I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 39 Patah Hati Sebelum Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Menyadari perasaannya terhadap Ralphie, Serena mulai panik. Sedetik kemudian dia menyiram toilet dan keluar dari toilet.


“Kenapa?” Ralphie melihat Serena yang tergesa keluar dari toilet.


Hello! Im an artic!


“Sudah sangat larut, aku pulang dulu.” Serena tidak berani menatap Ralphie.


Ralphie menatapnya sebentar kemudian bangun dari duduknya, “Aku antar.”


“Tidak perlu, aku bisa naik taksi sendiri.” Serena menggelengkan kepalanya, tanpa menunggu jawaban dari Ralphie ia mengambil tasnya yang ada diatas sofa dan dengan tergesa berlari keluar villa. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Ralphie ketika melihat Serena berlari keluar.


Tidak sampai semenit, dia mengambil kunci mobilnya dan menutup pintu, setelah cukup jauh dari villa Ralphie, Serena berjongkok dibawah tiang lampu.


Hello! Im an artic!


Malam sudah sangat larut, dijalan sudah tidak ada orang yang berjalan lagi, bahkan dari tadi hanya ada satu mobil yang lewat dengan cepat. Serena dengan sedih memandangi jalanan, hatinya yang sedang panik perlahan mulai stabil.


Tidak diragukan lagi bahwa dia menyukai pria yang dingin itu.


Tapi sejak kapan ia menyukai Ralphie?


Apakah sejak mereka sering mengirimkan pesan satu sama lain?


Atau mungkin lebih awal lagi, ketika Ralphie membantunya pada saat di Royal Club?


Atau mungkin lebih awal lagi, ketika pertama kali mereka bertemu, ketika Serena melihat wajah Ralphie yang menawan dan kehilangan kesadaran…


Pada saat itu mereka hanya berpapasan, Serena juga tidak banyak membayangkannya.


Akhirnya, berpapasan tanpa sengaja berkali-kali, semakin banyak terjadi pertemuan dan perlahan Ralphie menjadi spesial dihati Serena.


Sampai sekarang, melebihi semua orang dalam hatinya…. Serena terbelalak, melebihi rasa sukanya terhadap semua orang, apa artinya?


Cinta.


Ternyata ia tidak hanya menyukai Ralphie tapi ia mencintainya. Perasaan suka yang melebihi semua orang itu adalah Cinta.


Karena ketika pertama berpapasan dia sudah menyukai Ralphie. Tapi makin sering mereka bertemu, rasa suka ini kemudian berkembang, menjadi buah buah cinta….


Sebuah mobil terparkir di pinggir jalan dan didalamnya duduk seorang Ralphie. Sebenarnya Ralphie tidak tenang kalau Serena pulang naik taksi sendiri dimalam selarut ini, tapi Serena bersikeras tidak ingin diantar.


Akhirnya dia sedikit lama dan mengendarai mobilnya keluar. Tapi dia sadar ternyata Serena tidak memanggil taksi pulang, tapi berjongkok dipinggir jalan dan tidak bergerak.


Dia duduk diam dimobil memandangi Serena, akhirnya dia tidak bisa menahannya lagi, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelpon nomor Serena.


Mendengar ponselnya yang berbunyi akhirnya Serena tersadar.


Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, ketika melihat nama Ralphie dilayar posel matanya memerah kemudian ia mengangkat telpon itu.


“Halo.”

__ADS_1


Ralphie yang diujung sana bertanya, “Apakah kau sudah sampai dirumah?”


Serena menggigit bibirnya dan berbohong, “Baru saja sampai.”


Ralphie yang duduk didalam mobil meremas ponselnya dan berkata, “Tidurlah lebih awal.”


“Baiklah, selamat malam.” Nada Serena sangat lembut.


“Malam.” Ralphie masih belum merubah posisi tangannya yang memegang ponsel ditelinganya, dan menatap Serena yang berada diluar sana. Dia melihat Serena yang memasukkan ponselnya kedalam tas dan berdiri.


Karena jongkok terlalu lama kakinya kesemutan. Dia membungkuk dan memukul kakinya kemudian berdiri dan bersiap menghentikan taksi.


