
Hello! Im an artic!
Sebelum kedatangan Ralphie dan Serena di tempat pernikahan, mereka pergi bertemu dengan Isa dan Claudia.
“Ralphie, Serena, akhirnya kalian datang.” Setelah melihat kedatangan mereka, Isa langsung meninggalkan orang disamping dan pergi menuju kearah Ralphie dan Serena.
Hello! Im an artic!
Ralphie mengangguk, tanpa berucap satu kata pun.
Sedangkan Serena tersenyum dan memberikan selamat. “Selamat atas pernikahanmu.”
“Terima kasih.” Isa berterima kasih kepada Serena.
“Sama-sama.” ucap Serena dan bertanya lagi, “Dimana Claudia?”
Hello! Im an artic!
Isa membalas sambil menunjuk ruangan pengantin yang tidak cukup jauh. “Claudia berada di ruangan pengantin itu.”
“Oh.” Serena mengangguk, lalu berbalik badan dan berkata, “Aku pergi cari Claudia dulu.”
Ralphie mengangguk, “Baik, pergilah.”
Setelah Serena pergi, Ralphie baru membuka mulut. “Dimana Ryan?”
“Tadi dipanggil pergi sama adikmu.” Isa membalas sambil menaikkan bahunya.
“Molly?” Ralphie menaikkan alisnya.
Isa membalasnya dengan tidak yakin. “Iya, sepertinya ada sesuatu yang harus dikatakan dengan Ryan. Aku juga kurang tahu.”
Ada sesuatu? Tidak tahu yang dipikirkannya, Ralphie langsung mengerutkan dahinya dan bertanya, “Pergi berapa lama?”
Isa membutuhkan waktu lama baru mengerti pertanyaan yang ditanyakan Ralphie dan membalas, “Sepertinya ada setengah jam?”
“Kamu coba menghubunginya.” ucap Ralphie sambil mengeluarkan teleponnya dari kantong celana.
“Kamu tidak menghubunginya?” Isa dengan bingung memandang telepon di tangan Ralphie.
“Tidak.” Ralphie menemukan nomor Molly dan menghubunginya
Isa mengeluarkan kata ‘Oh’. Saat ia ingin mengeluarkan teleponnya, tiba-tiba terlihat Ryan yang muncul di ujung lorong sana. “Tidak perlu menghubunginya, ia sudah datang.”
Ralphie mendengar suara nonaktif pada telepon sambil bertanya kepada Ryan. “Di manakah Molly?”
Ryan tidak sangka Ralphie yang menanyakan Molly terlebih dahulu. Ia terdiam lalu membalasnya. “Setelah aku berbicara dengannya, aku melihat ia berjalan menuju Aula pernikahan.”
Ralphie melirik ke arah Ryan, lalu menghubungi Felix, agar ia mencari Molly di Aula pernikahan.
Setelah Felix diperintah untuk mencari Molly, ia terdiam kaku ia membalas. “Nona Molly? Tadi aku melihatnya.”
“Dimana?”
Felix membalas. “Aku lihat ia pergi menuju tangga darurat.”
__ADS_1
“Ikuti dia.”
“Baik, Direktur.”
……
Setelah panggilan berakhir, Ralphie tanpa melirik Ryan, ia langsung pergi menuju ruang pengantin mencari Serena.
Isa melihat kepergian Ralphie sambil bertanya kepada Ryan dengan suara rendah. “Kamu membuat Ralphie marah?”
Menolak pernyataan cinta dari sepupu Ralphie mungkin membuat Ralphie marah. Ryan mengangguk. “Iya, aku membuatnya marah.”
“Jaga dirimu, Ryan.” Isa menepuk pelan bahu Ryan.
“Aku tahu.” ucap Ryan sambil tersenyum pahit.
“Kamu jangan terlalu sedih, Ryan. Sebenarnya Ralphie itu baik.” Ucapan Isa tidak membantu sama sekali, melainkan hanya menghibur.
Ryan dengan kesal bertanya, “Isa, apakah menurutmu karena kamu pengantin, aku tidak akan bisa menghajarmu?”
“Iya.” ucap Isa selesai lalu tertawa kencang sambil mengejar Ralphie. “Ralphie, tunggu aku.”
Ryan hanya bisa menganggap ini sial bagi dirinya. Ia memegang pelan hidungnya, lalu pergi mengikuti langkah Isa.
Saat mereka masuk ke dalam ruang pengantin, Serena dan Claudia sedang berbicara dengan senang.
“Claudia, aku sangat senang bisa menghadiri pernikahanmu.”
Claudia tertawa dan menjawab, “Sayang sekali dulu aku tidak bisa pergi menghadiri pernikahanmu.”
