I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 53 Ketulusan Hati Dekat dengan Kesedihan.


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Setelah Serena pergi, Ralphie berdiri diam di luar balkon dan mengingat kembali kejadian tadi.


Hello! Im an artic!


Wajahnya mendekati dia, apa yang akan dia lakukan?


Dia hanya tahu bahwa pada saat itu, dia kehilangan semua suara di sekitarnya, dan hanya ada Serena di matanya.


Hello! Im an artic!


Apa yang akan dia lakukan jika dia tidak ada yang menelpon? Apa yang akan dia lakukan?


Ralphie memikirkannya sampai sakit kepala, masih tetap tidak menemukan jawaban.


Dia menggelengkan kepalanya dengan kencang, lalu habisi airnya yang ada di dalam gelasnya terus kembali keruang privasinya.


Ketika Isa sedang mengobrol dengan orang-orang, dia melihat Ralphie masuk sendiri, dia bertanya, “Ralphie, kok kamu sendirian? Dimana Serena?


Ralphie menoleh dan menatap tajam ke Isa, “Ada kepentingan kamu mencarinya?”


Mata Isa langsung menyusut dan dia melambaikan tangannya, “Tidak ada … tidak ada …”


Ralphie mengangkat alisnya dan tidak berbicara.


Isa tiba-tiba seperti mengingat sesuatu, mengangkat ponsel yang ada di tangannya: “Oh iya, besok pagi ada kedatangan pesawat Ryan Shen, kamu punya waktu untuk makan bersama?”


Ralphie hanya sekilas melihat Isa dan bertanya, “Makan malam?”


“Makan malam? Oke. Ke mana kita pergi? Atau kamu masak saja? Aku dan Ryan sudah bertahun-tahun tidak makan masakanmu.”


“Kamu yang atur mau dimana tempatnya.” Kata-kata sederhana Ralphie langsung menolak permintaan Isa yang ingin dia memasak.


“Tidak bisakah pergi ke tempatmu? Masakanmu …” Isa tiba-tiba terdiam, lalu menepuk jidatnya dan berkata: “Aku lupa, cedera pada kecelakaan itu masih belum sembuh… Pergi ke The Waterfront Blossom makan boleh?”


Mendengar Isa menanya dan menjawab sendiri, Ralphie juga terlalu malas untuk memboros air liurnya.


Dia cuma menjawab dengan cuek, “Boleh”


Dengan menerima jawaban Ralphie, Isa langsung menelepon Ryan sambil berkata dengan santai: “Ralphie, nanti kamu sekalian bawa Serena saja.”


Bawa Serena? Pikiran Ralphie teringat adegan di mana Isa memegang tangan Serena dan tidak melepaskannya.


Ralphie mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Isa, dia memintanya untuk memperkenalkannya kepadanya.


Hati Ralphie langsung panas, wajahnya menjadi dingin, dan kemudian dia bergegas ke Isa: “Untuk apa bawa dia?”


Isa tidak mengerti bahwa Ralphie yang tadinya masih baik-baik saja tiba-tiba mulai emosi.

__ADS_1


“Ralphie, kamu …”


Kata-kata Isa belum selesai diucap. Ralphie langsung melempar kalimat berikutnya, “Aku keluar sebentar”, dan meninggalkan ruangan tanpa membalikkan kepalanya.


Setelah Ralphie keluar dari ruangan Isa, dia terbiasa untuk pergi ke ruangan sendiri.


Baru sampai di depan pintu, dia teringat bahwa Serena sedang beristirahat di dalam ruangannya.


Dia mengerutkan alisnya pakai tangan, berdiri di depan pintu untuk sementara waktu, kemudian berbalik untuk berjalan ke balkon terbuka di ujung lorong.


Dia berdiri di balkon untuk sementara waktu, suasana hati yang jengkel tadi pelan-pelan menjadi tenang.


Ralphie baru mau kembali ke ruangan Isa, dan tiba-tiba ponselnya berdering.


“Halo.”


Tidak tahu apa yang dikatakan telepon di ujung sana. Wajah Ralphie langsung berubah menjadi seperti es batu. Dia berlari menuju ke ruang Isa dan berjawab dengan teriak: “Aku akan segera datang.”


Tiba di ruang Isa, setelah Ralphie berkata kepada Isa, “Aku ada urusan mendadak, aku pergi dulu” dan mengambil mantel yang ada di gantungan dan pergi dengan tergesa-gesa.


Terus setelah Serena pergi ke ruangan Ralphie, awalnya dia cuma mau menonton TV, dan kemudian dia akan pergi tinggal menunggu panggilan dari Ralphie.


Namun, dia menontonnya sampai tertidur di sofa.


Ketika dia bangun, itu sudah dua jam kemudian.


Dia menatap ruangan ini dengan waktu yang lumayan lama, baru dia teringat kembali bahwa ini adalah ruangan Ralphie.


