I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 355 Serena Mengetes Claudia


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Hari itu Ralphie keluar dari rumah sakit, cuaca sangat cerah.


Tadinya Ralphie dan Serena berencana pulang lebih awal, bahkan mereka ingin menyerahkan berkas keluar rumah sakit kepada Dokter Chen dan memintanya untuk membantu menguruskan.


Hello! Im an artic!


Alhasil, masih pukul delapan pagi bangsal tempat Ralphie dirawat sudah ramai didatangi orang-orang.


Felix datang duluan, lalu Ryan dan Lacey, kemudian Isa dan Claudia.


Sebenarnya kakek juga ingin datang, tapi Ralphie dan Serena tidak mengijinkannya datang karena kondisi tubuhnya yang masih tidak memungkinkan.


“Apa kalian sudah selesai berkemas?” tanya Ryan ketika melihat tas jinjing di atas tempat tidur.


Hello! Im an artic!


Serena mengangguk, “Semua sudah beres, bersiap untuk pulang.”


“Mengapa kalian sangat buru-buru?” wajah Isa murung.


Serena melirik Ralphie lalu menjawab, “Tidak ingin merepotkan kalian.”


Ryan mendengar perkataan Serena dan menggelengkan kepalanya, “Serena, tidak perlu merasa sungkan.”


“Iya.” yang lain ikut menyaut, membuat Serena tidak tahu harus menjawab apa.


Akhirnya Ralphie dengan dingin menyela pembicaraan, “Kalian datang memang ingin menjemput kami? Atau… ”


“Aku pergi ambil mobil dulu.” Felix berbalik dan berjalan keluar.


“Ralphie, sini kami bantu.” Isa dan Ryan menghampiri Ralphie, berniat untuk membantunya.


Ralphie menolak, “Aku bisa sendiri, tidak perlu dibantu.”


“Ralphie, kamu belum pulih, sebaiknya kami bantu…” Isa dan Ryan mencoba membujuk Ralphie, lalu Serena berkata, “Biar aku yang membantunya.”


Akhirnya Serena yang membantu Ralphie, sementara yang lain membantu mengangkat tas barang, meninggalkan kamar pasien.


Di lantai bawah, Felix dengan mobilnya sudah menunggu di depan gerbang rumah sakit.


Melihat mereka keluar, dia segera membuka pintu belakang mobil.

__ADS_1


Setelah Ralphie dan Serena duduk di kursi belakang, Claudia maju dua langkah untuk membuka pintu depan dan duduk.


Isa menariknya, “Claudia, di belakang masih ada barang-barang Ralphie dan Serena, kamu ikut mobilku saja.”


Claudia melihat ke dalam mobil Felix, berbalik dan mengikuti Isa ke mobilnya.


Melihat mereka bergandengan tangan dari belakang, Serena tertawa terbahak-bahak.


“Kelihatannya hubungan Isa dan Claudia makin hari makin baik ya.”


Ralphie tiba-tiba ingat pembicaraannya dengan Isa di telepon tadi malam, ia menggelengkan kepalanya, “Tidak.”


“Apanya yang tidak?” Serena tidak menanggapi.


Ralphie melihat ke arah luar jendela dan menjawab, “Isa sudah memutuskan untuk meninggalkan Claudia dan kembali ke Kyoto.”


Mendengar Ralphie mengatakan bahwa Isa ingin meninggalkan Claudia, Serena langsung marah, “Dasar pria tidak bertanggung jawab, aku sudah salah menilainya.”


Ralphie menjelaskan, “Bukan, keberadaan Isa di sini akan mempengaruhi mood dan emosi Claudia, ini tentu tidak baik bagi wanita hamil dan bayi yang dikandungnya.”


Soal Claudia dan anak yang ada di dalam perutnya adalah masalah besar, Serena kemudian diam.


“Ketika Isa tinggal di rumah kita, dia sudah berjanji pada Claudia, saat kita kembali nanti, dia akan meninggalkan rumah itu…” Ralphie memegang tangan Serena dan lanjut berbicara, “Dia sudah berusaha keras beberapa hari ini, tapi Claudia masih belum bisa memaafkannya, yang bisa dilakukannya hanyalah mundur.”


Serena menghela nafas dan berkata, “Aku akan mencari tahu maksud perkataan Claudia.”


Enam orang, dua wanita hamil, tambah satu pasien, dan tiga orang lainnya tidak minum.


Setelah makan, Ryan dan Lacey berdiri duluan, “Ralphie, kamu baru saja keluar dari rumah sakit, kondisimu belum benar-benar pulih, kami tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu, kami pulang dulu.”


