I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 248 Orang Yang Paling Dicintainya Membunuh Anaknya Sendiri


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Keesokan paginya pukul tujuh pagi, Serena bangun seperti biasa.


Pergi ke kamar mandi dan membasuh badannya, lalu turun untuk sarapan.


Hello! Im an artic!


Pukul 7.40, dia mengambil tas dan naik ke mobil, lalu berangkat ke kantor.


Ketika di jalan, ponsel dalam tasnya berdering.


Serena mengerutkan kening dan mengambil ponselnya dari dalam tas.


Dari layar ponsel terlihat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Serena awalnya ingin mengabaikannya.


Hello! Im an artic!


Namun, pesan dari nomor tidak dikenal itu terus-menerus masuk dan berdering membuat ia menjadi sedikit penasaran. Serena terpaksa menyalakan ponselnya dan berencana memasukkan nomor itu ke daftar hitam.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengklik nomor itu, dan ketika melihat foto yang dikirim di layar ponselnya, wajahnya langsung berubah menjadi pucat.


Foto itu adalah surat pernyataan medis. Dalam surat itu tertera namanya sebagai pasien, di kolom nama dokter tercantum nama Dokter Chen, dan di bagian jenis operasi tertulis operasi aborsi.


Jika memang itu terjadi, Serena tetap akan berusaha untuk percaya pada Ralphie dan yakin bahwa kasus ini direkayasa.


Tapi, di bagian tanda tangan keluarga ia melihat tanda tangan Ralphie begitu asli dan nyata, yang secara tidak langsung memberitahunya bahwa kejadian itu benar-benar terjadi.


Serena menggenggam erat tangannya yang memegang ponsel sambil gemetar, sehingga ia tidak bisa melihat foto di layar ponselnya dengan jelas.


Tapi di foto itu terlihat jelas tanda tangan Ralphie pada surat pernyataan operasi aborsi.


Sambil menatap layar ponselnya, pikiran Serena seketika menjadi kosong.


Hingga sang supir berkata, “Nyonya, kita sudah tiba di kantor.”


Serena menoleh dan sejenak melihat supir Li dengan tatapan kosong, barulah ia membuka pintu dan turun dari mobil.


Setelah turun dari mobil, ia tidak masuk ke gedung kantor.


Setelah supir Li pergi, ia memanggil taksi dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa apakah ia benar-benar mengalami keguguran.


Serena tidak pergi ke rumah sakit kota, tapi ia pergi ke rumah sakit No.3.


Kepala rumah sakit kota adalah Dokter Chen, Serena pikir jika apa yang dikatakan wanita itu benar, maka dia tidak boleh pergi ke sana. Jadi Serena memilih untuk pergi ke rumah sakit lain.


Setelah tiba di rumah sakit, Serena mengambil nomor antrian untuk berkonsultasi dengan dokter ginekologi.


Setelah menunggu lebih dari setengah jam, suster memanggil namanya.


Serena menarik napas panjang dan berjalan ke ruangan dokter.

__ADS_1


Dokter mengambil formulir pendaftaran dari tangan Serena dan bertanya, “Anda punya keluhan apa?”


Serena menggenggam erat tasnya dan bertanya, “Saya… saya ingin bertanya, apakah saya bisa memeriksa kondisi aborsi saya sebelumnya?”


Dokter itu melihat ke arah Serena dan bertanya, “Kapan Anda menjalani operasi aborsi? Dan di mana Anda melakukannya?”


“Setengah bulan yang lalu, di rumah sakit kota.” jawab Serena setelah beberapa detik.


“Baiklah, mari kita melakukan USG, saya akan memeriksanya.” kata dokter ahli itu sambil melihat ke bawah untuk mengambil sebuah kertas untuk diisi.


“Oke, dok. Terima kasih.” Serena mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.


Setelah mengisi formulir pemeriksaan, Serena pergi membayar, lalu mengantri untuk melakukan pemeriksaan USG.


Setelah pemeriksaan USG selesai, Serena menunggu bukti hasil pemeriksaan lalu membawanya kembali ke ruangan dokter.


Saat itu pasien di dalam ruangan dokter tidak sebanyak sebelumnya, tidak lama kemudian giliran Serena dipanggil.


Dengan gugup Serena duduk berhadapan dengan dokter ahli, menunggu sang dokter memberitahukan hasilnya.


Dokter itu memandangi hasil USG selama beberapa detik dan berkata, “Operasi aborsi yang dilakukan termasuk berhasil, tidak ada residu di dalam rahim, dan pemulihannya sangat baik….”


Setelah itu dokter ahli masih memberitahukan beberapa hal penting, tapi Serena sudah tidak fokus.


