
Hello! Im an artic!
Dia ngapain? Didalam pikiran Ralphie terdapat pertanyaan ini.
Hello! Im an artic!
Kemudian, dia mendekatkan kepalanya kearah Serena lalu berkata: “Menjauh dari playboy itu”
Betul, dia memang tidak ingin playboy ini mengotori Serena, karena sebelumnya dia pernah mengatakan bahwa akan kenalkan Serena kepadanya.
Serena jadi bengong, terus mengangguk-anggukan kepalanya.
Isa yang disamping marah, “Apa pula playboy, Ralphie kamu merusak nama orang.”
Hello! Im an artic!
Ralphie ladenin dia pun tidak mau, tarik Serena bawa dia ke balkon terpencil.
Tetapi Isa tidak lagi bisa bersabar, terus datang bercincang dengan Serena.
“Serena, sejak kapan kamu kenal Ralphie?”
Serena menghadap ke balkon luar berkata: “Sebulan lebih yang lalu.”
“Sebulan lebih?” Isa kaget lagi.
Baru sebulan lebih, kamu sudah begitu dekat dengan Ralphie? Dulu itu dia ibarat kayak muka hangat menempel ke bokong dingin (artinya: menunjukkan perasan hangat namun tidak dihiraukan)selama setengah tahun berturut-turut, tetapi ujung-ujungnya juga muka tembok aja dia menempel ke Ralphie melulu.
Mengapa kalau dibanding-bandingkan bisa membuat orang emosi?
Apa ini yang dinamakan efek cewek cantik?
Harusnya tidak, Ralphie bukannya tidak pernah menyukai cewek? Apa karena Serena ini ada keunggulannya?
Isa sambil menilai sambil bertanya kepada Serena, “Ser, bagaimana kamu bisa kenal dengan Ralphie?
Bagaimana bisa kenal? Serena memandang kearah Ralphie tanpa disadari.
Ralphie sedang bersandar ke pagar, dia melihat ke arah luar tanpa ekspresi, tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Sama dengan pertama kali bertemu dengannya……
Untuk pertama kalinya, Serena tidak begitu ingin berbagi cerita tentang pas pertama kali dia bertemu dengan Ralphie, terus dia menjawab dengan asal-asalan: “Ya kayak gitu.”
Sebenarnya Ralphie juga sedikit penasaran dengan bagaimana Serena akan menceritakan pertemuan mereka pas pertama kalinya, tidak menyangka Serena menjawab pertanyaannya Isa dengan asal-asalan.
Dia menjadi sedikit kecewa tetapi di waktu yang sama dia juga merasa senang kalau Serena tidak memberitahukan kepada Isa.
__ADS_1
“Ya kayak gimana? Jawaban apaan ini? Ser, kamu……” Isa belum sempat habis bicara, mata Ralphie sudah bereng mata ke arahnya.
Menerima pandangan yang “berarti” dari Ralphie, Isa langsung mengetahui “arti” dari pandangan tersebut dan tidak mempertanyakan lagi selanjutnya dia mengalihkan topik pembicaraan yang tadi, “Ser, kamu mau jus atau wine?”
“Jus saja, makasih.” Serena berterima kasih kepadanya dan tersenyum tipis.
Isa mengambil jus dari piring yang di pegang pelayan terus mengoperkan ke Serena, terus mengambil dua gelas wine, dan kasih ke Ralphie dari antara salah satu gelas tersebut.
Ralphie baru saja mengulurkan tangan mau menerima gelasnya, suara Serena langsung terdengar.
“Ralphie, kamu tidak boleh minum.”
Ikuti suara Serena yang lama-lama mengecil, gelas wine yang ada di tangan Ralphie direbut Serena, terus mengembalikan ke piring pelayan.
Melihat proses tersebut, Serena dan Ralphie kelihatan begitu natural juga begitu memahami satu sama lain.
Sedangkan muka Isa kelihatan seperti tersambar petir.
Ya Tuhan, apa yang sudah dia lihat? Dia melihat seorang wanita merebut gelas wine dari tangan Ralphie, bahkan Ralphie juga mendengarkan kata-katanya.
“Minum jus?” Serena tidak perhatiin ekspresi muka Isa terus bertanya kepada Ralphie.
“Berikan aku air putih.” Ralphie meminta kepada pelayan.
“Wow, Ser, hebat kali kamu, bisa juga kamu mengendalikan Ralphie.” Isa berteriak disamping.
“Keadaan dia sekarang tidak cocok untuk minum” Serena berjawab dengan serius.”
Isa belum sempat habis bicara, Ralphie langsung menarik kerah Isa, menjauhinya dari balkon.
“Uhuk uhuk….. Ralphie kamu mau bunuh aku?” Isa melawan sambil batuk.
Ralphie memegang tangan Isa yang sedang melawan, “Jangan asal bicara.”
