
Hello! Im an artic!
Kemarin Serena menangis dengan sangat hebat, matanya pun bengkak sekali, jadi sebelum ke kantor, Serena menyuruh Claudia membantunya menutupi mata bengkaknya dengan make-up.
Ketika hendak keluar dari pintu, Claudia dengan ragu-ragu melihat Serena dan berkata: “Serena, kalau tidak, hari ini kamu izin saja gimana? Menghindari kamu bertemu dengan…….”
Hello! Im an artic!
Serena tahu jelas maksud Claudia, dia takut ketika ia bertemu dengan Maggie di kantor nanti perasaannya akan menjadi tidak enak.
Memang mereka bekeja di ruangan yang berbeda tetapi itu tidak menutup kemungkinan dia akan bertemu dengan Maggie di kantor.
Terlebih lagi melihat Maggie wanita seperti itu, kalau kamu tidak pergi mencarinya, dia akan datang sendiri mencarimu.
Serena dari dulu tidak takut dengan Maggie, sekarang dia lebih tidak takut lagi dengannya.
Hello! Im an artic!
“Claudia, aku tidak apa-apa, aku pergi ke kantor dulu.” Serena pun pergi dan melambai-lambaikan tangannya pada Claudia.
Ketika sampai di kantor, seperti yang ia prediksikan, ia bertemu dengan Maggie.
Dia menyelesaikan gambar yang ada di tangannya, dia merasa sedikit haus dan beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu merenggangkan pinggangnya dan mengambil gelas yang ada di atas mejanya, berjalan menuju tempat ambil air.
Didalam ruang tempat ambil air, Maggie sedang ngobrol dan minum air dengan beberapa teman baik perempuannya didalam sana.
Melihat Serena yang datang, Maggie langsung mengeraskan suaranya dan berkata: “Aku kasih tahu kalian, kemarin malam aku sudah menerimanya dan mulai berpacaran!”
Orang lain yang mendengar perkataan Maggie pun terkejut, “Benarkah Maggie? Bukannya kamu bilang mau mengetesnya beberapa waktu dulu? Kenapa sudah menerimanya?”
Maggie memasang mukanya yang tidak berdaya lalu berkata: “Tidak ada cara lain, kemarin malam ia bersujud menembakku di depan wanita yang menyukainya diam-diam, aku sangat terharu dan langsung menerimanya.”
“Dia bersujud untuk memintamu menjadi pacarnya? Maggie kamu hebat sekali yah?”
“Orang yang diam-diam menyukai pacarmu itu pasti sudah marah sampai mau mati yah?”
“Itu memang harus dia rasain, orang pacar Maggie tidak suka sama dia…….”
Sebenarnya Maggie memang sengaja membuat Serena marah, mendengar orang-orang di sekelilingnya tertawa, dia pun melihat ke arah Serena.
Serena tahu Maggie sengaja membuatnya marah, sedih dan hancur, dia tidak akan membiarkannya.
Lalu dia pun memotong pembicaran mereka, dan berkata, “Masih mending wanita ini hanya gagal dengan cinta terpendamnya, aku ada kenal satu cewek, dia selalu cemburu dengan orang yang lebih hebat darinya, lalu dia akan mencelakakan orang itudan merampas semua yang dimiliki orang itu, bahkan dia akan merampas pacar orang itu.” Serena sengaja manambah kata ‘ Merampas pacar’.
Merampas pacar orang dan menjadi orang ketiga adalah topik yang sangat mudah menarik perhatian banyak orang, jadi semua orang pun membahasnya.
“Wanita seperti itu benar-benar iblis!”
__ADS_1
“Apa pun dia rampas? Tidak tahu malu seperti itu?”
“Wanita tadi hanya memendam rasa, tapi wanita ini, benar-benar orang ketiga yang tidak tahu malu……..”
Semua orang mengatakan apa yang di pikirkannya, dan suasananya semakin lama semakin memanas, Maggie yang terus mendengar sampai akhir berusaha untuk mempertahankan senyumannya, lalu melihat ke arah Serena dengan muka penuh amarah.
Serena lalu tersenyum licik kepadanya, seperti tidak ada hubungan apa-apa dengannya, lalu masuk ke ruangan itu dan mengambil air panas, terus segera meninggalkan tempat itu.
Baru saja sampai ke kantornya, Serena sudah dipanggil oleh Halle.
Awalnya Serena menyira Halle akan memarahinya lagi, tetapi ketika ia sudah pergi, ia baru tahu ternyata ia menyuruh beberapa murid magang untuk ke departemen personalia untuk membereskan berkas-berkas mereka.
Setelah menyelesaikan formulir itu, Serena pun keluar dari departemen personalia, lalu segera pergi ke depan lift, mengangkat tangannya dan menekan tombol lift, lalu menunggu lift itu tiba.
Disaat yang bersamaan, di dalam ruang rapat yang tidak jauh dari sana, Ralphie keluar dari ruangan pimpinan PT. Antarts.
Ketika dijarak yang tidak lebih dari 300 meter sampai lift, Ralphie maru menyadari dia sangat familiar dengan orang yang berdiri di depan lift itu.
Pandangannya tertuju pada Serena, dan dia pun menghentikan langkah kakinya.
Dia kerja di PT. Antarts?