Dia mencari Ralphie di ruangan Isa satu putaran, namun tetap tidak melihatnya, terpaksa pergi menanyakan kepada Isa yang sedang dikelilingi oleh orang-orang.


“Tuan Lu.”


Begitu Serena mengeluarkan suaranya, perhatian orang-orang di sekitar Isa jatuh pada Serena, sedikit membawa pertanyaan yang ingin tahu. Bahkan ada beberapa orang yang menanyakan kepada Isa, “Pak Isa, ini adalah…”


“Ini temanku, ” Isa mengatakan bahwa dia adalah seorang teman, tidak seperti dulu saat memperkenalkan pacar-pacarnya. Oleh karena itu, semua orang mengerti bahwa Serena bukanlah objek yang dapat dieksplorasi, dan mereka telah mengambil kembali pemandangan mereka.


Isa membangkit dan mendatangi Serena, “Ada apa Ser?”


Serena bertanya dengan cemas, “Tuan Lu, apakah kamu tahu … kemana Ralphie pergi?”


“Ralphie sudah pulang, kamu tidak tahu Ser?” Isa memandang Serena dengan aneh.


Rupanya dia sudah pulang! Mata Serena menjadi gelap.


Serena menarik napas dalam-dalam dan berusaha berkata dengan tenang: “Oh … Dia tidak memberitahuku.”


Isa sama sekali tidak merasakan kelainan Serena. Dia hanya berkata: “Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba dia memberitahuku bahwa dia harus pergi dulu.”


“Yah, aku sudah mengerti…” Serena dengan enggan menarik senyum: “Tuan Lu, aku duluan ya.”

__ADS_1


Ketika dia mendengar bahwa Serena akan pergi, Isa segera menawarkan untuk tinggal, “Ser, kamu ga mau tinggal dan bermain sama kami?”


“Tidak, aku masih ada urusan.” Serena berbalik dan pergi.


Setelah keluar dari ruangan Isa, dalam hati Serena menjerit dan mau menelpon Ralphie.


Dia membuka tas dan menyentuh telepon dari dalam, membuka kontak yang ada didalamnya, dia melihat nama Ralphie paling atas, tetapi jari itu tidak bisa menekan untuk memanggilnya. Untuk apa dia memanggilnya? Mau menanyakan padanya mengapa dia tidak memberitahukan dulu baru pergi?


Siapa dia? Apakah dia berkewajiban untuk memberitahunya tentang urusannya?


Setelah Serena tenang, dia dengan hati-hati memikirkan reaksi Ralphie sebelumnya, dan akhirnya menunjukkan senyum pahit di wajahnya.


Mungkin dia pergi tanpa sepatah kata pun karena dia hampir menciumnya di balkon.


Untungnya, dia belum secara resmi membuka mulutnya, kalau tidak dia benar-benar telah mencapai titik yang tidak dapat diperbaiki …


Tetapi benar-benar bisakah dapat diselamatkan? Kepergiannya bukannya berarti…


Ternyata ketulusan hati itu sangat dekat dengan kesedihan, sampai orang tidak bisa membedakannya.


Mata Serena mulai memerah, dan kemudian setetes air mata pun perlahan jatuh dari matanya …


Serena pergi ke lobi di lantai pertama sampai setelah emosinya membaik.


Keluar dari lift, dia membuka tas dan memasukkan telepon ke dalam tas terus jalan keluar.


Tiba-tiba dia sekilas melihat barang yang ada didalam tasnya, pas melihat kartu pintu ruangan privasi Ralphie ada di tas.


Sebelum dia membuka pintu ruangannya, dia langsung memasukkannya ke dalam ruangan.


Bagaimana dia mengembalikan kartu itu kepadanya? Dikirim ke villanya? Dia sudah pasti tidak menyambutnya.


Mungkin …


Serena meraih dan mengambil kartu pintu dari tas, kemudian berbalik dan berjalan menuju tempat resepsionis yang ada di lobi.


“Halo.”


“Halo Nona, ada yang bisa saya bantu?” Staf resepsionis dengan sopan menyambutnya.


“Saya ingin bertanya, bisakah kartu tamu titip disini?” Tanya Serena.


Staf itu mengangguk kepala, “Tentu saja.”


“Ya, kartu ini adalah pemilik nomor kamar 999 atas nama Tuan Ralphie, mohon untuk menyimpannya. Kembalikan padanya jika dia datang.” Serena mengatakan sambil menyerahkan kartu ruangan dipegangannya kepada staf resepsionis.


Staf resepsionis mengangguk kepalanya dan mengambil kartu untuk mencatat data-datanya.


Setelah petugas staf mencatatnya dan Serena mengucapkan terima kasih kepada staf tersebut dia langsung meninggalkan Royal Club.

__ADS_1


Awalnya Serena merasa bahwa dirinya sudah sangat sial di tinggal Ralphie, dia tidak pernah menyangka dia akan sesial ini, saat perjalanan menuju pulang ke rumah dia dicopet.


__ADS_2