
Hello! Im an artic!
Semenjak memulai komunikasi lewat pesan singkat dengan Ralphie, Serena terbiasa berbalas pesan singkat dengannya.
Awalnya berpikir mati-matian demi topik pembicaraan, setelah itu perbincangan menjadi semakin santai dan terbiasa.
Hello! Im an artic!
Beberapa hari ini, Serena tidak berkomunikasi dengan Ralphie, karena Ralphie sudah memberitahunya sejak awal bahwa dia akan ke Negara M selama 1 minggu.
Serena takut mengganggunya jika mengirimkan pesan singkat.
Setiap hari dia memandangi kalender, 5 hari lagi Ralphie pulang, 4 hari lagi, 3 hari lagi….
Serena merasa dirinya telah teracuni, setiap hari tidak terlepaskan.
Hello! Im an artic!
Jika Halle tidak sedang sibuk mengurusi sebuah desain, mungkin dia sudah dimarahi habis-habisan oleh Serena.
Jam 5 pulang kerja dengan tepat waktu, Serena keluar dari kantor dengan ekspresi lemas dan tidak bersemangat.
Baru saja sampai di depan pintu kantor, Ralphie mengirimkan pesan singkat.
Dengan segera Serena membuka pesan itu, “Saya di Seberang jalan.”
Serena kaget dan langsung mengangkat kepala, terlihat sosok yang dia kenal di depan sana.
Ralphie memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, dengan gaya santai bersandar di mobil.
Karena kebetulan dari depan terpancar sinar matahari senja, Serena tidak bisa melihat jelas ekspresi wajah laki-laki itu.
Hanya terlihat pakaian kemejanya yang kusut dan lengan baju yang digulung tidak beraturan. Dengan penampilan seperti itu, membuat Ralphie terkesan lebih dingin dan cuek, ditambah keusangan dalam dirinya..
Serena dan Ralphie saling memandang menembus keramaian mobil yang tidak berhenti lewat.
Entah 10 hari, atau 3 hari, saat bertemu Ralphie, Serena selalu merasa jantungnya berdebar.
Bahkan di saat itu juga Serena mengira dirinya sedang berkhayal.
Bukannya dia sedang di Negara M? Bukannya 3 hari lagi baru pulang? Kenapa dia ada disini?
__ADS_1
Serena menekan telapak tangannya dengan keras, sakit yang menusuk menjalar hingga ke otak.
Dengan begini dia baru sadar bahwa semua ini adalah nyata.
Ralphie sungguh sudah pulang!
Belakangan ini, Serena selalu kepikiran Ralphie, saat benaran bertemu dengannya, Serena baru sadar betapa besar rasa rindunya kepada Ralphie….
Ralphie juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi, jelas-jelas kontrak dengan Grup Finansial LM harus berlangsung 1 minggu.
Akhirnya dia terus merasa hatinya hampa tak bersemangat.
Dan memutuskan setelah pekerjaan persiapan telah dikoordinasikan, dia menyerahkan pekerjaan sisanya kepada Felix dan pulang lebih awal.
Setelah turun pesawat, dia segera kembali ke kediamannya, dengan membawa semua rasa penat dan keusangan, dan tiba-tiba sampai ke kantor Serena.
Dia sudah sampai sejak jam 4, tetapi sama sekali tidak buru-buru dan menunggu 1 setengah jam lagi.
Dan pada saat jam setengah 6 telah tiba, dia pun sudah tidak tahan duduk di dalam mobil, langsung keluar..
Melihat Serena keluar dari kantor, Ralphie langsung mengirimkannya pesan.
Melihat Serena membaca pesan dan melihat ke arahnya, hatinya yang lelah dan pikiran yang penat itu seketika menghilang dan lega semua.
“Kamu sudah kembali!” Serena menatap Ralphie dengan cemas.
Ralphie hanya menunjukkan ekspresi datar, “Iya, baru turun pesawat.”
