
Hello! Im an artic!
Semua orang memalingkan pandangannya, dan mendapati Ralphie sedang berdiri di pintu, cahaya dari luar seakan terhadang oleh tubuhnya, membuatnya terlihat bersinar.
Dia bukannya sedang berada di Kyoto? Bagaimana bisa datang kemari?
Hello! Im an artic!
Ralphie yang melihat Serena sedang melihat kearahnya membuat hatinya sedikit bergetar.
Karena kedatangan dia yang sangat tidak disangka-sangka.
Ditambah lagi, dia melihat Serena yang sedang berada dalam kesulitan.
Samar-samar terpancar aura kejam dari sorot mata Bibi Bella, tetapi dalam sekejam tatapan itu menghilang.
Hello! Im an artic!
“Kamu kenapa malah berantem sama Serena? Anak dan bapak apa kalau ada masalah tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik?” Bibi Bella berkata sambil mengayunkan tangannya meraih tangan Leonard yang tadinya akan memukul Serena.
Bibi Bella melerainya, dan menyelesaikan masalah diantara keduanya.
Sorot mata Ralphie bergeming, melihat Serena dan tersenyum tipis, “Istriku, apa kamu terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba ini?”
Suara Ralphie terdengar sangat lembut, terutama saat mengcapkan kata “Istriku”, kelembutan yang sangat mematikan, membuat hati Serena bergetar seketika.
Serena dengan sedikit gemetar bertanya, “Bukannya kamu sedang ada di Kyoto, kenapa bisa kemari?”
“Masalah di Kyoto susah hampir selesai, saat kembali pelayan mengatakan bahwa kamu pulang kerumah, sekalian saja datang kemari.” Ralphie menjelaskan dengan senyum nya yang makin lebar.
Jelas-jelas sudah tau bahwa dia hanya ber akting saja, tetapi pandangan Serena masih tetap terpaku pada sosok Ralphie.
Serena menggenggam telapak tangannya, menurunkan pandangan matanya dan berkata”Oh.”
Bibi Bella melihat Serena sekilas, kemudian melihat ke arah Ralphie, “Serena, buruan persilahkan Ralphie masuk.”
Serena setelah mendengar perkataan Bibi Bella baru tersadar bahwa Ralphie masih berdiri didepan pintu.
Ekspersi mukanya sekilas terlihat sedikit kesal, kemudian bergegas berjalan ke arah Ralphie dengan nada suara yang rendah bertanya, “Mau masuk duduk sebentar?”
Ralphie mengiyakan, kemudian secara alami menggenggam tangan Serena.
Tangan Serena gemetar, tetapi tidak dilepasnya genggaman itu.
Ralphie dengan anggun menggandeng Serena berjalan masuk.
Bibi Bella melontarkan senyum bersahabatnya kepada Ralphie, “Mari silahkan duduk! Tadi Serena bilang kamu tidak bisa datang, kami juga tidak mempersiapkan apa-apa, mohon dimaklumi.”
__ADS_1
Sebenarnya Ralphie tidak suka berhubungan dengan orang asing, tetapi demi melindungi image Serena, dia pelan-pelan menganggukan kepalanya ke arah Bibi Bella.
Bibi Bella sangat cerdas, menghadapi sikap Ralphie yang terkesan dingin, tidak hanya tidak merasa risih, tetapi masih tersenyum lembut dengan menarik lengan baju Leonard berkata, “Leonard, sambutlah tamu kita, aku pergi ke dapur menyiapkan sesuatu.”
Leonard yang merasa sedikit tidak nyaman karena terlihat oleh Ralphie bahwa dirinya tadi yang akan memukul Serena, tetapi karena perkataan Bibi Bella tadi membuat suasananya sedikit membaik.
Dia tersenyum-senyum menarik tangan Ralphie berkata, “Ralphie, sini duduk kemari, sangat susah bagi kita berdua untuk bertemu, mari kita mengobrol sebentar.”
Mengobrol dengan santai, dan kemudian Leonard ada keinginan untuk memanfaatkan Ralphie demi keuntungannya, Serena mamahami niat buruk ayahnya itu.
Serena tidak akan membiarkan Ralphie dirugikan.
Jadi Serena menggaruk telapak tangan Ralphie yang dari tadi menggenggamnya sebagai tanda mengingatkan Ralphie.
Telapak tangannya tergaruk, geli gatal yang sedikit membuat seperti kesemutan, membuat sekujur tubuh Ralphie seketika kaku, pandangannya mengarah pada Serena.
Serena melihat Ralphie yang sedang menatapnya, seketika mengedip-ngedipkan matanya, agar tidak menghiraukan lagi perkataan ayahnya itu.
Serena kembali menggaruk telapak tangan Ralphie dan mengedip-ngedipkan matanya, apa yang dia lakukan?
Ralphie merasa tubuhnya mulai memanas, dia segera memalingkan pandangannya dan mulai berpikir sebenarnya apa yang Serena inginkan.
Serena yang melihat Ralphie memalingkan pandangannya menjadi sangat cemas, menggerakkan tangannya ke arah pinggang Ralphie dan mencubitnya.
Merasa pinggulnya sakit, Ralphie tersadar dan melihat kesamping, ternyata Serena yang mencubitnya.
