I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 206 Pasangan Serasi


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Sebenarnya Serena ingin membawa Louisa ke dalam ruangan di lantai atas, tetapi sepertinya Louisa tidak ada mau.


Setelah meninggalkan lobi, Louisa menghentikan langkahnya.


Hello! Im an artic!


“Aku masih ada urusan, aku permisi dulu.”


Serena yang mendengar Louise akan pergi seketika bertanya, “Louisa, apa kamu tidak akan ikut kami main?”


“Tidak.” Louisa menggelengkan kepalanya.


Serena merasa sangat kecewa, “Baiklah.”


Hello! Im an artic!


Louisa mengiyakan dengan nada lirih, kemudian membalikan badan dan pergi, saat tepat melewati Ralphie, dia memelankan langkahnya, berbisik sangat lirih, yang hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya,”Terima kasih ya untuk malam ini. Oh, iya yang bermarga Wen tadi sedang mengamatimu, mungkin dia tidak akan diam saja, kamu harus hati-hati.”


Ralphie menjawab dengan lirih, “Tidak apa-apa, aku tidak akan memberikan dia kesempatan untuk melakukan itu.”


Maksud Ralphie berkata tidak akan memberikannya kesempatan adalah dia tidak akan membiarkannya melihat matahari terbit besok pagi.


Benar, Ralphie sudah berencana akan membereskan Direktur Wen malam ini juga.


Tidak akan memberinya kesempatan sedikit pun….. entah kenapa kata-kata itu selalu terngiang-ngiang hingga membuat Louisa merasa takut.


Mungkin hanya dia yang terlalu berlebihan.


Louisa memutar kepalanya melihat Ralphie yang juga sedang bersama Serena kemudian segera pergi.


“Louisa mungkin masih sedikit marah terhadapku, sehingga dia pergi begitu saja.” Serena bergumam dengan sedikit kesal sambil memandangi bayangan Louisa yang telah menjauh .


Ralphie menggelengkan kepalanya, “Bukan, kalau dia benar-benar marah terhadapmu, dia tidak akan mengikutimu datang kesini.”


“Iya kah?” Serena mengangkat wajahnya menatap Ralphie.


Ralphie mengangguk, “Iya.”


Serena mengiyakan kemudian berkata, “Kita sudah berada disini terlalu lama, ayo naik.”


“Oke.”


Tidak dapat dihindari, keterlambatan Ralphie dan Serena menarik perhatian setiap orang.


“Kenapa datangnya lama sekali, aku pikir kalian pergi menikmati waktu suami istri kalian.”

__ADS_1


“Ckckckck, so sweet, benar-benar membuat iri setiap orang.”


……


‘Dunia milik berdua, bermesra-mesraan’, kata-kata ini meskipun adalah sebuah candaan, tetapi membuat Serena tidak mampu menjawab perkataannya, membuat muka nya yang bening itu perlahan memerah. Sedangkan Ralphie hanya melihat Serena sekilas, kemudian berkata pelan, “Jadi kalian mengundangku hanya untuk mendengar kalian berkata seperti ini?”


“Tentu bukan.” Isa dan yang lain serempak menjawab.


Ralphie tidak berkata-kata, hanya mengiyakan lirih.


Isa saking canggungnya sampai mengusap hidungnya yang tidak gatal itu, “Kita sebenarnya akan bermain Mahjong, tetapi….”


Ralphie seketika menatap tajam Isa, Ryan, Lacey mereka bertiga, ingin bermain Mahjong tetapi kurang satu orang.


Ralphie menggerakkan matanya dan menatap ke arah Serena, “Kamu mau ikut main tidak?”


Serena terdiam kemudian menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bisa main.”


Ralphie mengiyakan mengerti, kemudian beranjak dari tempat duduknya: “Kita pulang saja.”


Melihat Ralphie dan Serena yang akan pergi, Isa dan yang lain menjadi tegang.


Jangan bercanda, mereka bertiga sudah menunggu lama, hanya karena Serena tidak bisa main Mahjong jadi memutuskan untuk pergi begitu saja?


“Kalian jangan pergi.”


“Mengajarinya?” Ralphie mengerutkan alisnya, sepertinya sedikit tertarik.


Lacey merasa Ralphie sudah mulai terbujuk, dan kemudian menambahkan, “Ayo lah Serena, biarkan kakak Ralphie mengajarimu.”


“Eh tidak usah.” Ralphie mengajarinya? Serena merasa sebaiknya lebih baik tidak menerima tawaran mereka.


Kemudian Isa dan yang lain menyadari bahwa jika Serena tidak ikut bermain, maka Ralphie akan segera pergi, jadi mereka dengan sekuat tenaga membujuk Serena.


Tidak bisa menolak ajakan mereka bertiga, Serena dengan sedikit berat hari duduk didepan meja Mahjong.