Tidak berapa lama, dia sudah berada didalam mobil. Ralphie menyalakan mobilnya dan mengikutinya…


Dia mengikuti mobil taksi Serena dengan jarang 200 meter, terus mengikuti sampai di daerah Gallowen Manor. Tatapannya mengikuti Serena yang masuk kedalam area rumahnya, dia berdiam beberapa saat di area itu kemudian pergi.


Ketika masuk kedalam rumah Serena melihat Claudia duduk diatas sofa sambil menonton TV, “Aku kira kau tidak pulang lagi malam ini.”


Mendengar kata ‘lagi’, Serena merasa tidak enak, “Aku tinggal disini bersamamu, aku harus pulang.”


Claudia mengerutkan alis, tidak menyangkal jawaban Serena, “Kau meninggalkan rumah ini sudah satu hari satu malam, kemarin malam kau tidak pulang….”


Serena menjawab dengan cepat, “Kemarin malam itu berbeda.”


“Biasanya? Coba kau hitung sudah berapa kali kau pulang kerumah tidak tepat waktu setelah selesai pulang kerja? Aku berbicara serius apakah kau sudah memiliki kekasih?”


Kau menebak degan tepat sasaran Claudia.


“itu…” Serena terdengar gugup, tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


“Tidak, tidak ada.” Serena segeran menggelengkan kepalanya.


Tapi Claudia menyadari sesuatu, tidak bisa melewatkannya. Pada akhirnya setelah Claudia bertanya Serena menjelaskan apa yang terjadi terhadapnya dan Ralphie.


“Astaga, Serena, kalian itu sudah ditakdirkan.”


Serena menyangkal, “Bukan itu inti masalahnya.”


Claudia berkata dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat, “Baiklah, katakan intinya, aku bantu kau untuk mengartikannya.”


“Apakah aku harus menyatakannya?” Serena bertanya terus terang.


Claudia menjawab tanpa berpikir, “Ungkapkan saja, harus diungkapkan.”


“Tapi bagaimana kalau gagal?” Serena terlihat tidak percaya diri, “Mungkin, aku bahkan tidak akan berteman lagi dengannya. Kalau tidak ada dia….” Serena menyebutkan kemungkinan yang akan terjadi, tapi hatinya merasa sangat amat sakit.


Claudia melihat tampang Serena, dia mengerti bahwa Serena lebih menyukai pria sekarang ini lebih dari Alfred yang dulu, kalau tidak dia tidak mungkin sesedih ini dengan hanya membayangkannya saja.


“Tapi kalau tidak menyatakannya kau hanya ingin diam-diam menyukainya saja? Lalu perasaan ini tidak berujung?”


Perasaan diam-diam menyukainya tanpa kejelasan? “Tidak bisa.” Serena menggelengkan kepalanya. Claudia terdiam sebentar, berkata “Kalau tidak kau coba saja dulu menyatakannya? Kalau tidak mencoba bagaimana kau tahu kalau kau akan ditolak?”


“Coba aku pikirkan lagi… “Serena ragu-ragu.

__ADS_1


Serena sudah memikirkannya beberapa hari, pada akhrinya dia memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Ralphie.


Tidak disangka sebelum dia menyatakan perasaannya kepada Ralphie dia tidak sengaja mendengar Ralphie berbicara di telpon, dan akhirnya dia memutuskan untuk menyimpan perasaannya terhadap Ralphie.


Pada saat itu hari sabtu, ia pergi ketempat Ralphie. Setelah selesai makan siang, Ralphie pergi keruang bacanya untuk memeriksa beberapa berkas, setelah Serena selesai membereskan dapur, ia memotong beberapa buah dan mengantarkannya ke ruang baca Ralphie.


Pintu ruang baca tidak tertutup, dia melihat punggung Ralphie yang sedang menghadap jendela sedang berbicara dengan seseorang ditelpon, ia menghentikan langkahnya, bersiap masuk setelah Ralphie selesai dengan telponnya, tapi malah mendengar Ralphie berkata ditelpon, “Aku tidak ingin menikah, tidak ingin mencintai, dan tidak mungkin menyukai wanita manapun!”


Tidak mungkin menyukai wanita manapun…


Serena memucat, tangannya yang sedang mengangkat sepiring buah bergetar.


Dia tidak bisa diam terlalu lama lagi, ia melihat sekilas Ralphie yang menghadap jendela lalu berbalik dan pergi.


Ralphie tidak tahu kata-kata yang diucapkannya memberikan pukulan yang besar terhadap Serena, dia hanya sedang tidak senang dengan Isa yang berada diujung telpon sana.


