
Hello! Im an artic!
Walaupun Ralphie sudah sengaja memperlambat jalan, tetapi jalan tetapi ada batasnya.
“Sudah sampai.” Ralphie memang berkata seperti itu tetapi tidak menurunkan Serena.
Hello! Im an artic!
Walaupun Serena tidak rela turun dari punggung Ralphie, tetapi ini sudah dirumah sakit, kalau meminta orang untuk menggendongnnya lagi juga tidak mungkin.
Setelah dia terdiam sebentar, mau tak mau tetap berkata, “Turunin aku.”
Ralphie berkata ‘En’, menurunkan sedikit badannya lalu menurunkan Serena.
Serena menyampingkan sedikit kepalanya untuk melihat Ralphie, kemudian dia menutup payung dan dengan cepat berlari masuk kedalam rumah sakit.
Hello! Im an artic!
Ralphie melihat bayangan Serena yang lari terburu-buru pun tersenyum dan ikut masuk.
Ralphie dan Serena menemani Kakek makan malam, setelah itu baru pergi dan pulang ke rumah.
Ketika sampai dirumah, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Mereka berdua naik keatas, lalu berdiri ditengah-tengah antara kamar mereka.
“Sudah dua hari tidak istirahat, setelah mandi, cepetan tidur.”
Ralphie berkata ‘En’ kemudian berkata: “Kamu juga cepetan istirahat.”
Mulut memang berkata itu, tetapi Ralphie sama sekali tidak bergerak.
Serena melihat Ralphie yang tidak bergerak pun juga ikutan tidak bergerak.
Mereka berdua berdiri diam sebentar, Ralphie tiba-tiba menunjuk kearah tas yang dipegang Serena lalu berkata, “Tolong bawain baju itu ke kamar aku ya.”
Serena terdiam sebentar baru menganggukan kepala, “En. Ok.”
Ralphie berbalik badan buka pintu kamar dan berjalan masuk.
Serena terdiam sebentar lalu ikut masuk kedalam.
Setelah masuk, Ralphie melepaskan mantel sambil berjalan kearah ruangan ganti baju dan berkata: “Aku mandi dulu, nanti tolong bawain baju itu keruangan ganti.”
Serena berkata ‘Oh’, kemudian berkata ‘Ok’.
__ADS_1
Ralphie juga berkata ‘En’, lalu membalikan badan masuk ke kamar mandi.
Serena mengarah ke kamar mandi sebentar, kemudian meletakkan tas diruang ganti.
Setelah masuk ruang ganti, baju dikeluarkan dan digantung dilemari, lalu keluar.
Karena Ralphie masih mandi, Serena juga merasa tidak enak kalau pergi begitu saja, jadi dia duduk disofa sambil mengambil majalah untuk membacanya.
Kamar sangat sepi, hanya terdengar suara air dari kamar mandi.
Dibenak Serena, dia memikirkan ketika imlek hari kedua dipagi hari, dia melihat Ralphie.
Walaupun saat itu dia sangat panik dan dengan cepat lari kedalam toilet.
Tetapi dia masih ada bayangan tubuh saat Ralphie tidak memakai baju seperti apa.
Kulitnya yang putih susu, garis otot yang sempurna, sangat bergairah dan cukup menggoda……
Oh My God, Serena sedang memikirkan apa.
Serena memukul badannya hingga sadar kemudian memegang wajahnya sendiri.
Tetapi badan Ralphie memang sangat bagus…..apalagi malam imlek hari itu.
Awalnya Serena pikir malam itu hanyalah sebuah mimpi, hubungan antara dan Ralphie seperti yang ada di film, muncul kembali dibenak Serena.
Ya ampun, Serena jangan pikikan itu lagi. Serena dengan kasar menggunakan buku majalah memukul wajahnya, untuk menyadari dirinya sendiri.
Tanpa disadari, adegan ini malah dilihat oleh Ralphie yang baru saja selesai mandi.
“Kamu lagi ngapain?”
Serena mendengar suara Ralphie kaget sampai menghadap ke arahnya.
Kebetulan badan Ralphie terbuka, bagian bawahnya dia tutupin dengan handuk, berdiri didepan kamar mandi.
