
Hello! Im an artic!
Awalnya Ralphie khawatir Serena menjadi tidak senang karena perkataan Christopher, jadi ia terus memperhatikannya selama dalam perjalanan menemui kakek.
Namun di sepanjang jalan, ekspresi Serena tidak berubah sama sekali, sehingga membuat Ralphie merasa lega.
Hello! Im an artic!
Ralphie mengantar Serena sampai di depan rumah kakek, dan berkata, “Masuklah, kakek ada di dalam.”
Menyuruhku masuk? Memangnya dia tidak masuk? Serena ingin bertanya, tapi ia menahan perkataannya.
Serena seakan tidak berhak untuk menanyakan urusan pribadi Ralphie.
Dengan berat hati Ralphie mengatakan: “Aku ada urusan harus pergi sebentar, agak malam baru kembali.”
Hello! Im an artic!
Entah mengapa, Serena merasa senang mendengar keberadaan Ralphie.
Ini adalah pertama kalinya ia memberitahukan keberadaannya, bahkan dulu ketika mereka masih baik-baik pun ia tidak pernah melakukan ini.
Ralphie tidak tahu apa yang dipikirkan Serena. Seandainya ia tahu, ia akan dengan senang hati memberitahu Serena tentang keberadaannya setiap hari.
“Pergi dan temui kakek dulu. Jika tidak bisa lama-lama, kamu bisa pergi ke halaman rumahku. Plum di sana sudah mekar.” kata Ralphie,
“Yah, aku tahu.” Serena mengangguk dan berkata: “Kamu hati-hati di jalan.”
Mendengar Serena mengatakan kepadanya hati-hati di jalan, mata Ralphie berkedip karena terkejut lalu pergi.
Serena berdiri di depan halaman. Setelah melihat Ralphie pergi, ia masuk ke dalam rumah.
Melihat Serena datang, kakek sangat senang, “Serena, sini, mari duduk.”
“Kakek.” Serena memanggil kakek, dan dengan sopan duduk di samping pria tua itu.
Sang kakek melihat sekeliling lalu bertanya, “Serena, apakah Kamu datang sendirian? Mana Ralphie?”
“Ralphie… dia ada urusan mendadak, jadi dia tidak bisa ikut datang ke sini.” Serena tadinya ingin menyebut nama ‘Ralphie’ tapi tiba-tiba ia sadar bahwa jika ia langsung menyebut nama ‘Ralphie’, kakek akan merasa bingung dan segera berubah pikiran.
Kakek tahu mengenai Ralphie, sedikitpun ia tidak terkejut. Ia pun mengangguk.
Serena menghela nafas lega. Dia sebenarnya takut kalau kakek akan marah karena Ralphie tidak ikut datang menemuinya.
__ADS_1
Tapi untungnya….
Serena sebelumnya telah berencana untuk mendampingi kakek pulang menemui Ralphie, tapi tidak disangka belum lama duduk di sana, para tua-tua sudah datang ke depan rumah.
Ketika mereka datang, kakek menjadi semakin gembira, ia terus memuji Serena di depan mereka, hingga membuat Serena merasa risih.
Setelah beberapa saat, ia lalu mencari alasan dan pergi.
Setelah keluar dari rumah kakek, Serena tidak pergi ke halaman depan.
Serena teringat akan perkataan Christopher yang membuat dirinya merasa malu saat hari pernikahannya.
Tadi di hadapan Ralphie, ia berpura-pura tidak peduli. Tapi sebenarnya ia tidak ingin hal itu terjadi lagi.
Dengan muka terpaksa, Serena kembali ke halaman rumah Ralphie.
Sebelum masuk ke halaman rumah Ralphie, Serena mencium aroma wangi. Ia teringat Ralphie sempat mengatakan bahwa plum di halaman mungkin sudah mekar. Melihat bunga-bunga yang bermekaran dari kejauhan, matanya berbinar, dan ia segera berjalan menuju ke halaman.
Sekeliling halaman dipenuhi plum yang sedang mekar. Di bawah sinar bulan malam itu, warnanya terlihat begitu indah, dengan bayangan kelopak berwarna kuning, terlihat jauh lebih menawan.
