
Hello! Im an artic!
Serena sendiri memeluk Ralphie yang tengah mabuk, terhadap kejadian semalam, tidak sampai mempengaruhi terpikir untuk kabur dari ruangan.
Hasil setelah menunggu dia melarikan diri dari ruangan, dia baru ingat, jejak di atas ranjang.
Hello! Im an artic!
Melihat beberapa jejak itu, Ralphie tidak bodoh, dia juga paham telah terjadi apa.
Dia harus bagaimana? Jika Ralphie tahu apa responnya?
Ketika Serena dalam ketidak tenangan berjalan melewati lorong yang panjang, di sana terdengar sebuah suara.
“Nona Muda, mengapa anda ada disini?”
Hello! Im an artic!
Serena sedikit tertegun, kemudian bertanya, “……ada masalah?”
“Tuan Besar sedang menunggu anda untuk sarapan. ” Pembantunya menjawab.
Sarapan? Ralphie pasti juga ada. Serena menelan ludah, bertanya, “Itu……tuan muda juga ada di sanakah?”
“Tidak melihat tuan muda. ” Pembantunya menjawab.
Mendengar pembantunya berkata tidak melihat Ralphie, Serena bernafas lega, “Ok, aku segera pergi.”
Serena sendiri berpikir, Ralphie tidak ada di ruang depan, pasti dia belum bangun, dia masih bisa bersembunyi sebentar.
Dia sungguh tak menyangka, dia bisa berpapasan dengan Ralphie di ruang makan.
Ketika Serena masuk ke ruang makan, semua orang kecuali Ralphie, orang yang lainnya sudah berkumpul semua.
Melihat Serena masuk, semuanya menyapa dengan ramah mempersilakannya duduk.
Serena juga tidak sungkan, duduk di bangku yang masih kosong.
“Ralphie beberapa hari ini pergi karena ada urusan, kamu bisa tinggal di sini.” Kakek sambil memakan sarapannya sambil berkata.
Serena kaget mengangkat kepalanya melihat ke arah Kakek, “Sudah pergi?”
Meskipun dia tidak ingin bertemu dengan Ralphie, tapi mendengar Ralphie pergi tanpa berkata sepatah katapun, dalam hati Serena bercampur aduk rasanya.
Kakek tidak memperhatikan keanehan Serena, dia menjawab: “Di negara M sana ada urusan, tadi buru-buru pergi. ”
Serena ‘Oh’ menanggapi, menunduk dan melanjutkan sarapannya.
Selanjutnya sudah tidak ada, perasaan macam sebelumnya.
__ADS_1
Setelah sarapan, beberapa saudara muda berteriak ingin bermain kartu untuk hiburan, mereka juga menarik Serena untuk bermain bersama.
Serena tidak bisa bermain kartu, tapi juga tidak enak menolak mereka, hanya duduk di pinggir menonton.
Menonton sampai siang hari, dia merasa pusing, makanya setelah makan siang, dia mencari alasan untuk istirahat, tidak melanjutkan main kartu bersama mereka lagi.
Setelah keluar dari ruang depan, Serena langsung kembali ke ruangan Ralphie.
Bunga Plum yang ada di dalam ruangan lebih mekar dari pada tadi malam, Serena melihat ke dalam ruanngan sebentar, akhirnya kembali ke ruangan tempatnya melarikan diri tadi.
Kira-kira pembantu sudah datang ke sini, ruangan ini sudah dirapikan.
Menatap ruangan yang kosong, dalam hati Serena merasa gundah sekali.
Dia sendiri merasa Ralphie tidak ada, dia harusnya nyaman.
Tapi sekarang Ralphie pergi, sedikit membuatnya merasa……
Hari pertama ini, Serena pusing melewatinya.
Hari kedua dirinya, Serena harus kembali ke keluarga Luo, tapi Kakek berkata Ralphie belum pulang, antarkan hadiah ini ke sana dulu, lalu tunggu Ralphie kembali, baru sama- sama pergi ke sana.
Terhadap perkataan Kakek, dia tidak ada masalah, karena dia tidak berpikir untuk pulang, kira-kira juga tidak ada orang yang menginginkannya kembali.
Anggap saja menunggu Ralphie kembali, sampai waktunya dia juga akan mencari alasan untuk tidak pulang ke keluarga Luo.
Kakek mungkin tahu bahwa Serena tidak suka keramaian, juga tidak menyuruhnya keluar menemani tamu, maka Serena juga tidak ada kerjaan, seharian di dalam ruangan memandangi bunga plum atau menggambar.
Hari ke empat, Lacey Shen dan orang tuanya mengunjungi Kakek, hubungan Serena dan Lacey sangat baik, dia juga datang ke ruang depan.