Baru turun pesawat langsung kesini! Ujung jadir Serena bergetar, kemudian lanjut bertanya dengan pelan, “Pasti capek ya?”
“Tidak terlalu.” Ralphie menjawab dengan santai dan pelan.
Serena memandang wajah yang letih itu, pelan-pelan hatinya merasa sakit, bulu matanya berkedip dan berkata: “Sudah naik pesawat hampir 20 jam masih bilang tidak capek? Kamu kira kamu terbuat dari baja? Dan tidak perlu istirahat?” Saat mengatakan kalimat akhir, terdengar nada bicara Serena semakin tinggi dan seolah mengomelinya.
Ralphie mendengar omelan Serena dengan diam, sama sekali tidak merasa kesal, malah merasakan suatu perasaan yang aneh di dalam hati.
“Lalu, kamu masih menyetir mobil kemari…”
Setelah selesai berkata, Serena langsung membuka pintu mobil di sebelah supir, dan berkata: “Naik.”
Ralphie melihatnya dengan bingung.
__ADS_1
Serena berkata dengan marah: “Menyetir saat lelah sangat berbahaya, saya antar kamu pulang saja.”
Ralphie menatap wajah kecil Serena, tiba-tiba melihat wajahnya tidak pernah selucu saat ini…..
Dia ingin mengantar Ralphie pulang? Ide yang sangat bagus! Ralphie membungkukkan badan dan naik ke atas mobil.
Serena menutup pintu mobil dan berputar hingga ke bagian supir, dia naik mobil, bertanya sambil menghidupkan mesin, “Kamu tinggal dimana?”
“Shadewoods Manor.” Ralphie menyampingkan kepala, melihat Serena sekilas dan baru menjawab.
Serena dari awal sudah menebak Ralphie adalah orang kaya, jadi saat mendengar dia tinggal di kawasan villa di Shadewoods Manor, sama sekali tidak merasa heran.
Serena menjawab “Oh” dan langsung fokus menyetir, tidak berkat apapun lagi.
Ralphie dengan mata yang hampir tertutup terus melihat ke luar jendela, entah apa yang dipikirkannya.
Satu jam kemudian, sampailah mobil di Shadewoods Manor.
Sesuai dengan arahan Ralphie, mobil pun berhenti di depan villanya.
Kemudian keduanya sama-sama turun dari mobil.
Serena melihat sekilas villa di depan matanya, kemudian berbalik melihat Ralphie.
“Sudah sampai!” Serena diam-diam merasa sedih dan kecewa, Ralphie sudah sampai dan berarti dia sudah harus pergi.
Ralphie menjawab “Iya”, kemudian menambahkan: “Terima kasih sudah mengantarku.”
Serena menghirup nafas dalam, berusaha menekan rasa sedihnya dan memaksakan diri tersenyum kepada Ralphie: “Tidak apa-apa, sudah seharusnya.”
Serena terpaksa harus tersenyum, kemudian menundukkan kepalanya.
Ralphie menangkap ekspresi pada wajah Serena, mungkin hanya perasaannya saja, dia merasa Serena sangat sedih, sangat kecewa.
Ralphie mengangkat tangan dan akan membelai rambutnya.
Tetapi tangannya baru di angkat setengah, Serena pun mengangkat kepala, dan saat melihat tangan Ralphie, pandangan matanya terhenti sejenak, lanjut berkata: “Saya sudah harus pulang, ini kunci mobilmu.”
Serena mengambil kunci mobil di telapak tangannya dan meletakkan di tangan Ralphie yang baru diangkat.
Ralphie melihat kunci mobil di tangan Serena, tetapi sedikitpun tidak ingin mengambilnya.
__ADS_1
Tangannya kaku dan membeku disana, pandangan mata tertuju pada kunci mobil dan terdiam selama beberapa detik tanpa berkedip, baru berkata: “Baiklah.”