“Ralphie aku tidak masalah dengan tipe wanitamu. Tapi kau jangan terus menolak! Kau sudah tidak keluar selama sebulan, setiap hari selain di kantor dan rumah, waktu yang kau habiskan adalah dimobil? Kalau kau terus berdiam seperti ini akan menjadi masalah, dan lagi kalau kau tidak berhubungan dengan siapapun kau akan bertambah… ”


Ralphie tidak setuju dengan perkataan Isa. Rumahnya? Setiap hari sepulang dari kantor dia selalu pergi bersama Serena! Dia tidak berhubungan dengan orang lain? Bukankah dia setiap hari berhubungan dengan Serena? Ralphie bergeleng, kemudia alih-alih mendengarkan ucapan Isa ditelpon, ia mematikannya dan kembali memeriksa beberapa dokumennya.


Setelah memeriksa beberapa dokumen Ralphie merasa jenuh, meletakkan dokumen yang sedang dilihatnya kemudian turun ke bawah mencari Serena.


Tapi setelah mencari kemana-mana dia tidak menemukan Serena, akhirnya dia kembali ke ruang bacanya dan menelpon Serena.


Setelah turun dari ruang baca Ralphie, Serena berlari keluar meninggalkan rumah Ralphie dan menghentikan taksi. Didalam taksi Serena melihat keluar jendela dan melihat banyak papan iklan dipinggir jalan, tapi pikirannya kembali ke perkataan Ralphie yang barusan dia dengar.


“Aku tidak ingin menikah, aku tidak akan mencintai dan tidak akan pernah menyukai wanita manapun.”


Mata Serena berkedip lembut, dadanya seperti ditusuk oleh sebuah pisau, rasanya sangat menyakitkan. Dia mengangkat tangannya dan meletakkannya di dada, ia ingin menekan hatinya agar tidak terasa sakit. Tidak peduli seberapa keras dia menekan dadanya, hatinya perlahan hancur berkeping-keping.


Sakit yang begitu terasa membuat Serena membungkukan badannya, air mata sudah tidak terbendung dan mengalir turun dari pipinya…


Nada dering khusus Ralphie berdering, membuat Serena tersadar. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Melihat tulisan Ralphie di layar ponselnya ia menatapanya untuk beberapa saat lalu mengangkatnya.


“Halo.”


“Kamu dimana?” Suara Ralphie seperti biasanya dingin.


Serena dengan sedih menggerakkan bibirnya berbicara, “Tiba-tiba aku ada sesuatu yang harus diurus, aku pergi dulu.”


Disebrang sana terdengar suara Ralphie yang sangat pelan mengatakan ‘Ya’, dan mematikan telponnya.


Melihat layar ponsel yang gelap, wajah Serena terlihat makin sedih. Bagaimana kalau Serena mencintainya? Diapun tidak akan bisa menyukai Serena, bahkan apabila Ralphie mengetahui bahwa Serena menyukainya, Serena hanya akan menjadi wanita yang merepotkan seperti yang tadi ia dengar.


Serena tidak sanggup dijauhi oleh Ralphie dan akhirnya memilih untuk mengubur rasa cintanya dalam hati saja. Sayang sekali, aku mencintaimu, tapi kau sedikitpun tak menyukaiku.


Menyakitkan, tapi dia tidak bisa melepaskannya.


…….


Serena sudah memikirkan bagaimana hubungannya dengan Ralphie, dia dan Ralphie akan kembali seperti biasa menjadi teman.


Awalnya Serena berpikir ia hanya akan menjadi teman Ralphie seumur hidup, tapi kehadiran seseorang membuat hubungan mereka berdua berubah.

__ADS_1


Hari itu Serena pergi makan malam dengan Ralphie ke The Waterfront Blossom. Setelah memesan makanan Serena ingin pergi ke toilet. Dia membertitahu Ralphie dan pergi ke toilet. Setelah selesai dari toilet Serena mencuci tangannya dan mengambil tissue untuk mengelap tangannya. Ia melihat dar cermin dan terkejut ada orang yang sangat dikenalinya baru saja lewat.


Walau hanya melihat pantulannya yang tidak jelas dari cermin tapi Serena sangat mengenalinya, dia adalah Flora, kakak Serena yang tinggal di luar negeri.


__ADS_2