Setelah beberapa waktu, Ralphie merasa ada yang tidak beres, hari ini Serena memakai make-up, walaupun hanya make-up yang tipis, tetapi sudah bisa membuat dia berasa aneh.
Karena sudah dua kali ia bertemu dengannya dan ia tidak memakai apa-apa diwajahnya……..
Tetapi Ralphie tidak melakukan apa-apa, juga tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri terdiam di sana.
Semua orang melihat satu sama lain dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Hanya Felix yang mengikuti disamping Ralphie yang mengerti, Ralphie menjadi begini karena ia melihat Serena.
Tentu saja dia tidak berani mengatakan apa-apa, hanya saja terdiam dan berdiri disamping Ralphie.
Kira-kira setelah berlalu dua menit, lift mengeluarkan suara ‘ Ding dong’, Ralphie pun baru tersadar, reaksi pertamanya adalah menunduk dan berjalan.
Disaat itu, Felix yang berada disampingnya berkata, “……Anda mau pergi kemana?”
Mendengar suara yang ada dibelakang, Serena pun membalikkan kepalanya dan melihat, pas sekali ia melihat wajah tampan yang familiar itu.
Matanya yang besar, hitungnya yang tinggi, dan wajahnya yang sempurna………
Sama seperti ketika pertama kali bertemu dengannya, dia memakai jas yang berwarna hitam, didalam ia memakai kemeja putih, perpaduan warna yang simpel, tapi di tubuhnya terlihat begitu memukau.
Walaupun masih ada jarak diantara mereka, tetapi Serena bisa merasakan arwah dingin yang ada di tubuhnya.
Kenapa dia bisa ada di perusahaan? Apa dia adalah karyawan PT. Antarts?
__ADS_1
Serena sama sekai tidak sadar, disamping Raphie bukan hanya ada Felix, tetapi masih ada banyak sekali petinggi PT. Antarts. Baikah, bisa dibilang, dia baru magang di PT. Antarts selama satu bulan, sama sekali tidak mengenal petinggi-petinggi PT. Antarts.
Si mulut besar! Ralphie menyenter kearah Felix dengan dingin.
Felix pun mengusap-usap hidungnya, lalu dengan suara kecil berkata ke Ralphie: “Direktur Su, Nona Luo sedang menunggumu.”
Walaupun Ralphie tidak berkata apa-apa, tetapi ia menoleh dan melihat kebelakang.
Seperti yang dikatakan Felix, Nona Luo sedang menunggunya.
Pintu lift yang sedang terbuka sudah akan tertutup secara otomatis, Serena seperti tidak menyadarinya.
“Kamu antarkan mereka.” Selesai berbicara, Ralphie langsung berjalan dengan langka besar ke arah Serena.
Ketika ia melewati Serena, dia menarik tangannya, dan disaat pintu lift hendak tertutup, ia menariknya masuk ke dalam lift.
Setelah masuk kedalam lift, Serena melihat Felix yang tidak bergerak diluar sana, lalu ia bertanya, “Itu……dia tidak bersama denganmu?”
Ralphie menjawab ‘Iya’, lalu melepaskan tangan Serena dan memasukkan tangannya kedalam kantong celananya.
Tangannya yang kering dan panas, Serena merasa sedikit bingun, lalu menjawab “O”, lalu ia menjulurkan tangannya dan menekan tombol untuk menutup pintu lift, lalu ia pun terpikir sesuatu dan bertanya kepada Ralphie, “Kamu mau pergi ke lantai berapa?”
Ralphie menoleh dan melihatnya lalu menjawab : “Lantai satu.”
Serena tidak mengatakan apa-apa dan menekan tombol lantai tujuannya dan lantai satu yang di bilang Ralphie.
Didalam lift hanya ada mereka berdua, didalam itu sangat sunyi, setelah hening selama beberapa detik, Serena pun membuka mulut dan bertanya, “Kamu juga kerja di PT. Antarts?”
“Iya.” Bulan lalu, ia sudah membeli PT. Antarts dan menjadi pemilik PT. Antarts.
Serena tersenyum, “Kebetulan sekali, aku juga kerja di PT. Antarts, aku di bagian design, kamu di bagian mana?”
Ralphie melihat kearah Serena dan melihat senyuman yang ada diwajahnya, ketika ia baru saja mau menjawabnya, lift sudah megeluarkan bunyi ‘Ding dong’, lalu pintu lift terbuka, dari luar masuk lima sampai enam orang.
Lift yang tadinya luas, dalam sekejap menjadi sempit sekali.
Serena pun bergeser dua langkah dari Ralphie, dua orang yang awalnya sangat dekat, sekarang menjadi agak jauh.
Sekarang Ralphie baru sadar ada yang tidak beres dengan mata Serena, dia melihatnya sebentar, dan menemukan apa yang salah.
Mata Serena bengkak!
Ralphie baru mengingat apa yang dikatakan Isa tadi pagi, kemarin dengan mata merah dan bengkak Serena lari masuk ke dalam lift, lalu ia pun mengerti kalau mata Serena bengkak karena menangis.
Mengetahui jawaban ini, Ralphie pun mengusap-usap bibirnya dan melihat kearah Serena dengan perlahan.
Dia pasti sangat suka sama laki-laki itu, baru dia bisa menangis untuknya sampai begitu!
__ADS_1
Tidak tahu kenapa, Ralphie merasa tidak puas, bahkan didalam hatinya ia mulai merasa kesal…