Ralphie menarik kursi dan duduk disampingnya.


Serena dari dulu sama sekali belum pernah bermain Mahjong, selain melempar dadu dan mengambil kartu, dia cara menata posisi Mahjong pun tidak tahu.


Menatap barisan tile atau balok mahjong dan beberapa lainnya membuat Serena terdiam. Dia malah memalingkan wajah dan menatap Ralphie, “Lebih baik kamu saja yang main, aku benar-benar tidak bisa.”


“Tidak apa-apa, aku akan mengajarimu.” Ralphie berkata sambil tangan kanannya memegangi kursi Serena, dan tangan kirinya menata balok-balok mahjong yang ada didepannya.


Sebelumnya karena jarak yang terbilang cukup jauh Serena merasa biasa saja, tetapi sekarang saat Ralphie duduk mendekat, dan aroma nafasnya yang segar dan sangat khas tiba-tiba terhembus dan tercium oleh indera penciuman Serena, membuat sekujur tubuhnya menjadi sangat grogi, detak jantungnya menjadi tidak karuan.


Ralphie sudah selesai menata balok mahjongnya, melihat Serena yang terdiam tidak bergerak kemudian bertanya, “Kamu kenapa?”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Serena menggelengkan kepalanya.


Ralphie memalingkan wajahnya menatap Serena sekilas dan kemudian mengingatkannya, “Ambil kartumu.”


Serena menyaut, dan dengan nurut mengambil kartu bagiannya, kemudian Ralphie mengajarinya mengeluarkan sebuah kartu.


Pada awalnya Serena karena adanya Ralphie yang duduk disampingnya merasa sangat gugup, tetapi lama-lama jadi terbiasa.


Dua sejoli itu satu mengambil kartu yang satunya lagi memainkan kartu, kerja sama yang sangat kompak.


Terlebih lagi, kartu yang didapatkan mereka semuanya bagus-bagus, kecuali saat pertama kali main, Isa, Ryan dan Lacey berhasil memenangkan permainan, selanjutnya dimenangkan terus oleh Serena dan Ralphie.


“Heiheihei, kalian pasangan suami istri ini sekongkol untuk menghabisi kita bertiga ya? Permainan yang baru akan dimulai, saat Isa mengambil kartunya tanpa sengaja berteriak.


Ralphie melihat sekilas Serena yang sedang melempar dadu, kemudian mengerutkan matanya melirik ke arah Isa, “Kamu keberatan?”


“Aku mana berani.” Isa menyipitkan matanya menjawab.


Ralphie tidak menjawab lagi, matanya terfokus pada Serena yang sedang menata kartunya, kemudian mengajarinya membuka kartu, “Dua tile.”


Serena mengeluarkan dua tilenya itu, kemudian Isa segera tertawa dan mengyaut, “Akhirnya sampai giliranku juga, bagus sekali.”


Setelah itu Isa sambil kegirangan melempar satu tilenya, “Kartuku sangat bagus, buruan ambil kartu kalian.”


Ralphie mengamati Isa yang membuang dua tile nya sekilas, dan kemudian menatap Isa yang sedang tertawa keras, dengan ringan berkata, “Skak matt!”


“Kalah lagi? Oh tidak mungkin.” Isa berkata dengan ekspresi tidak percaya.


Ralphie tidak mengatakan apapun, malah Serena dengan nurutnya memperlihatkan kartu yang ada didepannya, membuat Isa terlihat semakin memanas.


“Gadis pintar, kamu menang lagi.” Setelah mengatakan hal ini Isa semakin memanas, “Ralphie, aku membuang dua tile malah kamu membuang satu tile memenangkannya, kamu sangat curang.”


Sebelum Ralphie sempat menjawab seakan melindungi Serena, Serena pun deluan berkata, “Melakukan hal ini adalah hal yang sangat lumrah dalam permainan mahjong.”


Setelah mendengar perkataan Serena membuat Isa makin tertegun, “Kalian berdua suami istri mempermainkanku.”


Ryan yang berada disebelahnya tertawa dan berkata, “Siapa yang menyuruh mereka dua sejoli bermain, kamu yang jomblo, apa mau mencari satu untuk membantumu menang juga?”


“Dengan terpaksa aku mengakui perkataanmu, aku benar-benar ada rencana seperti itu.” Isa menjawab dengan nada serius.


Ryan mengerutkan alisnya, “Kamu serius?”


“Bercanda.” Isa sambil memutar matanya berkata: “Kalian pikir aku bakal seberuntung Ralphie yang bisa menikah dengan orang yang dicintainya?”


Sayangnya orang yang dicintai Ralphie bukan Serena! Serena menurunkan pandangannya dan kemudian berdiri, “Aku mau permisi ke toilet.”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, tanpa jawaban menunggu jawaban yang lain, dia pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2