
Hello! Im an artic!
Setelah keluar dari apartemen yang lama, Serena dan Louisa berpisah dan memanggil taksi untuk kembali ke rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, walaupun bukan jam orang pulang kerja, tetapi karena hari minggu maka jalanan sedikit macet.
Hello! Im an artic!
Kurang lebih dua jam baru sampai dirumah.
Setelah membayar uang taksi, Serena membawa koper turun dari mobil.
Asisten rumah tangga kebetulan sedang di halaman, jadi melihat Serena yang kesulitan membawa koper pun dengan cepat pergi membantu, “Nyonya kenapa tidak pulang bersama Tuan muda?”
“Aku ada urusan lain, jadi ngga bareng dia.” Serena berjalan kedalam rumah sambil menjawab.
Hello! Im an artic!
Asisten rumah tangga membawa koper mengikuti dibelakangnya masuk kedalam rumah, “Nyonya, koper mau di bawa ke kamar Anda?”
“Kamu……” Ketika Serena ingin menjawab, ponsel disakunya berdering.
Dia mengambil ponselnya sambil berkata pada asisten rumah tangga: “Kamu letakkan saja disini, nanti aku yang bawa sendiri.”
“Baik, Nyonya.”
Setelah asisten rumah tangga pergi, Serena mengangkat telepon, “Halo?”
“Kamu Serena?” Terdengar suara Dottie.
Serena terdiam sebentar dan menjawab, “Ia, Designer Zhuo Anda cari aku ada urusan apa?”
Dottie tidak menjawab pertanyaa Serena, langsung bertanya, “Aku memintamu membuat sketsa, gimana prosesnya?”
“Sudah gambar sebagain, masih ada sebagian lagi.” Jawab Serena.
Mendengar Serena baru menggambar sebagian, masih ada sebagian yang belum selesai, Dottie langsung marah besar, “Baru gambar sebagian, kamu lagi ngapain sih?”
Serena menggerutkan alisnya, kemudian berkata: “Designer Zhuo, aku sudah menggunakan seluruh kemampuanku, tapi beneran aku…….”
Belum selesai Serena berbicara, Designer Zhuo langsung memutuskan pembicaraan.
“Kamu sekarang bawa sketsa yang sudah di gambar selesai kirim kesini.”
Serena terdiam, “Kirim sekarang?”
“Ia, sekarang.”Nada bicara Designer Zhuo semakin membentak.
Walaupun Serena tidak begitu bersedia, tetapi dia tetap menyetujuinya.
Setelah bertanya alamatnya, dia terburu-buru kembali ke kamar untuk mengambil sketsa, kemudian keluar rumah.
Serena tidak menggunakan mobil supir Li, melainkan memanggil taksi disekitar sana.
Dia sama sekali tidak menyadari ada mobil yang tidak asing diseberang jalan.
__ADS_1
“Langit sudah mau gelap, Nyonya mau pergi kemana?” Felix sedikit terkejut melihat Serena yang sedang memanggil taksi.
Awalnya Ralphie yang sedang memejamkan matanya pun, setelah mendengar perkataan Felix, matanya langsung terbuka lebar.
Pandangan dia menuju kearah pandangan yang dilihat Felix, dan kebetulan melihat Serena masuk kedalam taksi dan pergi.
Dia tanpa berpikir langsung dengan cepat berkata, “Ikutin.”
“Ikutin?” Felix pikir dia salah dengar, membalikkan kepala melihat kearah Ralphie.
Sebenarnya Ralphie terlalu tergesa mengatakan ‘Ikutin’, tetapi dia sudah mengatakan keluar.
Dengan nada tidak dingin tidak marah berkata sekali lagi,”Ikutin.”
Direktur Su mengikuti Nyonya untuk apa? Ikutin Nyonya? Direktur Su tidak pernah ada hobi seperti ini.
Felix putar balik mobil sambil melihat kearah belakang, melihat sekilas Ralphie.
Wajah pria tampan yang tidak ada ekspresi apapun, membuat orang sama sekali tidak dapat menebak isi hatinya sedang berpikir apa.
Disaat ini jalanan mulai macet, mobil mereka yang mengikuti taksi Serena pun sebentar jalan sebentar berhenti, kurang lebih menghabiskan waktu satu jam untuk bisa sampai didepan cafe yang ada di Drisker Mansion.