Yang ada di pikirannya hanyalah dia benar-benar telah menjalani operasi aborsi.


Kemudian dia segera bangkit dari kursinya dan berlari ke luar ruangan.


Di dalam perutnya pernah hidup seorang anak berusia lebih dari satu bulan.


Delapan bulan lagi ‘dia’ seharusnya lahir.


Tapi ketika ibunya sendiri bahkan belum mengetahui apa-apa, anak itu sudah tiada.


Dibunuh oleh orang yang paling ia cintai.


Mengapa harus dia? Padahal dia sendiri adalah ayah kandung dari anak itu.


Mengapa dia begitu tega membunuh anak kandungnya sendiri?


Bagaimana dia bisa melakukan itu dengan sangat kejam?


Serena sangat membencinya, ia sangat membenci hati Ralphie yang kejam, dan lebih benci lagi mengapa ia bahkan tidak tahu kalau dirinya hamil.


Bahkan setelah menjalani operasi aborsi, Serena masih mempercayai perkataan Ralphie bahwa ia hanya menderita dismenore.


Ibu macam apa dia?


Ya, dia tidak pantas menjadi ibu bagi anaknya. Apakah dia tidak cocok mengandung anak dari pria itu, jadi pria itu tidak menginginkan anak dari wanita itu, sehingga ingin membunuhnya?


Ya, mengapa dia lupa, bahwa Ralphie tidak menyukai dirinya, bahkan ketika malam itu tidur dengan dirinya kalau bukan karena dia yang berinisiatif, atau Ralphie hanyalah sedang mabuk.

__ADS_1


Tapi mengapa dia meninggalkan anak ini?


Setelah keguguran, Ralphie memperlakukan Serena dengan sangat baik karena merasa bersalah.


Memperlakukannya dengan baik, jadi semua hal bergantung padanya.


Haha… Hanya orang bodoh seperti dia yang merasa puas karena keadaan menjadi lebih baik. Pria yang dicintainya mulai menyukainya. Mereka memiliki masa depan.


Ternyata… semua perlakuan baik ini hanya untuk menebus kesalahannya.


“Serena, kamu harus sadar!”


Serena mengangkat tangannya dan menampar dirinya sendiri, meninggalkan bekas tamparan wajahnya yang cantik.


Tamparan itu membuatnya tersadar dan mengerti….


Tiga hari kemudian Ralphie kembali dari Swiss dengan wajah yang sangat bersemangat.


Sebelum pergi, dia pernah berjanji pada Serena bahwa ketika kembali dia akan memberitahukan hal yang penting kepada Serena. Nyatanya dia kembali untuk memberitahu kepada Serena.


Tak disangka, ketika Ralphie masuk, ia bukan melihat Serena yang sedang menunggunya, melainkan hanyalah ruangan kosong.


Pelayan itu memberitahunya bahwa Serena belum pulang.


Sudah begitu malam, mengapa dia belum pulang?


Ralphie mengerutkan kening lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Serena.


“Halo?” dari telepon terdengar suara Serena menjawab tidak begitu bersemangat.


Ralphie malah sangat bersemangat hingga ia tidak memperhatikan. Ia hanya bertanya, “Serena, sudah begitu malam mengapa kamu belum pulang?”


“Oh, aku masih ada urusan.” Serena menjawab.


Mendengar Serena berkata dia masih ada urusan hingga harus pulang agak malam, wajah Ralphie agak tidak enak, lalu dia bertanya, “Oh, kamu sekarang di mana? Aku akan menjemputmu.”


“Tidak perlu, aku masih agak lama, kamu baru tiba dari Swiss, istirahatlah lebih awal.” kata Serena.


Ralphie tidak berpikir banyak, ia pikir Serena peduli padanya, jadi ia hanya menjawab, “Baiklah, hati-hati saat berada di luar.”


“Aku tahu.” Serena menjawab dengan baik seperti biasanya.


Ralphie membuka mulutnya dan berkata, “Kalau begitu kerjakan urusanmu dulu, aku tidak mengganggumu, sampai jumpa.”


“Sampai jumpa.” Serena mengucapkan dua kata itu lalu menutup telepon.


Ia tahu kapan pesawat Ralphie tiba di kota A, tapi dia belum pulang.


Walaupun dia sudah tahu yang sebenarnya sejak tiga hari yang lalu.


Dia tidak bisa memaafkan Ralphie karena telah membunuh anaknya, dan juga tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena masih mencintai Ralphie sama seperti dulu, jadi dia ingin lari dari kenyataan.

__ADS_1


Pertanyaannya, dia mau melarikan diri sampai kapan?


__ADS_2