
Hello! Im an artic!
Mengobrol di ruang kerja Ralphie membuat pikiran Serena terbuka, setidaknya hubungan keduanya tidak se- akward dulu.
Badai salju membuat mereka terperangkap di Kyoto.
Hello! Im an artic!
Beberapa waktu ini, dalam pengawasan Serena luka Ralphie juga mulai membaik, dan Ralphie sudah memulai mengurus keperluan grup Su yang akan meninggalkan Kyoto.
Grup Su sebagai perusahaan besar Internasional, kabar sekecil apapun akan menarik perhatian banyak orang.
Apalagi keadaan sekarang yang mana grup Su akan meninggalkan Kyoto, itu sama saja seperti meletakan bom ke atas permukaan danau yang tenang, hasilnya meledak-ledak tidak karuan.
Setiap pihak yang berpengaruh sedang menduga-duga, sebenarnya apa alasan Grup Su melakukan keputusan sepesar ini, apa yang mereka rencanakan?
Hello! Im an artic!
Orang berbondong-bondong menghubungi Grup Su, ingin mengetahui apa yang sebenarnya tujuan Grup Su melakukan ini.
Ralphie yang cerdas sudah sejak pagi mematikan ponselnya, tidak sama halnya dengan Felix, dia menjadi sasaran para pemburu berita.
Bukan hanya menjawab telepon sampai kesemutan, dia masih harus tanpa henti menjelaskan bahwa Direktur tidak ditempat, kalau ada urusan tunggu beliau kembali baru membicarakannya.
Saat dengan orang biasa, Felix dalam sekejap bisa menghadapinya, tetapi saat Direktur utama yang menghubunginya, dia tidak tau apa yang harus dilakukan.
Benar saja, saat Direktur utama menelponnya, Felix ketakutan sampai hampir menangis.
Direktur Su, Direktur utama mencari anda.” Felix melambaikan teleponnya, mengisyaratkan kepada Direkturnya yang sedang menikmati segelas susu diatas kursinya.
Jika sebelum Ralphie terluka ada seseorang memberitahu Felix bahwa Ralphie sudah tidak minum kopi, melainkan berganti menjadi minum susu, Felix akan memarahinya dan menampar keras-keras orang tersebut karena berkata sembarangan.
Saat Ralphie dirawat dirumah sakit, Felix melihat Ralphie selalu berada dibawah perintah Serena, dengan mengerutkan alisnya meminum susu, tetapi sampai sekarang, Ralphie malah terbiasa meminum susu dibanding meminum kopi seperti kebiasaannya sebelumnya.
Tidak bisa mengelaknya, Nyonya memang orang yang paling berkuasa, tidak disangka Nyonya mampu mengubah kebiasaan lama Direktur Su…. Ehemeheemm, ngelantur terlalu jauh, sekarang kembali ke masalah utama.
Mendengar Felix berkata bahwa Direktur Utama mencarinya, Ralphie sama sekali tidak merasa terkejut.
Bayangkan saja, karena handphone Ralphie mati, sejak tiga jam dari konferensi sampai sekarang, handphone terus berdering seperti akan meledak, keadaan Direktur utama mungkin lebih parah.
__ADS_1
Kakek telah menahan selama tiga jam saja sudah melebihi dugaan Ralphie, Ralphie mengira begitu dirinya melakukan keoferensi, kakek akan langsung menghubunginya mati-matian.
Ralphie segera mengambil hp dari tangan Felix, baru saja menempelkan hp di telinga, dan belum sempat berkata kakek, kakek langsung meneriakinya dengan sangat marah, “Ralphie, lain kali kalau mau melakukan hal semacam ini, bisa tidak berdiskusi dengan kakek tuamu ini? Aku setua ini tidak akan hidup lebih lama kalau masih kamu permainkan seperti ini.”
Mendengar suara kakek dari dalam telepon, ujung bibir Ralphie mulai terangkat.
Bagaimanapun dia adalah kakeknya, meskipun kadang-kadang sering merepotkannya dan membuat masalah, tetapi saat Ralphie sedang berada dalam masalah, walaupun dia tidak mengerti apa yang terjadi, kakeknya itu tetap masih mendukungnya.
“Lain kali akan aku perhatikan.” Suara Ralphie samar-samar menjawabnya.
“Sudahlah, kamu urus saja sendiri.” Setelah kerkata seperti itu, kakek bertanya seakan teringat sesuatu, “Oh iya, bagaimana keadaan Serena denganmu disana? Kalian kapan akan kembali ke kota A?”
“Dia baik-baik saja.” Kata-kata Ralphie terhenti dan kemudian melanjutkan, “Bandara Kyoto sudah memulai aktivitas penerbangannya kembali, tetapi aku harus mengurus sesuatu sampai sehari sebelum Imlek baru bisa kembali.
