
Hello! Im an artic!
Ralphie terhening sejenak, baru paham apa yang baru saja di katakannya.
Dia meletakan barang yang ada di tangannya, berjalan menuju ke arah Serena dan duduk di sebelahnya,”Sini biar aku yang membantumu merangkainya.”
Hello! Im an artic!
“Kamu bisa?” Serena bertanya dengan wajah sedikit heran.
Ralphie tak berkata bisa, hanya berkata : “Biar aku coba-coba.”
Sebetulnya Serena mengira Ralphie mengatakan coba-coba adalah seperti dirinya yang tidak ahli dalam merangkai bunga, tapi tak disangka ternyata Ralphie dapat merangkai bunga dengan sangat indah.
Serena melihat sekejap vas bunga itu, itu adalah rangkaian bunga yang sungguh indah, lalu bertanya “Ralphie, bukankah kamu tak pernah belajar seni merangkai bunga? Bagaimana kamu bisa merangkai bunga yang begini indah?”
Hello! Im an artic!
“Dulu sewaktu pergi bersamamu ke pelajaran seni merangkai bunga, aku melihat sebentar.” Ralphie menjawab.
Perkataan Ralphie ini, sungguh menampar Serena.
Dia yang serius belajar seni merangkai bunga, sudah lama belajar dan masih tidak bisa. Tapi Ralphie yang hanya melihat menemaninya belajar malah lebih bisa.
Mungkin ini yang disebut dalam peribahasa perbedaan antara orang bertalenta dan orang yang tak berbakat.
Tapi, suaminya begitu hebat, seharunya dia juga patut bangga.
Serena juga berpikir demikian, mulutnya memuji,”Meskipun kamu yang berbakat, tapi kamu adalah milikku.”
Ralphie dengan lembut memencet ujung hidung Serena, menjawab : “Betul, aku adalah milikmu.”
Karena di Ruang kayu tidak ada televisi, maka setelah selesai merangkai bunga, Serena dan Ralphie naik ke ranjang beristirahat.
Udara memancarkan aroma wangi bunga, sangat berbeda dari suara alam di rumah, seperti lagu pengantar tidur, Serena dan Ralphie terlelap dengan cepat.
Terus sampai rangkaian suara gemerisik di luar membangunkan Serena。
Serena perlahan membuka matanya, duduk dan menegakan tubuhnya.
“Terbangun karena berisik ya?” Terdengar suara rendah Ralphie.
Serena mengucek-ngucek matanya, bertanya,”Suara apa begitu berisik?”
“Di luar hujan deras.”Ralphie menjawab.
Serena terdiam sejenak, kemudian seakan teringat dan bertanya,”Hujan deras, Rumah kayu ini tidak bocorkan?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Serena, Ralphie sedikit tertawa, “Tidak akan bocor.”
“Baguslah kalau begitu, kita lanjutkan tidur saja.” Serena menarik Ralphie sambil menguap.
Ralphie’Emm’merespon, membuka selimut dan naik ke ranjang.
Sebenarnya Ralphie dan Serena mengira, hujan deras ini sebentar saja akan berhenti.
Tapi tak disangka, hari kedua mereka bangun hujan deras masih belum berhenti, lagipula melihat hujan yang seperti ini tak akan reda dalam waktu yang singkat.
Karena hujan tadi malam, taman itu sangat berlumpur.
Ralphie dan Serena bahkan tidak bisa kembali ke rumah.
Mereka harus menunggu di pondok kayu sampai hujan reda baru bisa kembali.
Kecuali untuk tiga kali makan sehari, butuh para pelayan di rumah melewati tanah berlumpur untuk mengantarkannya, Ralphie dan Serena tidak merasa hal buruk apapun.
Tak di sangka, hari ketiga sewaktu malam Serena mendadak demam tinggi.
Setelah Ralphie sadar Serena demam, dia sangat panik.
Segera menelepon Dokter Chen, memintanya datang.
Terus sampai 3 jam kemudian, Dokter Chen baru sampai, ada Felix yang datang bersamanya.
“Direktur Su……” Felix ingin membantu Dokter Chen menjelaskan.
Tapi Ralphie dengan dingin memotong perkataannya, “Diam.”
Felix tahu hati Ralphie penuh kegeraman, akhirnya menurut saja untuk diam.
Dokter Chen menjadi dokter khusus keluarga Su karena ia memiliki hubungan yang baik dengan Kakek Su. Ralphie membentaknya seperti itu, membuat ekspresinya agak tidak enak dipandang.
Baru setelah Felix mendorongnya, dia perlahan melepas sepatu yang sudah lusuh dari kakinya, membawa kotak obat, dan mengikuti Ralphie ke kamar tidur.
