I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 352 Ralphie Selamat


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena percaya bahwa Ralphie pasti selamat, dan ternyata benar.


Ralphie memang selamat, tapi ia mengalami luka-luka.


Hello! Im an artic!


Dia yang berinisiatif untuk melawan para perampok itu, kemudian para penumpang lain pun akhirnya ikut melawan.


Setelah perusahaan maskapai menerima kabar, mereka segera menghubungi pemerintah setempat untuk mengirimkan pesawat bantuan untuk menyelamatkan para penumpang.


Saat ini Ralphie sedang dirawat di rumah sakit setempat.


Setelah mengkonfirmasi berita itu, Felix langsung mencarikan dokter terbaik untuk Ralphie, dan mempersiapkan jet pribadi untuk membawa Ralphie pulang.


Hello! Im an artic!


Tapi Serena bersikeras ingin ikut, tidak bisa menolak, akhirnya Serena dan dua suster rumah sakit ikut naik di jet pribadi itu.


Hari masih pagi ketika jet pribadi tiba.


Semua orang sudah kelelahan, tapi tidak ingin beristirahat, mereka langsung bergegas ke rumah sakit.


Karena sebelumnya sudah menginfokan ke pihak rumah sakit, jadi ketika mereka tiba di rumah sakit, sudah ada orang yang menunggu mereka.


Setelah kedua belah pihak sepakat, semuanya dibawa ke ruang bangsal tempat Ralphie dirawat.


Semua orang sama-sama tahu, dan membiarkan Serena berada di paling depan. Ketika sampai di ruangan tempat Ralpie dirawat, semuanya menghentikan langkah dan menunggu Serena maju terlebih dahulu.


Serena berusaha menenangkan dirinya dan membuka pintu. Dia melihat Ralphie berbaring di tempat tidur.


Tubuh Ralphie bersih, tidak ada peralatan apapun yang dipasangkan ke tubuhnya.


Tubuhnya terbaring di tempat tidur rumah sakit, matanya tertutup tenang, dan ia tidur dengan nyenyak.


Cahaya lampu bangsal mengenai wajahnya, membentuk lingkaran yang sempurna.


Serena berdiri diam di pintu selama beberapa detik sebelum dia melangkah dan berjalan perlahan ke tempat tidur Ralphie.


Dia terus-menerus merasa ini seperti sebuah mimpi. Ia menahan nafas, mengulurkan tangannya dan dengan lembut memegang tangan Ralphie.


Suhu di ujung jari Ralphie jelas-jelas memberitahunya bahwa pria ini benar-benar masih hidup.


Matanya agak panas dan tangannya masih lemas. Dia sedikit terbangun seolah ada yang menyentuhnya. Bulu matanya yang panjang bergerak dengan lembut, matanya perlahan terbuka, dia menatap langit-langit sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya dan melihat Serena.


Cukup lama dia menatapnya dalam-dalam, lalu dengan suara agak serak ia berkata, “Serena, kamu di sini?”

__ADS_1


Sebuah kalimat sederhana, membuat Serena langsung meneteskan air matanya.


Dia menggenggam erat tangan Ralphie dan menciumnya.


“Ralphie, aku salah, aku tidak akan bertengkar denganmu lagi….”


Tetes demi tetes air mata Serena jatuh di tangan Ralphie.


“Jangan… Jangan menangis, Serena tidak usah menangis lagi.” Ralphie menarik tangannya dari genggaman Serena, lalu menyentuh mata Serena dan dengan lembut menyeka air matanya. “Jangan menangis.”


“Mengapa aku tidak boleh menangis?” Serena memeluk lehernya, dan air matanya semakin deras.


Ralphie tidak berbicara, ia hanya menepuk pundak Serena untuk menenangkannya.


Tidak tahu sudah berapa lama Serena menangis, tiba-tiba ada suara ketuk pintu dari luar.


Tok tok tok…


Serena cepat-cepat menyeka air matanya, lalu berkata, “Masuk.”


Ternyata Felix yang datang, “Nyonya, bolehkah saya mempersilakan dokter untuk memeriksa Tuan Ralphie sebentar?”


“Oke.” Serena mengangguk lalu menoleh ke arah Ralphie dan berkata, “Kami membawa dokter pribadi untuk memeriksamu terlebih dahulu, kemudian kita akan kembali ke kota A.”


“Baik.” Ralphie tidak membantah.


Ketika Ralphie hilang kontak beberapa hari yang lalu, mereka terus menyembunyikannya dari kakek karena khawatir kakek tahu dan tidak bisa menerima kenyataan pahit itu.


