
Hello! Im an artic!
Ketika Ralphie dan Serena sampai di RS, kebetulan bertemu dengan Dokter Chen.
“Direktur Su, Nyonya.”
Hello! Im an artic!
Ralphie menganggukan kepala lalubertanya, “Kakek gimana?”
“Kakek sekarang sudah baik-baik saja.” Dokter Chen terdiam sebentar, lalu kembali berkata, “Kakek karena pingsan hari itu, membuat badannya sedikit lebih memburuk. Walaupun sudah sangat diperhatikan, tetapi cuaca di Kota A tidak cocok dengan penyakit Kakek. Kali ini kakek merasa sumpek tidak enak, karena tubuhnya sangat drop.”
Mendengar perkataan Dokter Chen, tubuh Ralphie tersentak.
Serena yang berdiri dibelakangnya dengan cepat memegang tangan Ralphie, kemudian dengan bertanya pada Dokter Chen, “Cuaca Kota A tidak cocok, kalau begitu dimana tempat yang lebih cocok?”
Hello! Im an artic!
“Swiss.” Dokter Chen terdiam sebentar lalu lanjut berbicara, “Cuaca di Swiss lebih cocok agar kakek dapat beristirahat, hanya saja……”
Serena mengerutkan alis dan bertanya, “Hanya saja kenapa?”
Kali ini Ralphie yang menjawab, “Kakek Tidak mau meninggalkan Kota A.”
“Tidak mau tinggalin tetap harus pergi, kesehatan paling penting.” Serena berkata dengan sedikit panik.
Ralphie menganggukan kepala kemudian berkata: “Tunggu kondisi kakek lebih stabil, aku akan antarkan kakek ke Swiss.”
Serena menganggukan kepala, “Ok.”
Dokter Chen juga lebih tenang setelah melihat sikap Ralphie dan Serena.
Dia sudah berkali-kali membujuk kakek untuk pergi ke Swiss berobat, tetapi kakek terlalu keras kepala dan tetap ingin bertahan di Kota A. Awalnya dia berencana meminta Direktur Su untuk membujuk kakek pergi.
Sekarang sepertinya tidak perlu membujuk, Direktur Su sudah memutuskan untuk membawa kakek pergi ke Swiss.
Mengenai keras kepala kakek……sepertinya, kakek tidak pernah bisa menang dari Direkur Su……
Ketika Ralphie dan Serena masuk ke kamar, Kakek sedang terbaring diatas tempat tidur, tangan kiri sedang diinfus. Kelihatannya masih cukup baik, tangan kanannya sedang memegang buku, dan Theo sedang menjaga dipinggir tempat tidur.
__ADS_1
Ralphie mengerutkan alis tanpa berkata apapun.
Serena melihat sekilas Ralphie lalu berkata tiba-tiba buka suara: “Kakek.”
“Serena?” Kakek mendengar suara Serena langsung mendongakan kepala, ketika melihat Serena dan Ralphie, Kakek terkejut kemudian seperti terpikirkan sesuatu dengan wajah cemberut, “Theo, bukannya aku sudah katakan, jangan kasih tahu mereka?”
Theo belum sempat berbicara, Ralphie sudah menjawabnnya.
“Kalau tidak kasih tahu kita, kakek mau kasih tahu siapa?”
Di nyolotin oleh Ralphie, Kakek tidak tahu harus membalas apa. Jadi dia hanya menghiraukan Ralphie dan tersenyum manis ke arah Serena sambil melambaikan tangan.
“Serena, sini duduk disebelah kakek.”
Serena dengan nurut berjalan kepinggir kasur, duduk dikursi sebelah kasur, mengulurkan tangan memegang tangan kakek dan bertanya, “Kakek, sudah baikkan?”
“Kakek Tidak kenapa-napa, biasalah penyakit lama, kalian lebai banget sih.” Kakek menepuk pelan tangan Serena dan lanjut berkata: “Kamu kenapa ikut datang? Sudah begitu larut Ralphie datang sendiri saja tidak jadi masalah, kamu larut gini masih keluar, badan kamu memang kuat?” Kakek mengingatkan Serena baru saja keguguran, tubuhnya lemah, keluar larut malam gini takut badannya tidak kuat.
Serena tidak mengerti maksud Kakek, hanya menganggap kakek sedang memperhatikan dia dan tersenyum berkata: “Kakek, aku baik-baik saja kok, aku kuat.”
