Tentu saja.”
__ADS_1