
Hello! Im an artic!
Setelah memeriksa Serena, dokter Chen melepas maskernya.
Ralphie yang menjaganya disamping Serena seketika bertanya, “Tulang kakinya tidak terluka kan?”
Hello! Im an artic!
“Tulangnya tidak terluka, tetapi lukanya sedikit dalam, merobek sedikit pembuluh darahnya jadi banyak darah yang keluar. Saya akan membersihkan lukanya dan memberikan beberapa jaitan.” Dokter Chen berkata sambil mengeluarkan peralatan medis dari tas yang dibawanya, dan menyiapkan sesuatu.
Serena yang terbaring, ekspresi mukanya seketika pucat ketika mendengar dokter yang akan embyuntiknya, “Bisa tidak jangan dijait?”
Dokter Chen menjawab, “Nyonya, lukanya sedikit dalam, jika lukanya dijahit akan menutup dengan cepat.”
Serena melihat dokter Chen yang tidak bisa dibujuk kemudian dengan ekspresi memelas memohon kepada Ralphie, “Ralphie, aku tidak mau dijahit.”
Hello! Im an artic!
Melihat Serena yang memelas seperti ini membuat Ralphie tidak sanggup untuk menolaknya, tetapi jahitan dapat membuat lukanya cepat pulih, dia hanya bisa mengabaikan hati kecilnya, “Serena, dokter Chen berkata kalau dijahit lukanya akan cepat sembuh.”
“Tetapi dijahit itu sakit, biarkan lukanya menutup dengan sendirinya, ya?” Serena bertanya dengan air mata yang mengalir deras.
Dokter dengan ramah berkata, “Nyonya, setelah disuntik penghilang rasa sakit, dijahit pun tidak akan terasa sakit.”
Meskipun Serena mengerti apa yang dikatakan dokter, tetapi begitu membayangkan sebuh jarum yang akan menjahit kakinya seperti menjahit baju, dia menjadi ragu lagi.
“Serena, setelah dijahit nanti tidak akan meninggalkan bekas jahitan, tetapi jika dibiarkan menutup sendiri nantinya akan berbekas.” Semua perempuan menyukai kecantikan, Ralphie seketika mengungkit bekas luka untuk membujuk Serena, tidak bisa mengelak, dia menggunakan cara yang tepat, Serena mulai bergeming.
“Dokter Chen, apa kalau dijahit nanti lukanya tidak akan berbekas?” Serena bertanya memelas kepada dokter Chen.
Bukan karena dia tidak percaya perkataan Ralphie, tetapi dia merasa bahwa masalah seperti ini jika dokter yang mengatakannya akan lebih meyakinkannya.
Dokter Chen ingin memberitahu Serena kenyataanya, bahwa ini hanya akal-akalan Ralphie saja.
Tetapi sorot mata Ralphie yang dingin menatapnya seakan menyuruhnya mengiyakan, kemudian dokter dengan terpaksa menjawab, “Iya benar.”
“Ya sudah kalau begitu jahit saja.” Serena mengangguk.
Setelah mendapat persetujuan dari Serena, dokter Chen segera memberinya suntikan pereda rasa sakit, baru kemudian mulai membersihkan luka di kakinya, dan bersiap menjahit lukanya.
Meskipun telah disuntik penghilang rasa sakit dan benar-benar tidak terasa sakit, tetapi tubuh Serena masih sedikit gemetaran.
Ralphie yang berada disebelahnya merasa tidak tega, kemudian mengayunkan tangannya dan mendekap Serena kedalam pelukannya, “Sudah jangan dilihat.”
__ADS_1
Serena mengangguk mengiyakan, dengan nurut menjatuhkan kepalanya kedalam pelukan Ralphie.
Serena menghirup aroma elegan dan khas dari tubuh Ralphie, dan melupakan bahwa kakinya sedang dijahit oleh dokter.
Mungkin karena efek obat penghilang rasa sakit, mungkin juga karena sudah menahan sakit terlalu lama dan sekarang jadi lebih relaks, Serena tertidur dalam pelukan Ralphie.
Merasakan nafas yang berada dipelukannya terasa panjang, Ralphie melihat ke arah Serena yang sedang dipeluknya, dan dia baru menyadari bahwa Serena sudah tertidur.
Melihat sekilas dokter yang sedang menjahit lukanya, Ralphie pelan-pelan mengendurkan pelukannya kepasa Serena.
Sampai saat dokter Chen selesai mengobati luka di kakinya, Ralphie baru dengan lembut merebahkan Serena diatas kasur.
Diam-diam mengamati Serena dari samping tempat tidur sebentar, kemudian Ralphie berdiri dan pergi ke ruang kerjanya untuk menghubungi Felix agar dia mencari tau sebenarnya siapa yang menabrak Serena di tangga.
Dia tidak melupakan apa yang dikatakan Serena, orang itu menabraknya sampai hampir membuat Serena tergelundung dari tangga.
Meskipun Kaki Serena terluka, tetapi keesokan harinya dia terbangun karena suara alarm di hpnya berbunyi.
