I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 306 Tidak Ingin Melihatmu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Jangan ikuti aku lagi, aku tidak mau ada hubungan apa-apa lagi denganmu……


Mendengar kalimat ini, Serena tercengang.


Hello! Im an artic!


Ralphie tidak mau dia mengaku salah, dia tidak mau mendengar penjelasannya, dia tidak mau diikuti lagi, tidak mau ada hubungan apa-apa lagi dengannya.


Ternyata dia begitu menunggu waktu mereka akan berjumpa, tapi tidak disangka, Ralphie sedikit pun tidak ingin bertemu dengan dia.


Serena hanya bisa melihat Ralphie keluar dari lift, berjalan ke koridor.


Saat pintu lift mulai tertutup, Serena baru tersadar, lalu pelan-pelan keluar dari lift.


Hello! Im an artic!


Melihat Ralphie sedang berada di pintu ruangan ujung koridor, sambil memegang kartu kunci pintu, Serena tidak bisa berjalan menghampiri dia.


Saat itu, hpnya berdering.


Dia melihat bayangan Ralphie masuk ke dalam pintu, lalu mengeluarkan hpnya dan mengangkat panggilan masuk itu.


“Halo?”


Terdengar suara Felix, “Nyonya?”


Serena hanya membalas dia dengan suara ‘En’.


Terdiam selama dua menit, Felix bertanya dengan hati-hati, “Apakah anda sudah menemukan Direktur Su?”


“Sudah ketemu.” Serena menjawab sambil melihat ke arah pintu kamar Ralphie.


Mendengar Serena sudah menemukan Ralphie, Felix menghela napas, “Nyonya baik-baik berbicara dengan Direktur Su, aku sudah membantu anda memberikan penjelasan ke Guru Kitty, anda tidak perlu cemas.”


“Baiklah, terima kasih.” Serena tidak bisa menahan air matanya, sambil berterima kasih ke Felix.


“Nyonya tidak perlu sungkan, anda hanya perlu berbaikkan dengan Direktur Su sudah bagus.”


“Aku sudah berusaha…….”


Setelah selesai bertelpon dengan Felix, Serena sudah berpikir lama, lalu pergi mengetok pintu kamar Ralphie.


Tapi Ralphie tidak membukakan pintu.


Serena sudah menunggu di depan pintu selama beberapa belas menit, lalu dia membalikkan badan dan pergi.

__ADS_1


Ralphie yang sedang berada di dalam, mendengar langkah kaki kepergian dia, menghela napas lega.


Tapi dia tidak mengira, tidak sampai lima menit, diluar terdengar lagi suara.


Serena berkata dengan sopan ke pelayan disana: “Nona, tolong bantu aku bukakan pintu ini, aku lupa membawa kartu pintu.”


Pelayan hotel tidak langsung membantu Serena membukakan pintu, tapi menanyakan apakah dia sudah mendaftar atau belum, “Nona, tolong beritahu aku apakah anda sudah mendaftar atau belum?”


Sudah mendaftar atau belum? Serena berpikir sebentar, lalu memberitahukan nomor KTP Ralphie dan dia bertanya dengan suara kecil, “Ini?”


“Betul, nona, aku akan segera membukakan pintunya untukmu……” Pelayan hotel itu belum selesai berbicara, pintu kamarnya sudah terbuka dari dalam, Ralphie berdiri di belakang pintu dengan wajah dingin.


Serena menutupi lehernya, lalu berkata dengan sopan ke pelayan hotelnya: “Maaf nona, aku tidak tahu di dalam kamar ada orang, maaf sudah menyusahkanmu.”


“Tidak apa-apa.” Nona pelayan dengan senyuman menggelengkan kepalanya, lalu pergi.


Setelah menunggu pelayan itu pergi, Serena melihat Ralphie, “Ralphie, maaf, sudah menganggumu.”


Ralphie tidak berkata apa-apa, dia langsung menutup pintu di hadapan Serena.


Serena sudah menduga dia akan begini, dia sudah siap-siap saat dia akan menutup pintu, dia akan dengan cepat masuk ke dalam.


Ralphie dengan dingin berkata: “Keluar.”


“Kita bicarakan baik-baik ya?” Serena sedikit pun tidak takut dengan aura dingin Ralphie, dia menatap langsung ke arah dia.


