
Hello! Im an artic!
Setelah Elizabeth pergi, Serena membuka laptop dan mencari sebuah drama untuk menonton.
Setengah jam berlalu, Elizabeth masuk kembali dengan membawa ke kantor Ralphie.
Hello! Im an artic!
Serena melihat Elizabeth masuk, dia meletakkan laptop di pangkuan kakinya, menaruhnya kembali diatas meja, kemudian menepuk posisi tempat duduk yang ada disampingnya dengan maksud memintanya untuk duduk.
Elizabeth duduk disebelah Serena, kemudian menaruh piring yang penuh dengan ceri dan stroberi dan meletakkannya diatas meja.
Serena melihat piring yang penuh dengan ceri dan stroberi, tiba-tiba saja terpikirkan oleh asisten rumah tangga yang setiap malam juga selalu menyiapkan buah untuknya.
Dia selama ini mengira piring yang selalu penuh dengan ceri dan stroberi adalah sebuah kebetulan, sekarang dia tahu, ini bukanlah kebetulan, melainkan semua sudah disiapkan oleh Ralphie.
Hello! Im an artic!
Melihat piring yang penuh dengan ceri dan stroberi, Serena pun mulai bengong……
“Nyonya juga suka nonton drama ini?” Kata Elizabeth sambil tersenyum manis.
Serena tersadar lalu menjawab Elizabeth, “Ia, lumayan suka.”
Elizabeth mendengar Serena yang juga menyukai drama ini, langsung seakan menemukan teman gosip yang sudah lama hilang dan mulai membicarakan drama dengan Serena, “Drama ini cukup menarik, awalnya orang tua cowok dan cewek menjodohkan mereka, ternyata keduanya merasa tidak senang, jadi akhirnya kabur, yang lucu ketika mereka berdua kabur, mereka malah bertemu dijalan, jatuh cinta, dan akhirnya pun mereka jadian dan menikah.”
Mendengar Elizabeth membicarakan cerita dalam drama, Serena pun terdiam.
Awal mula drama ini, hampir sama seperti kejadian dia dan Ralphie.
Karena kabur dari pernikahan akhirnya bertemu, hanya saja kalau didrama, cowok dan cewek saling mencintai, sedangkan dia dan Ralphie hanya dia yang menyukai Ralphie.
Sama-sama menikah, didalam drama cowok dan cewek saling mencintai dan akhirnya bersatu, sedangkan dia dan Ralphie yang mau tak mau harus menjadi satu.
Hidup seperti sebuah permainan, sayangnya dia bukan peran utama. Kalau dia yang dijadikan kakak, mungkin mereka akan seperti cowok dan cewek yang ada didalam drama bersama-sama hidup berbahagia…….
Serena merasa hatinya sangat sakit, dia memegang dadanya kemudian berdiri dari sofa.
“Aku pergi sebentar ke toilet.” Selesai Serena berbicara, tanpa menunggu Elizabeth memberitahu dia dimana letak toilet, dia sudah dengan cepat berjalan keluar dari kantor.
Elizabeth juga berdiri terburu-buru keluar, melihat Serena berjalan menuju koridor toilet, pelan-pelan dia memperlambat langkah kaki.
Baru saja dia ingin masuk kedalam toilet, ponselnya berdering, orang yang dia minta untuk pergi membeli tiramisu menelepon.
__ADS_1
Elizabeth melihat sekilas ke toilet, kemudian terburu-buru turun untuk mengambil tiramisu.
Ketika dia turun mengambil tiramisu, Serena sudah kembali ke kantor Ralphie.
Tetapi dia tidak menonton melainkan mengangkat telepon.
“……Ok, ketemu ditempat yang biasa kita sering makan.”
Setelah dia memutuskan telepon, dia terdiam melihat Elizabeth masuk dengan membawa kue di tangannya, kemudian berkata: “Untuk aku makan? Tapi aku sekarang sudah mau pergi.”
“Pergi? Anda mau kemana?” Tanya Elizabeth kaget.
Serena sambil menggoyangkan ponselnya, “Aku ada janji dengan teman kantorku, makan siang bareng.”
“Tapi……Direktur Su masih rapat.” Raut wajah Elizabeth yang terlihat keberatan menatap Serena.
“Dia sangat sibuk, ngga perlu ganggu dia.” Serena tersenyum, berdiri dari sofa, “Elizabeth, aku pergi dulu.”
