
Hello! Im an artic!
Seharian ini bekerja, Serena terlihat sangat aneh.
Tak hanya karena kemarin kurang tidur membuatnya lemas, ia bahkan sering bengong dan selalu memikirkan Ralphie.
Hello! Im an artic!
Memikirkan apakah dia masih marah atau tidak.
Memikirkan apakah dia kemarin beristirahat dengan baik dihotel.
……
Yang penting memikirkan sesuatu yang tidak jelas dan tidak penting.
Hello! Im an artic!
Kalau hanya memikirkan, yasudah, ini masih terus menggenggam ponselnya dan galau apakah ingin menelepon Ralphie atau tidak, tetapi kalau telepon juga tidak tahu akan berkata apa dan lain sebagainya.
Serena pun seakan seperti gila.
Serena pun menghabiskan setengah harinya dengan seperti ini, bahkan ketika seniornya Rosie Xue mencarinya untuk berbicara suatu hal malah berujung ada masalah.
Selama berbicara, Serena hanya terbengong. Rosie yang tidak pernah memarahinyapun, akhirnya untuk pertama kalinya memarahi dia.
“Serena, kalau kamu tidak ingin mendengar perkataanku, kamu keluar saja sekarang dari kantor.”
Serena tahu ia salah, ia hanya cemberut dengan suara rendah memintar maaf kepada senior Xue, “Maaf, Senior Xue, aku salah.”
Rosie yang selama ini selalu puas kepada senior ini pun dengan muka yang sangat datar, “Kamu sebenarnya kenapa sih? Kalau ngga mau berpartisipasi dalam lomba bagian design ini, bicara dari awal ke aku, aku kasih kesempatan ini untuk orang lain.”
Mendengar Rosie ingin memberikan kesempatan ini pada orang lain, Serena panik dan berkata, “Senior Xue, aku ingin berpartisipasi, aku ingin.”
“Dengan kondisi kamu yang seperti sekarang ini, hanya akan menyia-yiakan kesempatan ini.” Nada Rosie tidak pernah setegas ini.
Serena menggengam baju dengan erat, lalu menghela nafas, “Serena, bukan aku sangat ketat, tetapi kompetisi ini akan sangat berpengaruh kepada jabatan kamu di bagian design, bukan main-main.”
“Ia, aku mengerti.” Serena mengangguka kepala.
Rosie dengan pelan berkata ‘En’, kemudian dari meja mengambil sebuah surat dan diberikan kepada Serena.
“Kita dari Grup A total ada 10 orang yang ikut berpartisipasi, ini adalah tiket masuk kamu. Besok pagi jam sembilan, seluruh peserta design akan rapat dan tema untuk lomba akan diumumkan ketika rapat.”
“Baik, Terima kasih Senior Xue.” Serena mengambil surat dari tangan Rosie.
__ADS_1
Rosie melihat kearah Serena sebentar kemudian melambikan tangan, “Keluarlah.”
Serena menganggukan kepala, keluar dari kantor Rosie.
Ketika Serena kembali ke kantor grup A sambil membawa surat dari Rosie, banyak sekali orang dikantor yang memasang muka iri.”
“Serena juga dapat kesempatan ya!”
“En, Senior Xue yang kasih.” Serena menganggukan kepala.
Ada orang yang bertanya, “Kantor kita kalau termasuk Serena berarti ada 10 kuota, ngga tahu juga apakah masih tersisa banyak kuota?”
“Ntahlah, karena bagaimanapun masih ada grup B dan grup C, setahuku total ada 25 kuota……”
Serena tak lagi mendengar perdebatan mereka, hanya dengan diam berjalan kearah mejanya dan duduk.
Dia hanya melihat surat yang ada ditangannya dan dalam hati memberikan semangat kepada diri sendiri.
“Serena, kamu pasti bisa, kamu pasti tidak akan mengecewakan harapan Senior Xue……”
Pukul 9 dihari kedua, seluruh peserta design berkumpul bersama untuk rapat.
Tak disangka, Serena malah melihat Maggie Tang.
Karena mereka berdiri digrup yang berbeda, Serena hanya melihat Maggie sekilas dari jauh, lalu melepaskan pandangannya, tetapi ia tidak tahu, ketika dia mengalihkan pandangan, Maggie malah balik melihatnya dengan wajah penuh pertimbangan.
