
Hello! Im an artic!
Ralphie menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya untuk melepaskan Serena. Ia bersandar di leher Serena sambil terengah-engah.
Setelah menekan hawa jahat dari dalam tubuhnya, Ralphie perlahan-lahan mengembalikan baju yang dikenakan Serena pada posisi semula.
Hello! Im an artic!
Saat itu Serena kembali tersadar, dan membayangkan apa yang dilakukannya dengan Ralphie tadi, wajahnya tiba-tiba memerah, dan kemudian dengan cepat menutup matanya, tidak berani melihat Ralphie.
Ralphie tersenyum, lalu mengulurkan tangannya dan memeluk Serena dengan lembut, “Dasar bodoh”.
Bodoh…. Serena menyentuh wajahnya dengan lembut, ia teringat akan bisikan Ralphie.
Dia pasti menyukainya, jika tidak mengapa dia menciumnya?
Hello! Im an artic!
Tapi barusan, dia jelas-jelas sudah… tapi kenapa tiba-tiba melepaskannya?
Serena terus memikirkannya hingga akhirnya ia tertidur….
Meski kakek bersikeras tidak ingin meninggalkan kota A untuk pergi berobat ke Swiss, tapi karena dibujuk oleh Serena dia pun akhirnya mau.
Keesokan paginya, Ralphie ke rumah sakit bertemu dengan Dokter Chen untuk membicarakan tentang proses pengobatan kakek di Swiss. Sorenya, ia kembali ke vila untuk menyiapkan barang bawaannya lalu mengantar kakek ke Swiss.
Serena yang mendengar Ralphie pulang, segera menghampirinya di kamar dan bertanya, “Bagaimana? Sudah bicara dengan Dokter Chen?”
“Iya, sudah. Sebentar lagi aku akan mengantar kakek ke Swiss.”
Serena terkejut dan terdiam, “Begitu cepat?”
“Ya, dokter bilang lebih cepat lebih baik.” Ralphie menjawab.
Serena mengangguk, “Oh ya, baiklah kalau begitu.”
Setelah terdiam beberapa saat, Ralphie seolah teringat sesuatu dan berkata, “Tunggu aku kembali dari luar negeri, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”
Ada sesuatu yang ingin dikatakan kepadanya? Kenapa harus menunggu setelah kembali? Serena melihat ke arah Ralphie sambil bertanya-tanya.
Seakan bisa membaca pikiran Serena, Ralphie memegang kedua pipi Serena dan berkata, “Ini hal yang penting, tunggu aku di rumah.”
__ADS_1
Mendengar Ralphie mengatakan bahwa ini adalah hal yang penting, Serena mengangguk, “Oke.”
“Bagus,” jawab Ralphie. Ia lalu mengemasi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
Serena berjalan mendekat dan berkata, “Sini aku bantu.”
Ralphie tidak menolak, ia menyerahkan pakaiannya pada Serena lalu dari belakang memperhatikan Serena membantu mengemasi barang bawaannya.
Bukannya malas, tapi keadaan seperti ini, di mana sang suami sebentar lagi akan pergi dan sang istri membantunya mengemas barang-barang bawaannya, sudah sejak lama di nanti-nantikan olehnya.
“Sudah tidak ada lagi.” Ralphie menggelengkan kepalanya.
“Oke.” Serena agak membungkukkan badannya untuk menutup koper.
Ralphie menaruh koper di bagasi belakang mobil, lalu menghampiri Serena yang berdiri di depan mobil, “Aku pergi dulu.”
“Iya, aku menunggumu kembali.” Serena mengangguk dan tersenyum.
Aku menunggumu kembali…. Bukankah merupakan kata-kata yang sangat indah, Ralphie tersenyum dan mengangguk, “Yah, jaga dirimu baik-baik.”
“Pasti, sampai jumpa.” Serena menjawab.
“Bye.” Ralphie mengangguk lalu naik ke mobil.
Seandainya Ralphie tahu, ia dari jauh-jauh hari akan membuat persiapan yang lebih matang, tapi sayangnya dia sendiri tidak menduga hal ini akan terjadi.
Dulu ketika Ralphie sedang dalam perjalanan bisnis, Serena pasti merindukannya. Tetapi tidak pernah serindu kali ini.
Serena mengaitkan ini dengan kenyataan bahwa hubungan mereka saat ini sudah lebih jelas.