Sewaktu Dokter Chen memeriksa Serena, Ralphie terus menerus khawatir berjaga di samping kasur.
Selesai menunggu Dokter Chen memeriksa, dia segera bertanya, “Bagaimana keadaannya?”
“Demam tinggi 40 derjat.”Dokter Chen menjawab.
Ralphie terkejut dan berkata, “40 derajat, bagaimana bisa begitu tinggi?”
“Dikarenakan nyonya muda sedang hamil, tubuhnya sedikit lemah, jadi baru bisa demam begitu tinggi.”Dokter Chen menjelaskan.
Ralphie mengerutkan alisnya dan berkata, “Bagaimana caranya agar demamnya reda”
__ADS_1
Dokter Chen terdiam sejenak, lalu menjawab, “Nyonya Muda sekarang sedang hamil, tidak boleh minum obat pereda panas, hanya bisa menggunakan bahan pereda demam lainnya.”
Ralphie dengan terburu-buru berkata, “Bagaimana menggunakan bahan pereda demam?Cepat lakukanlah.”
“Menggunakan alkohol medis……” Dokter Chen berkata sambil mengeluarkan sebotol alkohol dari kotaknya, lalu melanjutkan, “Membasuh tubuh Nyonya Muda menggunakan alkohol, sangat ampuh untuk menurunkan demam.”
“Hmm,” Ralphie menganggukan kepala dan mengambil alkohol tersebut dari tangan Dokter Chen.
Sedangkan Dokter Chen merapikan kotak obatnya, dan keluar dari kamar bersama Felix.
Sesampainya di luar, Felix memohon maaf pada Dokter Chendan berkata, “Dokter Chen, tadi itu suasana hati Direktur Su sedang kurang baik, maka itu dia membentak Anda, mohon dimaklumi. ”
Dokter Chen mengerti dan menganggukan kepala, “Saya sangat memaklumi Direktur Su, beliau sangat mencemaskan Nyonya Muda.”
“Baguslah,” Felix menghela napas dengan perlahan, kemudian bertanya, “Dokter Chen, Kondisi Nyonya Muda seperti ini, bolehkah dipindahkan ke rumah?”
“Antarkan saja kembali ke rumah, di pondok ini terlalu lembab, tidak baik untuk penyembuhan Nyonya Muda,” Dokter Chen menjawab.
“Kalau begitu aku akan segera mengurusnya,” Felix terdiam sejenak lalu berkata, “Mungkin akan membutuhkan Dokter Chen untuk tinggal disini dulu.”
“Sebelum Nyonya Muda turun demam, aku tidak dapat pergi.”Dokter Chen menjawab.
“Kalau begitu maaf merepotkan.”Felix menjawab.
“Tidak merepotkan.”
Efek antipiretik alkohol sangat baik, Serena segera terbangun dan demamnya turun.
“Serena, kamu sudah bangun? Apakah ada yang tidak nyaman?” suara Ralphie terkejut.
“Kepalaku sakit …” Serena mengerutkan kening, duduk, lalu menyadari bahwa dia tidak di pondok, tetapi di rumah, dia kebingungan, “Bagaimana bisa kembali ke rumah? Bukankah kita ada di pondok? ”
“Kamu tiba-tiba demam tadi malam dan aku membawamu kembali ke rumah,” Ralphie mendengarnya, lalu bertanya, “Sakit kepala? Aku akan pergi panggil Dokter Chen.”
“Tidak perlu……”Serena belum selesai berkata.
Ralphie sudah pergi meninggalkan kamar, kemudian tidak sampai 3 menit, Dokter Chen dengan menjinjing kotak obatnya segera masuk.
Dokter Chen sambil memeriksa Serena, sambil bertanya, “Nyonya Muda, Selain sakit kepala, adakah perasaan tidak nyaman lainnya?”
“Dadaku sedikit sakit,” Serena menjawab。
“Sakit kepala dan sakit dada adalah gejala lanjutan dari demam tinggi, minum lebih banyak air perlahan-lahan akan meredakannya.” Dokter Chen berhenti dan melanjutkan: “Suhu tubuh Nyonya Muda sekarang telah turun, dan jika dia tidak naik lagi, berarti sudah normal.”
“Baiklah, Terima kasih dokter Chen.” Serena dengan sopan berterima kasih.
“Nyonya Muda tidak perlu sungkan, ini sudah jadi kewajiban saya.” Dokter Chen menggelengkan kepala, kemudian berkata kepada Ralphie: “Direktur Su, saya ada di lantai bawah, jika ada masalah anda bisa segera memanggil saya.”
__ADS_1
“Baiklah……”