I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 32 Kemarahan Karena Seorang Wanita


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ralphie terpaku dan menatap wajah Serena, akhirnya dia teralihkan dengan kaki Serena yang tidak memakai alas kaki, ia meletakan berkas yang ada ditangannya keatas sofa dan bergegas menuju pintu masuk.


Kemana ia pergi? Serena mengertukan keningnya menatap punggung Ralphie.


Hello! Im an artic!


Ralphie tidak pergi sesuai dengan perkiraan Serena, dia menuju pintu masuk, membuka rak sepatu, mengeluarkan sepasang sendal dari dalamnya, menaruhnya didepan Serena, “Pakai sendal, lantainya dingin.”


Serena hanya berkata “Oh”, dan dengan menurut memakai sendal yang d iambilkan oleh Ralphie.


Setelah Serena memakai sendalnya, Ralphie menatap Serena sebentar dan bertanya “apakah kau lapar?”


Serena terpaku menatap Ralphie tidak mengatakan apapun.


Hello! Im an artic!


Ralphie kembali berkata, “Aku pergi panaskan lauk, kalau kau benar-benar lapar sekarang, kamu makan kue dulu.”


“Aku tidak lapar.” Serena menggelengkan kepalanya.


Ralphie menjawab “En”, membalikkan badannya menuju dapur.


Serena ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu apa yang ingin di katakan, pada akhirnya ia tidak mengatakkan apapun.


Setelah Ralphie sudah masuk ke dapur, Serena melihat tasnya yang ada di atas sofa, dengan ragu ia mengambil tas dan membukanya, ia mengambil telepon genggamnya hendak melihat jam, tapi ternyata telepon genggamnya habis baterai.


“Sudah mati,” Serena bergumam, kemudian ia mengambil charger dari dalam tasnya dan mengisi baterai telepon gemgamnya.


Setelah menyala, telepon genggamnya tidak berhenti berbunyi. Setelah beberapa saat akhirnya berhenti.


Semua panggilan itu berasal dari Ralphie. Sebagian panggilan sebelum ia memberitahu lokasinya pada saat itu, sebagian setelahnya.


Melihat telepon genggamnya yang berisi puluhan panggilan tak terjawab dari Ralphie matanya kemerahan. Pada saat air matanya akan menetes, terdengar suara Ralphie yang memanggil untuk makan.


Serena menghela napas, mengurungkan niat untuk menangis dan pergi menuju dapur.


Pada saat Serena sudah berada di dapur, Ralphie sudah menyiapkan mangkuk yang sudah berisi nasi untuk Serena.

__ADS_1


Serena yang baru saja mengurungkan niat untuk menangis akhirnya tidak bisa menahannya lagi, ia menundukkan kepalanya takut Rlaphie menyadarinya.


Ralphie yang melihat Serena tidak mergerak menghampirinya, “Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan makananya?”


Serena menggelengkan kepalanya, mengangkat mangkuk yang berisi nasi.


Ralphie mengira Serena masih bersedih karena kejadian PT.Antarts karena itu dia tidak berani bertanya, dia hanya diam diam mengambilkan makanan untuk Serena.


Ketika hampir selesai makan telepon genggam Ralphie tiba-tiba berbunyi.


Dia meletakan mangkuk dan sumpitnya dna mengeluarkan telepon genggam dari sakunya, setelah melihat layar tekeponnya ia berkata, “Aku keatas sebentar, letakan saja setelah kau selesai makan, aku akan merapihkannya.”


Setelah selesai bicara Ralphie langsung meninggalkan Serena menuju lantai 2 tanpa menunggu jawabannya.


Serena memandangi punggung Ralphie yang menghilang ditangga, kemudian kembali melanjutkan makannya.


Sesampainya di ruang baca lantai dua Ralphie berkata, “Bicaralah!”


Felix yang diujung telpon sana bergidik dan berkata, “Nona Luo di jebak.”


Ralphie menjawab dengan “Ya”, membiarkan Felix meneruskan perkataannya.


“Produk plagiat itu di buat oleh kepala designernya nona Luo, dia tidak ingin merusak masa depannya sendiri…” belum selesai Felix berkata, Ralphie menyelak dan berkata, “Maka dia menghancurkan masa depan orang lain?”


Kemarahan Ralphie tidak reda sampai di situ, ia berkata lagi dengan nada yang dingin, “Apakah masih ada orang lain yang ikut terlibat?”


