I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 154 Berpura-Pura Di Depan Kakek


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Masuklah, kakek sedang menunggu kita.” suara Ralphie sama seperti biasanya dingin, tapi di dalamnya mengandung banyak makna lembut.


Sudah berapa lama tidak mendengarnya berbicara seperti ini kepadanya? Dimulai dari mereka berpisaha waktu itu sepertinya.


Hello! Im an artic!


Dan sekarang demi hanya untuk menunjukkan di depan kakek……


Serena menurunkan matanya, menyembunyikan kepahitan di matanya, dan saat mengangkatnya sudah terlihat senyuman manis di wajahnya, “Baik.”


Mata Ralphie berkedip-kedip, lalu menggandeng tangan Serena masuk ke dalam rumah.


Saat Serena dan Ralphie masuk ke dalam, pembantu rumah semuanya dengan rapi memberi salam, “Tuan muda dan nyonya muda sudah pulang……”


Hello! Im an artic!


Sepertinya orang-orang yang ada di dalam rumah sudah diberitahu, status Serena.


Ralphie kali ini sangat puas, tidak hanya meresponnya dengan menganggukkan kepala, tapi masih bertanya, “Kakek dimana?”


“Tuan ada di Halaman Redwood menunggu tuan dan nona.” selesai pembantu rumah menjawab, dia langsung berlari kecil ke Halaman Begonia untuk memberikan pemberitahuan.


Serena mendengar pembantu rumah berkata ‘Halaman Redwood’ merasa sangat aneh, bagaimana bisa sama dengan halaman kuno.


Dengan terus mengikuti Ralphie melewati untuk masuk ke halaman dalam, dia baru tersadar kalau desain rumah keluarga Su yang antik ini sangat familiar.


Sampai pada Halaman Redwood, dia baru terpikir, kenapa rumah keluarga Su terlihat sangat familiar.


Pada saat itu pergi ke Kyoto dengan Ralphie ke ke tempat properti keluarga disanalah ada desain yang sama seperti ini.


Properti keluarga di Kyoto disana mungkin juga punya keluarga Su.


Serena dengan pelan menyelipkan sudut bibirnya, pandangannya jatuh pada Halaman Redwood yang penuh dengan pantai.


Adapun halaman Halaman Begonia itu, benar-benar penuh dengan pohon plum, tidak hanya itu, ujung dahannya ada kuncup bunga, satu demi satu tumpukan, sangatlah indah.


Tersadar akan pandangan Serena, mata Ralphie timbul sedikit senyuman, dia bakalan tahu kalau dia akan menyukai tempat ini, dari terakhir kali di Kyoto Serena mengunjungi properti keluarga Su dan melihat pemandangan disana, dia langsung tahu.

__ADS_1


“Kalau kamu suka kamu bisa tinggal lebih lama disini.”


Sangat disayangkan suara Ralphie sangat kecil, Serena yang sedang tenggelam dalam pohon-pohon plum yang ada di halaman, sama sekali tidak jelas mendengarnya.


“Apa?” Serena dengan pandangan kosong melihat ke arah Ralphie.


Serena yang berpandangan kosong, membuat Ralphie tersadar, dia kenapa bisa lupa kalau dia itu sebenarnya bukan benar-benar ingin menikah dengannya, anggap saja dia menyukai tempat ini, tapi dia tidak akan ingin tinggal disini.


Mata Ralphie suram, lalu dengan merasa tidak terjadi apa-apa mengarahkan pandangannya ke arah pohon-pohon di halaman, ekspresinya acuh tak acuh sama seperti kabut malam ini, “Tidak apa”.


Meskipun Ralphie mengatakan ‘Tidak apa’, tapi Serena merasa dirinya sendiri telah melakukan kesalahan apa, dia baru saja mau muli bertanya, tapi hasilnya kakek muncul dan memotong pembicaraannya.


“Kalian berdua datang ya datanglah, kenapa masih berdiri disana?” ternyata kakek dari awal sudah mendengar dari pembantu rumah kalau Ralphie dan Serena sudah datang, hasilnya dia menunggu melihat ke kanan dan kiri tapi tidak melihat Ralphie dan Serena masuk, lalu dengan sendirinya keluar mencari mereka.


“Tidak ngapa-ngapain.” Ralphie menjawab dengan pelan.


“Aku tidak bertanya padamu.” Kakek berkata Hmph! dengan menghadap ke Ralphie, lalu tersenyum senang sambil melihat ke Serena dan memegang tangannya, “Serena cepat masuk, di luar dingin.”


“Baik, kek.” Serena dengan menurut menghadap ke kakek dan berjalan masuk.