Dari jauh melihat taksi Serena yang berhenti, Felix langsung berkata: “Direktur Su, Nyonya mau turun mobil.”
Ralphie melihat tidak jauh dari taksi Serena berkata: “Ke samping parkir.”
Felix mendengar perintah dan memberhentikan mobil dipinggir jalan.
Awalnya Felix pikir Ralphie akan turun dan menemui Serena, siapa sangka Ralphie sama sekali tidak turun dari mobil dan hanya duduk didalam mobil menunggu.
Ekspresi wajah Ralphie tetap tidak berubah.
Kira-kira setelah lewat 10 menit, Serena kembali ke pinggir jalan.
Dia melihat kesekitat jalanan, mencari taksi lewat.
“Direktur Su, kita mau pergi jemput Nyonya?”
Ralphie hanya memandang ke arah Serena tanpa berbicara.
Felix tidak mendapatkan perintah dari Ralphie, dia juga tidak berani bergerak.
Sampai akhirnya Serena naik sebuah taksi, dan dengan jelas dia kembali ke rumah. Ralphie akhirnya buka suara, “Ikutin.”
Kali ini mendengar ‘Ikutin’, Felix sudah tidak bingung.
Bercanda, dia mengikuti Ralphie sudah berapa lama, bagaimana mungkin tidak mengerti tujuan Ralphie ingin menjadi penjaga?
Ingin mengantar sendiri, tetapi khawatir Nyonya tidak suka.
Jadi hanya meminta Felix untuk mengikuti dibelakang Nyonya…….
Ketika Serena kembali ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Asisten rumah tangga sudah menyiapkan makan malam, menunggu Serena.
__ADS_1
“Nyonya, makan malam sudah disiapkan.”
Serena berkata ‘En’, pandangannya melihat kearah ruang tamu, dia tidak melihat Ralphie dan terdiam sebentar bertanya, “Ralphie sudah makan belum?”
Asisten rumah tangga menjawab: “Tuan muda belum pulang.”
Mendengar asisten mengatakan Ralphie belum pulang, Serena menggerutkan alis, baru saja dia ingin menanyakan apakah Ralphie lembur, tiba-tiba terdengar suara dari luar.
“Mungkin Tuan Muda sudah pulang.” Asisten berjalan keluar untuk membukakan pintu.
Serena tidak berbicara tetapi pandangannya menghadap ke depan.
Mungkin lewat satu menit, Ralphie pun masuk.
Serena mengalihkan pandangan, tergesa-gesa pergi ke toilet.
Ralphie dengan sekuat tenaga membengkamkan bibir, kemudian mengarah ke tangga.
Langkahnya terhenti ketika melihat koper yang ada didekat tangga.
“Ini koper siapa?”
Asisten menjawab, “Ini Nyonya yang bawa pulang tadi sore.”
Serena bawa pulang?
Ralphie melihat koper dengan sedikit curiga, lalu beranjak naik.
Asisten rumah tangga yang melihat Ralphie naik langsung bertanya, “Tuan Muda, Anda tidak makan malam?”
Ralphie naik keatas sambil menjawab, “Suruh Serena makan duluan saja.”
“Baik, Tuan Muda.”
Setelah Serena keluar dari toilet, duduk dimeja makan untuk menunggu Ralphie makan bersama, pada akhirnya asisten rumah tangga berkata padanya kalau Raphie memintanya untuk makan duluan.
Mendengar kata asisten, hati Serena sangat kecewa.
Mengangkat mangkok dan memakannya dengan tidak nafsu.
Baru saja dia makan beberapa suap, ponsel disakunya terdengar bunyi ding dong.
Dia meletakkan sumpit dan mangkok, membuka ponsel dan melihat ada sebuah pesan masuk.
Pesan masuk dari Felix yang menanyakan apakah dia masih mau kue nya?
Kue? Kue yang Ralphie minta Elizabeth membelinya?
Kedua sudut bibir Serena pun naik, kemudian menjawab: “Mau.”
Felix dengan cepat membalas, Nyonya buka pintu untuk mengambil kue.
Buka pintu? Didepan?
Serena dengan cepat berdiri dari meja makan, kemudian berlari membuka pintu.
__ADS_1
Dan melihat Felix didepan pintu berdiri sambil membawa kue.