“Kepala departemen yang dicurigai menutupi ini semua, selain itu tidak ada lagi.” Felix menelan ludah setelah menjawabnya.


Ralphie menjawab, “Pecat kepala departemen yang terlibat, dan aku tidak ingin melihat designer yang terlibat itu ada di dunia bisnis perhiasan lagi.”


Yang satu di pecat! Yang satunya lagi disingkirkan dari dunia bisnis perhiasan!


Kemarahan Ralphie hanya karena seorang wanita! Kasihan sekali dua orang itu!


Tapi Felix hanya merasa kasihan kepada mereka, tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka, karena dibalik itu pasti ada kesalahan yang mereka buat sendiri.


Kalau saja orang yang dijebak mereka bukanlah Serena, tapi orang lain, maka nasib orang itu tidak akan berakhir menghilang dari dunia bisnis perhiasan.


“Kalau begitu, masalah Nona Luo besok aku akan menyuruh orang dari PT.Antarts untuk mengabarinya?” Felix bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


Ralphie mengerutkan kening, “Besok terlalu lama, hari ini saja telpon dia.”


Hari ini? Felix yang disebrang sana melihat langit yang sudah gelap. Sudah malam masih harus menelponnya?


“Baik.”


Ralphie menjawab “ya” dan bersiap mematikan telponnya, tiba-tiba ia mengingat sesuatu yang ingin ia tambahkan dalam pembicaraannya, “Berikan dia waktu 1 hari untuk beristirahat, suruh dia untuk kembali bekerja lusa.”


Libur 1 hari? Felix sebenarnya ingin mengatakan, Direktur Su, berikan aku 1 hari istirahat juga!


Felix tidak menjawab, Ralphie meninggikan suaranya, “Apakah kau tidak mendengarnya?”


Merasa Ralphie akan marah, Felix dengan cepat menjawab, “Aku mendengarnya.”


Ralphie menjawab “Ya” dan mematikan telponnya.


Setelah mematikan telpon, Ralphie melihat lampu di luar jendela sebenar, setelah itu ia berbalik ingin meninggalkan ruang baca ini.


Dia tidak langsung turun kebawah tapi ia mampir sebentar kekamarnya disamping.


Ketika keluar dari kamarnya, ia membawa sebuah plastik ditanggannya. Ia membawa plastik itu turun.


Ketika ia baru ingin melangkahkan kakinya turun kebaawan ia mendengar Serena yang sedang berbicara di telponnya dan ia menghentikan langkahnya.


Samar-samar Ralphie mendengar pembicaraan Serena yang sedang berbicara tentang dirinya yang dijebak oleh teman kerjanya.


Ia mendengar Serena yang marah dan menceritakan apa yang dialaminya kepada orang yang ada diseberang.


Setelah mendengar hal itu Ralphie merasa tidak senang. Mengapa ia mau menceritakan ini kepada orang lain, tapi tidak ingin menceritakan ini kepadanya? Apakah Ralphie tidak lebih berarti di hati Serena di banding orang yang ada di seberang telpon itu?


Tanpa sadar tangan Ralphie yang sedang memegang handuk dan pakaian itu mengepal dan raut wajahnya berubah.


Setelah mendengar pembicaraa Serena sudah selesai Ralphie mengatur raut wajahnya seperti tidak terjadi apa-apa dan melanjutkan langkahnya turun kebawah.


Serena baru selesai berbicara ditelpon dengan Claudia, mendengar langkah kaki yang turun kebawah. Ia menengok dan melihat Ralphie dengan ekspresi dingin diwajahya membawa sebuah palstik turun dari atas.


Serena merasa ada yang salah dengan raut wajah Ralphie. Kenapa dia? Bukankah barusan baik-baik saja?


Ralphie jelas-jelas tidak senang, tapi ia tidak meluapkan emosinya kepada Serena. Setelah memberikan plastik yang di tangannya kepada Serena, ia berbalik dan pergi.

__ADS_1


Serena melihat sekilas Ralphie dan plastik yang ada ditangannya sedikit tidak mengerti dan bertanya, “Apa?”


Langkah Ralphie terhenti, ia tidak menoleh dan dengan nada yang dingin mengatakan dua kata “Pakaian mu”, ia menuju dapur untuk membereskan bekas makanan tadi.


__ADS_2