Sekarang Ralphie sudah kembali dengan selamat, tidak perlu lagi bersembunyi dari kakek.


Hal sebesar ini, ketika kakek tahu, pasti langsung diceramahi oleh kakek.


Akhirnya yang diceramahi bukanlah Serena, melainkan Ralphie yang sedang sakit.


Di usia 20an, Ralphie selalu menjadi cucu yang dibangga-banggakan kakeknya, dan ini untuk pertama kalinya dia ditegur oleh kakek.


Setelah lelaki tua itu pergi, wajah Ralphie berubah menjadi kusam.


Serena bertanya dengan bingung, “Ada apa? Tidak senang ditegur oleh kakek?”


Ralphie jelas tidak senang, tapi dia menggelengkan kepalanya, “Tidak.”


Melihat Ralphie yang seperti ini, Serena tidak dapat menahan tawanya, “Hihi….. ”


Ralphie merasa agak malu ditertawai oleh Serena, tapi ia juga tidak menghentikannya.


Begitu Claudia masuk dan melihat mereka berdua, ia bingung lalu bertanya kepada Serena apa yang sedang ditertawakannya.

__ADS_1


Serena tentu tidak mungkin memberitahunya bahwa Ralphie keras kepala, hanya berkata ia baru saja mendengar sebuah lelucon, kemudian mengalihkan pembicaraan.


Tidak lama kemudian Isa dan Ryan datang, ruangan itu menjadi semakin ramai.


Setelah Isa masuk ke ruangan, Claudia yang tadinya berbicara dan tertawa menjadi agak diam.


Meski Isa selalu mengajaknya bicara, Claudia hanya merespon dengan wajah dingin.


Serena memperhatikan hal ini, kemudian menarik Claudia keluar dari bangsal.


“Apakah sebelumnya kalian sudah pernah bicara?”


“Maksudnya bicara dengan siapa?” Claudia langsung bertanya, lalu menanyakan hal lain, “Apa kamu sudah memberitahu Ralphie tentang kehamilanmu?”


“Belum.” Serena menggelengkan kepala.


Claudia bertanya, “Kapan kamu mau memberitahunya?”


Serena berpikir sesaat dan menjawab, “Tunggu setelah dia keluar dari rumah sakit.”


Claudia mengangguk, “Benar juga, jangan sampai dia terlalu gembira, sampai lukanya terbuka.”


Mendengar perkataan Claudia, Serena mengalihkan pandangannya, “Menurutmu hal apa yang penting? Apakah seseorang bisa karena terlalu senang sampai membuka lukanya?”


“Mungkin saja, dari apa yang aku ketahui tentang suamimu, kalau kamu tidak percaya, coba sekarang pergi beritahu dia kalau kamu sedang hamil, mungkin karena terlalu gembira dia bisa melompat dari tempat tidur?” kata Claudia dengan ekspresi seolah mengatakan ‘apakah kamu ingin mencobanya?’


Awalnya Serena berencana menjawab ‘Siapa takut’, tapi kemudian dia teringat Ralphie pernah menyalahkan dirinya karena operasi aborsi waktu lalu. Ia takut Ralphie benar-benar melakukan seperti yang dikatakan oleh Claudia.


“Tidak jadi, seandainya pun aku memberitahunya sekarang, dia tidak mungkin sampai melakukan itu.”


“Kamu yakin?” Claudia menatap Serena dengan meringis.


Serena pura-pura agak batuk dan berkata, “Waktunya Ralphie minum obat, maukah kamu ikut denganku?”


“Aku ikut masuk untuk mengambil tasku, lalu akan pulang.” jawab Claudia.


“Oh, baiklah.” Serena mengangguk dan berjalan masuk ke bangsal.


Claudia mengikutinya ke bangsal, mengambil tas di sofa, dan pamit kepada Ralphie, “Ralphie, aku pulang dulu, lain waktu aku datang lagi.”


“Sudah merepotkanmu beberapa hari ini.” Ralphie mengangguk.


“Tidak apa-apa.” Claudia menggelengkan kepalanya, lalu berkata pada Serena. “Serena, jaga suamimu baik-baik ya.”


Serena yang merasa digoda lalu melirik Claudia dan berkata, “Hati-hati di jalan.”


“Ya.” Claudia melambai dan berbalik meninggalkan bangsal.

__ADS_1


Begitu Claudia melangkah keluar, Isa pun segera berkata, “Ralphie, aku ada urusan harus pergi, besok aku datang lagi untuk melihatmu.” Tanpa menunggu Ralphie dan Serena menjawab, iya buru-buru meninggalkan bangsal…”


__ADS_2