“Ser, dengar dari Molly katanya beberapa waktu ini kamu tinggal di tempat kakek Su? ”
“Iya, sementara aku tinggal di sini. ” Serena menganggukan kepala.
“Lingkungan di sini sangat bagus, tinggal disini juga sangat nyaman. ” Selesai bicara Lacey, mengangkat kepalanya memandang ke sekeliling berkata : “Kenapa tidak melihat Kak Ralphie ya? ”
Mata Serena berkedip kedip, berkata: “Dia tidak ada di sini. ”
“Kak Ralphie tidak ada di rumah? Kemana ? ” Lacey terkejut bertanya.
Serena dengan datar menjawab, “Dia ada urusan, pergi ke negara M. ”
Lacey mengangguk, ‘Oh’ merespon, kemudian seperti teringat sesuatu lalu bertanya, “Nah Serena tidak ada kesibukan kan.”
“Tidak ada, kenapa?” Serena penasaran melihat ke arah Lacey.
Dengan senang Lacey berkata, “Ser, kamu dan Molly sama sama main ke rumahku ya?”
Pergi main ke rumah Lacey? Serena lambat menjawab, “Hmm……sepertinya kurang baik.”
__ADS_1
“Mengapa kurang baik? Kamu dan Molly adalah sahabatku, pergi ke rumah teman adalah hal biasa, kecuali kamu tidak menganggapku teman. ” Lacey berkata dengan tidak senang.
Lacey sudah berkata begini, Serena masih bisa apa? Hanya bisa setuju, “Nah…..baiklah.”
“Bagus sekali, aku pergi memanggil Molly. ” Lacey dengan senang pergi mencari Molly.
Serena menggaruk garuk hidung, pergi mencari kakek. Dia mau pergi ke rumah Lacey, hal penting seperti ini, dia harus bilang dulu ke kakek.
Kakek mendengar Serena akan pergi ke rumah Lacey, tanpa pikir panjang langsung menyetujuinya, lagipula beberapa hari ini dia melihat Serena seharian berada di dalam kamar, juga merasa tidak baik. “Bersama Molly pergi bermain ke rumah Lacey sana juga sangat baik, kalian seumuran, ada bahan pembicaraan. ”
Serena mengangguk, “Terima kasih kakek. ”
“Satu keluarga bilang terima kasih untuk apa? ” Selesai bicara kakek, seperti teringat sesuatu dan berkata: “Theo, tolong siapkan mobilku untuk dipakai Serena. ”
Mobil Kakek, Rolls-Royce Phantom edisi Deluxe yang tipe limusin.
Serena menggeleng tak mau ribet, “Kakek, sepertinya tidak perlu?”
“Mobil kakek tidak bagus kah? ” Kakek mengerutkan dahi.
Bukan tidak bagus, tapi terlalu bagus.
Serena tentu tidak bisa berkata seperti itu, dia ragu-ragu berkata, “Kakek, mobil itu kurang pantas.”
Kakek melihat tingkah cemas Serena, kemudian tertawa, “Baiklah, kakek siapkan mobil yang lain.”
Mendengar perkataan kakek, Serena bernafas lega, “Terima kasih kakek.”
Akhirnya mereka keluar naik mobil BMW Bugatti, meskipun masih saja tergolong mobil mewah, tapi tak sebanding dengan mobil Rolls-Royce Phantom edisi Deluxe Limusin milik kakek.
Waktu yang bersamaan, Bandara Internasional kota A, Ralphie mengangkat koper keluar.
Ternyata masalah di Negara M, tak perlu dirinya sendiri mengurus ke sana.
Tapi Ralphie tahu saat itu Serena tak mau bertemu dengannya, maka dia mencari alasan untuk pergi sendiri ke Negara M.
Selama 3 hari di Negara M, dia banyak berpikir.
Dia pernah berpikir memaksa Serena untuk menerimanya, jika seperti itu Serena pasti akan membencinya.
Dia sangat mencintainya, mana mungkin dia tahan jika melihat Serena membencinya?
Dia sudah memaksa Serena untuk tinggal di sisinya…..maka dia ingin melakukan apa biarlah dia melakukan apa.
Menghela nafas panjang, Ralphie menyandar ke punggung kursi, mulai memejamkan matanya.
Saat mobil hampir memasuki kota, Felix mengeluarkan suara bertanya: “Direktur Su, pergi ke kantor, atau ke rumah keluar Su? ”
Ralphie membuka mata, terdiam menatap portofolio di tangannya, kemudian perlahan mengucapkan empat kata, “Ke kediaman keluarga Su”
__ADS_1