Serena berjalan di bawah pohon plum dengan gembira, aroma wangi memenuhi hidungnya, sangat menyegarkan suasana hati, membuat ia tidak ingin meninggalkan tempat itu.
Tidak lama kemudian, turun salju.
Tapi malam tahun baru kali ini, plum bermekaran, dan salju pun turun.
Di bawah pohon plum itu, Serena terkagum-kagum.
Kakek menyuruh seseorang untuk menghampiri Serena dan memanggilnya untuk makan, setelah itu barulah Serena masuk.
Meski hujan saljunya tidak lebat, Serena berdiri sangat lama di luar, sehingga pakaiannya agak basah.
Tapi karena khawatir membuat kakek dan yang lainnya sudah menunggu lama, Serena tidak ganti baju dan buru-buru mengikuti pelayan rumah pergi ke halaman depan.
Dalam perjalanan, dia masih khawatir Ralphie tidak pulang, lalu ia menelponnya.
Ketika dia mendengar bahwa Ralphie akan segera tiba, dia pun lega.
Ketika tiba di halaman depan, ia melihat semua orang sudah berkumpul ramai. Hanya tersisa dua tempat duduk di sebelah kiri sang kakek, itu pasti tempat yang disediakan untuk dirinya dan Ralphie.
Melihat Serena datang sendirian, tidak bersama Ralphie, kakek mengerutkan kening, “Ralphie belum datang?”
“Sebentar lagi dia tiba.” Serena menjawab dengan tenang.
__ADS_1
Mendengar jawaban Serena, kakek mengangguk dan memanggilnya, “Serena, ayo kamu duduk di sini.”
“Baik.” Serena ragu-ragu, lalu berjalan mendekat.
Dia tidak duduk di dekat kakek, tapi malah duduk di sebelahnya. Walaupun kursi di sebelahnya diduduki oleh Christopher, tapi dia memiliki tempat duduknya sendiri.
Karena Ralphie belum kunjung tiba, kakek belum membuka meja. Sekelompok orang duduk sambil berbincang-bincang.
Serena memejamkan mata dan duduk diam.
Sekitar lima menit kemudian, Ralphie pun datang.
“Ah, sudah kembali?” kakek menyapa.
“Kakek.” Ralphie memanggil dan berjalan ke arahnya.
Saat melihat Serena duduk persis di samping Christopher, Ralphie langsung curiga. Awalnya ia berjalan ke samping tempat duduk kakek, kemudian berhenti di belakang Serena.
“Serena, duduklah di dekat kakek.”
“Ah?” Serena tidak menanggapi perkataan Ralphie.
Christopher yang duduk di samping Serena mendengar perkataan Ralphie dan merasa sedih. Ralphie, adik sepupu yang sangat dihormatinya kali ini mencurigainya.
Orang lain yang duduk di meja itu merasa sikap Ralphie tidak wajar, tapi tidak ada yang menegur, bahkan kakek pun hanya melirik dan memerintahkan pelayan untuk segera menyajikan makanan.
Alih-alih menyimak perkataan kakek, Ralphie malah menarik lengan Serena dan menyuruhnya duduk di kursi di sampingnya, lalu ia yang duduk di kursi Serena.
Ketika menarik lengan Serena, ia merasa tangannya agak basah. Dia terdiam sejenak, lalu berbalik melihat Serena.
Ketika melihat mantel Serena sedikit basah, alisnya mengerut.
“Mantelmu kenapa basah?”
Bagaimana dia bisa tahu dari luar kalau mantel ini basah? Serena melihat Ralphie dengan curiga, lalu menjawab, “Tadi aku melihat plum di luar, lalu terkena salju tipis.”
Kena salju tipis sampai sebasah ini? Pasti Kamu cukup lama berdiri di luar melihat plum.
Ralphie menghela nafas dalam-dalam, dan berkata, “Aku sudah meminta seseorang menyediakan mantel lain untukmu, gantilah.”
Serena menggelengkan kepala, “Tidak usah repot-repot, di dalam ruangan ada penghangat, lagipula sekarang tidak dingin.”
Ralphie tidak menjawab, tapi hanya meminta pelayan membawakan mantel untuk Serena.
__ADS_1