“Beberapa hari lagi sudah Imlek, sebelum Imlek kalian harus berkunjung ke rumah Serena…” kakek terdiam sebentar, “Kalau tidak kamu biarkan Serena kembali ke kota A terlebih dulu?”
Sehari sebelum Imlek mempelai pria harus berkunjung kerumah mempelai wanita untuk menyerahkan hadiah, ini adalah kebiasaan turun temurun.
Kalau bukan kakek yang mengingatkannya, Ralphie benar-benar melupakan hal ini.
Ralphie menaik turunkan bagian bawah matanya dan berkata, “Aku akan mengatur dia untuk kembali ke kota A hari ini atau besok.”
Serena duduk di sofa ruang tamu menonton televisi, menonton dengan sangat serius hingga tidak menyadari kedatangan Ralphie. Hingga Ralphie berada disampingnya dia baru menyadarinya.
“Ada masalah apa?” Serena bertanya dengan kaget.
Ralphie tidak panjang lebar langsung bertanya: “Kamu ingin kembali ke kota A hari ini atau besok?”
Kembali ke kota A? Serena mengedip-ngedipkan matanya bertanya, “Bukannya kamu harus mengurus sesuatu sampai sehari sebelum Imlek?”
Ralphie mengangguk pelan menjawab, “Kakek tadi menelpon, sehari sebelum Imlek, kita harus mengirim hadiah kerumah kamu.” Hal berikutnya Ralphie tidak menjelaskan lagi, dan Serena seketika mengerti maksud Ralphie.
Urusan Ralphie di Kyoto belum selesai, jadi dia terpaksa membiarkan Serena kembali sendiri ke kota A.
Serena sedikit menurunkan pandangannya berkata: Aku kembali nanti sore saja.”
Ralphie mengangguk pelan menjawab, “Aku akan menyuruh Felix untuk menyiapkan keperluanmu.”
“Terima kasih.” Serena menggangguk berTerima kasih.
__ADS_1
Ralphie menggeleng berkata “Tidak perlu sungkan,” dan kemudian berbalik pergi.
Tidak lama kemudian Felix datang memberitahu Serena bahwa dia sudah memesankan tiket untuknya dan akan mengantarnya ke bandara.
Setelah sejam kemudian Serena akan segera berangkat ke bandara, dan dia segera ke kamarnya membereskan barang-barangnya.
Barang yang dia bawa dari kota A tidak terlalu banyak, selain barang yang dia beli di Clover Plaza, dia datang hanya membawa satu tas miliknya.
Tetapi setelah sampai di Kyoto, Felix membelikannya begitu banyak baju.
Grup Su akan segera meninggalkan Kyoto, entah kapan lagi dia bisa datang kembali kesini.
Harga dari beberapa baju ini sangat fantastis, dibuang sedikit sayang, Serena akhirnya membawanya bersamanya.
Setelah selesai membereskan baju, sorot mata Serena tertuju pada kantong Counter Versace yang berada didalam laci meja samping tempt tidurnya.
Kemeja ini selalu dibawanya dari kota A, dan selalu tidak ada kesempatan untuk memberikannya kepada Ralphie, dan sekarang dia malah sudah harus kembali ke kota A…..
Serena di ruang tengah menggengam kantong itu, mempertimbangkan apakah akan memberikannya kepada Ralphie.
Entah sudah berlalu berapa lama, seseorang datang memberitahunya bahwa orang yang diutus Felix untuk mengantarnya ke bandara sudah datang.
Sebentar lagi akan kembali ke kota A! Serena menundukkan kepalanya dan melihat kantong yang dipegangnya sekilas, kemudian terburu-buru berlari ke arah ruang kerja Ralphie.
Saat Serena berada di depan ruang kerjanya, Ralphie sedang melakukan rapat melalui video, tidak ada waktu berpamitan dengan Serena, dan mengedipkan mata kepada Felix mengisyaratkannya untuk menemuinya.
Felix yang mendapatkan perintah segera keluar dari ruangan.
“Nyonya, Direktur sedang rapat, jika nyonya ada sesuatu yang ingin disampaikan bisa beritahu saya saja.”
“Tidak ada masalah apa-apa, kaau begitu maaf harus merepotkanmu untuk memberikan ini kepadanya.” Serena menyerahkan kantong yang berada ditangannya kepada Felix.
Felix tidak menyangka bahwa kantong ini yang berasal dari Ralphie berada ditangannya, dan dari tangannya kembali ke tangan Serena.
Dan sekarang Serena akan mengembalikan kantong ini ke Ralphie.
Kenapa jadi bolak-balik seperti ini, sebenernya apa yang mereka lakukan?
Felix masih tidak habis pikir dan terdiam beberapa saat, dan menerima kantong yang disodorkan Serena, “Baiklah.”
__ADS_1
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Serena tersenyum menganggukan kepalanya dan membalikan badannya segera pergi.