
Hello! Im an artic!
Serena mengerutkan keningnya melihat Ralphie yang tidak memberikan respon sama sekali.
Apa mungkin Ralphie tidak menginginkan anak?
Hello! Im an artic!
Dulu ketika dia mengalami keguguran, Ralphie tidak percaya.
Serena melihat Ralphie yang terdiam melamun, kemudian berkata, “Ralphie, kamu…”
Tetapi sebelum dia selesai berbicara, Ralphie berkata, “Serena, apa yang barusan kamu katakan?”
Serena terdiam sebelum menjawab, “Aku tidak bisa makan kepiting karena aku hamil.”
Hello! Im an artic!
Kali ini Ralphie seperti orang bodoh hanya tertegun memandang Serena.
Serena mengerutkan kening, dan baru saja ia mau bicara, Ralphie dengan lembut berkata, “Serena, kamu hamil?”
Mendengar pertanyaan Ralphie, Serena merasa bodoh.
Bukankah dia sudah memberitahunya berkali-kali, dia masih tidak mengerti?
Tapi dia dengan polos masih menganggukkan kepala, “Iya.”
Sedetik setelah mendengar jawaban Serena, Ralphie langsung menghampirinya.
Serena belum sempat menanggapi, Ralphie langsung menggendongnya dan berputar-putar di ruang tamu.
Serena yang tiba-tiba dikejutkan oleh gerakan Ralphie, “Ralphie, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku…”
“Tidak mau!” Ralphie begitu gembira? Bagaimana bisa melepaskannya?”
Begitu tahu Ralphie merespon dengan semangat! Serena dalam hati merasa sangat senang, tapi dia khawatir luka Ralphie akan terbuka, sambil berusaha turun ia berkata, “Ralphie, turunkan aku, lukamu belum benar-benar sembuh…”
Ralphie sebenarnya ingin terus merangkul Serena dalam gendongannya, tapi Serena ngotot ingin ia melepaskannya, akhirnya Ralphie terpaksa pelan-pelan menurunkannya di sofa.
“Serena, aku sangat senang…”
Bagaimana bisa dia tidak senang? Ini adalah anaknya dengan Serena.
__ADS_1
Sejak Serena keguguran anak pertama mereka karena Bibi Bella, Ralphie terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyalahkan dirinya karena dari awal tidak mengetahui kalau Serena hamil, menyalahkan dirinya karena tidak menjaga Serena dan anaknya dengan baik.
Itu adalah darah daging mereka, buah hati mereka.
Tapi tidak peduli bagaimanapun ia menyalahkan dirinya sendiri, anak itu juga sudah tidak bisa kembali.
Sudah berkali-kali ia menanti-nantikan, kapan mereka bisa punya anak lagi?
Tidak menyangka hari yang dinanti-nantikan tiba begitu cepat.
Dia sangat bahagia, sampai tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya.
“Ya, aku juga senang.” Serena mengangguk.
Ralphie tersenyum dan bertanya, “Serena, apa yang harus kulakukan? Aku terlalu senang dan tidak bisa menahannya.”
Terlalu bersemangat? Apakah masih ingin menggendongnya? Tidak, tentu tidak boleh.
Serena mengerutkan bibirnya dan berkata, “Bagaimana kalau kamu keluar sebentar?”
“Baiklah.” Ralphie mengangguk, lalu tanpa sepatah kata pun ia berbalik dan bergegas keluar dari vila.
Pelayan dari dapur yang melihat Ralphie bergegas keluar dari vila pun terkejut. Sebelum ia sempat bertanya ‘Tuan, kamu kenapa?’, Ralphie sudah menghilang dari hadapannya seperti ditiup angin.
Begitu sampai di pintu gerbang, ia melihat Ralphie berhenti di halaman.
Dia berjalan kesana kemari di halaman vila.
Tuan muda sedang apa? Pelayan itu melihat Ralphie dengan penuh kebingungan.
Ralphie tidak menghiraukan pelayan itu dan berputar-putar di halaman.
Dia sangat bersemangat, terlalu bersemangat sampai harus menenangkan diri sejenak untuk pelan-pelan mencerna berita ini.
Ya Tuhan! Dia dan Serena punya anak!