“Gimana kuat? Kamu kan baru saja……” Belum selesai Kakek berbicara, Ralphie tiba-tiba memutuskan pembicaraan, “Uhuk uhuk……”
Setelah itu, mata kakek langsung menghadap ke Theo dan berkata: “Pergi belikan mantel untuk nyonya.”
Tengah malam begini, meminta orang untuk membelikannya mantel, hati Serena merasa hangat.
Tetapi merepotkan orang tengah malam gini untuk membeli baju juga bukan suatu hal yang baik.
Serena tersenyum lalu berkata pada Kakek: “Kakek, aku tidak dingin, tidak perlu repotin Theo.”
Sayangnya selama ini apapun yang ingin dilakukan oleh Kakek, dia selalu bersikeras, “Bagaimana mungkin tidak dingin? Aku lihat tangan kamu dingin sekali.”
Walaupun Serena tidak dingin, tetapi tangannya memang dingin. Kakek sudah berbicara seperti itu, dia tidak tahu bagaimana menyangkalnya, jadi hanya bisa meminta tolong pada Ralphie.
Ralphie melihat Serenan kemudian dengan datar berkata pada kakek, “Kakek, tengah malam gini, mau suruh Theo cari baju kemana?”
Karena Ralphie mengingatkan, Kakek baru sadar, sekarang larut malam, dia mengerutkan alis bertanya, “Terus gimana?”
Ralphie tidak berkata apapun, langsung melepaskan mantelnya dan dipakaikan ke Serena.
__ADS_1
Sebenarnya masalah ini harus menyalahkan dia, karena bisa-bisanya dia tidak memperhatikan tangan Serena dingin.
“Aku tidak……” Serena ingin menolak, tetapi terdiam setelah melihat tatapan Ralphie, jadi hanya bisa menurut saja.
Kakek melihat tingkah laku mereka, tersenyum sangat lebar.
Kakek menyukai Serena, dia menarik tangan Serena, ngomong tiada henti, Serena dengan sabar mendengar perkataan kakek, Ralphie walaupun jarang berbiacara, tetapi dia dengan diam berdiri disamping menemani.
Suasana seperti ini benar-benar seperti dirumah, kakek menginginkannya sejak lama, akhirnya kesampaian.
Theo menyadarinya dan pelan-pelan keluar dari kamar.
Kakek memang sejak awal tidak terlau enak badan, apalagi sekarang juga sudah larut malam, jadi tak lama kemudian, Kakek mulai tidak sadar, pelan-pelan memejamkan mata dan tertidur.
Serena dengan pelan memakaian selimut, kemudian berjalan kedepan Ralphie.
“Kakek sudah tidur.”
Ralphie menganggukan kepala, kemudian berkata: “Sudah malam, aku antar kamu pulang.”
Mendengar Ralphie berkata ‘Aku antar kamu pulang’, dan bukan ‘Ayo kita pulang’, Serena sudah dapat mengerti kalau Ralphie berencana mengantarnya pulang lalu kembali ke rumah sakit untuk menjaga kakek.
Jadi dia berkata: “Repot banget kalau kamu harus bolak-balik, aku panggil taksi saja.”
Ralphie dengan suara rendah sedikit berteriak berkata: “Tidak boleh.”
Jelas-jelas Serena mengkhawatirkan badan dia tidak kuat makanya memintanya untuk tidak perlu mengantarnya pulang, tetapi Ralphie malah membentaknya.
Serena dengan tidak senang berkata, “Ralphie, kamu tidak masuk akal.”
Melihat wajah Serena yang tidak senang, Ralphie akhirnya mengalah, “Aku akan minta Theo untuk mengantarmu pulang.”
Setelah itu dia kembali berkata, “Kamu tidak boleh bantah.”
Serena mau tak mau hanya berkata ‘Ok’.
Ralphie berkata ‘En’, lalu mengantar Serena keluar dari kamar dan melambaikan tangan kepada Theo yang ada diluar kamar dan berkata, “Theo, kamu antar nyonya pulang ya.”
Theo menganggukan kepala, “Baik, Tuan muda.”
__ADS_1
Ralphie menundukan kepala melihat Serena yang masih bete, dia tak tega melihat Serena terus marah, jadi dia memutarkan tubuhnya, dengan nada lembut meminta maaf padanya, “Jangan marah lagi ya, aku salah. Ok?”