Elizabeth yang tidak berhasil menahan Serena, hanya bisa berkata: “Kalau begitu aku antar Anda turun.”
Kali ini Serena tidak menolak Elizabeth, “Ok.”
Elizabeth meletakkan kuenya diatas meja, kemudian mengantar Serena turun.
Tak lama Serena mereka pergi, Ralphie dengan langkah besar dan cepat berjalan kearah kantor.
Baru saja dia berjalan keluar kantor mencari Serena, pandangannya melihat kearah piring buah dan kue.
Kue belum dimakan, seharusnya belum terlalu jauh.
Ralphie menghela nafas lega, kemudian berjalan kearah sofa dan menunggu Serena kembali.
Pada akhirnya yang dia tunggu-tunggu bukanlah Serena melainkan Elizabeth yang baru saja kembali dari mengantar Serena.
Elizabeth berjalan masuk ke kantor Ralphie, berencana ngumpetin kue didalam kulkas, siapa tahu Ralphie sudah dikantor.
“Di mana Serena?” Ralphie langsung bertanya karena tidak melihat Elizabeth bersama Serena.
Elizabeth menunjuk kearah luar dan berkata: “Nyonya sudah pergi.”
Mendengar Serena sudah pergi, Ralphie langsung berdiri dari sofa, “Pergi? Kapan dia pergi?”
“Nyonya baru pergi setelah menerima telepon.” Jawab Elizabeth.
__ADS_1
Baru pergi? Ralphie berjalan kearah luar sambil bertanya, “Apakah dia ada menitip pesan untukku?”
“Ngga ada.” Jawab Elizabeth.
Mendengar dua kata ‘Ngga ada’ ini, langkah kaki Ralphie terhenti.
Serena tidak meninggalkan pesan untuknya, tidak meneleponnya, dan pergi begitu saja…….
Elizabeth melihat rauh wajah atasannya yang berubah, dengan cepat langsung mengatakan ulang perkataan yang diucapkan Serena sebelum pergi.
“Nyonya bilang dia menerima telepon dari teman kantor, mau pergi makan siang bareng. Dia merasa kalau Anda sibuk, jadi dia tidak mengganggu Anda……”
“Kamu keluarlah dulu.” Ralphie langsung memutuskan perkataan Elizabeth.
“Baik.” Elizabeth menganggukan kepala, ketika bersiap untuk membalikkan badan, Ralphie tiba-tiba berbicara, “Tunggu.”
Elizabeth membalikkan kepala melihat kearah Ralphie.
Ralphie membengkamkan bibirnya, kemudian menunjuk kearah meja dan berkata: “Bawa barangnya dan buang keluar.”
Elizabeth terdiam sesaat, baru menyadari barang yang Ralphie suruh buang adalah buah dan kue.
Direktur sengaja memintanya untuk membelikannya pada Nyonya, kenapa dibuang?
Elizabeth bingung dan melihat sekilas kearah Direkturnya, kemudian setelah menganggukkan kepala dan berkata ‘Baik’, dia mengambil buah dan kue lalu beranjak pergi.
Tetapi dia tidak membuang makanannya hanya saja dia bawa keruangan kantor Felix.
Felix melihat tangan Elizabeth yang membawa buah dan kue pun kebingungan, “Ini bukannya kesukaan nyonya? Kamu ngambil ngapain?”
“Direktur Su memintaku untuk membuangnya.” Jawab Elizabeth.
“Buang?” Felix terkejut, kemudian dengan suara kecil berkata. “Direktur Su dan nyonya berantem?”
“Ngga berantem, cuma nyonya balik duluan.” Jawab Elizabeth sambil membalikkan kedua bola matanya.
“Oh, balik, pantesan dibuang…….” Felix berkata dengan suara sangat kecil.
Elizabeth tidak mendengar jelas perkataan Felix dan bertanya kembali, “Kamu ngomong apa?”
Felix hanya berdeham dan berkata: “Ehem ehem…….ngga apa-apa, kamu masukkin aja kedalam kulkas, nanti malam ketika aku nganterin Direktur Su pulang sekalian aku bawain.”
“Yakin ngga apa-apa? Direktur Su ngga akan ngamuk?” Tanya ragu Elizabeth kepada Felix.
__ADS_1
“Tenang, ngga mungkin…….”
Nyonya makan kue Direktur Su senang saja sudah tidak sempat, bagaimana mungkin ngamuk?