Kakinya terasa tidak sesakit kemarin, Serena menggunakan satu kakinya melimpat lombat ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi, dan kemudian bersiap-siap, dan keluar kamar dengan bersandar pada tembok kamarnya.
Saat membuka pintu dia melihat Ralphie keluar dari ruangan sebelah.
Dia terdiam melihat Serena yang keluar dari kamar, kemudian berkata, “Kamu hari ini ijin saja istirahat.”
Dia dulu mengundurkan diri dari perusahaan, sekarang mulai bekerja lagi dan belum sampai sebulan, dia tidak akan meminta ijin.
Ralphie dengan lantang berkata, “Tidak diizinkan pergi bekerja.”
Sikap Ralphie yang lantang, dan ‘tidak diizinkan’ Serena seketika mengedipkan matanya, “Itu adalah urusanku.”
Itu adalah urusannya, Ralphie tidak bisa ikut campur…..
Ralphie menyembungikan kepahitan diwajahnya, membalikkan badan turun kebawah.
Melihat punggung Ralphie yang meninggalkannya turun kebawah membuat nya menyadari bahwa dia terlalu marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar.
Dia ingin memanggil Ralphie, tetapi pada akhirnya hanya membuka mulutnya tanpa mengatakan apapun.
Saat Serena turun kebawah, Ralphie sudah pergi.
Jelas-jelas sekarang baru jam 7, masih sangat pagi, tetapi dia pun tidak memakan sarapannya dan pergi begitu saja.
Tidak perlu berpikir terlalu lama pun Serena tau itu semua karena perkataan yang dia ucapkan.
__ADS_1
Raut wajahnya seketika berubah tidak mengenakkan.
Pelayan yang melihat ekspresi masam Serena, mengira bahwa kakinya sakit lagi, bertanya dengan khawatir, “Nyonya, kaki nyonya terluka, kenapa tidak istirahat saja di kamar?”
Serena tidak menjawab pertanyaan pelayannya, dia hanya berkata, “kamu siapkan sarapan untukku saja.”
“Baik, nyonya.” Pelayan mengangguk sambil memapah Serena menuju ke ruang makan.
Mungkin karena insiden kaki Serena yang terluka, hari ini saat dia sarapan, pelayan tanpa meninggalkan meja makan berdiri menjaga Serena.
Setelah sarapan, Serena mengambil tissue untuk mengelap mulutnya, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Pelayan dengan segera memapahnya, “Nyonya, biarkan saya memapah nyonya.”
Serena menggelengkan kepalanya menolak, “Tidak perlu, kalian kerjakan saja tugas kalian, aku akan pergi ke kantor.”
Mendengar bahwa Serena akan pergi berangkat kerja, pelayan segera berkata, “Nyonya, kaki nyonya terluka, bagaimana bisa masih pergi bekerja?”
“Kakiku tidak kenapa-napa. Serena mengerutkan alisnya menjawab.
Pelayan masih membujuknya dengan nada suara sedikit getir, “Nyonya, luka di kaki nyonya belum sembuh benar, tidak boleh pergi bekerja…”
Mengingat kembali Ralphie yang dengan tegas melarangnya pergi bekerja…..
Mata Serena mulai bergetar, kemudian mengatakan empat kata, “Baik, aku ijin kerja.”
“….Nyonya, kaki anda habis dijahit, harus istirahat selama dua hari baru bisa kembali bekerja….” Pelayan sebenarnya masih ingin membujuk Serena agar merubah keputusannya untuk pergi bekerja, tetapi pelayan belum menyelesaikan kalimatnya kemudian menyadari bahwa Serena akan ijin tidak masuk kerja kemudian dengan cepat bertanya, “Nyonya, nyonya sudah setuju untuk tidak pergi bekerja?”
Serena dalam hatinya sedikit kesal berkata, “Tidak pergi kerja, kamu tuntun aku kembali ke ruang tamu saja.”
“Baik.” Pelayan dengan senang menuntun Serena duduk di sofa ruang tamu.
Serena mengeluarkan hp dari tasnya, mencari nomor telepon Elliot.
“Manajer, hari ini saya ingin ijin tidak masuk kerja.”
Elliot yang mendengar bahwa Serena ingin ijin tidak masuk kerja seketika meradang, “Serena, kamu baru mulai kerja selama setengah bulan sudah berani ijin tidak masuk kerja. Kamu pikir perusahaan ini adalah milik keluargamu? Ingin datang terus datang, tidak ingin datang terus tidak datang begitu saja?” (aku harus mengatakan bahwa manajer telah mengatakan kenyataannya, perusahaan itu memang milik keluarganya, milik suaminya.)
Serena juga menyadari bahwa dia sedikit keterlaluan, kemudian meminta maaf dan berkata, “Manajer, maaf, saya hari ini benar-benar tidak bisa berangkat kerja.”
“Terserah kamu! Lagi pula asisten Felixlah yang membuatmu bekerja disini, aku tidak bisa mengaturmu.” Elliot melontarkan kata-kata ini kemudian menutup teleponnya.
Mendengar hpnya berbunyi tuturututuut, Serena dengan ekspresi pahit meletakkan hpnya itu.
__ADS_1