I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 169 Membeli Hadiah Untuk Ralphie


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Karena sore nanti pergi berbelanja, maka Serena dan Louisa tak begitu lama di pesta perusahaan, setelah makan siang, langsung pergi.


Jarak Clover Plaza dari Peninsula Hotel ini tidak terlalu jauh, mereka menggunakan MRT kesana.


Hello! Im an artic!


Mungkin karena mendekati tahun baru imlek maka Clover Plaza d ihiasi begitu indah.


Deretan lampion merah besar, satin merah terlihat sangat meriah.


Kali ini Serena tidak tidak membeli apa-apa. Dia hanya membeli buku bergambar, gambar dan pena yang dia butuhkan.


Sementara melewati toko pakaian pria Versace, Serena berhenti.


Hello! Im an artic!


“Ada apa?” tanya Louisa


Aku akan melihat ke dalam.”Kata Serena sambil menunjuk ke arah toko pria.


“Beli Versace? “Louisa menatap bingung Serena, dia membeli dirinya sesuatu saja enggan, tapi mau menghabiskan uang untuk membeli Versace.


Serena tidak mengangguk, Ia langsung menarik Louisa ke toko.


Sewaktu Louisa mengikutinya, Dia tersenyum dan bertanya, “Serena, kamu belikan buat siapa? Pacar? ”


“Bukan.” Ralphie bukan pacarnya, dia adalah suami kontraknya. Kemudian Serena berbalik dan melihat kemeja di rak.


Ketika ia berada di PT. Antarts, Ia pernah berpikir untuk membelikan Ralpie pakaian dan untuk alasan itu dia diam-diam pergi untuk memeriksa ukuran kemeja Ralphie.


Hanya saja, kemudian Ralphie tahu bahwa dia menyukainya dan mulai menjauhinya dan hadiah itu di lupakan olehnya.


Sekarang dia akan memberi hadiah untuk Ralphie, tetapi secara pribadi, apakah dia akan memilih sesuai selera Ralphie?


“Bukan pacar?” tanya Louisa sambil memandang cincin dijemari Serena.


Serena tak menjawab pertanyaan Louisa, namun dari rak mengambil kemeja, berbalik menghadapi Louisa lalu bertanya, “Bagaimana dengan ini?”


Louisa memandang kemeja di tangan Serena sambil berpikir dan kemudian berkata, “Kok warna putih?” Putih terlalu sulit untuk dipakai, merah muda atau biru langit lebih baik.”


“Gak ahh, putih aja.” Kata Serena dengan tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


“Apa kamu yakin?” Kemeja ini sangat mahal kalau tidak cocok nanti tidak dapat di tukar.” kata Louisa sambil melihat pelayan toko.


Pelayan toko mengangguk, “Benar, tidak dapat ditukar.”


“Sebaiknya kamu pikir lagi.” saran Louisa.


“Gak perlu mikir lagi, putih saja.” jawab Serena dengan tegas, dan kemudian berkata kepada petugas: Tolong bungkus ukuran kerah 44, lebar bahu 53,4, dada 128, panjang kemeja 83.”


“Tunggu sebentar Nona.” pelayan toko tersenyum dan mengangguk, kemudian membantu Serena mengambil ukuran yang sesuai.


Sesudah pelayan toko pergi, Louisa mendekatkan wajahnya dekat dengan Serena dan berkata, “Masih belum ngaku kalau pacar, ukuran baju aja tahu sejelas itu.”


Serena menggelengkan kepala dan berkata, “Jujur yah bukan pacar.”


“Iihhhh, muka udah merah gitu, masih gak ngaku.” kata Louisa sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.


Serena juga tidak dapat menjelaskan hubungan antara dirinya dan Ralphie, namun pelayan toko sudah datang jadi kata-kata itu diabaikan Louisa.


“Nona, silahkan cek dulu ukurannya.” Pelayan toko tersenyum dan menyerahkan kemeja ke tangannya ke Serena.


Serena mengambil dan melihat kemeja, memastikan ukurannya benar, mengangguk, “Ini.”


Pelayan toko mengangguk, “Kartu kredit atau uang tunai?” ”


Pelayan toko tersenyum dan mengambil kartu dengan kedua tangan lalu membayar tagihan, kemudian membungkus kemeja serta mengembalikan kartu Serena.


Serena mengambilnya lalu berjalan keluar dari toko dengan Louisa.


Louisa menarik Serena ke beberapa toko wanita, juga menarik Serena untuk mencoba pakaian, tetapi semua di tolak Serena.


Karena di tolak semua Louisa bercanda berkata, “Serena, kamu bisa belikan baju untuk pacar, tapi buat diri sendiri saja gak rela.”


Serena hanya tersenyum dan tidak berbicara.


Serena dan Louisa menghabiskan sore dan akhirnya mereka duduk di sebuah kafe di Clover Plaza


Setelah memesan segelas jus, wajah Serena muram dan menggosok kakinya yang sakit.


“Ada apa? Kakimu sakit? “Louisa menatap kaki Serena.


Ya, ujarnya. Serena menjawab dengan senyum masam.


“Louisa tersenyum dan bertanya, “Kamu pake sepatu kasual saja kaki sakit, gimana kalau pake sepatu hak tinggi?”

__ADS_1


“Makanya belanja bukan hal yang mudah, tak cocok buatku.” kata Serena sambil menyentuh hidungnya.


Mendengar perkataan itu Louisa tertawa.


“Jangan tertawa, ini semua kan demi kamu. “Serena menatap semangat dan kemudian mengambil jus dari pelayan dan meminumnya.


Louisa, sambil meniru suara anak-anak berkata: “Maaf nona, semua salahku.”


Kali ini Serena tak bisa tahan dan tertawa.


“Tampaknya nona menerima permintaan maafku”, kata Louisa dengan tegas.


Oke, di terima, haha… Serena tertawa lalu HPnya berdering.


Dia keluarkan HP dari tasnya, melirik nomor penelepon, tanpa sadar berhenti tertawa, menjawab, “Halo?” ”


“Serena, kamu di mana sekarang?” Suara Ralphie.


“Aku di Clover Plaza.” Ujar Serena sedikit berbisik, “Kamu sudah pulang kerja?”


“Hhmm.” Ralphie berhenti sejenak dan kemudian berkata, “Kamu tunggu Felix di Clover Plaza.”


Serena berpikir selama beberapa detik, Ralphie menyuruhnya menunggu Felix untuk menjemputnya, sebelum menjawab, Ralphie berkata lagi.


“Sekitar setengah jam lagi sampai.”


“Oh, Baiklah, aku akan menunggu di pintu gerbang.”


Ralphie mengiyakan “Hmmm” kemudian menutup telepon.


Serena menutup telepon, kemudian menatap Louisa,”Setelah minum jus, aku harus pergi.”


Louisa hanya mendengar panggilan telepon Serena dan tidak bertanya, Ia mengangguk dan berkata “Oke.”


Karena Ralphie mengatakan setengah jam kemudian, maka Serena dan Louisa duduk di kedai kopi selama dua puluh menit lagi, sebelum keluar dari Clover Plaza bersama-sama.


Segera setelah dia keluar dari Clover Plaza, Serena melihat mobil Ralphie datang dan dia tersedak.


Louisa berkata kepada Serena, “Aku balik duluan yah.”


Serena akan menjawab perkataan Louisa, mobil Ralphie sudah berhenti di depannya.


Kemudian Felix membuka pintu dan turun, “Nyonya, Tuan Ralphie menyuruhku menjemputmu.”

__ADS_1


__ADS_2