I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 323 Kemesraan Dikantor Terputus


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Perempuan bergegas pergi ke rumah sakit, ayahnya masih koma setelah operasi. Ibu tiri mengatakan padanya, kalau ayahnya tertekan dan kena stroke karena laki-laki itu menyerang perusahaan keluarganya. Perempuan itu tidak percaya, ibu tirinya menelepon laki-laki tersebut dan meminta mereka untuk saling memastikan sendiri.”


“Mendengar penjelasan dan pengakuan dari laki-laki itu bahwa benar dia sudah menyerang perusahaan ayahnya, perempuan itu menjadi sangat tertekan, kemudian berbicara kata yang tidak baik kepada laki-laki itu.”


Hello! Im an artic!


Setelah Serena berbicara sampai disini, Ralphie yang dari tadi diam pun membuka suara, “Laki-laki tahu kalau dia lebih percaya ibu tirinya, sangat panik, mulai menelepon dia, mengirimkan pesan ingin melakukan penjelasan.”


“Perempuan menolak penjelasan laki-laki dan langsung mematikan telepon. hingga ayahnya bangun dari komanya, perempuan itu sudah tenang, dia mulai merasa ada yang aneh, lalu bergegas menyalakan ponsel. Melihat pesan pertama dari laki-laki itu yang ingin memberikan penjelasan, perempuan itu langsung pergi mencarinya.”


Perempuan itu baru saja ingin pergi mencari laki-laki itu, tetapi kenapa tidak pergi? Ralphie merasa aneh dan lanjut mendengarkan.


“Perempuan itu sudah bersiap mencari laki-laki itu, tapi karena ibu tirinya mendengar dia akan mencari laki itu, marah dan menghalanginya.” Mata Serena mulai memerah, tetapi masih lanjut berkata: “Ketika dia balik badan ingin melihat ibu tirinya, dia dipukul pingsan oleh pengawal yang sejak awal sudah disiapkan oleh ibu tiri.”


Hello! Im an artic!


Mendengar perkataan Serena, wajah Ralphie pun memucat, terbesit di otaknya, ketika sedang di Swiss, Reyna Qiao berkata padanya dilift, Serena tidak pergi ke Shadewoods karena dipukul pingsan oleh Bella.


Saat itu Ralphie pikir itu hanyalah alasan Serena.


Ternyata itu bukan alasan, tetapi dia memang tidak bisa datang.


Ralphie dengan terburu-buru bertanya, “Kemudian?”


“Kemudian dia dikurung oleh ibu tirinya di rumah sakit, setiap hari diberi obat penenang, yang terus membuatnya menjadi lemah.”


Serena terdiam, dan lanjut berkata: “Dua hari dua malam, di malam kedua, dia bangun lebih awal, kebetulan mendengar perawat sedang berbicara, bahwa dia bisa seperti ini karena perbuataan ibu tirinya. Memberikannya obat penenang dan meminta pengawal untuk menjaganya.


Ralphie ingin bertanya, kemudian? Tetapi pertanyaan tersebut malah tidak terlontar keluar.


“Dia menyusun rencana untuk menghindari pengawal, meminjam ponsel perawat untuk lapor polisi, makanya baru bisa kabur. Kemudian ketika dia pulang ke rumah untuk mencari laki-laki itu, ternyata tidak ada……”


Serena memikirkan hari itu dia kabur dari rumah sakit, tetapi tidak menemukan Ralphie, perasaan itu membuat Serena menjadi nangis kembali.


“Kamu hanya melihat pesan yang pertama?” Kalau tidak, pasti bisa menghindari Bella.

__ADS_1


“Kamu sama sekali tidak tahu aku menunggumu di Shadewoods?” Kalau tidak, tidak mungkin setelah kabur dari rumah sakit malah kembali ke rumah mencarinya.


Suara Ralphie semakin bergetar, hingga akhirnya berkata terbata-bata, “Jadi……kamu sebenarnya tidak matiin telepon aku, tidak kirim……pesan, tidak minta aku……pergi….”


Serena di pukul pingsan, di kasih obat bius, segalanya bukan Serena yang lakuin.


Orang yang dengan keras menolaknya, meminta pergi, bukan dia.