Itu adalah anak mereka berdua, buah hati mereka…
Ralphie tidak sabar untuk memberitahu semua orang tentang kabar gembira ini, sama seperti dulu waktu dia dan Serena mendapat restu.
Namun, kali ini Ralphie tidak memberitahu di Weibo.
Dia langsung menelpon.
__ADS_1
Yang pertama diteleponnya adalah Ryan.
Ketika teleponnya berbunyi, Ryan sedang rapat.
Awalnya dia tidak ingin mengangkat telepon, tapi ketika melihat di layar ponselnya Ralphie yang menelepon, dia berhenti sejenak untuk menjawab telepon Ralphie.
“Ralphie, ada apa?
“Ryan, aku punya anak!” Ralphie dengan bangga mengumumkannya kepada Ryan.
Anak? Ralphie baru tahu Serena hamil? Ryan melontarkan pertanyaan ini dalam benaknya, dan kemudian berkata, “Maksudmu Serena hamil? Aku sebelumnya sudah tahu.”
Sebelumnya sudah tahu? Bagaimana bisa dia sudah tahu?
Ralphie tidak merespon, tapi dia sudah menutup telepon, kemudian menghubungi Isa.
Ketika telepon berdering, Isa sedang memilih durian di supermarket.
Ternyata sejak hamil, Claudia jadi suka makan durian. Setiap hari ketika pulang ke vila Ralphie, dia membawakan satu untuk Claudia.
Tangan kirinya memegang durian yang baru saja dipilihnya, tangan kanan mengambil ponsel dari sakunya dan menjawab telepon, “Ralphie, aku lagi di supermarket, ada apa?”
“Isa, aku punya anak.” Ralphie berhenti sejenak, dan mengingat perkataan Ryan barusan, “Tadi aku menelpon Ryan, dia bilang dia sebelumnya sudah tahu? Kenapa bisa? Aku baru tahu, tapi dia sudah lebih dulu tahu…”
Ketika Isa mendengar Ralphie berkata bahwa dia baru tahu, Isa hilang kendali, tangannya lemas, dan durian yang dipegangnya jatuh mengenai kakinya.
“Aw…” seru Isa kesakitan, sambil menjawab, “Ralphie, soal kehamilan Serena, saat kamu hilang kontak di Gurun Sahara, kami semua sudah mengetahuinya. Kalau bukan karena Serena hamil saat itu, ingin menjaga anakmu yang dikandungnya, kami khawatir dia tidak bisa selamat setelah mendengar berita kamu hilang. Jadi tolong, jangan pakai berita ini untuk mengagetkanku sampai aku menjatuhkan durian, sekarang kakiku sangat sakit…”
Isa masih mengeluh tentang kakinya yang terkena durian, sementara Ralphie melamun, di pikirannya hanya terngiang kalimat yang baru saja diucapkan oleh Isa, “Saat kamu hilang kontak di Gurun Sahara, kami sudah mengetahuinya. Kalau bukan karena Serena hamil, kami khawatir dia tidak bisa selamat setelah mendengar berita kamu hilang.’
Setelah kembali sadar, Ralphie dengan tenang bertanya, “Saat itu Serena bagaimana?”
Isa tampaknya ketakutan dengan cara berbicara Ralphie yang tiba-tiba berubah, setelah beberapa detik diam, dia menggambarkan situasi Serena saat itu kepada Ralphie, “Setelah Serena mendengar berita tentang kehilanganmu…”
Setelah Isa melontarkan kalimat terakhir, Ralphie langsung menutup telepon dan bergegas ke dalam dengan tergesa-gesa, tanpa sama sekali mempedulikan ekspresi pelayan di pintu gerbang.
Di ruang tamu, Serena sedang duduk di sofa sambil makan stroberi dan menonton TV.
Ralphie segera menghampiri Serena dan berjongkok di hadapannya, matanya sejajar dengan Serena, kemudian ia membuka mulutnya meminta maaf pada Serena, “Serena, maafkan aku.”
Maaf, karena aku telah membuatmu takut dan khawatir.
Maaf, karena aku membiarkanmu sendirian mengetahui kemungkinan aku meninggal, tapi demi anak kita, kamu memilih untuk tetap bertahan..
__ADS_1