Karena cahaya lampu di kamar mandi, badan dia jadi sedikit kemerahan.
Sangat seksi dan menggoda……
Serena menelan air liur kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Serena tidak menjawabnnya, Ralphie pikir terjadi sesuatu padanya jadi dengan cepat melangkah ke arahnya, “Kamu kenapa?”
Ralphe berdiri, Serena duduk, Ralphie menundukan kepala berbicara dengan Serena, berpose menghadap kebawah.
__ADS_1
Serena tidak menaikan kepalanya, hanya menggelengkan kepala, “Tidak kenapa-napa.”
“Tidak apa-apa, kenapa pake majalah pukul wajah kamu?” Tanya Ralphie bingung.
Ternyata gerakan bodoh tadi dilihat oleh Ralphie! Wajah Serena semakin merah, kemudian karena malu dia berkata seperti sedang emosi, “Aku pukul nyamuk emang Tidak boleh.”
Musim Semi baru tiba, mana mungkin ada nyamuk?
Ralphie melihat sekilas Serena lalu dengan serius berkata, “Boleh.”
Serena awkward hingga memegang hidungnya, tetapi tidak membalikkan kepala, hanya berkata: “Itu……baju kamu, sudah aku gantung didalam lemari.”
Ralphie berkata ‘En’, melihat Serena dari samping sekilas, baru menyadari Serena tidak melihat dia karena dia hanya mengenakan handuk.
Ralphie meminta maaf sambil berkata: “Sorry, aku baru mandi, tidak pakai baju masuk……aku ganti baju dulu.”
Mendengar perkataan Ralphie, wajah Serena merah, lalu berkata “Tidak apa-apa, aku balik kamar dulu.” Lalu dengan cepat berdiri, ingin pergi.
Ternyata gerakan Serena terlalu tergesa-gesa, kakinya menendang kaki sofa, jadi badannya jatuh kearah depan.
Ralphie tanpa berpikir panjang, langsung melepaskan pegangan handuknya lalu mengulurkan tangan untuk menarik Serena.
Serena awalnya pikir dia akan jatuh, tak disangka, dia langsung jatuh kedalam pelukan Ralphie.
Hidungnya pun dapat mencium aroma wangi tubuh Ralphie, bahkan setengah badannya menempel dibadan Ralphie.
“Kamu Tidak apa-apa?” Suara Ralphie sedikit serak.
“Tidak……” Serena mendongakan kepala, kebetulan matanya bertatapan langsung dengan Ralphie yang sedang menatap kebawah.
Pandangan mata yang dalam, begitu panas, membuat hati Serena tak tahan jika tidak berdebar.
Serena mengedipkan mata, ingin berbalik badan, Ralphie tiba-tiba sedih, lalu detik berikutnya menarik tangannya, menundukan kepala lalu mencium bibirnya.
Gerakan Ralphie terlalu tiba-tiba, Serena sama sekali tidak sempat merespon. Menunggu respon dia apa yang sedang terjadi, lidah Ralphie sudah masuk kecdalam mulut Serena.
Perasaan asing tetapi juga tak asing didalam tubuh Serena, Seketika otak Serena kosong, yang dia tahu hanya satu, respon balik.
Mendapat respon dari Serena, Ralphie seakan mendapatkan sinyal dan mulai menciumnya semakin dalam.
Suasana semakin memanas, nafas yang semakin berat, mereka seakan ingin melakukan sesuatu yang lebih.
Ralphie sambil mencium Serena, tangannya pun mulai masuk kedalam baju Serena.
Kulit yang tersentuh oleh Ralphie membuat Serena semakin nervous, tangannya memegang erat bahu Ralphie seakan menekan hingga ke otot-otot. Tidak tahu karena malu atau takut, Serena dengan suara kecil memanggil nama Ralphie, “Ralphie…….”
__ADS_1
Sialan, bagaimana mungkin dia lupa, Serena baru saja melakukan operasi belum sampai satu bulan.
Untung saja Serena memanggilnya yang membuat dia tersadar, kalau tidak dia pasti sudah melakukan suatu kesalahan besar.