“Ralphie, aku tahu kamu masih marah denganku, tolong berikan aku sedikit waktu, biarkan aku jelaskan……”


“Aku sudah bilang, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa kepadaku.” Ralphie dengan tidak sadar menyela perkataan Serena, lalu berkata lagi dengan dingin: “Dan juga tolong kamu segera pergi, atau tidak aku akan memanggil penjaga keamanan hotel untuk datang, untuk mengusirmu keluar.”


Ralphie berkata sambil mengeluarkan handphone dari kantong celananya, menelpon orang, lalu memberitahukan orang itu ada yang mengganggu dia, meminta pihak hotel yang mengurus.


Serena melihat Ralphie benar-benar memanggil petugas keamanan hotel untuk datang, dia menjadi panik.


“Ralphie, aku bukannya sengaja tidak pergi ke Shadewoods Manor……”


Mendengar Serena berkata Shadewoods Manor, wajah Ralphie menjadi murung.


“Kamu diam.”


Serena mana mungkin bisa diam? Dia mengangkat kepalanya, melihat ke Ralphie sekali lagi: “Aku bukannya sengaja tidak pergi ke Shadewoods Manor, aku ditahan oleh Bella……”


Perkataan terakhirnya, sekali lagi disela oleh Ralphie, “Aku sudah bilang kamu diam, apakah kamu tidak dengar?”


Ralphie melihat ke arah Serena, tatapannya seperti tatapan setan dari neraka, penuh dengan rasa kesal dan kegalakkan.


Serena menjadi ketakutan, dia ingin berbicara, tapi Ralphie lebih cepat berbicara duluan.

__ADS_1


“Aku tidak ingin mendengarmu berbicara, tidak ingin melihatmu lagi.”


Selesai mengatakan kalimat itu, Ralphie mengangkat tangannya, lalu mendorong Serena dengan penuh tenaga.


Serena tidak siap menerima dorongan itu, kakinya terkilir lagi, lalu terjatuh ke lantai.


Ralphie tidak melihat dia sama sekali, dia langsung membalikkan badan dan menutup pintu.


Kali ini dia memang sudah harus pergi! Kali ini dia memang harus menyerah saja!


Ralphie bersandar di pintu dan perlahan terduduk di lantai di belakang pintu.


Setelah dia duduk disana untuk beberapa lama, Ralphie mengeluarkan hpnya dari kantor celananya, tapi bukan handphone yang dia pakai untuk menelpon tadi, handphone dia yang ini sama persis dengan yang dimiliki Serena.


Dia menyalakan handphone itu, yang menarik perhatiannya adalah foto wallpaper yang dia pasang, foto Serena memeluk boneka kayu.


Ralphie menatapi foto itu untuk beberapa saat, lalu dia menekan hpnya masuk ke halaman utama.


Di layar bagian paling atas menunjukkan baterainya penuh, tapi tidak ada kartu SIM yang terpasang.


Benar, ini adalah handphone lama Serena.


Menunggu di Shadewoods Manor dua hari satu malam, setelah Serena tidak datang-datang, dia membuang kartu SIM-nya, hanya menyimpan hpnya, mengisi baterainya, setiap hari membuka handphone ini untuk dilihat, memaksa diri sendiri untuk mengingat rasa sakit yang di berikan Serena, memaksa diri sendiri melupakan Serena.


Jari tangannya gemetaran, Ralphie membuka halaman pesan singkat.


Pesan di dalam halaman itu semuanya sudah pesan dari sebulan lebih lalu, pesan yang dia kirim ke Serena.


Ralphie perlahan menggeser halaman handphone, sampai ke pesan paling bawah.


“Serena, kamu sudah melihat pesanku, kenapa tidak membalas? Kenapa mematikan handphone mu lagi? Apakah kamu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan aku dan percaya dengan Bella?”


“Ralphie, mulai dari sekarang, kamu tidak perlu mencariku lagi!”


Semenjak dia menikah, dia terus berharap, berharap suatu hari mereka bisa bersama.


Dia terus berusaha, berusaha berperilaku baik terhadap dia.


Serena tidak menyukai dia, tidak masalah, dia diam-diam menyukai dia sudah baik.


Serena tidak percaya dengan dia, tidak masalah, dia percaya dengan Serena sudah baik.


Dia bisa terus menunggu Serena, bisa menunggu sampai selamanya.


Hanya mau dia baik, hanya mau dia senang.


Tapi pada akhirnya Serena memberikan dia satu kalimat, mulai sekarang, jangan mencari dia lagi…

__ADS_1


__ADS_2