Serena mewakili Ralphie menjawab, “Hati-hati menyetir pulang.”


“Iya.” Ryan mengangguk, ia dan Lacey bersiap-siap untuk pulang.


Saat itu Isa langsung berkata, “Ryan, tunggu sebentar, aku ikut mobilmu pulang.”


Ryan agak terkejut, mengangguk, “Oh, oke.”


“Tunggu sebentar ya, aku berkemas dulu.” setelah Isa berbicara, dia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya dan menyerahkannya kepada Claudia, “Ini kunci mobilku, kamu pegang saja, jika kamu ingin keluar, mintalah pelayan mengantarmu pergi.”


Claudia hanya memberikan tatapan kosong pada Isa, ia tidak mengulurkan tangannya untuk mengambil kunci itu, dan tidak menjawab apapun.


Isa mengira dia menolak kunci mobil itu, ia berpikir sejenak, lalu menaruh kunci mobil di atas meja makan, kemudian naik ke atas untuk mengambil barang-barangnya.

__ADS_1


Setelah Isa pergi, Serena mengedipkan mata pada Ralphie. Ralphie segera mengajak Ryan dan Lacey meninggalkan ruang makan.


“Claudia, kamu sudah dengar tadi? Isa bilang dia akan pergi.” Serena menatap Claudia tanpa berkedip sama sekali, tidak ingin membiarkan Claudia kenapa-kenapa.


“Ya, kami sudah membicarakan ini sebelumnya.” nada bicara Claudia terlihat tenang, tapi kedua tangannya yang saling menggenggam erat menunjukkan perasaannya sedang gelisah.


Serena melirik tangan Claudia dan bertanya, “Apa kamu yakin ingin membiarkannya pergi? Tidak akan menyesal?”


“Tidak.” Tidak tahu apakah sedang berusaha meyakinkan Serena, atau meyakinkan dirinya sendiri, Claudia mengucapkan kata ‘tidak’ dengan sangat tegas.


Serena berkedip, kemudian berkata, “Kalau begitu, bawa saja mobilnya. Lagipula, dia juga akan kembali ke Kyoto, mobil ini tidak akan ada yang pakai.”


Tubuh Claudia gemetar saat mendengar Serena mengatakan bahwa Isa akan kembali ke Kyoto.


Serena tahu Claudia gemetar dan cemas, “Aku dengar dari Ralphie, Isa sudah memutuskan untuk meninggalkanmu, kali ini dia pulang ke Kyoto, mungkin tidak akan kembali ke kota A lagi. Perusahaan yang di sini juga mungkin akan dikelola oleh anggota keluarga Lu yang lain…”


Setelah Claudia mendengar Serena berkata ‘Isa sudah memutuskan untuk melepasnya, dan kepulangannya ke Kyoto kali ini mungkin berarti dia tidak akan kembali lagi ke kota A’, ia hanya terdiam, perkataan Serena selanjutnya sudah tidak didengarkannya.


Dia sudah memutuskan untuk meninggalkannya?


Dia pulang ke Kyoto, berarti tidak akan kembali lagi ke kota A?


Tidak akan kembali lagi ke kota A… Tidak kembali lagi ke kota A…


Tubuh Claudia semakin menggigil hebat, dia tiba-tiba berbalik, dan meninggalkan ruang makan dengan panik.


Serena mengikutinya keluar dari ruang makan.


Ralphie duduk di ruang tamu, melihat Serena keluar, ia mengangkat alisnya, “Sudah?”


Serena mengangguk sambil tersenyum, “Sudah.”


Ralphie melambaikan tangannya memanggil Serena datang, “Kemarilah.”


Serena berjalan menuju Ralphie sambil melihat sekeliling ruang tamu, “Ryan dan Lacey di mana?”


“Sudah pulang.” jawab Ralphie santai.


Serena berkedip dan bertanya, “Mengapa kamu begitu cepat membiarkan mereka pergi? Kalau tidak berhasil membujuk Claudia?”


Ralphie hanya mengucapkan tiga kata, “Aku percaya padamu.”


Kepercayaan semacam ini membuat Serena sangat senang.

__ADS_1


“Aku akan memberimu hadiah.” Serena menoleh dan mencium bibir Ralphie dengan lembut.


“Tidak cukup.” Karena dua kata yang diucapkan Ralphie ini, ciuman yang dangkal berubah menjadi ciuman yang dalam…


__ADS_2