Walau sangat merindukan Ralphie, tapi Serena tidak menghubunginya.
Hanya menghitung hari, menunggunya kembali.
Enam hari lagi…
Lima hari lagi…
Empat hari lagi…
Hari itu setelah pulang kerja, Serena menerima telepon dari Bibi Bella yang mengajaknya makan malam.
__ADS_1
Karena di rumah tidak ada siapa-siapa, ia pun setuju.
Setelah keluar dari kantor, ia meminta supir untuk mengantarnya ke tempat ia janjian dengan Bibi Bella, yaitu di Restoran The Waterfront Blossom.
Ketika keluar dari mobil, ponsel Serena berdering, saat mengambil ponsel dari dalam tasnya, ia tidak sengaja menabrak seseorang.
Serena sempat terdiam kemudian meminta maaf kepada orang itu, “Maaf, aku tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa, lagian kamu juga tidak sengaja.” Orang itu langsung memaafkannya.
Serena melihat seorang wanita muda di depannya dan juga meminta maaf, “Maaf.”
Saat itu, wanita muda itu dengan suara kecil berkata, “Oh, kamu.”
Mendengar wanita di hadapannya itu seperti mengenali dirinya, Serena dengan ragu bertanya, “Apakah kamu…mengenalku?”
“Aku adalah perawat di rumah sakit kota, beberapa waktu yang lalu kamu pernah di rawat di sana.” Wanita muda itu menjawab.
Serena menatap wanita itu, ia masih tidak mengingat, lalu bertanya lagi, “Maksud Anda, ketika aku menginap di rumah sakit kota karena sakit dismenore waktu itu?”
“Dismenore apa? Bukankah kau yang menjalani operasi aborsi?” Wanita muda itu bertanya dengan aneh.
“Operasi aborsi?” pikiran Serena menjadi kosong selama sepuluh detik, lalu ia bertanya, “Nona, apakah kamu salah ingat? Aku dirawat di rumah sakit karena dismenore, bukan karena operasi aborsi.”
“Salah? Bagaimana mungkin aku salah? Jelas-jelas ketika Dokter Chen melakukan operasi pada Anda, aku juga ikut membantu….” Setelah mengatakan itu, wanita muda itu seperti teringat sesuatu. “Nona, saya harus pergi. Anggap saja kamu tidak pernah bertemu denganku, dan aku tidak pernah bicara kepada Anda.”
Sementara pembicaraan itu belum jelas, bagaimana mungkin Serena membiarkan wanita itu pergi? Dia lalu memeluk wanita itu dan berkata, “Nona, bisakah kamu memberi penjelasan kepadaku?”
“Nona, maaf, aku tidak bisa. Dokter Chen meminta kami untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun. Aku harus pergi.” Wanita muda itu menjawab dengan cemas.
“Kamu beritahu aku, aku berjanji tidak akan memberitahukannya kepada siapapun, oke?” Serena memohon.
Wanita muda itu menatap Serena dan akhirnya setuju, “Baiklah.”
Serena menelpon Bibi Bella dan memberitahu bahwa dia ada urusan mendadak sehingga tidak bisa makan malam bersamanya. Kemudian ia membawa wanita itu ke sebuah kafe di dekat The Waterfront Blossom.
Serena memanggil pelayan dan memesan kopi, setelah itu ia mulai bicara, “Nona, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.”
Wanita muda itu mengangguk, lalu menjelaskan kejadiannya, “Malam itu Anda dibawa ke rumah sakit oleh seorang pria tampan, dia langsung mencari Dokter Chen dan memintanya untuk segera memeriksa Anda. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda sedang hamil usia sebulan lebih. Lalu pria itu meminta Dokter Chen untuk melakukan operasi aborsi. Setelah operasi berhasil, Dokter Chen meminta agar semua orang yang tahu tentang hal ini merahasiakannya.”
Mendengar wanita itu selesai bercerita, bahwa Ralphie meminta Dokter Chen untuk menggugurkan janin dalam kandungannya dan Dokter Chen menyuruh semua orang untuk merahasiakannya.
__ADS_1
Serena tidak percaya, ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak mungkin, kamu pasti sengaja membohongiku.”
Antara wanita yang tidak dikenalnya dan Ralphie, Serena tentu lebih memilih untuk percaya kepada Ralphie.