Claudia pernah mendengar Serena menceritakan pernikahannya dengan Ralphie. Ia sangat mengerti perasaan Serena saat itu. “Aku tahu, aku tidak akan menyalahkanmu.”
“Iya.” Serena mengangguk kepalanya, lalu menjulurkan tangannya untuk menyentuh perut Claudia. “Tujuh bulan?”
“Sudah tujuh bulan lebih. Sebenarnya aku ingin mengadakan pernikahan setelah aku melahirkannya, tapi keluarga Isa tidak setuju.” ucap Claudia sambil menyentuh perutnya.
“Mungkin mereka ada pertimbangan lain?” ucap Serena.
Claudia mengangguk. “Iya. Neneknya sakit, ia sangat ingin melihat Isa cepat menikah denganku.”
“Oh, begitu.” Serena memasang wajah bingung.
Claudia mengiyakannya dna bertanya, “Kamu? Sudah mau dua bulan bukan? Bagaimana?”
“Aku makan dengan baik, tidur dengan baik. Semuanya itu baik, hanya saja ia selalu mengawasiku.” ucap Serena tak berdaya.
Claudia membalikan matanya dna berkata, “Kamu sengaja memamerkan suamimu ya?”
“Aku tidak sengaja menunjukkannya. Kamu tidak tahu saja ia menatapku terus selama dua puluh empat jam, itu membuatku merasa tertekan.” ucap Serena sedih.
Claudia mengangkat tangan dan menyentuh dahi Serena. “Jangan-jangan kamu ingin ia tidak peduli denganmu seharian?”
Serena berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak mau.”
“Kalau gitu bukannya baik. Suamimu terus menatapmu karena khawatir kepadamu, itu artinya ia menyayangimu, kamu jangan merasa tidak cukup.” ucap Claudia kesal.
__ADS_1
Serena mengeluarkan lidah lalu berkata, “Aku merasa sangat cukup.”
“Kamu ya…” Baru saja Claudia ingin lanjut pembicaraannya, lalu terdengar suara ketukan pintu.
Serena berdiri dan mengatakan, “Aku pergi buka pintu.”
“Iya, merepotkan dirimu.” Claudia mengangguk.
Serena membuka pintu, lalu menemukan Ralphie diluar. “Mengapa kamu datang?”
“Sudah selesai berbicara.” ucap Ralphie.
Serena mengiyakannya lalu melihat Isa yang berlari. “Isa, mengapa kamu berlari?”
Apakah Claudia sudah siap? Sudah waktunya.” ucap Isa sambil tersenyum.
“Sudah siap.” ucap Serena sambil menarik Ralphie keluar dari ruang pengantin.
“Kalau begitu aku pergi mengurus dulu.” Isa mengangguk lalu berkata kepada Ryan. “Ryan, kamu bawa Ralphie dan Serena ke Aula pernikahan sana.”
“Baik.” Ryan mengangguk lalu berkata, “Ralphie, Serena, ayo ikut aku.”
Ralphie tidak berbicara, sama sekali tidak bisa melihat ekspresinya.
Serena dengan sopan mengatakan, “Maaf merepotkanmu, Ryan.”
“Tidak repot.” ucap Ryan sambil tersenyum kepada Serena dan berjalan menuju tempatnya.
Serena berjalan sambil berbicara dengan Ryan. “Ryan, ini keberapa kali kamu menjadi pengiring pengantin?”
“Kedua kali, yang pertama kali itu pernikahanmu dengan Ralphie.” ucap Ryan.
Serena mengiyakan, lalu berucap. “Kalau begitu selanjutnya, giliran kamu yang menjadi pengantin ya.”
Apa hubungan menjadi dua kali pengiring pengantin dengan menjadi pengantin?
Lagipula, ia baru saja menolak Molly, sudah membuat Ralphie marah. Kalau ia lanjut memasukki topik ‘pengantin’, apakah itu akan membuat Ralphie lebih tidak senang?”
“Hmm, kalau itu aku tidak tahu.”
Serena dengan kaget bertanya, “Tidak tahu? Jangan-jangan kamu belum memiliki pacar?”
“Belum.” Ryan menggelengkan kepalanya.
Serena mengangguk. “Oh, kalau begitu kamu cepat carilah satu.”
“Oh.” Senyuman Ryan seperti tidak dapat ditahan lagi.
“Jangan sampai hanya kamu sendiri yang masih belum punya pasangan.”
“Hmm…”
……
Berbicara dengan Serena hingga tiba di Aula pernikahan, setelah Ryan membawa Serena dan Ralphie ke tempatnya, ia langsung pergi.
__ADS_1
Bercanda saja, kalau ia tetap disana, ia tidak akan kuat.