Serena tidak membuatnya putus asa, Serena tidak meninggalkannya……


“Bukan aku, bukan aku…..hiks hiks……” Serena menangis sambil menggelengkan kepala.


Ralphie membalikan kepala menghadap Serena, bertanya, “Kamu tidak pernah tinggalin aku? Iya?”


Kalimat ini, membuat Serena merasa sakit, dia dengan suara bergetar menjawab, “Aku tidak pernah tinggalin kamu, aku tidak pernah berpikir sekalipun untuk tinggalin kamu……”


“Ternyata, kamu tidak pernah tinggali aku.” Ralphie tertawa.


Melihat Ralphie yang tertawa lepas, Serena pun mulai tersenyum, “Aku mencintaimu, selamanya tidak akan pernah tinggalin kamu.”


Emosional Serena mulai berubah dan menunjukan sikap sensasional.


Serena mencintainya? Kalimat ini terus muncul dibenak Ralphie seakan semua ini tidak nyata.


“Kamu tadi ngomong apa?”


Serena mengedipkan mata lalu menjawab, “Aku mencintaimu, selamanya tidak akan pernah meninggalkanmu.”


Kali ini, Ralphie mendengarnya dengan sangat jelas kalau Serena mencintainya.


Ternyata Serena mencintainya, Serena mencintainya…..


“Serena……”


“En?” Serena mengangkat matanya.


“Aku mencintaimu……” Selesai berkata kalimat ini, Ralphie menundukan kepala, kemudian mencium bibir Serena.

__ADS_1


Serena merespon dengan memeluk lehernya.


Saat gairah ciuman semakin memanas, pakaian satu per satu mulai dilepas……


Disaat seperti ini, tiba-tiba terdengar bunyi ketuk pintu.


Ralphie dengan cepat langsung tersadar, mengambil bajunya dan menutupi tubuh Serena.


Kemudian dengan marah berteriak ke arah luar, “Pergi……”


Ketukan pintu di depan pun berhenti.


Wajah Serena yang merah padam tidak berani melihat ke arah Ralphie.


Ralphie menundukkan kepala, matanya menatap Serena dengan gairah panas seakan ingin menelannya hidup-hidup, nafasnya yang kurang stabil, mengulurkan tangan memegang Serena dan mengibaskan rambutnya, “Kalau bukan karena suara ketukan pintu tadi, aku hampir lupa kalau ini adalah kantor.”


Awalnya Serena tidak begitu memperhatikan, karena Ralphie ngomong, Serena baru saat itulah menyadari adanya perubahan pada tubuh bagian pria itu.


Seketika wajahnya seakan terbakar, semakin memerah, dan akhirnya membenamkan kepalanya dipelukan Ralphie dan dengan suara manja berkata: “Ih nyebelin.”


Kata ‘Ih’, tanpa disadari diucapkan dengan nada cukup panjang, seperti sedang menggoda, Ralphie yang mendengar berdeham sebentar, yang membuat Serena semakin panas.


Ralphie dengan sekuat tenaga memeluk erat Serena.


Setelah beberapa lama, Ralphie menghela nafas panjang, menarik Serena dari pelukannya, kemudian mengambil baju yang ada disofa untuk dipakaikan ke Serena. Setelah selesai memakaikan baju pada Serena dan memastikan tidak ada yang aneh dari baju Serena, Ralphie berdiri dan memakai bajunya sendiri.


Wajah Serena bersipu malu, mencuri pandangan sekilas Ralphie, melihat Ralphie yang memakai baju dengan elegan, kemudian, berkata: “Maaf, aku ganggu rapat kamu.”


Ralphie berjalan memegang dan mengelus kepala dia sambil berkata: “Gak apa apa, rapat tidak penting.”


(Seseorang yang didepan kantor seakan ingin muntah mendengarnya, sebuah projek puluhan miliyaran, Direktur Ralphie apakah baik jika Anda bilang tidak penting?)


Serena lebih tenang, “Baiklah kalau begitu.”


“En……” Ralphie melihat tangan kirinya sekilas kemudian berkata: “Makan, kamu mau balik makan, atau pergi makan direstoran?”


Serena memiringkan kepalanya untuk berpikir kemudian berkata: “Kita pergi ke Shadewoods untuk masak yuk?”

__ADS_1


“Oke……”


__ADS_2