Isa melihat Serena yang berdiri di balkon, terus memperagakan seperti menutup rel sleting di bagian mulut.
Ralphie kelihatan sudah puas, baru tidak memandangi Isa lagi.
Sebelumnya dia pergi ke balkon dengan Ralphie, tidak ada yang melihat mereka, jadi tidak ada yang menyapanya.
Sekarang mereka keluar dari balkon, langsung dilingkari oleh orang yang ada di ruang privasi tersebut mereka langsung datang menyapa.
Isa adalah ahli komunikasi, dia dapat menghadapi masalah ini dengan gampang.
Tetapi Ralphie tidak terlalu menyukainya, namun dia tidak bisa menghindarinya, jadi dia tidak berbicara, dia hanya bisa membuat kesombongan diseluruh tubuhnya, ini sudah cukup baginya untuk berurusan dengan adegan ini.
Semalam Serena tidur terlalu larut malam, di pagi hari, dia bergegas ke villa Ralphie, sekarang dia bosan berdiri di balkon dan merasa sedikit mengantuk.
__ADS_1
Dia mengangkat tangan kanannya dan menepuk wajahnya, menghilangkan rasa kantuknya, lalu memutar kepalanya dan melihat ke dalam ruang privasi, dan sekilas dia melihat Ralphie dan Isa yang sedang dikelilingi oleh sekumpulan orang.
Ralphie berdiri tanpa ekspresi disamping Isa, dan alisnya penuh dengan ketidaksenangan.
Serena merasa lucu dia tersenyum bahagia, lalu mengeluarkan handphonenya dari tas, menundukkan kepalanya dan mengetik suatu lelucon kepada Ralphie.
Sekitar lewat sepuluh detik lebih, Serena melihat Ralphie mengeluarkan ponselnya dari sakunya, dan kemudian setelah beberapa detik, Ralphie mengangkat kepalanya dan melihat ke arah balkon.
Serena tersenyum, lalu menundukkan kepalanya terus mengedit lelucon di teleponnya, siap untuk mengirimkan ke Ralphie.
Kali ini dia belum sempat selesai mengedit, dan tiba-tiba ada bayangan di atas kepalanya, lalu di hidungnya tercium aroma yang dikenal dari Ralphie.
Serena mengangkat kepalanya, pas-pas terhadap dengan mata Ralphie yang sedang menatapnya.
Mata Ralphie yang terlihat seperti danau, yang begitu dalam sampai tidak dapat nampak bawah. Seperti magnet yang menarik perhatian Serena. Serena tidak dapat menahan perasaannya terhadap Ralphie, dan dia pelan-pelan mendekati Ralphie.
Melihat wajah Serena yang pelan-pelan mendekati, mata Ralphie juga pelan-pelan menjadi gelap, namun dia tidak bermaksud untuk menghindari.
Wajah Serena semakin dekat, semakin dekat.
Tepat saat wajah Serena hampir berada di dekatnya, ponsel Ralphie tiba-tiba berdering.
Dia membuka matanya, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya terus menjawab.
“Halo …… tidak……”
“Iya ……”
Serena dengar Ralphie menjawab teleponnya dengan jawaban yang sangat singkat, wajahnya jadi panas seperti terbakar api.
Apa yang telah aku lakukan tadi? Ingin menciumnya?
Ya Tuhan! Apa yang dia lakukan? Bagaimana seharusnya dia menjelaskan kepadanya perilaku tadi?
Serena benar-benar ingin menangis.
Ralphie menutup teleponnya, melihat bagian luar balkon sambil bertanya, “Apakah kamu merasa bosan?”
Serena linglung kembali, dan berbalik melihat ke arah Ralphie, lalu mengalihkan pandangannya dengan sangat panik, “Lumayan……”
Ralphie berkata dengan pelan: “Apa mau pergi dulu?”
Biarkan dia pergi dulu? Apakah dia mengetahuinya? Pandangan Serena menoleh ke Ralphie, dan dia hanya menatap kosong keluar balkon. Dia mencubit telapak tangan dengan kukunya dan kemudian berkata dengan pelan, “Kamu tidak perlu aku mengantarmu?”
Ketika mendengar kata-katanya Serena, hati Ralphie terasa kencang, baru berkata lagi setelah lewat beberapa lama: “Kalau kamu merasa bosan, kamu boleh pergi ke ruangan aku.”
Serena dengan tidak percaya menatap Ralphie, “Bolehkah?”
__ADS_1
Si Ralphie tidak menjawab pertanyaan Serena, juga tidak melihatnya, hanya mengambil kartu dari saku jasnya dan menyerahkannya padanya.
Serena menggigit bawah bibirnya terus menerima kartu itu dari tangan Ralphie. Dia menatap Ralphie, kemudian berbalik badan pergi jauh dari ruangan privasinya.