Kakek berbicara dengan Serena, sambil memanggil pembantu rumah untuk menuangkan teh, tidak perlu membahas cucunya lagi si Ralphie, susah dilupakan olehnya.


Serena menarik sudut mulutnya, lalu menggelengkan kepala, “Tidak capek.”


“Kalau tidak capek baguslah.” Kakek terdiam sejenak, lalu berkata: “Selesai bulan madu, Ralphie juga harus kembali ke kantor untuk bekerja, kalau begitu Serena gimana kalau tinggal di rumah keluarga Su saja menemani kakek?”


Dibandingkan vila istana yang terakhir kali, rumah keluarga Su ini membuat Serena sangat suka, hanya saja sebenarnya tidak cocok dengan statusnya, dan juga dia masih harus bekerja, jadi Serena menolak kakek, “Kakek, aku harus pergi bekerja, tinggal disini tidak terlalu……nyaman.”


Pandangan kakek melihat ke arah Ralphie, “Kamu ya yang menyuruh istrimu untuk pergi bekerja?”


Serena langsung dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak, kakek, ini adalah kemauanku sendiri untuk bekerja.”


“Serena ingin bekerja?” kakek melihat ke arah Serena.


Setelah Serena melirik ke Ralphie, dengan gagap berkata: “Kalau Ralphie……pergi bekerja, di rumah hanya ada aku seorang, jadi……aku merasa lebih baik aku juga pergi bekerja.”


“Oh, ternyata karena Serena khawatir kalau berada di rumah sendiri bisa kangen dengan Ralphie ya.” kakek berkata dengan ekspresi yang mengetahui apa yang terjadi.


Serena mendengar perkataan kakek, wajahnya langsung memerah, “Kakek, bukan……”

__ADS_1


“Tidak usah dijelaskan, kakek juga pernah muda……” kakek terdiam sejenak, lalu seperti sedang memikirkan suatu cara yang bagus lalu berkata: “Begini saja……kamu pergi ke kantor Ralphie bekerja, seperti ini kan bisa setiap waktu bersama dengan Ralphie.”


Bagaimana bisa dalam sekejap berubah menjadi bekerja di kantor Ralphie? Serena merasa dia tidak bisa mengejar perkataan kakek.


“Kakek, itu tidak bisa, aku bukan belajar di bidang itu.”


Kakek berkata dengan acuh tak acuh, “Tidak dibidang itu juga tidak apa, kamu hanya perlu duduk di dalam kantor melihatnya sudah oke.”


“Ha……” Serena benar-benar tidak tahu harus menggunakan kata apa lagi untuk membalas kakek.


Untungnya Ralphie menyelamatkan nya dengan berkata, “Dia belajar tentang desain perhiasan, pergi ke kantorku sangat menyia-nyiakan bakatnya.”


Kakek agak tanpa terduga bertanya, “Serena, kamu belajar desain perhiasan?”


“Iya benar, kakek, aku sangat menyukai desain perhiasan.” Serena berkata sambil tersenyum.


Kakek menganggukkan kepala, “Karena kamu suka, kalau begitu terserah kamu saja.”


Mendengar kakek berkata begitu, Serena dengan pelan menghela nafas tenang, pandangannya berpindah ke Ralphie, ingim berterimakasih padanya karena sudah menyelematkan musuhnya, tapi Ralphie sedang menundukkan kepala bermain melihat hp, dan memang dari awal tidak melihat ke arah ini, membuat dia agak merasa sedikit sedih.


Tapi kesedihannya tidak berlanjut lama, kakek langsung menyuruhnya untuk mulai makan.


Di atas meja, kakek dan Serena mengobrol banyak dengan senang, Ralphie memang dari awal tidak ikut mengobrol. Kalau berbicara pun itu karena kakek yang bertanya padanya, lalu dia berbicara dengan seperlunya.


Hanya seperti ini makan sambil mengobrol, setelah selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Kakek melambaikan tangannya dan berkata: “Hari ini sudah malam, kalian tidak usah kembali lagi.”


“Ha?” Serena berkata dengan kaget.


Kakek menghadap ke Serena dan melihatnya, “Kenapa?”


Serena menelan ludahnya dan berkata: “Itu……di sini tidak ada kamar kita, kita tinggal disini juga tidak terlalu nyaman kan?”


“Apanya yang tidak ada kamar kalian? Kamar Ralphie itulah kamar kalian.”


“……”


Serena dan Ralphie, seperti inilah mereka disuruh untuk tinggal di rumah Keluarga Su.

__ADS_1


__ADS_2