Apa dia ingin membuat agar hubungannya dengan Ralphie terlihat sangat dekat?
Sorot mata Ralphie terselip maksud yang mendalam, mengulurkan tangan mendekap tangan Serena.
Dengan begini seharusnya Serena sudah puas kan?
Sudah puas? Emosi Serena hampir saja meledak.
Dia mengisyaratkan ini itu tetapi Ralphie sama sekali tidak mengerti isyarat yang dia berikan, malahan …… mendekap tangan Serena….
Serena memelototi Ralphie, kemudian berkata kepada ayahnya, “Pa, dia sangat sibuk, kita sudah harus pergi, tidak bisa ngobrol lebih jauh lagi.
Ekspresi Serena yang sangat jelas seperti ini saya Ralphie masih tidak mengerti apa maksud Serena, benar-benar sangat bodoh.
Menyadari bahwa dia salah paham dan mendekap tangan Serena, dia merasa sedikit tidak nyaman, tetapi gimana lagi, sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali, dari sorot mata Ralphie terbesit senyum licik.
Mendengar Serena berkata bahwa Ralphie akan pergi, Leonard dengan segera menahannya, “Jarang-jarang bisa main kesini, kenapa buru-buru mau pergi? Makan dulu baru pergi.”
Leonard tidak mengatakan ingin membicarakan sesuatu, dia malah menahannya untuk makan, Serena kembali panik, kembali mencubit pinggang Ralphie.
Satu cubitan terasa sedikit sakit, tetapi Ralphie merasa sedikit senang karena kedekadan kecil seperti ini.
__ADS_1
Ralphie mengeritkan ujung bibirnya berkata kepada Leonard, “Ayah mertua, hari ini saya masih ada urusan, lain waktu pasti akan menemani ayah mertua makan.”
Mendengar Ralphie yang menolak ajakan Leonard, Hati Serena perlahan mulai tenang.
Menyadari ekspresi lega Serena membuat Ralphie mengangkat ujung bibirnya, dari sana terlihat ada senyuman yang mengembang di ujung bibirnya.
Leonard seketika menunjukkan ekspresi kecewanya, “Kenapa buru-buru sekali.”
“Iya sedikit buru-buru, saya hanya menyusul Serena kemari, dan sekalian menjemputnya, dan ingin memberikan ayah mertua sedikit sesuatu.”
Memberikan sesuatu? Jangan-jangan…..
Serena dengan kaget melihat ke arah Ralphie, “Kamu…..”
Ralphie menundukkan kepalanya menatap Serena, dengan raut muka yang sedikit merasa bersalah berkata, “Semua salahku karena tidak dirumah, dirumah juga tidak menyiapkan apa-apa, terpaksa hanya membuatmu membawa sedikit oleh-oleh.
Ralphie tersenyum ringan, dalam sorot matanya terselip kemarahan.
Saat dia belum masuk kerumah sudah mendengar mereka sedang berantem. Alasannya adalah karena Serena tidak datang dengan membawa sesuatu yang berharga.
Wanitanya apakah akan semudah ini ditindas?
Setelah mendengar ucapan Ralphie, ekspresi muka Leonard seketika berubah, kemudian berkata, “Itu karena Serena yang kurang pengertian, bukan salah kamu.”
“Serena bagaimana bisa tidak pengertian? Kakek saya sangat menyukainya, peninggalan turun temurun milik Keluarga Su sudah kakek berikan kepadanya.” Ralphie mengerutkan alisnya, berkata dengan ekspresi terkejutnya.
Leonard tidak menyangka Serena bakal disukai oleh Keluarga Su sampai seperti ini, ada sedikit rasa tidak senang, tetapi tidak dia ekspresikan, hanya berkata kepada Serena, “Kamu beruntung banget kakek bisa sangat menyukaimu, kamu harus menjaga kakek dan Ralphie baik-baik.
Kata kata berbakti yang terdengar sangat jelas, yang dulu dengan sembarangan diucapkan Leonard kepada Serena.
Jadi Serena hanya mengangguk, dan tidak bereaksi berlebihan.
Ralphie malah mengerutkan keningnya tidak puas, “Serena sekarang adalah bagian dari Keluarga Su, ayah mertua lebih baik tidak sembarangan mengajarinya.”
“Kamu….” Leonard mendengar perkataan Ralphie merasa sangat marah, tetapi tidak berani berkata apa-apa, hanya berkata “kamu” satu kata ini.
Ralphie terlihat menyeringai, sorot matanya menjadi dingin.
“Keluarga Su sangat protektif, siapa saja yang menindas Serena, tidak peduli itu siapa, Keluarga Su tidak akan tinggal diam.”
Sorot mata Ralphie perlahan meredup, dengan senyum tulusnya, menatap ke arah Serena dan berkata, “Istriku, ayo kita pulang ke rumah.” Sambil merangkul Serena berjalan keluar.
Melihat Serena yang dibawa pergi Ralphie, sorot mata Leonard menunjukkan suatu perhitungan.
Ralphie berjalan sampai pintu kemudian berhenti, memutar tubuhnya dan melontarkan senyumannya.
Matanya melirik ke arah Leonard, dengan lirih dan tanpa nada suara yang lembut.
__ADS_1
“Ayah mertua, jangan lupa bereskan barang yang ada diluar.”