Satu kata yang mudah ‘Cinta’.”
Denga tema ‘Cinta’ sebagai design dari mutiara.
Gambar seperti apa, tidak ada batasan. Yang penting designnya mengandung tema ‘Cinta’.”
Mau dibilang simple juga tidak simple, mau dibilang mudah juga tidak mudah.
Waktu hanya satu hari, hari kedua sudah harus mengumpulkan designnya.
Setelah rapat, semua satu per satu pun kembali ke kantor untuk mulai mendesign.
Begitupun dengan Serena.
Duduk dimeja kantor, mengambil pensil, melihat kertas kosong, setengah hari sudah berlalu tetapi apapun belum tergambarkan.
Tema ‘Cinta’ memang sangat sulit dipikirkan, karena mengenai ‘Cinta’ terlalu banyak, jika tidak teliti maka bisa menjadi sebuah seni plagiat.
Ketika sedang pertempuran seperti ini, Serena tiba-tiba tanpa saja melihat kutek yang ada dijari manis tangan kanannya, matanya pun berbinar-binar.
__ADS_1
Ketika ia membaca sebuah cerita romantis dari perancis tentang cinta dimajalah, bukankah ia terpikirkan untuk mendesign sebuah cincin pasangan laki-laki perempuan?
Bukankah kebetulan pas dengan judul mengenai ‘Cinta’ ini?
Setelah itu Serena pun mulai menggambar.
Karena sudah mendapatkan inspirasi, jadi Serena menggambarnya dengan lancar.
Dia menggambar model cincin untuk perempuan terlebih dahulu.
Karena Serena gambar berdasarkan pernyataan dari perancis, maka ketika Serena mendesign cincin perempuan, mutiara dicincin ia memberikan warna yang merah terang lalu menambahkan sedikit design baru yang unik.
Simpel, memang selalu menjadi sebuah design yang bagus. Serema bahkan juga memberikan sedikit model dicincin perempuan yamg bertimbal balik dengan cincin laki-laki.
Setelah dua jam, Serena dengan puas melihat sketsa model cincin wanita lalu menghela nafas dalam-dalam.
“Hanya dengan merapikan beberapa hal kecil, maka semua beres……”
Dipagi hari sudah dapat menyelesaikan sketsa cincin perempuan, Serena senangnya bukan main.
Setelah makan siang, ia masih sempat-sempatnya tertidur diatas meja.
Tak tahu ia tertidur berapa lama, Serena mendengar suara ponselnya berdering, ia setengah sadar mengambil ponsel dimeja lalu mengangkatnya tanpa melihatnya terlebih dahulu, ‘Halo?”
Dari ponsel terdengar suara Flora, “Serena?”
Mengenali suara Flora, Serena menguap sambil bertanya, “Kak, Kenapa?”
“Serena, kamu lagi tidur?” Terdengar suara Flora sedang tertawa.
“En, jam tidur siang.” Serena terdiam sebentar lalu bertanya, “Kak, kamu cari aku ada urusan?”
“Setelah jam pulang kerja aku cari kamu jalan-jalan, ada waktu ngga?” Nada Flora terdengar seperti sedangn memerintah.
“Kak, aku hari ini ngga bisa, aku hari ini perlu membuat sketsa design……” Serena belum berbicara selesai, Flora sudah memutuskan pembicaraannya.
“Setelah pulang kerja, aku akan langsung ke Clover Plaza, aku tunggu kamu disana.” Selesai berbicara Flora pun tidak memberikan Serena kesempatan untuk menolak langsung memutuskan telepon.
Serena mendengar suara telepon tut tut tut, dengan pasrahnya menaruh hp kembali.
Setelah pulang kerja mau pergi jalan dengan Flora, berarti rencana awal yang ingin menggambar sketsa cincin laki-laki setelah pulang kerja malah harus dikerjakan ketika siang hari.”
Menghela nafas panjang, Serena pun merenggakan badan dan tangan.
Kemudian mengambil gelas di atas meja, ingin minum dan lanjut menggambar.
__ADS_1
Ketika mengambil gelas, dia baru menyadari sudah tidak ada air didalam gelas.
Tidur cukup lama membuat tenggorokannya sangat kereng, alhasil Serena hanya bisa pergi ke ruang pantry untuk mengambil air.